
Ku hela nafas untuk kesekian kalinya, aku tak tidur malam seminggu belakangan ini.
Hanya butuh waktu 2 bulan, dan Gilang mempersiapkan segalanya secara matang.
Ku pejamkan kedua mataku, menghembuskan perlahan nafas yang terasa berat. Jantungku tak berhenti berdebar, tak ku sangka akan menikah secepat ini.
Ku buka kedua kelopak mataku dan melihat wajahku dari pantulan kaca di depanku. Sudah selesai di hias dengan aksesories sederhana berwarna senada dengan gaun putih, kombinasi merah muda yang ku kenakan.
"Terry, kita keluar, Sayang."
"Aku takut, Bunda."
"Takut kenapa? semua akan baik-baik saja." jawab Bunda menenangkanku, Bunda mengelus sudut dahiku dengan lembut.
"Bunda setelah menikah apa semuanya akan tetap sama?" tanyaku cemas.
"Semuanya akan tetap sama, bahkan bisa terasa lebih indah. Jangan pikirkan macam-macam. Ayo."
Kembali ku hela nafas dan berjalan keluar bersama dengan Bunda. Para tamu sudah hadir, begitu juga dengan penghulu dan Gilang.
"Terry, jangan takut. Ayo." Bunda menarik bahuku dan berjalan beriringan menuju kursi tempat Gilang dan Ayah duduk berhadapan saat ini.
Bunda mendudukan aku tepat di sebelah Gilang. Ku palingkan kepalaku, melihat Gilang yang tersenyum kaku.
Mungkin dia juga sama nerveousnya denganku.
"Gilang, sudah siap?" tanya penghulu.
"Siap." jawab Gilang tegas.
"Pak Reihan dan Gilang, ayo berjabat tangan." perintah penghulu.
Ku lihat tangan Ayah dan Gilang yang berjabat. Terasa jantungku memburu dengan cepat, kenapa malah aku yang deg-deg an seperti ini saat tangan mereka saling berjabat.
Ku perhatikan wajah Ayah dan Gilang secara bergantian, wajah mereka berdua pun sama tegangnya denganku.
"Bismillah..."
"Muhamnad Gilang Syuhada, saya nikahkan kamu dengan putri kandung saya. Terry Nergissa binti Reihan Aulia dengan mas kawin emas 21 gram, di bayar tunai."
Ku perhatikan wajah Gilang yang menyambut ijab Ayah dengan suara yang keras dan juga tegas. Mengucapkannya cepat dengan satu nafas.
"Sah." ucap saksi dan di ikuti seluruh tamu yang hadir.
Sejenak aku terdiam, melamunkan segala kejadian hari ini. Masih tak percaya dengan status baruku yang sudah menjadi istri Gilang.
Pikiranku melayang, masih bingung dan juga sangat tegang dengan keadaan yang baru saja terjadi.
"Terry." panggil Gilang lembut.
"Hah." jawabku terkejut.
"Mau menyesal sekarang juga sudah terlambat."
"Siapa yang menyesal?" tanyaku.
"Kenapa melamun saja dari tadi?"
"Haahh." ku buang nafasku dan menjatuhkan kepalaku di bahu Gilang.
"Aku rasanya mau mati, Gilang." ku pegang dadaku yang masih sangat berdebar dengan kencang.
"Jangan mati sekarang, belum juga malam pertama."
Ku angkat kepalaku seketika dan melihat wajah Gilang yang tersenyum dengan lega. Ku usap wajah Gilang dengan kedua tanganku.
Dengan cepat tangan Gilang meraih salah satu tanganku. Mencium telapak tanganku dengan lembut. Perlahan jantungku yang berdebar karena ketegangan berubah menjadi debaran yang hangat.
"Apaan sih?" ku tarik tanganku dengan cepat dan ku gulum senyum.
Gilang merapikan jas yang ia kenakan dan bangkit. Memberikan lengan tangannya untuk ku pegang.
__ADS_1
"Ayo berdiri, masih banyak tamu yang harus kita salami kan?" ucapnya dengan tersenyum manis.
Ku peluk lengan tangan Gilang dan bangkit perlahan. Berjalan mengikuti langkah kaki Gilang.
"Terry."
"Hem." ku palingkan pandanganku kearah Gilang.
"Nanti mau di kamar siapa? kamar kamu atau kamar aku?"
"Apaan sih Gilang, mesum tahu gak?" jawabku tersipu malu.
Ku lepaskan pelukan tanganku dan berjalan menjauh, menyapa beberapa tamu yang hadir disini.
"Terry." Tantri berlari mendekat dan memelukku erat.
"Ih tega, kamu nikah duluan, mana sama Dosen sendiri lagi." goda Tantri.
"Kamu kapan?" tanyaku sambil mentoel ujung hidungnya.
"Kira-kira Pak Reino mau gak ya sama aku?" tanya Tantri sendu.
"Aish Tantri, pak Reino itu tidak baik buatmu. Dia suka tebar pesona dimana-mana."
"Iya deh, Dosen yang baik kan hanya suamimu."
"Aku gak ada bilang begitu, aku hanya gak ingin kamu sakit hati."
"Tapi pembalasan kamu keren, Terry."
"Maksud kamu?" tanyaku bingung.
"Yudha mengirim undangan pertunangan sama kamu, kamu malah undang dia di pernikahan kamu. Balas dendam dengan cara elegan."
"Ya Tuhan, Tantri. Pernikahan aku bukan ajang balas dendam."
