
Bahkan Ibu Masitha sangat senang jika mereka tetap tinggal di rumahnya. Tapi karena Dennis sudah memutuskan untuk pindah maka Pak Sahir tidak bisa mencegahnya. Mereka hanya bisa membantu melancarkan rencananya Dennis Ritchie Valens Edgardo
Dennis juga membangun rumah yang tidak jauh letaknya dari rumahnya Pak Sahir kebetulan ada tanah lapang yang kosong sekitar 20 meter dari tempat tinggalnya Pak Sahir.
Dania Aulia Ramadhani Kusuma David tercengang melihat kedua anak kembarnya yang menangis tersedu-sedu tanpa suara. Icha masih menangis sambil memeluk sebuah benda yang mirip dengan bingkai foto. Dania kemudian memeluk anaknya dan berusaha mengambil album foto yang ada di dalam genggaman pelukan Icha.
"Sayang! Apa yang terjadi pada kalian! Katakan sama Mama jangan seperti ini terus dong!" Ujarnya Dania yang tidak tahu harus membujuk dengan cara apa kepada kedua putri kembarnya itu.
Icha dan Fina bersekukuh dan bersikeras tidak ingin mamanya mengetahui apa yang sedang mereka lakukan dan apa penyebab dari kesedihannya itu. Fina tidak ingin Mamanya mengambil bingkai itu.
Karena otomatis mamanya akan mengetahui jika apa yang berada di dalam genggamannya adalah album itu adalah terdapat foto nenek dari suaminya, kedua sahabatnya Dea Ananda Putri dan Ririn Dwi Handayani Dessy dan juga pamannya Pak Jamal dan bibinya Bu Rita Rita.
__ADS_1
"Jangan dilihat mama, saya tidak mau mama melihatnya!" Cegahnya Icha yang melarang mamanya mengambil benda itu.
Fina semakin memeluk dan memegang erat album foto yang berwarna jingga muda itu.
Tangisannya Fina semakin keras saja," Fina mohon jangan diambil Ma, aku gak mau mama ambil albumnya ini miliknya Icha dengan Fina," rengeknya Ica masih menangis.
"Ya Allah… apa yang terjadi pada anakku, kenapa mereka sama sekali tidak mengijinkan aku untuk melihat apa yang sedang mereka peluk itu!" Batinnya Dania yang resah melihat kondisi kedua buah hatinya.
Dania mengelus puncak rambut panjang putrinya yang dikepang dua itu, "Kok Fina dengan Icha gak ijinin Mama untuk lihat albumnya, katakan sama Mama puteri mama kenapa nak seperti ini jangan cuma diam membisu?" Bujuk Dania.
Danisha dan Dania saling bertatapan satu sama lainnya. Mereka seolah mulutnya kaku saking tidak maunya berbicara dan menjelaskan semuanya karena hal itu pasti akan membuat mamanya ikutan sedih.
__ADS_1
"Bicara sama Mama Nak, kalian kenapa? Mama mohon dengan sangat!" Pintanya Dania yang juga sudah sedih dan air matanya menetes membasahi pipinya itu.
Keduanya masih saja dalam mode terdiam seribu bahasa dan hanya sanggup untuk menangis dan bujukan dari Dania tidak mempan dan belum berhasil juga. Dania seolah ingin pasrah saja.
"Ayo dong Nak, tanya Mama ada apa dengan kalian kok nangis terus, apa ada yang gangguin kamu atau Mama punya salah kepada Icha dengan Fina?" Dania belum menyerah masih berusaha untuk membuat salah satu dari kedua putrinya angkat bicara.
Dania selama hidupnya ini untuk pertama kalinya mendapati anaknya dalam keadaan seperti ini. Kedua putrinya jika mereka menginginkan sesuatu pasti langsung berbicara mengutarakan isi hatinya dan apa yang keduanya inginkan tapi kali ini berbeda jauh sangat berbedanya.
Icha saling bertatapan satu sama lainnya dengan adiknya Dafina. Seolah mereka menyiratkan sesuatu yang hanya mereka yang tahu arti dari tatapan kedua pasang matanya. Dania tidak menyerah dan terus membujuk anaknya.
Mungkin karena Icha dan Fina sudah capek menangis akhirnya Dania bisa mengambil album yang ada dipelukan puterinya itu. Ketika berhasil dengan apa yang dilakukan oleh Dania, ia cukup dibuat tercengang mendapati benda yang selama ini disembunyikan dalam pelukannya itu.
__ADS_1
Ternyata itu adalah yang isinya adalah foto anak-anaknya bersama ibu mertuanya. Sebenarnya Damia belum pernah bertemu langsung dengan Nyonya Martha dan Sanaya, tapi dari pembicaraan anak-anaknya tentang mereka makanya dia sedikit tahu tentang karakter, dan kebaikannya mama dan nenek mertuanya.