Cinta Pertama

Cinta Pertama
30


__ADS_3

"Saya suka sama kamu, Terry. Izinkan saya untuk meminta kamu pada Ayahmu."


"Emh ... Pak, itu, Saya." jawabku terbata.


"Enggak! Terry ... aku yang lebih dulu nyatain perasaan ke kamu." Yudha datang dan langsung menarik tanganku.


"Terry, tunggu." pak Gilang menarik pergelangan tanganku.


"Terry, ikut aku pulang." ucap Yudha sedikit menekan.


"Tidak. Terry pergi sama saya, jadi harus pulang sama saya." sanggah pak Gilang lembut.


"Terry, ayo!" Yudha menarik tanganku.


Namun lebih cepat pak Gilang melingkari tangannya di bahuku. Memeluk badanku dari belakang, menghentikan langkahku.


"Tolong lepasin, Terry." ancam Yudha keras.


"Tidak, selagi kamu masih disini, saya gak akan lepasin Terry."


"Terry adalah pacar saya!" ucap Yudha membara.


"Terry adalah calon istri saya!" balas pak Gilang sengit.


"Cukup." teriakku keras.


Seketika Yudha melepaskan cengkaraman tangannya, bersamaan dengan pak Gilang yang meleraikan pelukannya.


"Cukup." bentakku pada dua lelaki yang saat ini sedang berdiri mengapitku.


Ku tutup wajahku dengan tangan, ku sapu wajahku kasar. Pusing sekali, ini di bibir jalan. Kenapa mereka berdua bertingkah seakan sedang merebutkan mainan saja.


"Sadar gak sih ini lagi dimana?" tanyaku jutek. Ku tatap wajah mereka berdua lekat.


"Ini di pinggir jalan!" Sambungku ketus. Sementara mereka berdua hanya saling menunduk dan tak berani menatapku.


Ku putar bola mataku, kesal. Aku menggelengkan kepalaku dan berjalan ke kursi tempat aku duduk tadi. Ku ambil tas dan membayar makanan yang aku pesan tadi. Tanpa melihat kearah mereka, aku pergi menjauh.


"Terry, tunggu." kurasakan kedua tanganku di tarik oleh dua orang yang berbeda.


"Saya minta maaf, saya antar kamu pulang." ucap pak Gilang sambil menarik tanganku.


"Enggak, Terry pulang sama aku!" sanggah Yudha keras.


Kembali terjadi tarik menarik, mereka menarik kedua tanganku. Ku hela nafasku dan ku hempaskan kedua tanganku, geram. Geram sekali.


"Oh come on ... Kalian seperti anak kecil yang sedang berebut mainan, tahu gak?" kembali ku bentak dua lelaki berbadan bidang ini.


"Pak, Yudha. Aku bisa pulang sendiri, jadi kalian kalau mau berantem, teruskan saja."


Kembali ku selempangkan tali tasku. Ku dengar langkah kaki yang kembali mengejarku. Secepat kilat ku balikan badanku, ku lihat mereka berdua yang masih mengintil di belakangku.


"Aku bilang aku mau pulang sendiri, kalian gak dengar?"


"Terry, maafkan saya. Kalau kamu pulang sendiri, nanti apa kata Ayah kamu soal saya?" ucap pak Gilang bersalah.


"Terus kalau Bapak dan Yudha berantem di pinggir jalan seperti ini, Bapak pikir apa anggapan orang tentang saya?"


"Terry, ayo pulang sama aku."


"Kamu juga Yudha. Kapan kamu bisa bersikap dewasa? memang keren ya berantem di pinggir jalan begini?"


Kembali dua lelaki itu saling menundukan pandangannya. Bersalah akan perbuatan mereka. Aku gak habis pikir, kenapa pak Gilang mampu memelukku di tempat umum seperti ini.


