
Ku hela nafasku, ku buka genggaman jemari Yudha.
"Maaf, aku bisa pulang naik bis." ku langkahkan kaki menjauh dari mereka.
Langkah kaki dan deruan suara motor berjalan mengikuti langkah kakiku. Ku palingkan wajah untuk melihat kebelakang.
Pak Gilang langsung turun dari motornya dan menarik pergelangan tanganku.
"Terry, maafkan saya. Kasih saya kesempatan untuk menjelaskan."
"Terry ayo naik bis bareng aku." Yudha menarik satu tanganku yang lain.
Oh Tuhan kenapa peristiwa ini kembali terjadi, aku muak menghadapi semua ini.
"Sudah cukup!" aku menghempaskan kedua tanganku dengan kuat.
"Bisa gak? kasih waktu aku untuk berfikir, kalian berdua, ish..." ucapku sambil berlalu meningalkan mereka kembali.
Ku stop sebuah ojek yang lewat di depanku dan pergi meninggalkan mereka berdua. Bagaimana aku bisa menentukan antara satu jika mereka berdua terus bersaing seperti itu.
Ku buang tas di atas kasur. Ku rebahkan badanku yang lelah karena ulah mereka berdua.
Ku dengar suara deruan motor berhenti di depan rumah. Ku singkap gorden jendela kamar, mataku menangkap sosok pak Gilang yang baru memasuki garasi rumahnya.
Ku sentuh punggung lelaki itu dari balik kaca jendela kamar.
"Andai tak ada Yudha di antara kita, Pak. Mungkin hubungan kita tak serumit saat ini." ku hela kembali nafasku. Mataku terus menatap lekat bayangan kecil pak Gilang dibawah sana.
Sontak, ku tarik tanganku dari bentangan kaca jendela, saat pak Gilang melihat kearahku. Ku tutup kain gorden secepat mungkin.
Mati aku, kalau pak Gilang sampai sadar, bisa mati kutu aku.
Ting ...
Ku langkahkan kaki menuju kasur dan membuka pesan yang masuk ke gawaiku.
(Jangan seperti saya, yang hanya bisa meraihmu dari balik kaca.) mataku membulat sempurna saat membaca pesan pak Gilang.
Kenapa dia bisa tahu apa yang aku pikirkan saat ini?
Sebenarnya aku bingung, kemana arah ini akan membawaku.
(Kamu bisa meraih saya, karena saya telah jatuh cinta padamu, Terry.) kembali sebuah pesan masuk kedalam gawaiku.
Aku yang saat ini sedang bingung, Pak. Aku yang saat ini sedang dilema, haruskah aku memilihmu, atau masa laluku.
Semua ini membuat aku bingung, semua ini membuat aku bimbang, ada hati yang akan patah, ada harapan yang akan sirna.
Bagaimana mungkin aku melakukannya? aku tak bisa mematahkan hati seseorang, aku takut jika patahan itu akan merubah kalian menjadi seperti aku.
Bagaimana aku bisa menentukan, aku bingung harus bagaimana. Kalian berdua adalah dua orang yang berbeda, namun aku merasa nyaman bersama kalian berdua.
__ADS_1
Aku tahu, aku gak bisa seegois ini. Bagaimana juga kalian tetap akan tersakiti jika aku pun tak mau memilih.
Ku pejamkan mataku, ku hela nafas yang terasa berat. Ada sebuah beban yang tak bisa ku jelaskan, serasa beban ini terus mendorong aku untuk menjauh.
Ting...
Kembali gawaiku berbunyi, ku buka mataku dan mulai melihat pesan yang baru masuk.
(Terry, bisakah turun sebentar. Ada yang ingin saya sampaikan.)
Ku hela nafasku, dan kurapikan sedikit rambut yang berantakan. Ku langkahkan kaki menuruni anak tangga.
Ku lihat pak Gilang dengan santai menyeberangi jalanan depan rumahku, saat melihat aku membuka daun pintu rumah.
Pak Gilang mengumbar senyumnya saat berdiri di hadapanku.
"Terima kasih, Terry. Maaf sebelumnya, lagi-lagi saya membuatmu terpojok." ucap pak Gilang spontan.
"Bapak mau ngomong apa?" tanyaku terus terang.
"Hem, mau cari tempat dulu? biar kita bisa bicara lebih tenang?"
"Kalau begitu, ke taman samping rumah saja, gak apa-apa kan?" tanyaku sambil melirik ke arah pak Gilang.
Pak Gilang hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Mengikuti langkah kakiku berjalan kearah samping rumah Ayah.
"Bapak mau minum apa?" tanyaku saat pak Gilang meletakan bokongnya di kursi panjang taman.
"Gak usah,"
Saat melintas di depannya, pak Gilang menarik pergelangan tanganku. Seketika ku palingkan wajahku, melihat pak Gilang yang saat ini hanya tertunduk lesu.
"Saya hanya ingin berbicara sebentar, bisa kamu duduk dan dengarkan penjelasan saya?"
