
Ting ... Ting ...
Ku dengar lonceng yang diatas pintu kaca toko Bunda berbunyi. Tak ku hiraukan panggilang lonceng itu. Karena sedari tadi aku sudah mendengar suara itu beberapa kali.
Ku susun rapi beberapa bunga carnation dalam vas bunga yang sudah ku rangkai dari pagi. Selama libur kuliah, aku selalu menghabiskan waktu di toko Bunda.
Membantu Bunda merawat taman ataupun belajar merangkai bunga.
Ku ambil sebatang bunga lily putih dan mulai mencari vas yang cocok untuk bunga ini.
"Selamat pagi, Tante." ku balikan badanku saat mendengar suara yang sangat familiar di telingaku.
"Pagi, Gilang. Pagi-pagi udah rapi saja, mau kemana?"
"Saya mau ke makam, Tante. Mau cari bunga sekalian."
"Rajin banget ya ke makam, yasudah kamu pilih bunga di depan ya."
"Baik, Tante."
Ku dengar suara langkah kaki mendekat kearahku. Ku coba untuk tetap sibuk pada vas-vas ciamik di depan mataku.
"Saya mau cari bunga, Mbak." ucap lelaki itu di belakangku.
"Kami gak ada membuang bunga, kami menjual bunga." ucapku sambil membalikan badan.
"Cantik." ucap pak Gilang spontan.
Ku kernyitkan dahiku dan ku coba untuk tidak tersenyum mendengar ucapannya itu.
"Bunga yang di tangan kamu, cantik." sambung pak Gilang yang mampu membuat senyumku pecah.
Aku tersenyum lebar, menampilkan sederet jejeran gigiku dan sampai membuat kedua mataku menyipit.
"Mau bunga apa, Pak?" tanyaku sambil berjalan ke depan jejeran bunga yang masih belum terangkai.
"Cherry blossom."
Aku kembali tersenyum dan ku palingkan wajahku kearah pak Gilang.
"Ini Indonesia, bukan Jepang. Gak ada bunga sakura disini, Pak."
"Kalau gitu, piony."
Aku kembali tertawa dan menggeleng kan kepalaku. Ku lipat kedua tanganku di dada.
"Bapak salah toko. Disini gak ada bunga piony."
"Kalu gitu, beri saya apa yang ada pada dirimu."
"Hah?"
"Bunga yang ada di tanganmu."
"Bunga lily? kenapa gak bilang dengan jelas sih, Pak." ucapku sambil membalikan badan dan mengambil beberapa tangkai bunga lily putih.
"Itu bunga, Cherry."
"Apa?" kembali ku balikan badan menghadap pak Gilang yang berada di belakangku.
"Nama saya Terry, Pak. Bukan Cherry." ralatku sambil tersenyum.
"Tapi saya lebih suka kalau nama kamu, Cherry." pak Gilang mendekatkan wajahnya. "Cherry blossom." bisiknya di telingaku.
Ku cubit lengan tangan pak Gilang. Gemas sekali, pagi-pagi sudah membuat wajahku merona.
"Kalau gitu mbak Rini saja deh yang ambilkan bunganya."
__ADS_1
"Iya, iya. Oke, saya gak akan godain kamu lagi. Buatkan saya satu buket lily putih."
Ku ambil kembali beberapa tangkai lily putih yang sempat aku letakan tadi. Setelah mengikatkan pita berwarna putih, ku berikan buket bunga itu ke pak Gilang.
"Bayar sama Bunda saja, Pak." ucapku sambil menyerahkan buket itu.
Tanpa mengambil buket itu, pak Gilang berjalan ke kasir, ku perhatikan punggung lelaki yang saat ini sedang berbicara dengan Bunda itu. Kenapa suasana hatiku jadi cerah begini, saat melihat ia disini.
Kembali ku sodorkan bunga yang sudah di bayar oleh lelaki manis ini.
"Terry, pulang dari makam jalan sama saya, mau?"
"Kenapa?"
"Gak ada alasan sih, cuma pingin ajakin kamu jalan saja. Gak mau?"
"Coba minta izin sama Bunda, Pak."