"Tapi kira-kira dia bakalan datang gak ya?"
"Sama sepupu aku."
"Siapa? Kak Evan?"
"Bukan, adiknya."
"Oh, mana dia?"
"Tadi lagi ketemu sama pacarnya, adiknya suamimu pacar dia."
Eh ... Tunggu dulu, Guntur pernah bilang kalau kak Evan itu kakaknya pacar dia. Jadi kalau Guntur nikah sama pacarnya, berarti aku dan Kak Evan akan jadi saudara ipar?
Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
Semoga Guntur cepat putus dengan pacarnya.
Kalau sampai mereka menikah, lalu aku dan Gilang? bagaimana menjelaskannya dengan Gilang nanti?
Apa dia akan setuju kalau punya ipar mantan istrinya sendiri.
Haduhh, mati sajalah kau, Terry.
"Terry," senggol Tantri di lengan tanganku. "Selfie dong." Tantri mengeluarkan ponselnya dan memfoto.
"Kamu cantik banget, tahu gak? warnanya cocok banget sama kamu." Tantri mentoel pipiku dengan lembut.
"Ayo foto yang benar, panggil sepupu kamu." ajakku mengalihkan perhatian.
"Gak usah, biar aja dia sama pacarnya. Aku selfie sama kamu aja." Tantri kembali memfoto dengan ponselnya.
"Sebentar." ku tahan tangan Tantri yang ingin mengambil gambar.
"Gilang." panggilku lembut
__ADS_1
"Ya."
"Sini."
Gilang berjalan mendekatiku, ku ambil ponsel Tantri dan memberikan ke tangan Gilang. Gilang menerima ponsel Tantri dengan sedikit bingung.
"Fotoin kami sebentar."
"Terry gak salah? aku pengantin prianya loh."
"Sudah fotoin aja dulu."
"Jadi begini kalau mahasiswi naik level jadi istri." ucap Gilang sambil mengangkat tangannya, menangkap gambar kami berdua.
Gilang menggelengkan kepalanya, mau tak mau, dia harus mau mengikuti perintahku. Mengambil beberapa pose gaya aku dan Tantri berdua.
"Gilang happy wedding, Bro." sapa beberapa Dosen muda dari kampus kami sambil mengulurkan tangannya.
"Makasih." jawab pak Gilang menyambut uluran tangan mereka. "Kalian sudah makan?" sambungnya.
"Tenang saja, kami gak buru-buru kok." jawab pak Reino.
"Kalau gitu, ayo foto dulu." ajak Gilang pada empat dosen seperjuangannya itu.
"Terry, sini." Gilang memberikan ponsel Tantri padaku.
Ku hidupkan kamera ponsel Tantri dan mengangkatnya perlahan.
"Kenapa kamu yang jadi tukang foto?" tanya Gilang dengan menaiki sebelah alis matanya.
"Oh, aku pikir kamu..."
"Aku gak sekejam kamu." putus Gilang langsung.
Ku gulum senyumku dan menarik tangan Tantri. Berkumpul bersama teman Dosen Gilang. Walaupun sedikit canggung saat berada sejajar dengan Dosen-Dosen ini.
Aku harus terbiasa dengan perubahan suasana lingkup pertemanan yang seperti ini. Apalagi kalau di kampus, entah bagaimana nasib aku selanjutnya saat bertemu dengan fans Gilang.
Entahlah, kenapa pikiran aku mengacau tak karuan seperti ini?
Terasa tangan Gilang yang menarik pinggangku untuk menempel pada badannya saat melakukan sesi foto bersama. Makin lama pegangannya semakin mengerat. Tanpa sadar tangan ku meraih bahu Gilang dan ku tatap wajahnya.
Dengan ekspresi tak bersalah, dia masih tersenyum manis di depan kamera.
Setelah sesi foto selesai, pegangan tangannya terlepas. Dengan senyum manis yang tak bersalah itu, dia menyalami tamu-tamunya.
"Terry, aku cari sepupu aku dulu ya." pamit Tantri padaku.
"Jangan cepet-cepet pulangnya." pintaku manja.
"Iya, enggak." jawab Tantri lembut. "Pak Gilang, selamat ya." ucap Tantri tersenyum sendu.
"Makasih, Tantri." jawab Gilang dengan tersenyum ramah.
Setelah tamu-tamu itu pergi, Gilang melirik kearahku dengan tatapan tajam. Bibirnya tersenyum penuh makna.
"Kenapa lihatin aku gitu banget?" tanyaku saat mendapati tatapan tajam dari lelaki di sebelahku ini.
"Terry apa kamu melakukan kenakalan di belakang aku?" tanya Gilang dengan tersenyum sinis.
"Kenakalan apa?" tanyaku bingung.
Gilang berjalan mendekat, perlahan ia mendekatkan kepalanya ke wajahku. Terasa hembusan nafasnya yang hangat di kulit wajahku.
"Kenapa asetmu lebih terasa ada sekarang, di bandingkan terakhir kali kita pelukan?" bisiknya lembut.
Seketika mulutku menganga lebar, mataku membulat sempurna. Perlahan wajahku memerah padam, malu sendiri mendengar ucapan Gilang.
"Ih ... Gilang mesum." ucapku sedikit berteriak.
Ku sapu wajah Gilang dengan kasar, dan berjalan menjauh. Terdengar suara kekehan dari bibir Gilang.
__ADS_1
Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan saat menikahi lelaki mesum seperti dia?