
"Pak." panggilku lembut.
"Hem."
"Terima kasih sudah mengantar saya. Tapi kalau Bapak mau pulang, saya gak apa-apa."
"Saya gak mau pulang." jawab pak Gilang spontan.
"Eh..." ucapku sedikit bingung."Kenapa?"
"Calon mertua saya lagi kritis, mana bisa saya tenang."
Ku tundukan kepalaku perlahan, ya Tuhan pak Gilang, ku mohon mengertilah. Ini bukan saatnya untuk menggoda.
"Terry."
"Ya."
"Apa kamu sedang marah?" tanya pak Gilang hati-hati.
"Marah?" tanyaku sedikit bingung. "Tidak!" sambungku dengan menggeleng.
"Bukan sama saya, tapi sama tante Nadia."
Seketika ku alihkan wajahku ke arah pak Gilang. Kenapa aku harus marah sama Bunda?
"Apa kamu kecewa? saat Bunda kamu mau menikah lagi, tapi tidak dengan Ayah kamu?"
Sejenak ku hela nafas, menegakkan posisi dudukku. Agar udara yang ku hirup tak lagi menyesak.
"Tidak, Pak. Bunda juga berhak bahagia?"
Pak Gilang tersenyum dan meraih pucuk kepalaku. Mengelus pucuk kepalaku dengan lembut.
"Gadis pintar!" ucapnya lembut.
Kembali pipiku merona merah, duh ya ampun, kenapa suasana nya jadi begini?
"Tapi apa kamu tak ingin jika Ayah dan Bunda kamu kembali bersama?" tanya pak Gilang kembali.
"Anak mana yang tak ingin orang tuanya bersama, Pak? tapi saya juga tak bisa memaksa, Bunda berhak menentukan pilihannya, Bunda berhak bahagia?"
"Apakah menurut kamu, mengenal karakter baru akan bisa membuat Bunda kamu lebih bahagia, di bandingkan kembali bersama?"
"Maksud Bapak?" tanyaku mengernyitkan dahi.
__ADS_1
"Jika Bunda kamu kembali bersama om Reihan, apakah Bunda kamu tak bisa kembali bahagia? apakah orang dengan karakter baru, yang lebih bisa membuat Bunda kamu bahagia?"
"Saya gak tahu sih, Pak. Tapi setidaknya saat Bunda bersama orang baru, maka Bunda tak akan teringat kembali akan luka masa lalu, setidaknya Bunda bisa membuka lembaran baru, tanpa kesalahan di masa lalu."
"Bukan tanpa, Terry. Tapi belum!" jawab pak Gilang sambil tersenyum.
Ku tatap wajah pak Gilang lekat, dengan sedikit bingung aku menatap binar matanya yang begitu bening. Bibirnya tersenyum tipis, namun aku tahu, ada makna lain dari senyumnya itu.
"Saya, om Reihan dan orang yang akan Bunda kamu nikahi adalah lelaki biasa. Kami tak mungkin tak melakukan kesalahan, Terry. Karena kami hanyalah manusia, bukan dewa." jelas pak Gilang lembut.
Sejenak apa yang di katakan pak Gilang ada benarnya. Eh, bukan, tapi memang benar. Mereka hanya manusia, tak mungkin tak berbuat kesalahan.
Saat Bunda menikahi lelaki lain, belum tentu dia tak melakukan kesalahan seperti Ayah. Apalagi aku tak pernah mengenal sebelumnya, iya kalau sifatnya lebih baik dari Ayah, kalau malah sebaliknya?
Maka Bunda akan hancur untuk yang kedua kalinya.
"Kalau saya berada di posisi Bunda kamu, saya akan kembali pada masa lalu dari pada mengenal karakter baru."
"Kenapa, Pak? bukannya kembali ke masa lalu adalah sebuah kebodohan ya?" tanyaku sedikit bingung.
Pak Gilang kembali tersenyum dan menggeleng kan kepalanya.
"Untuk sebagian orang itu adalah sebuah kebodohan, tapi menurut saya, mengenal karakter baru jauh lebih sulit dari pada yang kita duga."
"Oh ya?"
Berbeda dari yang biasanya, mungkinkah posisi ini juga memberikan jawaban atas posisi kita bertiga saat ini?
"Dalam sebuah pernikahan, cinta bukan hanya satu-satunya alasan untuk bertahan, Terry. Kesalahan akan sering terjadi, dan jika Bunda kamu terus berusaha lari, maka selamanya Bunda kamu tak akan mengerti, bahwa pernikahan itu bukan hanya soal dua hati."
Sejenak aku kembali terdiam, aku sama sekali tak pernah memikirkan. Aku juga tak tahu siapa yang sebenarnya bersalah dan siapa yang sebenarnya ada di pihak yang benar.
Tapi pak Gilang benar, jika Bunda terus begini, maka Bunda tak akan mengerti dimana letak kesalahan itu. Apa sebenarnya Bunda tahu? namun Bunda coba untuk palingkan? entahlah Bunda, masalah ini terlalu sulit untuk di artikan.
