
David dan Daniel menyerahkan tugas untuk mencari keberadaan Nyonya Sanaya dan Icha dan Fina yang sudah enam hari belum ditemukan. Mereka juga dibantu oleh pihak kepolisian dan juga tentara republik Indonesia untuk menghancurkan gembong pencuri dan penjahat itu hingga ke akarnya.
Diki dan Dion yang diserahi tugas untuk menemukan Bu Sanaya dan kedua cucunya itu sudah berhasil menemukan letak dan posisi mereka. Berkat kegigihannya bersama dengan pihak kepolisian menyusuri hutan belantara.
Akhirnya penantian selama kurang lebih satu minggu ini berhasil juga. Andai saja masih menggunakan roda empat mobil mereka untuk mencari keluarganya mungkin hasilnya akan tetap nihil dan selalu gagal terus.
"Syukur Alhamdulillah Diki kita sedikit lagi menemukan istri Bos dan kedua cucunya itu," imbuhnya Dion.
"Iya apa yang kita lakukan ternyata tidak sia-sia, aku sangat senang dan kalau seperti ini kita akan cepat pulang aku sudah merindukan kekasihku," timpalnya Diki.
Diki sudah berjanji pada kekasihnya untuk memberikan kejutan sebuah lamaran akhir tahun ini. Diki sudah menjalin hubungan diam-diam dengan Cantika.
Diki setelah mendapatkan sinyal dari hpnya, Diki langsung menghubungi nomor hpbya David dan mengabarkan kalau ia telah mengetahui letak rumah yang dipakai penjahat itu untuk menyekap Nyonya Sanaya dan kedua cucunya Danisha dan Dafina.
Diki dan Dion terus berjaga dan siaga jika ada pergerakan yang berarti dari salah satu anak buah penjahat itu. Mereka bersyukur berkat pengalamannya yang pernah hidup dan menetap di luar negri mereka manfaatkan kemampuan keduanya yang ternyata berhasil.
Lambat laun akhirnya Dion bisa menaklukkan hutan itu. Bahkan Dion mencari beberapa tumbuhan yang bisa mereka konsumsi dan beberapa jenis hewan yang cukup berguna untuk mereka. Tapi apa yang dia lakukan dicegah oleh kepolisian.
Dion dan Diki mendirikan sebuah pondok yang cukup menampung mereka berdua. Dan pondok itu cukup aman dan tersembunyi dari penglihatan orang lain.
__ADS_1
Entah kenapa perasaannya Dion dan juga Diki cukup tidak tenang dan tidak nyaman, ia selalu memikirkan keadaan dan kondisi dari Dennis Ritchie Valens Edgardo yang sedang koma. Tapi mereka selalu berusaha untuk membawa pikirannya ke arah yang positif.
Sedangkan di tempat lain, David sudah bersiap dan mengerahkan seluruh anak buah kepercayaannya untuk membantunya menemukan keberadaan keluarganya sesuai petunjuk dari Dion Martadinata dan Diki Kusuma Abdullah.
Perlengkapan dan peralatan yang nantinya akan mereka butuhkan pun sudah siap. Bantuan dari pihak tentara juga sudah datang. Mereka akan berangkat setelah mendapatkan aba-aba langsung dari Daniel Mananta Wijaya.
Di salah satu rumah sakit swasta termahal di Kota Jakarta, yaitu RS Medical center. Citra tidak tahu harus berbuat apa menanggapi perkataan David Hermansyah Renan. Dia bingung dan bimbang harus mengambil langkah dan keputusan apa. Tapi, dia pun memutuskan untuk jujur saja
"Maafkan aku saat itu, aku sama sekali tidak berniat untuk merenggut kesucianmu tapi, malam itu aku dalam keadaan mabuk kamu juga sama mabuknya hingga perbuatan itu terjadi juga, aku pria bajingan yang sudah melakukan hal kotor malam itu hingga kamu harus menderita seperti sekarang ini, tapi setiap hari aku terus mencari keberadaanmu karena aku ingin meminta maaf dan aku sangat menyesali perbuatanku kepadamu," ujar sesalnya David Hermansyah Renan yang sudah berlutut dan bersimpuh di hadapan Citra yang menundukkan kepalanya karena sangat sedih.