"Kalau Bunda kamu izini, kita jalan?"
"Hem."
Pak Gilang kembali menyerahkan buket bunga itu kepadaku. Pak Gilang kembali berjalan kearah Bunda. Tak ku sangka, pak Gilang serius dengan ajakannya.
Setelah mengobrol beberapa menit, pak Gilang kembali kearahku dan mengambil kembali bunga itu.
"Pulang dari makam, saya kesini lagi. Jemput kamu." pak Gilang memukul lembut pipiku.
Sementara aku hanya terdiam, kenapa Bunda jadi mudah sekali memberikan izin untuk aku keluar. Setelah pak Gilang hilang dari pandanganku, ku lempar pandanganku kearah Bunda.
Bunda terlihat asyik merangkai bunga di atas meja stainlesnya. Ku buang bokongku ke kursi di depan meja stainles tempat bunda merangkai. Ku potong duri-duri mawar yang akan di rangkai oleh Bunda.
"Terry, jangan terus kasih harapan. Pilih salah satu, biar tidak terlalu sakit nanti." ucap Bunda tiba-tiba.
"Maksud, Bunda?" tanyaku bingung.
"Pilih siapa yang mau kamu jadikan pacar. Gilang atau Yudha?"
"Bunda lihat, kamu sudah memilih salah satu diantara mereka, Terry."
"Apa sih Bunda, pak Gilang dan aku tak punya hubungan special. Murni cuma dosen dan mahasiswi." ucapku tanpa melihat Bunda.
"Kamu gak bisa bohongi Bunda, Terry. Bunda bisa lihat kamu suka sama Gilang."
"Aauu." ku hisap jari telunjukku yang tertusuk duri mawar.
"Itulah kalau kamu gak hati-hati, Terry. Sini Bunda lihat." Bunda menarik tanganku dan melihat luka di jariku.
"Kamu harus hati-hati saat ingin membuang duri di mawar ini, terry. Selembut apapun kamu memotongnya, dia akan tetap tersakiti." ucap Bunda sambil mengelap jariku dengan tisu.
"Sama seperti kamu yang harus menolak perasaan orang. Selembut apapun perkataan kamu, dia akan tetap menyakiti."
"Maksud, Bunda?"
"Jangan terus di gantungi perasaan orang, Terry. Kamu harus bisa tegas, kamu harus memilih satu diantara mereka. Semakin cepat kamu katakan, maka semakin baik."
"Tapi, Bunda. Aku dan pak Gilang gak ada hubungan apapun, aku dan Yudha juga hanya berteman."
"Mau sampai kapan kamu terus sembunyi Terry? kamu sudah tahu harus memilih siapa, tapi kamu takut untuk mencoba."
Sejenak perkataan Bunda membuat aku terdiam. Sebenarnya aku gak tahu harus memilih siapa, aku nyaman dengan keduanya. Aku tak tahu harus memilih yang mana.
"Cobalah untuk membuka diri, Terry. Buat kebahagiaan untuk dirimu sendiri. Jangan terus bertahan dalam luka, majulah untuk berusaha bahagia."
"Tapi aku gak tahu, Bunda. Aku bingung, aku gak tahu harus bagaimana menilainya."
"Bunda yakin kamu sebenarnya tahu, Terry. Tapi saat ini kamu terlalu takut untuk mengakuinya."
__ADS_1
Bunda menghela nafasnya, Bunda mengambil satu tangkai bunga yang belum aku potong durinya dan memberikannya kepadaku.
"Jika kamu memilih masa lalumu Terry, ingatlah, saat kamu mulai melangkah maju, maka jejak kakimu akan tertinggal di belakangmu. Jika kamu ingin membuka lembaran baru, setangkai mawar tak lengkap tanpa duri."
Ku kernyitkan dahiku saat mendengar kalimat Bunda. Aku sama sekali tak mengerti, aku bukan seorang filosofi.
"Katakan yang jelas Bunda. Terry, gak mengerti."
"Terry, saat kamu memilih kembali bersama Yudha, maka kamu harus bisa membedakan, mana cinta masa lalumu dan cinta masa depanmu. Jika kamu memilih Gilang, ingatlah. Tak akan ada masa lalu tanpa luka."
