
Istrinya Pak Ruslan tersenyum ketika daun pintu itu terbuka, "Waalaikum salam," sahutnya Pak Ruslan jawab salam dari dalam rumah yang ternyata ibu Asrinai lah Istrinya yang membukakan pintunya itu.
Dennis tersenyum simpul, "eehh ibu aku kira Bapak, ada Bapak Bu?" Tanyanya Dennis.
Bu Asriani membalas senyuman dari Dennis, "Ada kok di dalam, tapi Bapak kebetulan menerima kunjungan beberapa tamunya!" Imbuhnya Bu Asriani.
Dennis mendudukkan bokongnya ke atas kursi kayu itu dengan ukiran Jepara yang sangat cantik, "Kalau boleh tahu mereka masih lama yah Bu, soalnya ada yang ingin aku sampaikan kepada beliau yang cukup penting," jelasnya Dennis.
"Silahkan masuk Nak, aku akan sampaikan kepada bapak kalau kamu datang, gimana dengan kedua anak kembarmu dan istrimu?" tanya ibu Asriani Ardiansyah Ruslan.
"Makasih banyak, syukur alhamdulillah mereka baik-baik saja kok Bu," balasnya Dennis Ritchie Valens Edgardo.
__ADS_1
"Alhamdulillah kalau gitu, masakan istrimu enak-enak dan ibu pengen diajari masak makanan yang kemarin itu loh yang dibuatnya disaat arisan," ujarnya Bu Asrianty.
Dennis tersenyum bahagia mendengar perkataan dan pujian dari Bu desa, "Alhamdulillah kalau ibu menyukai dan akan saya sampaikan kepada Dania istriku," timpalnya Dennis.
"Kalau gitu kamu duduk saja dulu, Ibu akan sampaikan kepada bapak kalau kamu datang ke sini dan ingin berbicara dengan bapak!" Jelas Bu Asrianty.
Ibu Asrianti pun masuk ke dalam rumahnya untuk memanggil suaminya. Tidak berselang lama Pak Desa dan tamunya itu berjalan keluar dari rumahnya menuju tempat duduknya Dennis.
Pak Ruslan Burhani tersenyum ramah, "Assalamualaikum," salam kepala Desa.
Dennis tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan pak Rudianto, Pak Rusli beserta tamunya yang lain. Ada sekitar lima orang tamunya Pak Ruslan saat itu yang mendatangi rumahnya. Mereka pun berpamitan karena urusan mereka sudah selesai.
__ADS_1
"Pak Ruslan yang pertama kali duduk,"Silahkan duduk Nak, kira-kira angin apa yang membawamu hingga kamu menyambangi gubuk sederhanaku ini?" Tanya Pak Ruslan selaku kepala desa.
Dennis tersenyum tipis, "Bapak selalu saja merendah padahal kenyataannya tidak seperti itu," jawabnya Dennis.
Mereka duduk di teras rumah Pak Desa. Ibu Asriantii kemudian datang dan membawa beberapa gelas minuman dan makanan ringan. Beliau segera menata beberapa piring dengan gelas yang sudah berisi kopi dan makanan ringan yang dihidangkan oleh Bu Adrianti.
"Silahkan diminum dan dicicipi kuenya dan maaf semuanya apa adanya saja," ucap ibu Asrianty merendah.
"Makasih banyak Ibu, ini banyak loh sampai-sampai aku tidak bisa memilih mana yang duluan akan aku makan,"candanya Dennis.
Pak Ruslan menatap intens ke arah Dennis sedangkan Dennis mengerti dengan arti tatapannya itu.
__ADS_1
Dennis menarik nafasnya dengan panjang lalu menghembuskan nafas itu dengan kuat, Dennis merasa segan dan ragu untuk mengutarakan keinginannya itu,"Saya minta maaf sebelumnya atas kedatanganku yang telah menganggu aktifitas Bapak, tapi jika saya menundanya entah kapan lagi saya bisa berbicara dengan bapak,"
"Bagi Bapak, kedatanganmu ke rumah bapak tidak pernah merasa kamu memnganggu saya bahkan saya bukan sebagai kepala desa tapi sebagai keluarga kamu, saya sangat bersyukur dan berterima kasih atas bantuannya selama ini yang sangat besar dan berkat jasamu itu kami bisa hidup lebih baik dan lebih sejahtera dari sebelumnya," ungkap Pak Ruslan dengan membanggakan dan memuji kebaikan Dennis.