
Dennis berjalan mendekati mereka satu persatu lalu mendekati salah satu muridnya yang menjadi kebanggaannya selama ini dialah Iqbal. Dennis menepuk pundaknya Iqbal dan juga menepuk bahu Rustan dan mengucapkan sepatah kata.
"Ingat teruskan semua yang pernah aku mulai di desa jangan berhenti dikarenakan ketidak hadiranku di dana, kalau bukan kamu yang melanjutkan dan mengembangkannya aku tidak tahu harus meminta sama siapa lagi kalau kamu butuh bantuan segera lah hubungi saya jangan sungkan dan segan," ungkapnya Dennis penuh harap.
Insya Allah Kak, saya akan melanjutkan perguruan silat kita, sesuai amanah Kakak," Ucap Rustamsyah yang penuh semangat dan terharu juga karena akan berpisah.
Dennis segera menghentikan mobil itu dan mereka karena yang akan memakai mobil itu sampai ke kota. Mobil itu kiriman dari Danil dan David.
Kalau mereka naik bis pasti akan butuh waktu tiga vhari perjalanan sedangkan kalau naik mobil perjalanan hanya memakan waktu satu hari lebih beberapa jam saja.
Mobil yang ditumpangi Dennis beserta anak dan istrinya perlahan-lahan meninggalkan perbatasan desa Sukakarya Sukatani dan Sukamaju dengan kabupaten S. Dimana ada pertemuan disitu oasti ada perpisahan.
__ADS_1
Waktu terus berjalan tanpa menghiraukan kepergian dari orang yang kita sayangi.
Di rumah utama keluarga Edgardo, beberapa rombongan ibu-ibu pengajian mendatangi kediaman keluarga itu.
Mereka akan mengadakan pengajian satu tahun kematian Dennis dan istrinya Dania. Nyonya besar Sanaya mengundang beberapa ibu-ibu pengajian dan ustadz untuk membantu mendoakan keluarga yang telah tiada. Kesedihan yang dirasakan oleh keluarga Edgardo masih sangat jelas
Air mata Bu Sanaya dan Oma Martha tak henti-hentinya menetes mereka masih tidak percaya dengan kenyataan kalau anak, nenantu dan cucu mereka telah pergi untuk selamanya dalam kecelakaan maut yang menewaskan keduanya.
Sampai detik itu juga Tuan Edgardo tidak memberitahukan kepada mereka kalau yang menjadi korban dan meninggal itu bukanlah Dennis dan keluarga kecilnyaya. Karena sampai sekarang pun, neliau belum berhasil menemukan otak pelaku dari pembunuhan itu hingga detik ini padahal sudah mengerahkan seluruh kemampuan dan kekuatan yang dimilikinya itu.
Setiap kali Tuan Besar Edgardo melihat fotonya bersama dengan putranya itu maka air matanya akan menetes tanpa aba-aba membasahi pipinya itu.
__ADS_1
Pak Edgar langsung meneteskan air matanya dan timbul berbagai penyesalan dalam benaknya. Tapi hal ini dia tidak ingin mengatakannya kepada istrinya atau siapa pun karena cukup tahu diri dan malu.
Segala macam harapan, keyakinan, dan doa mereka panjatkan untuk keselamatan anak kembarnya Dennis yaitu Danisha dan Dafina yang sampai saat ini belum ditemukan keberadaannya dan tidak tahu apa kah masih hidup atau sudah meninggal.
Kedua beserta rombongan sampai ke kota dengan selamat. Mereka menginjakkan kakinya kembali di kota setelah kurang lebih 2 tahun tinggal di desa Sukakarya.
Mobil yang mereka tumpangi berhenti di sekitar terminal. Luka yang diderita Dennis juga sudah tidak pernah dirasakan sakit lagi olehnya berkat bantuan dari beberapa jenis obat yang dia konsumsi.
Berkat beberapa ramuan obat tradisional yang diracik oleh pak Ahmad Sahir dan Dania juga istrinya sendiri. Setelah sampai di terminal bus mereka berpisah dengan anak buahnya Danial dan David.
Mereka ingin langsung ke rumah Dania karena rumahnya letaknya lebih dekat dari terminal dibandingkan rumah pribadinya Dennis. Tapi sebelum mereka melangkahkan kakinya untuk melanjutkan perjalanannya, tiba-tiba Icha dan Fina ingin buang air kecil terlebih dahulu.
__ADS_1
"Ma aku pengen pipis, antara aku ke toilet yah Ma!" Danisha meminta tolong pada mamanya sendiri itu berkata demikian sambil menunjuk ke arah Toilet.
.