Cinta Pertama

Cinta Pertama
42


__ADS_3

"Apa?" tanyaku sedikit terkejut.


Perlahan pegangan tangan pak Gilang melemah. Pak gilang menundukan pandangannya jauh kebawah. Menumpuhkan kedua siku tangan diatas kedua pahanya.


"Maaf, tapi saya hanya ingin kamu bahagia. Saya tak ingin melihat kamu menyerah dan menyesal saat keaadan tak lagi bisa sama." ucap pak Gilang sendu.


Sejenak suasana kembali hening, kami hanya terdiam dan berperang pada pikiran masing-masing.


Aku tak tahu jika selama ini pak Gilang juga korban seperti aku. Sempat kehilangan kehangatan keluarganya, dan di ganti dengan kehangatan yang lain.


Pak Gilang hanya terdiam terpaku, matanya terus menunduk kebawah. Mungkin luka ini juga masih sangat ia rasakan.


"Pak." panggilku lembut.


"Hem." jawab pak Gilang kembali tersenyum.


"Mau saya pergi?" tanyaku hati-hati.


"Kamu mau dengarkan saya bercerita."


"Jika Bapak tidak terluka." jawabku hati-hati.


"Tidak, saya baik-baik saja." kembali pak Gilang tersenyum sendu.


Ya Tuhan, sebenarnya seperti apa Pak Gilang ini? semakin hari segala sisinya semakin terlihat nyata.


"Saya dan mbak Gita itu satu Ayah. Tapi sama Guntur kami hanya satu Mama."


"Apa karena ini juga Bapak dan Guntur terpaut umur yang jauh?"


"Iya." Pak Gilang melepaskan senyum getirnya. "Mama mengalami KDRT, saya gak ingat saat itu umur berapa, namun saya dan mbak Gita selalu menemui wajah Mama yang lebam setiap kami membuka mata." ucap pak Gilang sambil tersenyum, namun terasa senyumnya menyimpan luka.


"Saya gak bisa berbuat apa-apa saat melihat Ayah saya memukuli Mama, dan membuat mata Mama selalu berair. Sampai akhirnya Mama meyerah karena siksaan tangan Ayah. Kami hidup bertiga, dan bertahan tanpa Ayah ternyata lebih sulit dari yang kami duga."


Pak Gilang menghela nafasnya dan menegakan posisi duduknya.


"Ya sekarang kehidupan kami baik-baik saja. Mama bahagia menikahi Papa, dan Papa menyayangi saya dan Mbak Gita melebihi ia menyanyangi Guntur." ucap pak Gilang kembali tersenyum.


"Apa Bapak yakin, Bapak baik-baik saja saat ini? apakah Bapak yakin luka masa lalu Bapak gak berdarah lagi?" tanyaku hati-hati.


"Entahlah, kadang saya berpikir, apakah sifat keras saya turun dari Ayah saya. Apakah suatu saat nanti saya akan bermain tangan seperti Ayah saya, karena Ayah saya yang pernah memberikan saya trauma akan kekerasan. Terkadang saya takut mendekati wanita, karena saya takut melukai mereka." ucap pak Gilang kembali sendu.


"Tapi menurut saya, Bapak tak akan pernah menjadi seperti itu. Karena walaupun Ayah kandung Bapak bukan om Ridwan. Tapi Bapak di besarkan di bawah didikan om Ridwan. Saya malah melihat, Bapak itu seperti om Ridwan, lembut, hangat, melindungi dan juga menenangkan."


Pak Gilang tersenyum dan mengangguk, tapi aku merasa di balik senyumnya itu, Pak Gilang sedang terluka saat ini. Sungguh aku mengagumi setiap sisi pak Gilang.


Sifat dan karakternya balance, ia bersikap tegas dan juga killer saat di kampus. Tapi pak Gilang juga bisa melindungi dan menenangkan di luar kampus.


"Begitukah menurut kamu?" tanya Pak Gilang lembut.


Aku tersenyum dan mengangguk pasrah. Kembali pak Gilang melepaskan senyum getirnya, menampilkan jejeran giginya yang yang terlihat sangat indah.


"Pak."

__ADS_1


"Hem."


"Bolehkah saya peluk Bapak?"