Kembali ku balikan badan, melanjutkan langkahku. Kembali terdengar langkah kaki yang terus mengikuti langkahku. Ku balikan badan kembali, ku lihat dua orang itu masih mengikuti juga, tapi kali ini jaraknya agak lebih jauh.


"Kenapa masih ikuti aku?" tanyaku ketus.

__ADS_1


Mereka berdua hanya menggelengkan kepalanya. Tanpa berani melihat kearahku.


"Jangan deket-deket. Sana jauh-jauh!" perintahku ketus.


Tanpa melihatku, mereka berdua mundur dengan bersamaan. Membuat jarak semakin jauh dengan langkah aku berdiri.


"Kurang jauh, mundur lagi!" ucapku sambil sedikit tersenyum.


Mereka kembali mundur beberapa langkah, aku tersenyum geli melihat ulah mereka berdua.


Ya Tuhan, sudah umur berapa, tapi kenapa mereka berdua sangat lucu saat seperti ini.


Kembali aku berjalan, sesekali ku lihat kearah belakang. Mereka masih mengikuti langkah kakiku. Ku hela nafas berat, ku buang bokong ke kursi yang terletak di bibir jalan.


"Mau sampai kapan terus ngikuti aku?" tanyaku kesal.


"Sampai kamu mau pulang sama saya." jawab pak Gilang lembut.


"Enggak, kamu harus pulang sama aku." sanggah Yudha.


"Aku bisa pulang sendiri, sebaiknya kalian pulang saja. Aku ingin sendiri disini."


"Terry, maafkan aku." Yudha berjalan mendekatiku.


Sementara pak Gilang masih berdiri di posisi yang sama. Wajahnya menatapku dengan binar sedih.


"Aku akan maafin kalian berdua, kalau kalian pulang sekarang." perintahku, tak tega melihat wajah pak Gilang yang terlihat begitu bersalah.


"Terus kamu bagaimana?" tanya Yudha sambil berlutut di hadapanku.


"Aku masih bisa pulang naik bis Yudha. Ini juga belum terlalu malam."


"Aku khawatir sama kamu, Terry. Kamu pulang sama aku saja ya." bujuk Yudha memelas.


"Aku bilang aku mau pulang sendiri ya berarti aku mau pulang sendiri. Aku bisa, aku mampu, aku akan baik-baik saja." ucapku ketus.


Kenapa? saat melihat pak Gilang yang pergi aku seperti tak rela. Kenapa kamu tak berusaha membujuk aku seperti Yudha, Pak?


Aku terus memperhatikan punggung yang terbalut jaket putih itu pergi semakin jauh. Kenapa harus kamu yang pergi pak?


Kenapa kamu tak berusaha kembali mengejarku?


"Terry, pulang sama aku ya?" ucapan Yudha kembali menyadarkanku. Ku hela kembali nafasku, ku sapu wajahku kasar.


"Yudha, sebaiknya kamu pulang juga. Aku ingin sendiri, Yudha."


"Tapi, Terry."


"Yudha!" ucapku sedikit menekan.


Terdengar helaan nafas dari lelaki bidang ini. Dengan sedikit menekuk wajahnya, Yudha bangkit dan berlalu pergi.


Kenapa semuanya harus serumit ini? bagaimana aku harus memilih antara satu?


Mana mungkin aku tega menyakiti perasaan pak Gilang. Tak mungkin juga aku menyakiti hati Yudha.


Ya Tuhan, bagaimana aku harus bersikap?


***


"Hai, Terry." Tantri menumpuhkan sebelah tangannya di atas pundakku.


"Hai, Tant."


"Sudah lama gak jumpa makin cantik saja ya." ucap Tantri sambil menarik pipiku.


"Aduh, sakit Tantri."

__ADS_1


"Lihat deh, Terry. Keren kan promosi dari aku, banyak banget mahasiswa yang masuk ke kampus kita." ucap Tantri girang.


"Kan memang setiap tahun nya banyak." jawabku sambil memegang kedua pipiku yang sakit karena ulah Tantri.