"Jadi maksud Bapak? apakah setiap pasangan yang melakukan kesalahan, maka kita harus terima kembali?"
Pak Gilang tersenyum dan menggeleng.
"Bukan seperti itu, Terry. Cobalah mengerti keadaan ini."
"Bukan saya tak mau mengerti, tapi ini terlalu rumit untuk di pahami."
Huft ... Terdengar helaan nafas dari pak Gilang. Pak Gilang menyisir rambutnya kebelakang dan terdiam sejenak.
"Om Reihan bukan lelaki yang buruk, Terry. Saya tak tahu seperti apa dia di mata kamu. Tapi saya melihat, ada banyak penyesalan yang om Reihan simpan saat ia memandang kamu."
__ADS_1
"Tapi saya tak tahu sefatal apa kesalahan yang Ayah buat, Pak. Bagaimana bisa saya meminta Bunda untuk kembali?"
"Saat seseorang melakukan kesalahan, dan ia tidak menyesalinya. Maka siapapun berhak untuk meninggalkannya, tapi jika seseorang itu menyesali dan ingin memperbaiki. Haruskah kita menghukumnya? bukankah kita sama saja? suka melakukan kesalahan?"
"Bapak benar, tapi mungkin saja Bunda terluka lebih dalam dari yang terlihat, Pak."
Pak Gilang melepaskan senyumnya dan meraih kedua ujung bahuku.
"Ini bukan hanya tentang sebuah hati yang tersakiti, Terry. Tapi juga tentang hati-hati lain yang telah lama menanti. Jika Bunda kamu hanya memikirkan tentang luka hatinya, maka dia tak pernah tahu. Ada kamu dan juga Percy di antara mereka berdua, apakah selama ini kalian tak terluka? apakah kalian tak kecewa?"
Kembali kata-kata pak Gilang menembus hatiku. Bagaimana mungkin kami tak terluka, jelas aku dan Percy terluka. Apalagi Percy, pasti beban ini sangat sulit buatnya.
"Masih ada cinta yang terlihat diantara tante Nadia dan om Reihan. Kita tak pernah tahu apa masalahnya, mungkin saja mereka berpisah karena kesalah pahaman. Jika itu terjadi, bukankah semua ini akan sia-sia?"
"Tapi jika Bunda tak ingin kembali, apakah harus di paksa?"
"Apakah kamu yakin ingin memiliki Ayah tiri, Terry? jujur itu membuat saya khawatir. Jika Bunda kamu menikah, saya akan menikahi kamu segera, dan membawa kamu pindah!"
"Eh ... Kenapa Bapak bilang begitu?" tanyaku dengan sedikit mundur kebelakang, di tengah keseriusan pak Gilang masih mampu bercanda. Mana garing lagi, candaannya.
Pak Gilang kembali tertawa, bibirnya melengkung selebar mungkin, sampai membuat kedua matanya semakin menyipit.
"Saya hanya memikirkan kemungkinan terburuknya, Terry. Apa kamu pernah melihat calon Ayah tiri kamu?"
"Ehm." ku tundukan pandanganku dan menggeleng pasrah.
"Bunda kamu adalah seorang Ibu dengan dua orang anak perempuan. Saat lelaki menikahi janda dengan anak gadis yang sudah dewasa, maka kemungkinan terburuknya akan lebih besar."
"Maksud Bapak gimana?" tanyaku bingung.
"Saya bukan su'udzon, tapi ini hanya pemikiran logis seorang lelaki dewasa. Kamu dan Percy dua gadis dewasa, kita tak pernah tahu pikiran manusia, Terry. Apalagi sekarang, kasus Ayah kandung yang melecehkan putrinya banyak terjadi, apalagi lelaki lain tanpa ikatan darah. Memalukan!" ucap Pak Gilang dengan sedikit memerah.
Ku gulum senyum dan ku tatap wajah Pak Gilang yang menghadap ke sisi kosong. Apa pak Gilang mengkhawatirkan aku?
"Kamu mengertikan yang saya maksud?" tanya pak Gilang menyadarkanku.
"Jadi maksud Bapak, saat Bunda nikah. Bapak akan membawa saya pindah, tapi tidak dengan Percy? kenapa Bapak tega sih? bagaimana juga Percy masih adik saya." ku cubit lengan tangan pak Gilang dengan membabi buta.
"Ih jahat." sambungku masih dengan mencubit lengan tangan pak Gilang yang terbalut jaket putih.
Dengan sedikit tertawa pak Gilang hanya menahan cubitanku tanpa menghindar sedikitpun. Tak lama aku melepaskan cubitan itu dan menyilangkan kedua tangan di dada. Membuang pandanganku ke sisi kosong. Duduk membelekangi pak Gilang.
"Terry, apa ini maksudnya kamu menerima lamaranku?" bisik pak Gilang di telinga kananku.
Degh...
__ADS_1
Seketika ku palingkan wajahku, tanpa sengaja bibirku mendarat diatas bibir pak Gilang. Mataku membulat sempurna, segera ku mundurkan posisi dudukku dan ku tangkupkan tangan di depan bibir.
Ya Tuhan, apalagi ini?