
"Percy, gak seharusnya kamu buka masalah pribadi aku sama orang asing, Dek." ucapku tegas.
"Saat seseorang ingin memulai hubungan denganmu, Terry. Dia harus tahu masa lalumu. Dan yang aku lihat, Mas Gilang terima siapapun kamu."
"Gak akan pernah ada yang terjadi antara aku dan pak Gilang." ucapku penuh amarah.
"Percy, kamu terlalu banyak mencampuri urusan pribadi aku!" sambungku sedikit berteriak.
Ku bereskan barang-barangku dengan cepat. Aku kesal karena tingkah Percy yang terlalu semberono.
"Terry, apa salahnya mas Gilang tahu? mas Gilang benaran serius suka sama kamu."
"Percy, cukup. Ini hati aku, ini hidup aku. Aku lebih berhak nentuin kemana hati aku harus pergi." ucapku sambil membawa ransel besar milikku.
"Terry, kamu satu-satunya sauadara aku. Aku cuma gak mau kamu terus-terus an terluka. Aku sayang sama kamu, Terry." ucap Percy sambil menarik lengan tanganku yang ingin turun dari tangga.
"Tapi kamu gak berhak buat buka masalah pribadi aku sama orang lain, Percy."
"Oke. Aku minta maaf, tapi ini semua aku lakukan untuk kamu, Terry. Aku cuma gak mau kamu semakin tertutup kalau kamu terluka lagi sama Yudha."
"Aku bisa melindungi hati aku sendiri, saat ini, aku baik-baik saja!" ucapku sengit.
"Ada apa ini? kenapa kalian berdua bertengkar anak gadis, Bunda?"
"Bunda aku pamit ya." ku ambil tangan Bunda dan menciumnya takzim.
Ku turuni tangga lantai dua itu dengan cepat.
"Terry." panggil Bunda padaku.
Tak ku tolehkan kepalaku kearah Bunda. Aku kesal dengan gadis muda itu. Dia terlalu ceroboh, setelah ini entah bagaimana aku berhadapan dengan pak Gilang.
"Terry." kembali Bunda memanggilku.
"Terry, Bunda gak izini kamu keluar dari pintu!"
Seketika langkahku terhenti, tanganku yang sudah meraih gagang pintu terhenti sebelum membukanya.
Ku palingkan badanku dan ku lihat Bunda sudah menyilangkan kedua tangannya di dada. Berdiri di ujung anak tangga, dan ada Percy di belakang Bunda.
"Ada apa ini? Terry, Percy. Jelaskan sama Bunda."
Sesaat aku dan Percy hanya terdiam, tak ada sepatah katapun yang akan keluar dari dalam bibir kami.
"Terry, apa ini? kenapa bertengkar dengan adikmu sendiri?" tanya Bunda kembali tegas.
"Percy sudah mencampuri pribadi aku, Bunda. Percy terlalu banyak bicara dengan orang asing menganai diriku." ucapku sedikit kesal.
Bunda mengajak kami untuk duduk bertiga dan menjelaskan semuanya. Ku jelaskan semua permasalahan ini, terpaksa aku membuka luka masa laluku pada Bunda.
Setelah mendengar semua kisahku dan juga penjelasan Percy. Bunda menghela nafasnya dan memelukku erat.
"Ada kekhawatiran di balik sikap Percy, Terry. Bunda tahu Percy salah, tapi itu semua karena Percy menyayangi kamu." ucap Bunda menenangkan.
__ADS_1
"Tapi Percy gak berhak kasih tahu masa lalu aku sama Pak Gilang Bunda. Aku malu."
"Kenapa kamu malu? apa kamu juga punya hati sama Gilang?"
"Apa?" tanyaku terkejut.
"Bunda kok ngomongnya gitu sih?"
"Terry, Sayang. Anak gadis Bunda. Dengarin ucapan Bunda. Jika kamu dan Gilang tak ada perasaan, maka kamu gak akan peduli Gilang mengetahui apapun dari masa lalu kamu."
"Tapi aku dan pak Gilang itu cuma sebatas mahasiswi dan dosen Bunda."
"Kita gak tahu hati seorang Terry. Apa lagi Gilang itu leleki, dia bisa saja menyembunyikan perasaannya terhadapmu."
"Pak Gilang sendiri yang bilang kalau dia itu dosen aku, Bun."
"Sayang, kalau dia hanya dosen kamu, dia tidak akan ingin tahu masa lalu kamu. Kita gak tahu apa yang Gilang rasakan. Menurut cerita Percy, Gilang memang suka sama kamu."
