
"Mungkinkah kamu jatuh cinta dengannya?"
Pertanyaan Yudha membuat aku sedikit berat menelan saliva. Tak tahu harus mengucapkan apa, saat ini bibirku terasa begitu keluh.
"Terry." Yudha mengambil kedua jemariku yang sedari tadi ku letakan di atas kedua kakiku.
"Aku gak ingin kehilangan kamu lagi, Terry." ucap Yudha sambil memandangku sendu.
"Terry, kembali lah padaku. Aku gak akan pernah meninggalkan kamu lagi, aku janji."
Ku pandangi wajah Yudha yang saat ini memandangku penuh harap. Kenapa di saat-saat seperti ini aku sama sekali tak senang mendengar pernyataan Yudha.
Bukankah selama ini aku berharap bahwa Yudha akan kembali padaku. Menghiasi kisah indah masa depanku, selama ini Yudha adalah orang yang selalu ada dalam anganku.
Tapi saat ini, kenapa hatiku sama sekali tak senang. Aku sama sekali tak bahagia, malah saat ini aku berharap orang yang menyatakan kalimat itu adalah pak Gilang.
Oh ayolah Terry, ada apa denganmu? jangan harapkan seseorang yang belum tentu menaruh hati padamu.
"Yudha, aku ... Aku." ku hela nafasku berat. "Beri aku waktu, aku akan menjawabnya saat aku sudah siap."
"Siap? siap apa? aku dan kamu sudah saling kenal Terry, bahkan sampai saat ini kita masih sama-sama jatuh cinta."
"Ini gak semudah yang kamu bayangin Yudha." ucapku sedikit kesal.
"Apa karena lelaki yang kemarin itu? jadi kamu benar jatuh cinta sama dia?"
Ku pandangi wajah Yudha yang saat ini duduk bersampingan denganku. Di satu kursi panjang yang terletak di samping toko Bunda.
"Jadi benar ini karena lelaki itu kan?" ucap Yudha sedikit mengeras.
"Terry, kasih aku kesempatan. Aku akan perbaiki segala yang pernah aku rusak dulu."
"Aku bilang aku butuh waktu, Yudha."
"Terry, aku benar-benar ingin hubungan kita bisa kembali seperti dulu."
"Aku tahu Yudha, tapi aku bilang aku butuh waktu?"
"Waktu untuk apa? untuk meyakinkan hatimu tentang siapa lelaki itu? kalau lelaki itu tak ada, apakah kamu tetap akan menolakku?"
"Ini semua tidak ada hubungannya dengan pak Gilang, Yudha." ucapku ketus.
"Jadi namanya Gilang? jadi saat ini Gilang? bukan Yudha?"
"Yudha cukup." ucapku sengit.
"Jangan suka bawa-bawa orang lain dalam masalah ini. Kamu yang buat aku trauma akan luka, Yudha. Saat ini aku butuh waktu, bukan untuk meyakini siapa pak Gilang dan siapa kamu!"
Ku hela nafasku yang sedikit memburu, karena amarah yang ku coba untuk redam. Yudha, memang sungguh pintar membuat ekspresiku keluar.
"Aku butuh waktu, untuk kembali merangkai puing hati yang pernah hancur karena mu." ucapku kembali melembut.
Seketika Yudha melemparkan pandangannya padaku. Seperti ada raut sedih dan kekecewaan yang tergambar dalam pandangan mata tajamnya itu.
Aku mencoba untuk melepaskan senyumku, ku raih bahu Yudha dan memeluknya erat.
"Saat ini aku benar-benar terluka Yudha. Sakit yang aku rasakan terkadang masih berdarah. Aku terlalu lemah jika harus menelan luka lagi." ucapku lembut.
Kurasakan tangan Yudha yang mulai membalas pelukanku. Ia membenamkan wajahnya diatas bahuku.
"Maafkan aku, Kirei. Aku tak pernah tahu jika hari itu banyak merubah hal tentang dirimu." ucapnya lirih.
"Bukan hanya karena mu, Yudha. Tapi perpisahan Bunda juga membuat lubang di dalam hatiku. Karena itu, beri aku sedikit waktu."
Ku leraikan pelukan Yudha dan meraih sebelah pipinya dengan satu tanganku. Ku sungging senyum manis di wajahku.
Yudha mengambil telapak tanganku yang menyentuh pipinya. Mencium telapak tanganku lembut.
"Maafkan aku karena terlalu memaksamu, perasaan takut untuk kembali kehilanganmu membuat aku begini."
__ADS_1
"Yudha, apa yang pernah terukir di masa lalu kita tak akan pernah menghilang. Selamanya, kamu akan tetap berada di sudut hati kecilku."
"Aku akan menunggu kapanpun jawabanmu, Kirei."
"Terima kasih." ku gulum senyumku.
"Mau jalan?"
Aku hanya menggeleng pasrah. Tak ingin kemanapun, aku ingin belajar merangkai bunga biar bisa membantu Bunda.
Setelah mengobrol cukup lama, Yudha berpamitan untuk pergi. Kembali ke percetakan tempat ia bekerja.
Aku kembali sibuk pada bunga-bunga yang berada di atas display ini. Ku lirik jam di tangan kananku. Hari sudah mulai sore, aku harus kembali untuk menyiapkan makan malam untuk Ayah.
Aku meminta izin untuk kembali ke rumah Ayah.
Ku cium pipi Bunda sebelum berpisah, ku hela nafasku saat keluar dari toko Bunda.
Ku jejaki trotoar jalanan, sambil menikmati suasana sore hari. Lebih baik aku berjalan kaki saja.
Ku letakan bokongku di taman depan komplek perumahan mewah dekat rumah Ayah.
