Cinta Pertama

Cinta Pertama
32


__ADS_3

Aku berjalan cepat meninggalkan kantin kampus. Kenapa aku merasa bersalah seperti seseorang yang ketahuan selingkuh.


Aku dan pak Gilang tak punya hubungan apa-apa. Kenapa perasaan aku begitu tak enak saat melihat ekspresi pak Gilang tadi.


Ku pejamkan mataku dan ku buang nafasku kasar. Mencoba untuk menenangkan gundah yang aku rasakan kini.


"Terry." Yudha menarik lengan tanganku.


"Gilang, dia dosen kamu?"


Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan Yudha.


Seperti terkejut, Yudha menggaruk kulit kepalanya, mengusap kepalanya kasar.


"Apa ini, Terry?" tanyanya bingung.


"Kamu dekati dosen kamu sendiri?" ucap Yudha sambil menangkupkan telapak tangannya di sudut dahi.


"Apa yang kamu pikirkan Terry?"


"Apa? apa kamu pikir aku dekati pak Gilang karena aku mau nilai bagus dari dia?" cerca ku sengit. Tak terima akan pertanyaan Yudha yang seakan menyudutkan aku.


"Selain dosen aku, pak Gilang adalah tetangga Ayah, Yudha. Bukan aku yang mendekati dia!" jawabku sedikit kesal.


"Aku gak menyangka pikiran kamu bisa seliar ini sama aku." ku tinggalkan Yudha di tengah koridor. Kesal karena pengucapan ia yang seakan menjudge aku ini wanita aji mumpung.


"Terry, maafkan aku." Yudha mengejar langkah kakiku.


"Aku sama sekali gak menuduhmu begitu, Terry." Yudha menarik pergelangan tanganku dan membalikan badanku menghadap kearahnya.


Yudha langsung memeluk badanku erat saat badanku berhadapan dengannya. Memelukku erat di tengah koridor kampus.


"Aku hanya takut kalau hatimu goyah, Terry."


Di sudut koridor kulihat pak Gilang yang beridiri terpaku melihatku. Ku pejamkankan kembali mataku dan ku hela nafasku kasar.


Kenapa keadaan ini terus membuat aku dan pak Gilang terjebak kesalah pahaman. Seakan takdir terus mendorong aku menjauh darimu pak.


Ku leraikan pelukan Yudha dan langsung berlari menuju taman tempat Tantri. Ku serahkan kantung plastik itu dan ku terima sebuah notifikasi pesanku.


Ku keluarkan gawaiku, ku baca pesan dari pak Gilang yang menyuruhku untuk keruangannya mengambil jadwal mata kuliah.


"Aku keruangan pak Gilang dulu ya, mau ambil jadwal mata kuliah Biologi." pamitku pada Tantri dan Yudha.


"Terry," tarik Yudha sebelum aku berjalan menjauh.


"Aku temani ya."


"Gak perlu Yud. Aku cuma ambil jadwal kok." ku lepaskan cengkraman tangan Yudha dengan lembut


Dengan sedikit berat, aku berjalan menuju ruangan pak Gilang. Ku ketuk daun pintu ruangan pak Gilang.


Ku lihat pak Gilang yang sedang duduk di kursinya, menatap layar datarnya dengan serius.


"Ambil saja jadwalmu, Terry." perintah pak Gilang datar.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk, ku salin jadwal mata kuliahku dengan cepat. Tak ku lihat lagi pak Gilang yang duduk di balik layar datarnya itu.


"Sudah pak, terima kasih." ucapku, langsung bangkit dan berjalan menuju pintu.


Ku pegang gangang pintu ruangan pak Gilang. Belum sempat ku buka lebar, Pak Gilang mengambil lembut pergelangan tanganku. Menutup kembali daun pintu yang sempat terbuka sedikit.


Membalikan badanku dan mengurungku dalam kedua tangannya yang ia tumpuhkan di daun pintu. Matanya menatapku tajam.


"Apa yang Bapak lakuin?" tanyaku tegang.


"Kenapa bukan saya, Terry?" tanya nya ketus.


"Apa?" tanyaku bingung.


"Kenapa bukan saya yang bisa membuatmu tertawa seperti tadi?" ucapnya kembali tegas. Matanya yang sedikit sipit itu terus menatapku tajam.


"Kenapa saat bersama saya, kamu tak bisa tertawa seperti saat bersama dia?"


"Pak, Yudha itu..." seketika kalimatku terputus saat pak Gilang menarik daguku.


Matanya menatapku penuh arti, pak Gilang mendekatkan wajahnya kearahku. Sangat dekat, sampai aku bisa merasakan hembusan nafasnya.


Perlahan jantungku berdetak semakin cepat. Secepat buruan nafas pak Gilang yang menerpa kulit pipiku.


"Apa yang Bapak lakuin?" tanyaku yang melihat pak Gilang masih berada dalam jarak beberapa senti dengan wajahku.


