Cinta Pertama

Cinta Pertama
Bab. 149


__ADS_3

Kami tidak mungkin bisa melihat wajahnya karena mereka memakai topeng Nenek dan mobil mereka kami tidak bisa melihatnya dengan jelas karena keadaan yang gelap saat itu tidak ada satupun lampu cahaya yang menyinari sekitar tempat tersebut," ungkap Danisha.


Sedang Daniel dan David berhasil mengikuti Nanda berkat bantuannya pihak kepolisian akhirnya komplotan Roni dan Nanda sudah dibekap dan ditangkap oleh polisi.


Sedang di dalam mobil Bu Sanaya masih raja bertanya pada cucunya itu, "Terus apa yang terjadi setelah itu Nak?" Tanyanya Nyonya Sanaya.


"Apa kalian bisa mengenali wajah dari pelakunya atau lihat plat mobil itu?" Tanyanya lagi Ibu Sanaya yang semakin dibuat kepo dan penasaran dengan apa yang terjadi pada kisah penyelamatan cucunya itu.


"Kami mulai ketakutan dan berteriak karena jumlah mereka sangatlah banyak, sehingga Papa semakin melajukan mobilnya agar tidak terkejar oleh mobil itu, Tapi usaha ayah tidak berhasil malahan mobil kami tergelincir ke dalam jurang hingga terbakar," jelasnya Dafina yang berusaha untuk mencoba untuk mengingat kejadian itu dengan beberapa bumbu aktingnya agar terlihat sempurna.


Danisha ikut menimpali percakapan mereka,"tapi sebelum mobil kami jatuh Mama menyuruh kami untuk keluar, tapi sebelum kami sempat menyelamatkan diri, penjahat itu berhasil menemukan keberadaan kami dan langsung mendorong mobil itu," Icha menjelaskan kepada Neneknya sambil menangis dengan secara detail.


Icha meneteskan air matanya dan melanjutkan aktingnya padahal penjahatnya sudah ditemukan, "Tubuh kami jatuh ke dalam laut dan terbawa arus hingga ke pantai, untung saja ada nelayan yang sedang mencari ikan menemukan, keberadaan kami waktu itu Nek!" ungkap Icha lagi.


"Katanya orang-orang kalau kami sudah meninggal jadi kami dilarikan ke puskesmas yang tak jauh dari lokasi penemuan dan Alhamdulillah kami masih hidup," imbuhnya Fina.


Pak Adam tidak habis pikir kalau si kembar akan menjelaskan semuanya seperti itu, padahal mereka hanya menjelaskan beberapa bagian penting saja.


Pak Ahmad Adam Faisal sangat bersyukur karena si kembar bisa memerankan peran mereka dengan sangat baik bahkan lebih dari perkiraan mereka selama ini. Fina pun ikut menangis dan memanggil nama orang tuanya. Hal ini membuat hati orang yang berada dalam mobil itu meneteskan kembali air matanya.


"Hentikan saja bertanya, kalian hanya membuat mereka bersedih dan menangis saja," pungkasnya Bu Sanaya.

__ADS_1


"Kita harus mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah menyelamatkan nyawa mereka terutama kepada bapak yang telah menjaga dan merawat kalian berdua selama ini," timpalnya Bu Sanaya.


Pak Ahmad tersenyum tulus,"itu tidak masalah ibu, kalian tidak perlu memikirkan itu semua, karena hal itu sudah menjadi kewajibanku untuk menolongnya, dan saya sangat bersyukur mereka bisa selamat dan bertemu dengan kalian," elaknya pak Ahmad.


Mobil yang mereka tumpangi memasuki halaman rumah utama keluarga Edgardo yang cukup luas dan besar itu sehingga mereka lebih leluasa.


"Pak Sam, apa kamar yang saya suruh bersihkan sudah siap?" ucap Ibu Sanaya di hadapan kepala pelayannya.


