
Ku lihat bayangan diri dari pantulan kaca besar di depanku. Ku hela nafasku dengan sedikit berat.
Kenapa aku gak pede ya sama penampilanku hari ini?
Gara-gara penata rias tadi memotong poniku, aku jadi gak pede keluar. Sudah beberapa tahun aku memanjangkan poni, kini malah di buat lagi.
"Terry." panggilan dari balik daun pintu menyadarkanku.
Segera ku langkahkan kaki keluar.
"Ayo cepat keluar, tamu sudah banyak datang!" perintah Percy padaku.
"Iya, iya, sebentar."
Ku keluarkan heels berwarna silver dari dalam lemari. Ku pandang sekali lagi wajahku yang sudah penuh dengan riasan.
Dengan model rambut di kepang, dengan lilitan pita berwarna silver dan beberapa aksesoris di kepala. Senada dengan kebaya silver yang ku kenakan hari ini.
"Sudahlah mau di apakan lagi, keluar saja."
Sedikit berlari aku keluar dari ruang rias. Ku lihat Bunda yang juga sedang ingin berjalan keluar.
"Bunda," panggilku lembut.
"Ya ampun, Bunda cantik sekali. Bunda pasti jadi pengantin tercantik sepanjang abad ini."
"Kamu apaan sih Terry? Bunda nervous ini."
"Ya ampun Bunda, seperti pertama kali menikah saja." ku senggol bahu Bunda lembut.
"Sudah Terry jangan godai Bunda terus." ucap Bunda dengan wajah merona.
"Mbak Nadia, mempelai pria sudah tiba, ayo keluar ijab akan segera di mulai."
"Ayo Bunda." ku gandeng tangan Bunda berjalan menuju taman tempat ijab kabul akan di langsungkan.
Ayah sudah berdiri di dekat meja bersama para saksi dan juga penghulu. Kurasakan tangan Bunda yang sedikit gemetar.
"Bunda, Bunda baik-baik saja?" tanyaku.
"Bunda takut, sayang."
"Tenanglah Bunda, semua akan baik-baik saja."
Ku gandeng tangan Bunda dan menghantarkannya ke sisi Ayah. Setelah itu aku ikut duduk di bagian para tamu, menyaksikan resepsi pernikahan kedua orang tuaku.
Sorak gembira terdengar riuh, saat para saksi mengucapkan kata sah. Akhirnya semua luka ini akan bergulir, menjadi awal baru yang indah.
Setelah ijab selesai, kami melakukan beberapa kali sesi foto keluarga, ku lihat senyum indah kembali terukir di wajah Bunda.
"Wah ... Senangnya jadi mempelai pria, baru menikah sudah di kerubungi tiga wanita cantik sekaligus." ucap fotografer menggoda.
"Inilah enaknya kalau jadi pria paling tampan di keluarga." jawab Ayah setengah bercanda.
"Kita ambil satu sesi foto, kali ini gayanya wah, ya." Fotografer itu kembali fokus pada lensanya.
"Oke ... 1 ... 2 ... Cherss." aba-aba yang ia berikan.
Seketika kami bertiga memeluk Ayah, menjadikan Ayah satu-satunya lelaki di keluarga.
__ADS_1
Terdengar suara riuh dari para tamu, yang iri pada posisi Ayah saat ini.
Ku buang bokongku di kursi para tamu, memijat betisku yang terasa pegal.
"Terry, ayo bantu aku." Percy menarik tanganku dan memaksaku untuk kembali berjalan.
"Fotoin aku ya." Percy memberikan ponselnya padaku.
Sementara ia bergaya mesra dengan teman prianya di depan photobooth. Ku jepret beberapa kali dengan sedikit malas.
"Sudah." ku berikan ponselnya kembali.
"Eh tunggu dulu, Terry." hadang Percy.
"Apalagi?" tanyaku malas.
"Fotoin lagi."
"Lagi?"
"Kak Guntur sini!" panggil Percy dengan melambaikan tangannya.
"Ada apa Percy?" tanya Guntur yang datang dari belakangku.
"Foto bareng yuk." ajak Percy mentel.
"Boleh." jawab Guntur pasrah.
Percy kembali bergaya dengan Guntur di depan Photobooth. Ya Tuhan adik kecilku ini? kenapa ganjen sekali.
"Eh ada mas Gilang, Mas Gilang ayo gabung sini!" ajak Percy kembali.
"Enggak deh, Percy." tolak pak Gilang yang jalan ke sebelahku.
"Yah kok gak mau sih?" tanya Percy manja.
"Kurang suka foto." ucap pak Gilang lembut.
