Cinta Pertama

Cinta Pertama
36


__ADS_3

"Terry, jika tak ada Gilang di antara kita. Mungkinkah kamu membutuhkan waktu selama ini untuk kembali bersamaku?"


Sesaat pertanyaan Yudah membuat aku terdiam. Kembali ku tatap wajah Yudha yang kini mulai menampilkan ekpresi sendu. Ku hela nafasku, dan ku raih punggung jemari Yudha yang ia letakan diatas meja.


"Tidak, Yudha. Ini bukan karena pak Gilang." jawabku sendu. "Keadaan ini menjadi rumit karena aku yang terlalu takut untuk memulai." sambungku dengan sedikit tersenyum.


"Benarkah seperti itu?" Yudha menaiki sebelah alis matanya.


Ku hela nafasku dan membuangnya perlahan.


"Banyak hal yang terjadi dalam waktu lima tahun ini, Yudha. Selama ini aku bertahan dengan mengumpulkan puing-puing hatiku yang pernah hancur tak bersisa. Merangkainya kembali dengan sisa-sisa kekuatanku yang rapuh karena luka yang terus kembali berdarah."


"Terry, aku..."


"Maafkan aku Yudha, maaf jika waktunya terlalu lama. Aku akan berusaha untuk menentukan secepatnya."


"Terry..."


"Yudha." putusku kembali.


"Seandainya aku tak memilihmu, apakah kamu akan membenciku?"


Yudha melepaskan senyumnya, ia membalikan telapak tangannya dan mengenggam jemariku yang sedari tadi berada diatas punggung tangannya.


"Aku tak akan pernah membencimu, Terry. Aku tahu aku pernah salah padamu, dan jika kamu tak kembali memilihku. Mungkin ... Sesuatu yang telah berlalu tak akan pernah bisa kembali."


Ku tarik tanganku dan kembali tersenyum. Kembali ku lahap potongan siomay di dalam piringku.


"Kamu adalah teman pertamaku Yudha. Selama nya aku akan menganggapmu teman pertamaku." ku aduk-aduk siomay di dalam piringku.


"Apakah akan tetap menjadi seorang teman?"


"Apa?" ku dongakan kepalaku dan ku pandang kembali wajah Yudha.


"Apakah selain teman, aku tak punya tempat lain lagi?"


"Yudha, itu, aku..."


"Apakah selama ini rasaku padamu tak pernah nyata, Terry?" tanya Yudha sedikit garang.


"Kamu adalah cinta pertamaku, dan selamanya hatimulah yang selalu aku nanti!" Yudha bangkit dengan cepat dan meninggalkanku sendiri disini.


Ku lihat punggung Yudha berlalu dengan cepat. Ku buang nafas kasar, ku sentuh sudut dahi yang terasa cenutan. Semua keadaan ini semakin rumit.


***


Ku buka penutup botol air mineralku dan meneguknya, membasahi kerongkonganku uang kering karena menceritakan peristiwa lima tahun yang lalu pada Tantri.


Ku pandangi wajah Tantri yang sedikit bingung dan juga heran. Masih tak mencerna setiap kata yang ku ceritakan.


"Terry, lima tahun." Tantri membentangkan telapak tangannya di depan wajahku.


"Lima tahun kita berteman, tapi sedikitpun aku tak tahu tentang masa lalumu." sambungnya ketus.


"Sebenarnya aku ini apa bagimu?" Tantri menarik kedua pipiku karena kesal.


"Iya, aduh, duh. Tantri ini sakit." rengekku melepakas tarikan Tantri.


"Selama ini kamu menyimpan Yudha hanya dalam hatimu. Bagaimana bisa?" tanyanya kembali.

__ADS_1


"Ya buktinya bisa, kan." ucapku kembali meneguk air di tanganku.


"Hebat, kamu sangat hebat Terry." Tantri menepuk tangannya, entah mengejek atau memuji. Tapi aku yakin itu adalah sebuah sindiran.


"Kamu gak pernah anggap aku sahabat!" Tantri menyilangkan kedua tangannya di dada dan mengerucutkan bibirnya panjang.


Ku lepas tawaku dan menggeleng. Bukan tak menganggap sahabat, aku hanya ingin menutup luka yang selalu terbuka ini. Aku hanya tak ingin mengingat kenangan masa laluku.


"Tantri." ku toel lengan tangan Tantri, tetapi Tantri hanya membuang pandangannya ke sisi kosong.


"Tantri." ku toel kembali lengan tangan Tantri.


"Tantri..." ku peluk badan Tantri manja.


"Aku bukan tidak menganggap kamu sahabat, Sayang. Tapi ... Andai kamu tahu bagaimana sulitnya bangkit dari semua luka ini," ku pejamkan mataku dan ku tumpuhkan kepalaku di bahu Tantri.


"Bahkan untuk mengingatnya saja aku masih sangat terluka." sambungku sendu.


"Terry, selama ini kamu gak pernah sendiri. Aku selalu berada di sisimu." ucap Tantri membalas pelukanku.


Aku tahu, kamu sahabat yang baik Tantri. Tapi aku lebih memilih diam karena luka ini bukan untuk di bagi. Aku harus menanggung semua sendiri, karena aku tak pernah mau, seseorang mengasihani aku.


"Eh ... Tapi selera kamu bagus juga ya."