Sesaat ku pandangi mawar yang di berikan Bunda tadi. Jika aku kembali pada Yudha, bagaimana aku bisa membedakan rasa ini?
Lalu kalau aku memilih pak Gilang, mungkinkah luka masa laluku akan melukai dia suatu hari nanti? atau luka masa lalu dia yang akan melukai ku suatu saat nanti?
"Terry."
"Hem."
"Buat hatimu jelas, Sayang. Rasamu pada Yudha saat ini seperti apa?" tanya Bunda lembut.
"Apakah cinta itu memang masih ada, atau sebenarnya cinta itu sudah hilang? bukan hanya karena kamu bahagia kembali bertemu dia, lalu cinta itu masih bertahan, Terry."
Aku hanya menggeleng pasrah, akupun gak mengerti kemana arah jalan hatiku saat ini. Semuanya masih begitu terasa samar.
Aku masih merasakan hangat saat bersama Yudha. Aku juga merasakan nyaman saat bersama Pak Gilang. Sebenarnya yang mana rasa cinta itu?
"Bunda,"
"Iya."
"Apakah saat Bunda melihat Ayah tertawa, Bunda masih merasakan hangat dalam hati Bunda?"
"Hem, mungkin."
"Bagaimana Bunda bisa tahu, saat ini Bunda sebenarnya masih cinta sama Ayah atau..."
"Ayah dan Bunda itu berbeda, Terry." langsung Bunda memutuskan kalimatku.
"Saat ini Bunda masih sangat mencintai Ayahmu. Tapi keadaan kami terlalu rumit, banyak beban yang gak sanggup Bunda pikul lagi saat melihat wajah Ayahmu hadir kembali." ucap Bunda sendu.
"Bunda hanya punya dua pilihan Terry. Bertahan dalam rasa sakit atau melepaskan Ayahmu dan mencoba bangkit." kini mata Bunda mulai mengeluarkan cairan beningnya.
Ku peluk tubuh Bunda erat, sebenarnya aku tak ingin menyakiti hati Bunda.
"Maafkan Terry, Bunda. Terry gak bermaksud buat Bunda sedih." ucapku bersalah.
"Bunda kasih tahu, Nak. Saat ini kamu masih punya banyak pilihan. Kamu hanya perlu memilih yang terbaik, saat ini bukan hanya cinta yang perlu kamu lihat, Sayang." ucap Bunda kembali tegas.
"Kamu harus bisa memilih lelaki yang bisa mengerti dan melindungi kamu. Bukan hanya karena kamu mencintainya, tapi kamu juga harus lihat, bagaimana cintanya padamu." Bunda menarik jemariku.
Aku kembali pada posisi dudukku yang berhadapan dengan Bunda saat ini. Bunda mulai menghapus sisa buliran air matanya, kembali tersenyum sendu menampilkan deretan giginya.
"Carilah seseorang yang mencintaimu tanpa harus menyakiti hatimu. Jika dia cinta kamu, dia akan berusaha melindungimu."
"Tapi bagaimana aku tahu, Bunda? bukankah sakit itu selalu ada dalam sebuah hubungan?"
"Kamu benar, luka itu selalu ada dalam setiap hubungan. Tapi jika lelaki itu benar-benar mencintaimu, dia akan berusaha agar tidak melukaimu."
"Sudahlah Bunda. Terry bingung, jangan bahas ini lagi."
Bunda meraih sebelah pipiku, kembali Bunda tersenyum sendu.
"Bunda tahu saat ini kamu sudah jatuh cinta pada seseorang, Sayang. Bunda juga tahu saat ini kamu terjebak oleh keadaan."
Bunda mengelus rambutku lembut, Bunda menarik kepalaku dan menjatuhkannya di bahunya.
"Jika Bunda boleh memberi saran, Bunda melihat kamu lebih bahagia saat bersama Gilang, Terry."
__ADS_1
Ku angkat kepalaku tiba-tiba. Kenapa?
Kenapa saat ini Bunda jadi sependapat oleh Ayah dan Percy?