"Yaudah, kalau gitu kalian berdua saja yang aku foto." Percy mengambil ponselnya dariku dan menjepret dengan cepat.
"Percy apaan sih? kemariin ponselnya." pintaku sedikit kesal.
"Sudah biar aku ambil gambar kalian berdua, kamu sudah dandan cantik banget gitu, sayang kalau gak di abadikan."
"Aku gak mau, sini!" perintahku sedikit kesal.
Percy berjalan mendekatiku, mendorong badanku agar menempel dengan pak Gilang. Karena terkejut aku sedikit gelempang dan meraih bahu pak Gilang.
Kurasakan tangan pak Gilang yang menyentuh pinggangku. Sejenak aku membuang pandanganku, menatap wajah manis lelaki berbalut jas abu-abu dalam dekapanku ini.
Kurasakan getaran dari dalam hatiku, seluruh tubuhku menjadi menghangat. Sehangat pandangan mata Pak Gilang yang saat ini memandangku.
"Kak Guntur, ayo foto, ini posisi senpurna." ku dengar suara Percy berbisik.
Segera ku lepaskan peganganku dan berpaling ke arah Percy.
"Percy sini kamu!" ku kepalkan kedua jemari tanganku dan ingin beranjak pergi, namun pergelangan tanganku lebih dulu di tarik oleh pak Gilang.
"Terry, ayo foto satu kali."
__ADS_1
"Ah ... Baiklah." ucapku tersipu malu.
Aku dan Pak Gilang berdiri dengan sedikit berjarak. Ku sungging senyum kaku dari wajahku.
"Kenapa berdirinya jauh banget sih? kayak orang marahan aja, Mas Gilang ayo merapat lagi." perintah Guntur.
Pak Gilang berjalan mendekatiku, berdiri sedikit di belakangku.
"Saya lihat hari ini senyum kamu bahagia sekali, Terry." ucap pak Gilang lembut.
"Iya, terima kasih Pak. Karena Bapak juga, hari ini akhirnya tiba." jawabku lembut.
"Dan juga ..." pak Gilang menggantung kalimatnya. "Kamu cantik sekali." bisiknya di telinga kananku.
Sontak ku palingkan wajahku untuk melihat wajah Pak Gilang. Perlahan rona wajahku kembali memerah muda. Ya Tuhan, pak Gilang, bisakah jangan bersikap seperti ini terus.
"Ah sudah, aku gak mau foto lagi." aku berjalan menjauh dan duduk di salah satu kursi tamu.
Ku atur sedikit nafasku yang memburu karena grogi dalam diri. Pak Gilang, paling bisa membuat aku tersipu malu.
"Terry, lihat foto kalian bagus-bagus kan." Percy kembali datang mendekatiku.
Ku putar bola mataku dengan sedikit malas. Ku tarik segelas jus dan meminumnya segera.
"Wah, aku suka posisi kalian yang pelukan."
Puufrt...
Ku semburkan air dalam mulutku saat mendengar ucapan Percy. Ku ambil ponsel dari genggaman Percy segera, dan ku geser layar ponselnya. Melihat hasil jeperetan mereka.
Mataku membulat sempurna saat melihat hasil fotonya.
"Kenapa kalian ambil foto pak Gilang yang memelukku?" tanyaku kesal.
Ku geser lagi layar ponsel Percy dan jariku terhenti saat melihat foto dengan posisi aku yang melihat ke arah pak Gilang.
Sekilas ucapan pak Gilang tadi kembali terbayang. Ku gigit bibir bawahku dan kembali tersipu malu.
"Sini! nanti kalau kamu pegang lama-lama bisa kamu hapus." Percy merebut ponselnya secara paksa.
Ku gelengkan kepala pasrah, tak habis fikir, kenapa foto aku dan pak Gilang bisa di terlihat mesra? padahal itu kan posisi yang tak sengaja.
"Hey Terry, selamat ya, Sayang." Tantri datang dan langsung memeluk badanku.
"Ah, makasih Tantri." ku balas pelukan Tantri.
"Ya ampun, Sayangku cantik sekali." pujinya sambil mengangkat kedua tanganku.
"Apasih? biasa aja." jawabku dengan tersenyum. "Kamu udah makan? ayo sini makan sama aku."
"Eh aku kesini gak sendiri, aku sama seseorang."
"Oh ya, siapa?" ku buang pandanganku ke sekitar Tantri.
Tantri melambaikan tangannya, seorang lelaki datang dengan senyum yang menyungging lebar. Terlihat tampan dengan kemeja putih dan jeans biru yang ia kenakan.
"Apa kabar, Terry?" tanya mengulurkan tangan.
"Aku baik, kak Evan."
__ADS_1