Ku perhatikan beberapa keluarga yang sedang bermain, membawa buah hati mereka menikmati waktu sore bersama keluarga.
Sekilas pandangan itu membuat ingatanku kembali ke sepuluh tahun silam. Saat hidup kami masih bahagia dan juga baik-baik saja.
Andai waktu bisa berhenti disana, aku hanya ingin hidup pada masa itu.
Saat aku tak mengerti apapun tentang cinta dan juga luka. Saat aku hanya tahu apa itu tertawa dan juga bahagia.
Ayah, aku pernah meminta saat dewasa nanti, aku ingin menikah dengan lelaki seperti Ayah. Menurutku Ayah adalah lelaki hebat, Ayah selalu mengukir indah bahagia buat kami.
Tapi kenapa saat ini, Ayah adalah salah satu lelaki yang ingin aku hindari?
Ayah, aku masih sangat mencintaimu, tapi kesalahan Ayah yang membuat Bunda terluka, membuat aku membencimu.
Bugh.
Seorang anak lelaki sekitar berumur enam tahun terjatuh tepat di depanku.
Anak lelaki itu mulai menangis saat melihat luka di dengkulnya.
Aku berjalan mendekati anak lelaki itu dan berjongkok di depannya.
"Kamu gak apa-apa, Dek?" tanyaku sambil membedirikannya.
"Lutut aku sakit, Kak." ucap anak lelaki itu sambil menangis terseduh.
"Jangan menangis, Kakak akan bantu obati luka kamu." ku gendong anak lelaki itu ke kursi tempat aku duduk tadi.
Ku siram luka anak kecil itu dan meniupnya lembut. Anak lelaki itu sedikit menyipitkan matanya saat aku menyiramkan air.
Ku elus pipinya, geram.
"Nama kamu siapa?"
"Yusuf, Kak."
"Orang tua kamu mana, Yusuf?"
"Aku gak tahu, Kak?" ucap anak itu kembali menangis.
Ku peluk kepala anak kecil itu, ku elus pucuk kepalanya untuk menenangkan perasaannya.
"Ada apa, Terry? kenapa kamu menyakiti lelaki kecil ini?"
Ku naiki sebelah alisku saat mendengar ucapan lelaki dewasa yang tiba-tiba nongol entah dari mana.
"Kamu apakan anak lelaki ini, Terry?" kembali ia bertanya.
__ADS_1
Aku menggulum senyumku dan menggeleng.
"Bukan saya yang buat dia nangis, Pak. Dia tersesat dan jatuh di depan saya."
"Oh ... Saya pikir kamu menolak pernyataan cinta dari lelaki tampan ini." ucap pak Gilang sambil berlutut di depan kami.
Memeriksa luka di dengkul anak itu, lalu mengelus pucuk kepala lelaki itu. Sementara aku hanya kembali tersenyum saat mendengar ucapan pak Gilang.
"Kamu kenapa bisa tersesat, Dek?" tanya pak Gilang sambil meletakan bokongnya di sebelahku.
"Gak tahu, Om."
"Rumah kamu dimana?!l"
Anak lelaki itu hanya menggeleng sambil mengucek matanya yang terus mengeluarkan air.
"Yasudah, Om bantu cari ya." ucap Pak Gilang kembali berdiri.
Pak Gilang mengenggam jemari kecil lelaki itu. Namun anak lelaki itu tak mau bangkit dari duduknya.
"Kaki aku sakit banget, Om." ucap lelaki kecil itu manja.
Aku hanya tersenyum dan melihat wajah pak Gilang yang dihiasi keringat di pelipis matanya itu.
Wajah Tiongkoknya itu terlihat sangat manis saat tersenyum.
"Baiklah, kalau gitu ayo, Om gendong."
Pak Gilang berjongkok tepat di hadapanku. Ku pukul bahu pak Gilang keras. Pak Gilang menolehkan wajahnya dan menggeser posisinya beberapa langkah kesamping.
"Maaf, Terry. Saya pikir kamu juga minta saya gendong." ucap Pak Gilang yang kembali mengukir senyum di wajahku.
"Ayo Terry." ajak pak Gilang saat menggendong Yusuf di bahunya.
"Kemana?" tanyaku bingung.
"Cari orang tua anak ini."
"Bapak saja, kan Bapak yang mau bantu."
"Kamu harus ikut, jangan nanti saya dikira penculik anak lagi."
"Kenapa harus saya?"
"Kan kamu yang nemuin ini anak, tadi."
"Baiklah." ucapku mengalah.
Kami menyusuri taman depan komplek ini berdua. Aku berjalan bersisian dengan pak Gilang. Sementara tak butuh waktu lama, Yusuf sudah tertidur di atas pundak pak Gilang.
"Terry, apa anak ini tidur?"
"Iya,"
"Haduh, bagaimana ini? susah dong cari orang tuanya jika anak ini tidur?"
Aku hanya tersenyum dan mengerdikan bahuku. Lucu melihat ekspresi pak Gilang yang sedikit kebingungan itu.
Sebuah bahu menabrak pundakku dari belakang.
Aku sedikit gontai dan bergeser sedikit ke depan. Pak Gilang menangkap badanku yang hampir jatuh kearah.
Secepat kilat aku kembali pada posisiku dan menundukan pandanganku.
Kurasakan sebuah jemari, meraih tanganku.
Mengenggan jemariku lembut, ku lempar pandanganku ke arah pak Gilang yang berada di sampingku. Pak Gilang hanya menatap lurus kedepan, ekspresi wajahnya seperti tak melakukan apa-apa.
Aku menundukan pandanganku, kembali tersenyum saat merasakan getaran yang kembali muncul dari dalam dadaku.
__ADS_1