
Setelah berbincang-bincang sebentar Daniel Mananta Wijaya dan Cinta Arinda Edgardo dengan Citra Kirana Ariesta Edgardo dan David Hermansyah Renan. Mereka pun berpamitan pada keduanya.
Tinggallah mereka berdua yang nampak canggung dan seolah tidak ada yang berani buka suaranya untuk berbicara. Mereka diam-diam saling memperhatikan satu sama lainnya.
"Bagaimana kabarnya?" David mulai membuka percakapan diantara mereka berdua sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya itu yang bersandar di dinding tembok rumah sakit.
"Alhamdulillah kalau seperti itu, berarti Mbak bisa ninggalin kalian berdua di sini untuk menjaga Abang Dennis karena kasihan kalau Mbak Dania yang jagain kan Mbak lagi hamil," imbuhnya Cinta yang tersenyum penuh maksud ke arahnya Daniel Mananta Wijaya.
"Nona Muda tidak perlu khawatir dengan masalah Tuan Muda Dennis, serahkan padaku saja, insya Allah… aku akan menjaganya dengan baik," ujarnya David yang tersenyum tipis karena mendapatkan kesempatan untuk dekat dengan Citra.
"Makasih banyak David, aku sangat bersyukur dan berterima kasih kepadamu karena aku bisa andalkan untuk menjaga Abang Dennis," imbuhnya Cinta.
David terus terdiam sambil memperhatikan raut wajahnya Citra," kamu masih seperti dulu masih sangat cantik dan seksi, tapi tadi katanya kembar kenapa wajah mereka tidak sama yah dan juga kenapa aku baru tahu
Citra menoleh sesaat ke arahnya David, "Tidak baik setelah kita bertemu, hidupku terasa sudah berakhir," sarkas Citra.
__ADS_1
David tersenyum tipis, "Aku tidak percaya kalau hidup kamu seperti itu, apa lagi aku tidak bisa melupakan semua kenangan indah kita, walaupun hanya semalam?" Timpalnya David.
David yang sengaja berbicara seperti itu untuk menguji dan mengukur sampai di mana kejujuran dan kesetiaannya Citra.
"Tiga tahun lebih, bagi orang lain itu hanya tiga saja tapi, bagiku itu sangat panjang bahkan sangat menyiksaku, aku pernah berfikir untuk mengakhiri hidupku disaat aku tidak bisa mendengar suaramu, tawamu, dan melihat senyummu, Aku tidak bisa menjalani hidupku dengan baik tanpamu, karena setiap hari pun aku selalu mencari keberadaanmu," terangnya David engan mimik wajah sendu yang sudah menampilkan kesedihan.
Air mata itu terlihat jelas di kedua pasang mata indahnya Citra. Air matanya mengalir fengan sendirinya tanpa aba-aba dari empunya, bahkan Citra sudah terisak setelah tahu apa yang dia alami dan rasakan selama mereka berpisah, David pun rasakan.
"Tapi aku selalu berusaha untuk kuat dan tegar dan tidak putus asa untuk mencarimu, karena aku yakin suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi dan benar sekali hari ini buktinya,"pungkas David lagi.
"Tiga kita tidak pernah bertemu lagi, mungkin Papa kamu sudah menjodohkanmu dengan pria pilihan kedua orang tuamu!" Ucapnya David.
Citra masih melanjutkan bercerita tentang kisah hidupnya di luar negri tanpa ada orang lain yang mengetahui kecuali Cinta kakak kembarnya sendiri.
David mulai duduk di sampingnya Citra sambil berbincang. David tidak percaya karena ia sangat tahu bagaimana karakter ayahnya Citra pak Edgardo. Jika sudah memutuskan sesuatu pasti tidak akan pernah merubahnya lagi.
__ADS_1
"Hamil!!" Beo David yang merasa ia hanya salah dengar.
David terkejut dan sekaligus kaget dengan penjelasan Citra tentang yang katanya Pak Edgardo tidak pernah menyinggung perihal perjodohan Citra dengan pria lain.
David pun sebenarnya mengalami hal itu. Karena selama kepulangannya ke Indonesia, Mama dan ayahnya sedikit pun tidak pernah bertanya kepadanya tentang perempuan yang dia sukai. Apa lagi menyuruhnya untuk menikah karena jawabannya pasti dia akan bilang nanti kalau sudah ketemu dengan Citra.
"Citra aku pernah bermimpi dan mimpi itu tidak hanya satu kali saja aku alami bahkan lebih dari beberapa kali aku melihat kamu hamil dan melahirkan anakku," ucap David yang menjelaskan tentang mimpinya itu.
"Mimpi kamu itu emang benar, karena aku hamil dan melahirkan anakmu!" Jelas Citra yang jujur saja di depan David karena ingin melihat apa David terkejut atau marah sambil mengaduk minumannya yang sudah tidak dingin lagi.
"Suatu malam dan tepatnya sekitar dua tahun perpisahan kita, aku bermimpi melihatmu menggendong dua orang anak bayi perempuan di sebuah taman dekat apartemenku, dan bayi itu sangat mirip denganku dan juga kamu, berarti mimpiku benar jika kamu hamil dan melahirkan anakku," jelasnya David.
Tiba-tiba Citra semakin mengeraskan suara tangisannya setelah mendengar perkataan dari David. David spontan langsung menarik tubuhnya Citra kedalam pelukannya itu.
"Maafkan aku saat itu, aku sama sekali tidak berniat untuk merenggut kesucianmu tapi, malam itu aku dalam keadaan mabuk kamu juga sama mabuknya hingga perbuatan itu terjadi juga, aku pria bajingan yang sudah melakukan hal kotor malam itu hingga kamu harus menderita seperti sekarang ini, tapi setiap hari aku terus mencari keberadaanmu karena aku ingin meminta maaf dan aku sangat menyesali perbuatanku kepadamu," ujar sesalnya David Hermansyah Renan yang sudah berlutut dan bersimpuh di hadapan Citra yang menundukkan kepalanya karena sangat sedih.
__ADS_1
Mereka memilih tempat duduk yang cukup aman dari anak buah papanya Citra sehingga mereka bebas berbicara dari hati ke hati.
"Tolong lepaskan tanganmu dari tanganku, Ingat jaga batasan kamu, kamu memang papa dari kedua anak kembarku tapi, kamu hanya anak buahnya Papaku jadi ingat baik-baik hubungan kita cukup semalam itu saja! jangan berani meminta hakmu atas kedua putriku karena bagiku anakku tidak punya Papa!" gerutu Citra lalu beranjak dari tempat duduknya untuk meninggalkan David Hermansyah Renan yang masih terduduk di atas lantai keramik.