Sejenak perkataan Bunda membuat aku tertegun. Aku memang tak pernah mendengar Tantri bercerita kepadaku, jika pak Reino bersikap seperti pak Gilang ke aku. Mungkinkah...?
Ah ... Bunda kenapa semakin buat aku dilema saja sih?
"Sekarang itu tergantung kamu, Terry. Bunda harap kamu bisa tegas dengan hati kamu."
"Bagaimana aku bisa tahu, Bunda?"
"Hati kamu yang akan menjawab Terry, dia yang akan merasakan siapa yang lebih tepat mendampingi kamu saat ini."
Kenapa aku jadi bingung begini.
****
Ku tata beberapa bunga Garberra di dalam buket bunga. Ku coba untuk belajar merangkai bunga seperti Bunda.
Tok ... Tok ... Tok
Kaca di depan display di ketuk, ku alihkan pandanganku dan kulihat Yudha di balik kaca.
Aku kembali sibuk dengan rangkaian bunga-bunga indah ini. Namun kembali Yudha mengetuk kaca itu.
Ku hela nafasku dan ku putuskan untuk keluar menemui dia.
"Maafkan aku, Kirei."
Aku hanya diam dan membuang pandanganku ke sisi kosong.
"Kamu masih marah sama aku?" kembali ia bertanya.
Aku berjalan menjauh dan duduk di salah satu bangku di depan taman bunga Bunda.
"Seharusnya kamu tak meninggalkan aku, Yudha."
"Iya, kamu benar Kirei." ucap Yudha mengikuti langkahku.
__ADS_1
Yudha meletakan sebuah kantungan besar di sebelah tempat aku duduk.
"Seharusnya aku memang tak pernah meninggalkanmu, karena saat ini Kirei yang aku kenal sudah berbeda." ucap Yudha dengan memasukan kedua tangannya ke dalam kantung jaket bajunya.
"Maksud kamu?"
"Kamu yang sekarang lebih rentan di goda orang."
"Aku gak ngerti maksud kamu, Yudha."
"Aku hanya meninggalkanmu sesaat, namun saat aku kembali, kamu sudah berada dalam gendongan lelaki lain."
Aku terkejut mendengar ucapan Yudha. Jadi Yudha tahu kalau kemarin, aku dan Pak Gilang jalan bersama.
"Aku gak bermaksud meninggalkan kamu, Kirei." ucap Yudha menyesal.
"Aku minta maaf, soal sepatu itu. Ini aku belikan kamu yang baru." Yudha mendorong bungkusan sepatu itu kearahku.
"Aku gak butuh sepatu baru." kembali ku dorong bungkusan sepatu itu.
"Kemarin aku tak bermaksud meninggalkanmu, Kirei. Aku pergi membeli sepatu baru untukmu, tapi saat aku kembali, kamu sudah sama lelaki itu."
Sesaat aku kembali terdiam, aku kembali memikirkan ucapan Percy dan juga Bunda. Sifat Yudha yang misterius ini masih sedikit menyimpan rahasia.
Aku masih tak tahu alasan di balik kepergian Yudha dulu. Saat aku bilang aku tak ingin mendengarkan apapun tentang penjelasannya, Yudha lebih memilih diam.
Sebenarnya ada apa? kenapa saat itu kamu pergi Yudha?
"Dia siapa?" tanya Yudha spontan.
"Bukan siapa-siapa." ucapku ketus.
"Dia teman kampus kamu?"
"Bukan." jawabku cuek.
"Apa kamu dan dia memiliki hubungan?"
"Yudha, kamu kenal aku bagaimana, kan?" ku lihat wajah Yudha yang saat ini menatapku serius.
"Aku bukan tipe orang yang dekat sama lelaki manapun, apalagi kalau aku sudah punya hubungan. Gak mungkin aku mau dekat lagi sama kamu." jelasku.
"Karena aku tahu bagaimana kamu, Kirei. Aku bertanya sama kamu."
"Maksud kamu?"
"Kamu bukan orang yang bisa nyaman sama lelaki lain. Tapi saat aku melihatmu dengannya, kamu begitu nyaman dan juga santai, Terry." ucap Yudha sedikit menekan.
"Makanya aku bertanya, kalau kamu gak ada hubungan apa-apa dengannya..." Yudha menggantung kalimatnya.
"Mungkinkah kamu jatuh cinta padanya?" sambungn Yudha.
"Apa?"
__ADS_1