Pak Gilang menarik badanku dan memelukku dengan erat. Ku balas pelukan pak Gilang dan tersenyum. Aku tak mungkin bisa sedewasa pak Gilang menghadapi cobaan. Aku juga bukan orang yang bisa memberikan semangat dan dukungan.


Aku hanya bisa memberikan pundak, untuk pak Gilang bersandar, saat ia butuh tempat untuk melepaskan.


"Saya akan berusaha sedikit lagi, saya akan perjuangin sedikit lagi. Saya tak akan menyerah, terima kasih Pak. Karena saat saya seperti ini, Bapak selalu ada untuk menemani."


"Gadis pintar." pak Gilang mengusap lembut rambutku.


Aku tahu, saat ini pak Gilang sedang menyembuhkan. Pelukannya terasa hangat namun juga terasa dingin. Mungkin, pak Gilang terlihat kuat di luar, namun siapa yang tahu beban yang ia rasakan.


***


Ku peluk guling dengan erat, mataku memandang sprai bercorak bunga sakura di kasurku. Sudah dari pagi aku bangun, namun aku hanya duduk diam di kasur sambil memeluk guling.


Aku yang bilang mau berusaha dan berjuang sedikit lagi, namun bagaimana aku memulainya?


Ya Tuhan, bantu aku.


Tok ... Tok ... Tok


Suara daun pintu kamarku di ketuk. Ku biarkan untuk beberapa saat, aku tak ingin bangkit dan juga keluar.


Terdengar suara daun pintu terbuka, si susul Ayah dan Bunda yang mendekatiku.


"Terry, kamu masih marah sama Bunda?" ucap Bunda sambil mengelus pucuk kepalaku.


"Tidak perlu, aku tidak ingin dengar apapun." ku buang pandanganku ke sisi kosong.


"Terry, beri kami kesempatan untuk jelasin ya." pinta Bunda lembut.


"Selama ini aku diam, selama ini aku bungkam. Aku mengalah karena aku tahu kalian terluka. Jadi buat apa mau di buka sekarang, aku tak mau tahu dan aku tak mau peduli." jawabku merajuk.


"Terry, Bunda tahu selama ini kami egois. Bunda sudah membuat kamu dan adik kamu terluka. Bunda minta maaf, Sayang. Bunda akan ceritakan semuanya sama kamu."


"Aku gak mau dengar Bunda. Semuanya sudah terlambat, aku sudah mulai lelah, dan aku mau menyerah." aku bangkit dan ku singkap kain gorden kamarku.


Ku lihat pak Gilang yang baru keluar dari garasi dengan mendorong motornya. Melihat Pak Gilang, aku jadi teringat sebuah ide.


"Buat apa lagi Bunda sama Ayah jelasin, sudahlah aku tak ingin lagi terluka. Selamanya aku tak ingin menikah!" ucapku ketus.


"Terry, jangan berkata seperti itu, Nak. Ayah tak ingin kamu berpikir bahwa semua lelaki sama seperti Ayah. Mengecewakan wanita."


"Maafin Bunda Terry. Jangan seperti ini, Sayang."


Ku balikan badanku dan ku lihat Bunda menangis, terduduk di bibir ranjang. Sementara Ayah terus mengelus pundak Bunda sembari menguatkan.


Pak Gilang benar, masih ada cinta di antara mereka berdua. Namun apa yang terus menahan mereka untuk saling terpisah?


"Aku mau mendengarkan cerita Bunda dan Ayah. Tapi ada syaratnya." ucapku lembut.

__ADS_1


"Apa syaratnya sayang? Bunda akan lakukan, asalkan kamu maafin Bunda, ya." bujuk Bunda padaku.


"Aku mau dengar ceritanya dulu, setelah itu aku beri syaratnya, Bunda sama Ayah gak boleh menolak."


"Baiklah, ayo sini. Bunda akan ceritakan pada kamu."


Aku berjalan mendekati Bunda dan duduk di sebelah Bunda. Ku dengarkan cerita yang Bunda ceritakan. Tak jauh berbeda dari cerita Bunda dulu.


Karena terhalang restu orang tua, Bunda dan Ayah menikah tanpa di dampingi orang tua. Semuanya retak karena orang dari masa lalu Ayah hadir dan berakhir seperti ini, akhirnya.


