Cinta Pertama

Cinta Pertama
Bab. 119


__ADS_3

Ternyata itu adalah yang isinya adalah foto anak-anaknya bersama ibu mertuanya. Sebenarnya Damia belum pernah bertemu langsung dengan Nyonya Martha dan Sanaya, tapi dari pembicaraan anak-anaknya tentang mereka makanya dia sedikit tahu tentang karakter, dan kebaikannya mama dan nenek mertuanya.


Bingkai foto itu yang menjadi satu-satunya barang penting Icha dan Fina yang tersisa ikut bersama mereka karena bingkai foto itu ada di dalam tas kesayangannya Icha kala itu yang selalu Icha bawa ke mana-mana jika bepergian.


Danisha jarang sekali melepas ataupun mengganti tasnya dengan yang lain dan kemanapun dia pergi pasti tasnya tidak terlepas tasnya jika berada di luar rumahnya. Tas dengan motif putri Cinderella menjadi temannya.


Dania tersenyum ramah, "Kenapa dengan album foto ini sayang sampai-sampai kalian harus nangis? coba jelasin sama Mama mungkin Mama bisa bantu pecahkan masalahnya!" pinta Dania.


Danish dan Dafina masih sesegukan dan akhirnya membuka mulutnya untuk berbicara karena cukup kasihan juga melihat mamanya yang tidak putus asa untuk membujuk mereka berdua.


Icha menatap intens ke arah bola matanya Dania," saya kangen dengan nenek Sanaya, Tante Dea, Tante Ririn! Mama. Aku sangat merindukan mereka semua sama kakek Jamal dan nenek Rita juga Ma, kenapa mereka satupun tidak ada yang datang Hingga sampai sekarang mereka gak ada yang datang jenguk kami berdua Ma? Kami kan merindukan mereka," ujarnya Fina disela isak tangisnya.


"Ya Allah… ternyata anak-anakku merindukan mereka semua, apa aku diam-diam menelpon mereka memakai nomor yang baru," batinnya Dania.


Dania otomatis dibuat sedih dengan perkataan anaknya. Ia juga tidak tahu harus menjelaskan bagaimana agar Icha dan Fina paham dengan keadaan orang tuanya.


"Bagaimana caraku untuk membuat mereka paham dengan situasi yang telah terjadi selama ini pada kami," gumam Dania yang dengan raut wajahnya yang sendu.


Dania tidak habis fikir kalau anaknya akan mengalami hal ini. Tiba-tiba suaminya datang tanpa kabar sebelumnya. Ia masuk ke dalam kamar puterinya, karena sejak Dania masuk ke kamar putri kembarnya itu ternyata diam-diam Dennis Ritchie Valens Edgardo mengikuti langkah kaki Istrinya Dania Aulia Ramadhani Kusuma David.

__ADS_1


"Apa mereka merindukan Mama dan juga nenek, mungkin jalan yang terbaik aku menelpon mereka agar kedua putriku bisa tenang," batinnya Dennis.


Dennis tanpa berbicara sepatah kata pun langsung mengambil alih memangku puterinya yang masih saja menangis. Sedangkan tadi dia sudah duduk di meja makan sedari tadi, tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda kedatangan Mama dan istrinya.


Dennis yang awalnya menunggu mereka datang tidak kuasa, sanggup dan mampu untuk menahan laparnya. Akhirnya Dennis memutuskan untuk memulai acara makannya walaupun dirinya sendiri hanya ditemani oleh berbagai macam masakan istrinya beserta kursi yang masih kosong yang makanan itu sangat menggugah selera makan mereka.


"Istriku sayang! Apa yang terjadi kepada mereka berdua, kenapa kalian lama sekali baru ke dapur?" Tanyanya Dennis.


Dania dan Dennis suaminya saling berpandangan dan tidak menyangka kalau anaknya akan merindukan Keluarga mereka yang ada di Kota Karena sudah 2 tahun mereka tinggal di Desa T tapi tak pernah sedikitpun terucap kata-kata itu dari salah satu anaknya.