"Oh." kubuang bokong di sebelah pak Gilang. Ku perhatikan wajah Pak Gilang yang saat ini hanya menatap kosong kedepan.
Semilir angin sore hari membuat suasana di antara kami menjadi sejuk. Namun sudah beberapa menit pak Gilang hanya diam tak membuka suara.
"Pak." panggilku hati-hati.
"Saya minta maaf atas perbuatan saya sama kamu hari ini, Terry." ucap pak Gilang memecahkan keheningan.
"Saya gak tahu kenapa, tapi asalkan itu menyangkut kamu, saya gak bisa tenang." sambungnya lembut.
Perlahan ku tundukan pandanganku, sedikit menggulum senyum, aku bahagia mendengar perkataan pak Gilang yang ini.
Tiba-tiba pak Gilang memutar badannya kearahku, berbicara dengan nada sedikit keras. Membuat jantungku hampir terlompat keluar.
"Jujur saya tak pernah ingin mempermainkan perasaan kamu Terry!" ucap pak Gilang sedikit keras, sambil memandang kearahku.
"Maaf," sambung pak Gilang lirih, ia memegang sudut dahinya yang kini mulai dihiasi buliran keringat.
__ADS_1
"Saya gak tahu kenapa, tapi saya cemburu saat melihat kamu tertawa bahagia, dan itu bukan dengan saya."
Pak Gilang kembali menundukan pandangannya. Ia mengenggam kedua jemarinya. Sebenarnya aku bingung dengan apa yang di ucapkan pak Gilang. Ku garuk kelopak mata kananku yang tak gatal.
"Pak," panggilku lembut.
"Hem." jawab pak Gilang dengan menaikan sebelah alis matanya.
"Saya gak pernah lihat sisi bapak yang berbelit begini, biasanya bapak akan langsung berbicara. Dari tadi Bapak hanya memutar-mutar pembicaraan." ucapku hati-hati.
"Jujur, saya bingung." sambungku lembut.
"Maaf." kembali pak Gilang mengucapkan kata maaf.
Ku pandangi wajah pak Gilang yang menampilkan ekspresi stres. Ya ampun, apa yang membuat dia terbebani seperti ini?
Ku pandangi wajah pak Gilang dengan lekat. Sumpah demi apa? pak Gilang tak pernah menampilkan ekspresinya yang seperti ini saat di kampus.
Kenapa semakin hari, semakin banyak hal tentang dirimu yang ingin aku ketahui, Pak.
Kembali suasana menjadi hening, pak Gilang hanya diam dan menatap kosong kedepan. Aku pun tak ingin berucap apapun, situasi ini membuat aku bingung dan juga sulit, pastinya.
Perlahan satu persatu buliran keringat mulai melintas di dahi pak Gilang. Begitu juga dengan helaian rambut bagian depan wajahnya, satu persatu rambutnya yang tersisir rapi mulai jatuh menutupi kacamata tipisnya.
Semilir angin sore hari, membawa helaian rambut bagian depan pak Gilang terbang.
Namun pak Gilang masih berdiam, ia seperti sedang merangkai kata-kata untuk melanjutkan kalimatnya.
Helaian rambutnya yang jatuh terbawa angin, membuat wajah pak Gilang terlihat begitu manis. Sejenak pesona pak Gilang, membuat aku tak sadar.
Perlahan aku mengangkat tanganku, ku raih helaian rambut pak Gilang yang jatuh menutupi sebagian kacamatanya. Merapikan helaian rambutnya yang terlihat berantakan.
Sedikit terkejut, pak Gilang tersadar dan langsung meraih pergelangan tanganku. Sesaat mata kami saling bertemu. Aku masih bisa menatap mata pak Gilang yang begitu bening di balik kacamata tipisnya itu.
"Terry, saya jatuh cinta sama kamu."
Degh...
Sontak ku tarik pergelangan tanganku yang di pegang oleh pak Gilang. Ku pandangi wajah pak Gilang lekat-lekat.
Pak Gilang menggulum senyumnya, ia meraih helaian rambutku yang sempat terbang terbawa angin, menutupi sebagian wajahku. Menyingkap rambutku di balik telinga.
Pak Gilang mulai bangkit perlahan, dan mengelus pucuk kepalaku dengan lembut.
"Saya tahu reaksi kamu akan begini, Terry."
"Maksud Bapak?" tanyaku bingung.
"Kamu gak bisa bahagia saat bersama saya. Seberapa keras pun saya berusaha membuat kamu tertawa, bahkan tersenyum saja kamu sulit, Terry."
"Tapi, tapi saya gak merasa begitu, Pak." ku coba untuk menjelaskan situasi ini.
__ADS_1
"Sudahlah Terry, saya gak apa-apa. Saya juga gak bisa egois, membiarkan kamu seperti ini terus." pak Gilang menghela nafasnya.
"Kamu tak perlu memilih, biar saya yang mengalah."