Mereka memilih tempat duduk yang cukup aman dari anak buah papanya Citra sehingga mereka bebas berbicara dari hati ke hati.
"Tolong lepaskan tanganmu dari tanganku, Ingat jaga batasan kamu, kamu memang papa dari kedua anak kembarku tapi, kamu hanya anak buahnya Papaku jadi ingat baik-baik hubungan kita cukup semalam itu saja! jangan berani meminta hakmu atas kedua putriku karena bagiku anakku tidak punya Papa!" gerutu Citra lalu beranjak dari tempat duduknya untuk meninggalkan David Hermansyah Renan yang masih terduduk di atas lantai keramik.
Citra memutuskan untuk masih berada di restoran rumah sakit. Dia seakan-akan enggan untuk meninggalkan tempat duduknya. Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Ya Allah… apa keputusanku tadi sudah benar untuk jujur kepadanya tapi, gimana kalau ia menuntut haknya dan merebut kedua putriku dalam pelukanku," batinnya Citra Kirana Ariesta Edgardo.
Tiba-tiba datanglah seseorang yang menepuk pundaknya dan membuyarkan lamunannya. Saking terkejutnya Citra bahkan tersedak dengan minumannya. Dan tidak sengaja menyemprotkan minuman yang ada di dalam mulutnya itu hingga ke pakaian orang yang mengagetkannya.
__ADS_1
"kamu yah, dari dulu sampe sekarang masih saja sama, tak tahu tempat kalau kaget pasti ujung-ujungnya terjadi kemalangan padaku!" Cibir orang itu.
Perempuan itu marah-marah sambil membersihkan wajah dan pakaiannya dari semburan minumannya Citra.
"Maaf, kan kamu sendiri yang mulai, sudah tahu aku nggak bisa dikagetkan tapi masih saja dilakuin, sengaja yah mo lihat aku mati muda mungkin!" Nyinyirnya Citra.
Cantika lalu menarik salah satu kursi yang ada di hadapannya,"Maafkan aku yang tidak bisa diam kalau melihat ada cewek cantik yang melamun, emang kamu mikirin apa sih sampe-sampe melamun gitu?" tanyanya Cantika dengan penuh selidik teman terbaik sekaligus adik sepupunya Citra yang hanya beda lima bulan saja dari usianya Citra.
Cantika adalah orang yang sangat berjasa dalam hidupnya Citra ketika mulai hamil hingga melahirkan bahkan hingga sekarang ini lah orang yang membantunya menjalani hidupnya di Sidney Australia saat kuliah dulu. Cantika Amelia Adijono adalah temannya Citra sejaka masih duduk di bangku sekolah menengah atas.
Dia lah saksi hidup Citra tiga tahun terakhir saat berjuang sendiri di Australia ketika Citra hamil tanpa seorang suami.
"Maaf aku terlambat, maklum Ibu kota macet, kamu tahu sendiri gimana kemacetan yang terjadi di Jakarta kota tercinta kita," ketusnya Cantika adik sepupunya Citra yang sudah seperti saudara kandungnya sendiri.
Citra tersenyum, "Enggak apa-apa kok lagian aku juga belum lama di sini nunggunya," kilahnya Citra yang tidak ingin membuat sahabatnya itu sedih dan merasa kecewa.
Cantika kemudian duduk di depannya Citra dan memesan beberapa makanan dan minuman. Cantika diam-diam memperhatikan tingkah dan ekspresi dari wajahnya Citra yang tidak seperti biasanya.
Cantika meraih tangannya Citra, "Apa yang terjadi padamu?" Cantika memperhatikan dengan seksama raut wajahnya Citra yang seperti orang yang baru nangis.
__ADS_1
Citra menarik nafasnya dengan cukup panjang," aku bertemu dengan pria itu Can, ternyata dia adalah anak buahnya Papa!" jawab Citra yang meneteskan air matanya.
Cantika cukup terkejut mendengar penuturan dan penjelasan dari mulutnya Citra," apa!! kamu serius? kenapa kita tidak tahu semua itu padahal ternyata kalian dekat dan selalu berkaitan erat seperti ada benang merah yang menghubungkan kalian berdua," ungkapnya Cantika.