"Icha kok nangis, coba ceritakan sama Papa Nak apa yang kalian inginkan? Mungkin papa bisa memenuhi semuanya itu," tanyanya Dennis yang paling tidak mampu untuk mendengar kedua anak dan istrinya menangis itu sama saja menyayat hati dan nuraninya serta jiwa raganya itu.


"Apa Fina dan Icha tidak suka tinggal di sini atau ada yang gangguin kalian yah Nak?" tanyanya Dennis yang sepertinya sudah mengetahui asal usul kesedihan anggota keluarganya.


Icha menjawab pertanyaan dari papanya itu, "Tidak ada gangguin kok Papa,kami hanya saja… papa tapi aku iri lihat Nabila yang setiap hari di jemput sama neneknya, Pamannya dan juga Auntynya Papa! Tapi dengan kami berdua cuma yang sering jemput mama sama papa saja tidak pernah ada yang lain aku ingin seperti mereka Mama!" Tuturnya Danisha seraya menundukkan kepalanya itu.


Pasangan suami istri itu tersentuh, terenyuh dan sekaligus sedih dengan curhatan anaknya yang selama ini merindukan keluarga mereka yang berada di luar negri. Bukan cuma mereka saja yang merasakan kerinduan tapi sebenarnya Denni dan Dania juga sih merasakan hal yang sama.


"Apa kalian berdua boleh barang sebentar saja menunggu lagi Papa, boleh kan sayang putrinya Papa yang cantik dan pintar serta sholeha sebentar saja?" Ungkap Dennis.

__ADS_1


Hatinya Dennis mencelos teriris mendengar permintaan anaknya itu, "Tidak usah lama Ma, yang penting sudah melihat mereka kita balik lagi ke sini. Aku mohon Papa, kami mohon Ma ijinin Icha dan Fina pulang yah!" Icha dan Fina bergantian ke arah orang tuanya untuk memohon agar keinginannya dipenuhi.


Akhirnya Dennis angkat bicara setelah mempertimbangkannya, "Baiklah ayah akan pikirkan baik-baik kapan kita akan balik ke Kota,tapi ayah minta sama kalian berdua jangan seperti ini lagi, ayah tidak mau melihat puteriku sedih lagi gimana bisa!' imbuhnya Dania.


"Papa seriuskan! Enggak bohong kan sama kita berdua?" Raut wajah keduanya drastis spontan brubah tampak bahagia dengan perkataan dan penuturan dari mulut papanya itu.


"Papa janji akan memikirkan kepulangan kita ke kota, tapi bukan sekarang yah Nak, Icha dan Fina bisa kan menunggu beberapa hari? Jadi untuk sementara waktu kita telpon nenek saja dulu untuk mengobati rasa rindu kalian," pinta Dennis di hadapan kedua kepada anaknya.


Icha dan Fina tersenyum bahagia, "saya sama kakak bisa kok menunggu, yang penting kita akan balik ke kota ke rumah di sana," pungkas Icha dengan mata yang bersinar cerah menandakan hatinya sudah bahagia dan tenang.


"Tapi, kita telpon mereka satu persatu yah Papa katakan kepada mereka aku sangat merindukan kehadiran mereka juga," jelasnya Fina yang sesekali menyeka air matanya mengalir deras membasahi pipinya.


Dennis tersenyum bahagia, "Iya, Papa tidak bohong dan tidak akan ingkar janji nanti sore kita segera telpon mereka okey!" ucapnya Dennis sambil memeluk tubuh kedua anaknya itu.


Dania menyentuh lengan suaminya dan menanyakan perihal keputusannya yang ingin kembali ke kota. Dennis hanya memberinya isyarat kalau ia akan membicarakan tentang ini dengan Istrinya nanti yang paling penting kebahagiaan dan senyuman anakmu dulu.


Dania tersenyum bahagia dan sangat memaklumi keputusan yang diambil oleh suaminya. Keputusan ini sangat berat dan hal ini terjadi demi kebahagiaan kedua puteri kembarnya.


Mereka tidak lama kemudian akhirnya memutuskan untuk pulang ke kota kelahirannya tapi bukan sekarang karena masih banyak yang harus mereka kerjakan untuk kehidupan penduduk desa setempat.

__ADS_1


__ADS_2