"Hah ... Maksudnya?" ku leraikan pelukan Tantri seketika.


"Pantes saja, Reza yang begitu populer kamu tolak. Eh rupanya belum move on dari sang mantan yang..."


"Yang apa?" ku cubit lengan Tantri keras.


"Au, ah. Terry, kan memang benar Yudha itu keren banget."


"Ya kalau untuk ukuran lelaki di kampus ini lumayan lah, bisa di bilang keren." jawab Tantri asal.


"Kalau sama pak Reino keren siapa?" tanyaku kembali menggoda.


"Wah ... Ya jelas pak Reino, dong. Pak Reino itu bintang kampus." jawab Tantri antusias.


"Bagaimana kalau sama Pak Ruben?" tanyaku kembali.


Tantri memutar bola matanya dan kembali menimbang-nimbang.


"Pak Ruben cool sih, tapi Yudha juga imut." jawabnya ragu.


"Kalau sama pak Zildane?" tanyaku kembali.


"Pak Zildane ya? ehm..." Tantri menepuk-nepuk sudut dagunya.


"Ah ... Pak Zildane itu berbeda, wajah orang Timur Tengahnya masih kental banget."


"Hem ... Begitu." jawabku sambil mengangguk-angguk.


"Terus, kalau sama pak Gilang?" tanyaku dengan sedikit tersipu malu, ku gigit bibir bawahku dan tersenyum-senyum sendiri.


Mengingat kejadian beberapa hari terakhir dengan pak Gilang membuat jantungku bertabuh kencang.


"Kalau pak Gilang sih..." Tantri melirik kearahku seketika. Matanya berubah menjadi tajam.


"Ada apa antara kamu dan pak Gilang?" tanya Tantri menyelidik.

__ADS_1


"Apa? ada apa?" jawabku sedikit gugup.


"Hayo Terry, apa yang terjadi antara kamu dan Pak Gilang?" kembali Tantri bertanya, kali ini ia mendekatkan kepalanya ke depan wajahku.


"Aku hanya bertanya Tantri, dan bukan cuma pak Gilang saja yang aku bandingkan." jawabku mengalihkan.


Celetuk...


Tantri menyelintik dahiku dengan kuat. Ku pegang dahiku yang sakit akibat selentikannya itu.


"Jangan kamu pikir aku ini bodoh  Terry. Kamu dan dosen-dosen keren yang kamu sebutin tadi gak pernah berinteraksi sama sekali. Tapi kalau pak Gilang ..." Tantri menyengir dan memainkan kedua alis matanya.


"Apa kalian punya hubungan?" Tantri semakin mendekatkan wajahnya kewajahku.


"A-a-apa yang k-k-kamu katakan? aku hanya bertanya." jawabku gagu.


"Jangan-jangan, kalian punya hubungan spesial di belakang?" Tantri menyenggol lembut bahuku, menggunakan bahunya.


"Tidak!" jawabku sedikit berteriak.


"Ah yang benar? ayo ngaku, ngaku Terry!" Tantri menggelitikan kedua sisi pinganggku.


Sedikit berteriak, aku berusaha untuk menghindarinya.


"Ayo katakan Terry, kali ini aku harus tahu semuanya." Tantri semakin menguatkan gelitikannya.


"Ah, Tantri hentikan!" teriakku.


Sesekali tawaku pecah karena gelitikan Tantri. Ku geliatkan badanku, dan mencoba untuk menghentikan gerakan Tantri. Namun Tantri masih bersikeras untuk membuka mulutku.


Di tengah candaan kami, nada dering ponselku berbunyi keras. Ku paksa Tantri untuk menghentikan candanya.


Ku keluarkan ponselku dari dalam tas, ku lirik nama yang teryera di layar.


"Bunda." lirihku saat melihat layar ponsel.


Ku geser tombol hijau, dan ku letakan di telinga kiri. Ku letakan satu jari di depan bibir, memberikan kode agar Tantri tak berisik.


"Ya Bunda, ada apa?" tanyaku langsung saat panggilan tersambung.


Kalimat yang di ucapkan Bunda dari seberang sana membuat seluruh jemariku melemas. Kesadaranku hampir hilang mengawan.


Tanpa sadar, ponsel yang ku pegang jatuh bersamaan aliran air bening dari mataku.


Seketika kekuatan dari tubuhku, luruh. Aku terduduk lemas di bibir koridor kampus.


"Terry ada apa?" tanya Tantri cemas, jari Tantri meghapus buliran air mataku yang terus mengalir deras.


"Terry." Tantri menggoyangkan badanku yang kini mulai lemas.


"Terry!" teriak Tantri keras.


Ku palingkan wajahku kearah Tantri, ku peluk tubuh Tantri dengan erat. Ku hirup nafas yang sempat berhenti karena kabar yang Bunda berikan hampir membuat aku kehilangan nafas.


"Tantri aku harus pergi." ku kuatkan langkahku untuk berdiri.


Dengan cepat aku berlari menyusuri koridor kampus. Ku jejaki halaman luas di depan kampus dan secepatnya berlari menuju gerbang.


Rasa kalut membuat aku lupa untuk memperhatikan langkah. Baru selangkah keluar dari gerbang kampus. Sebuah laju motor datang dengan kecepatan kencang dari samping kananku.

__ADS_1


__ADS_2