"Kamu mau bilang apa tadi? bilang terus. Jika jawabanmu berbohong, maka kamu akan saya berikan hukuman."


"Jangan seperti ini pak. Ini di kampus, bagaimana jika ada yang melihat?"


Nafasku terus memburu kencang, kenapa pak Gilang begitu tega membuat aku dalam posisi ini.


"Pak saya mohon lepasin saya."


"Kamu belum jawab pertanyaan saya, kalau kamu mau saya lepasin, jawab pertanyaan saya." kini jawaban pak Gilang begitu lembut.


Menaikan hasrat dalam jiwaku, deru nafasnya yang begitu hangat menyentuh kulit wajahku semakin membuat aku masuk dalam pesonanya.


Ku pandangi wajah itu lekat, saat di dekatnya kenapa jantungku berdetak begitu kuat?


"Semakin lama kamu menjawab, semakin lama kamu saya dekap."


"Pak, Yudha itu, dia teman saya dari SMP. Jadi kalau pun saya dan dia tidak ada hubungan spesial, kami tetap menjadi teman."


"Apakah saya bukan teman kamu? selain dosen kamu, saya juga tetangga kamu, kenapa saya tidak bisa sedekat itu sama kamu?"


Pak Gilang menurunkan tanganya, menarik pinggangku agar menempel pada perutnya.


"Apa yang Bapak lakuin?" tanyaku mulai gerah.


"Saya serius akan meminta kamu pada Ayahmu, Terry." ucapnya lembut.


"Jawab perasaan saya sekarang!"


Ku dorong dada pak Gilang keras, ku buka dekapan tangannya dengan sedikit keras.

__ADS_1


"Bapak gak bisa mempermainkan saya seperti ini?" ucapku sedikit marah.


"Kalau Bapak serius dengan saya, kenapa kemarin Bapak meninggalkan saya?" ku buka daun pintu ruangan itu dan ku banting dengan dengan keras.


Cukup sudah, aku tak ingin lagi melihat pak Gilang yang terus-terusan mempermainkan hati aku. Ku sapu sedikit buliran air yang berada di sudut mataku.


Ku jejaki koridor kampus dengan sedikit berlari. Ku percepat sedikit langkahku saat melewati Yudha di taman kampus.


Dengan sedikit berlari aku berjalan menuju gerbang utama.


"Terry tunggu!" ucap Yudha berlari mengejar langkah kakiku.


Ku hapus lagi sudut mataku yang kembali berair. Takut kalau Yudha akan melihat air mataku ini.


"Terry," Yudha menarik pergelangan tanganku.


"Mau kemana?" tanyanya sambil menatap wajahku.


"Aku mau pulang." jawabku dengan menyungging senyum di bibirku.


"Kenapa buru-buru?"


"Aku lelah, Yud. Ingin pulang, istirahat."


"Aku antar ya." Yudha meraih pipiku dan merapikan rambutku lembut.


Aku hanya membuang senyumku padanya. Seseorang menabrak bahuku dari belakang, membuat buku dalam dekapanku berhambur berjatuhan.


"Aduh maaf ya mbak. Aku buru-buru." ucap gadis itu berlari keluar gerbang.


Ku hela nafasku dan ku pungut satu persatu bukuku. Yudha ikut berjongkok, membantu memungut buku yang jatuh.


Bukan mengambil buku, Yudha malah meraih tanganku. Mengenggamnya erat.


Seketika ku lepas tawaku, dan ku hempas tanganku.


"Apa sih Yudha, cari kesempatan saja." ucapku sambil mencubit punggung tangannya.


"Aku gak lagi main monopoli loh, Ter. Mana ada kesempatan."


"Jadi ini apa kalau bukan kesempatan?" ku pukul kembali tangan Yudha dengan buku yang aku pungut tadi.


"Hobi kamu nampol sekarang ya." ucap Yudha yang mampu membuat aku kembali tertawa.


Ku pukul lagi tangan Yudha. Geram melihat ulah lelaki ini yang selalu bisa mencairkan hatiku.


"Yasudah, aku antar kamu pulang ya." ucap Yudha sambil menyerahkan buku terakhir ke padaku.


Suara deru motor berhenti di depanku, sebuah motor berwarna biru, abu-abu terparkir di hadapan kami berdua.


"Terry, bisa kamu naik ke motor saya. Ada hal yang ingin saya bicarakan sama kamu." lelaki itu membuka kaca helm full facenya. Tanpa melihat seluruh wajahnya, aku tahu siapa di balik helm nya itu.


Ku buang pandanganku kearah Yudha, sebuah jemari meraih tanganku. Yudha mengenggam erat jemariku, seakan tak membiarkan aku pergi dengan pak Gilang.


"Aku..." ku pandangi dua lelaki yang ada di hadapanku ini secara bergantian.

__ADS_1


Ya Tuhan, kenapa aku bisa di hadapkan oleh dua pilihan seperti ini.


__ADS_2