"Ih ... Tapi tahun ini lebih banyak."


"Iya deh iya," jawabku mengalah.


"Kamu sudah ada jadwal?"


"Belum, ini mau ke ruang pak Gilang, tanya jadwal."


"Sudah nanti saja, kamu ikut aku ospek anak baru yuk."


"Ah enggak deh, males."


"Ayolah Terry, ngapain ke kampus cuma ambil jadwal saja. Sekalian lihat-lihat cowok baru." bujuk Tantri sambil menggandeng tanganku.


"Kamu saja lah, aku gak minat." tolakku lembut


Tak mendengar ucapanku, Tantri langsung menarik tanganku ke luar dari koridor kampus. Menuju lapangan luas kampus.


Berkumpul Mahasiswa dan mahasiswi baru dari berbagai jurusan. Ku buang bokongku di keramik pinggiran taman. Ku lihat Tantri yang sedang berdiri di depan beberapa kelompok mahasiswa baru.


Tantri memang aktif di beberapa organisasi kampus. Tak seperti aku yang sama sekali tak mau mengikuti organisasi apapun. Lelah dan juga tak minat untuk mencari teman banyak.


Aku lebih suka jika hidupku mengalir seperti ini, tak buruk juga menjadi seorang yang introvert. Selama aku nyaman, maka aku akan baik-baik saja.


Ku keluarkan novel dalam tasku, aku memang suka pada tulisan novel fiksi. Genre romance dan juga teenlit remaja. Aku lebih suka genre yang di bilang ringan, tak suka genre yang berat dan terlalu berbelit.


Sesekali ku buang pandanganku pada Tantri yang sedang memberikan arahan. Beberapa teman lelaki Tantri melihat kearahku, seperti sedang merencanakan sesuatu untukku.


Tantri, awas saja kalau kamu buat ulah yang enggak-enggak. Kembali aku terfokus pada novel yang ku baca. Sebuah sepatu berdiri di hadapanku.


Ku dongakan pandanganku, ku hela nafas dan tersenyum sendu melihat wajah anggota baru kampus ini.


"Kakak yang namanya Terry Nergissah?" tanya lelaki manis di hadapanku ini.


"Iya, kenapa?"


"Kakak cantik sekali, senyum kakak indah bagaikan mawar ini." lelaki itu menyodorkan setangkai mawar putih kehadapanku.


Sedikit geli, aku memaksakan senyumku. Ku sambut bunga yang di berikan lelaki itu padaku.


"Terima kasih." ucapku lembut.


"Minta tanda tangan kakak, ya."


Aku mengangguk pasrah, ku ambil pena yang ia berikan dan mencoret kertas yang ia sodorkan.


Setelah lelaki itu berlalu, ku gelengkan kepalaku. Ku tatap Tantri dengan mata sengitku. Di sudut sana, Tantri hanya tertawa puas.


"Kak, Terry Nergissah ya?" datang lagi lelaki yang lain.


Ku tutup lembaran novelku dan ku sungging senyum kecut di bibirku.


"Sungguh, demi apa? aku rela menukar apapun demi sebuah senyum di bibirmu." ucap lelaki itu sok puitis.


Ku sentuh sudut dahiku, ku tatap lelaki yang berdiri di depanku ini. Ya Tuhan, Tantri, demi apa kamu menjadikanku objek ospekmu?


"Terimalah bunga ini, kak. Berikan aku cintamu, eh ... Tanda tanganmu."


Ku ambil kertas itu dan ku coret secepat mungkin. Setelah anak lelaki itu pergi, aku berjalan mendekati Tantri, ku tarik lengan Tantri menjauh dari teman-temannya.


"Apa sih Tantri? aku gak suka di jadikan objekmu." ucapku kesal.


Namun Tantri hanya terdiam, mulutnya menganga lebar. Ia memelukku erat setelah sepersekian detik terdiam terpaku.

__ADS_1


__ADS_2