"Tapi aku dan Selina tak pernah memulai apapun, Nadia. Kami hanya tak sengaja bertemu dan Selina curhat tentang anaknya sama aku." jelas Ayah setelah mendengar Bunda cerita.


"Bagaimana aku bisa percaya Mas? bukankah kamu dan dia punya hubungan sebelum kita menikah?"


"Aku hanya pernah memilih sekali, dan yang aku pilih itu kamu, Nadia."


"Sudahlah Mas, aku pernah mendapati kabar kamu dan Selina sudah kembali bersama. Jadi buat apa kamu pungkiri?"


"Kabar? kabar dari siapa? aku gak pernah kembali sama dia, aku dan Selina hanya berteman biasa."


Kembali salah dan menhyalahi terdengar dari Ayah dan Bunda. Tidak bisa seperti ini, Ayah baru sembuh.


"Cukup." ucapku menengahi. "Bunda, dengar aku, selama yang aku tahu, Ayah gak pernah berhubungan sama wanita manapun semenjak pisah sama Bunda. Bahkan Ayah tak memelihara pembantu di rumah, karena aku tahu Ayah ingin melindungi perasaan Bunda. Aku yakin Bunda paham ini, tapi Bunda gak mau mencoba mengerti."


Bunda hanya menundukan pandangannya kebawah. Ku ambil jemari Bunda. Ku tatap binar bening mata Bunda yang berhiaskan cairan bening.


"Bunda, aku mohon kembalilah sama Ayah. Aku mohon kembalilah, Bunda. Demi aku dan juga Percy, aku tahu Bunda masih cinta sama Ayah, tapi Bunda takut untuk kembali mencoba. Iya kan?"


"Bunda gak bisa, Terry. Semua antara Bunda dan Ayah sudah berakhir. Semua sudah selesai."


"Tapi aku tak pernah melihat ada yang selesai, semua masih mengambang dan semua masih samar. Bunda selalu berusaha menghindari, Bunda selalu sembunyi. Cobalah untuk membuka mata Bunda, ini bukan hanya tentang perasaan Bunda sendiri, Bunda gak akan bisa melindungi hati, jika Bunda hanya bertahan sendiri."


"Nadia, aku tak pernah mengkhianatimu, percaya sama aku." Ayah berlutut di hadapan Bunda dan meraih kedua ujung bahu Bunda, menatap mata Bunda dengan lekat.


"Bunda, bukannya cinta itu ada karena dua hati yang saling terbuka? bukankah selama ini Bunda tersakiti karena Bunda berpikir sendiri itu mampu? kita ini hanya manusia Bunda, kita pernah buat salah, jadi kenapa Bunda gak bisa berpikir kalau Ayah bisa berubah?"


Bunda tersenyum dan meraih kedua pipiku.


"Sejak kapan anak sulung Bunda sudah sedewasa ini? Bunda melewatkan setiap perkembanganmu,  sampai Bunda harus di nasehati sama anak Bunda sendiri." Bunda menarik kepalaku dan memeluknya.


"Bunda, aku hanya ingin agar kita bisa kembali bersama. Aku mau kita kembali membuka lembaran baru tanpa noda. Maafin Ayah Bunda, percaya sama Ayah, kita bisa memulai kembali bersama." bujukku kembali.


"Bunda salah sama kamu dan adik kamu, Terry. Sampai kamu sudah sedewasa saat ini, Bunda gak tahu, Bunda gak menyadari." Bunda meleraikan pelukanku dan mencium dahiku lembut. Menatap kembali wajahku dengan senyum sendu.


"Aku mohon Bunda, kembalilah sama Ayah, ya." pintaku lagi.


"Kamu maunya seperti itu?"


"Ehm." jawabku mengangguk.


"Baiklah, Sayangku. Bunda akan kembali sama Ayah kamu."


Ku gulum senyum dan ku peluk badan Bunda erat. Ada seseorang yang membuka jalan pikiranku tentang kedewasaan Bunda. Ada seseorang yang selalu berdiri di belakangku, ada seseorang yang selalu mengajariku untuk mencari jalan di tengah kesulitan.

__ADS_1


Kalau bukan karena dia, mungkin aku masih menjadi Terry yang sama.


__ADS_2