"Semuanya sudah siap Nyonya Besar!" ucap pak Syam.


"Kalau masalah pakaian dari cucu-cucu saya apa juga sudah siap di lemari mereka?" tanyanya Bu Sanaya yang berjalan beriringan dengan kedua cucu kembarnya.


Pak Edgardo langsung berjalan ke arah ruang merjanya. Sedangkan Si kembar dan neneknya berjalan ke arah kamar yang sudah disediakan oleh pak Rudi Syam untuk cucu pertama sekaligus cucu kesayangannya.


Mereka menyiapkan dua kamar yang saling berdampingan dan kamar mereka sudah dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas, baik itu fasilitas bermain, sekolah ataupun pakaian mereka.


Danisha dan Dafina dibuat takjub, terkesima, terkesan dan tidak hentinya memuji kemegahan bangunan rumah kakek neneknya itu.


"Ini kamar kalian Nak, apa kalian suka!" ucap Nenek Sanaya.


"Suka banget Nek, malahan aku sangat suka dengan kamar ini, makasih banyak Nenek," Fina lompat-lompat di atas ranjangnya yang empuk itu.

__ADS_1


Sedangkan Icha memeluk tubuh neneknya yang sedikit kotor itu karena terkena debu dan kotoran saat berada di dalam lokasi area arena bermain anak kecil.


"Alhamdulillah kalau kamu suka, nenek bahagia dan bersyukur kalau seperti itu,


"Kalau kamarnya Fina gimana Nek?di mana Nek, kok cuma kamar kakak Icha yang mana!?" Imbuhnya Icha.


"Ayo ikut Nenek, nenek akan perlihatkan kamar cucu paling cantiknya nenek," ujarnya sambil menarik tangannya Icha dan Fina agar ketiganya berjalan ke arah kamar satunya lagi.


Mereka meninggalkan kamar Ica dan beralih ke kamarnya Fina. Kamar Icha tak kalah megahnya dengan kamarnya Fina. Kamarnya Icha di desain dengan tema Princess, hal ini membuat Fina berteriak kegirangan setelah melihat semua isi kamarnya.


"Apa benar ini kamarku!? amazing nek, ini kamar apa istana princess sih Nek, kami sangat suka dengan kamar ini, makasih banyak yah Nek!" Pungkasnya Fina sambil mencium pipi neneknya.


"Alhamdulillah nenek bahagia jika kamu suka dengan kamar yang kami sediakan untukmu," tutur Bu Sanaya.


Pak Edgardo langsung menelpon anak buah kepercayaannya untuk membuat berita dia berbagai televisi dan media elektronik untuk mengabarkan kalau cucu-cucunya telah ditemukan dalam keadaan selamat.


"Ingat lakukan semua sesuai instruksi dariku, jangan sampai ada kesalahan, aku ingin melihat reaksi dari penjahat itu, dan tambah perketat pengamanan semua lokasi tempat cucu-cucuku berada aku khawatir Roni masih punya komplotan di luar sana yang berbahaya," Pintanya Pak Edgar dengan orang yang dia telepon.


Bu Sanaya tanpa sengaja mendengar suaminya menelpon, "Aku yakin penjahat itu akan melakukan aksinya untuk mencelakai cucu-cucuku dan aku akan memanfaatkan keadaan ini untuk menangkapnya dan tidak akan memberi ampun kepada penjahat itu, aku akan menghancurkan semua orang yang terlibat dalam kecelakaan itu," geramnya Pak Edgardo Malik Miller dengan tatapan mata yang ingin menelan hidup-hidup pelaku kejahatan itu.


Di tempat lain, Dennis, David dan Daniel sedang duduk menikmati minumannya sambil menelepon, "Rencana kita berjalan mulus, aku sangat salut dengan aksi si kembar yang sempat saya ragukan tapi ternyata anak itu bisa berakting dengan sangat baik dan alami," ujarnya Daniel di hadapan Dennis

__ADS_1


__ADS_2