Cinta Pertama

Cinta Pertama
Extra Part 5


__ADS_3

Ku buang bokong di bibir ranjang dan menatap keluar jendela dengan kosong. Terdengar suara daun pintu terbuka dan langkah kaki yang datang mendekat.


Gilang menarik kepalaku dan mendaratkan ciuman diatasnya.


"Terry, kamu istirahat dulu ya. Senin baru kuliah. Aku ada hal yang harus di bahas sama Reino pagi ini." ucap Gilang sambil membuka lemari bajunya.


Aku mendengarkan apa yang di katakan Gilang. Tapi pikiranku masih terus berperang sendiri.


"Terry." panggil Gilang sambil mengelus pucuk kepalaku.


"Hem."


"Ada apa?" tanya Gilang mengelus kepalaku lembut.


"Gilang ..." ku tundukan kepalaku dan memejamkan mataku.


"Aku..." ku hembuskan nafas perlahan dan mengangkat kepalaku, melihat wajah Gilang.


"Aku hamil." ucapku lirih.


"Ah?" Gilang tersenyum dan langsung berlutut di depanku, mengambil kedua jemari tanganku yang berdiam diatas kedua pahaku.


"Serius Terry?" tanya Gilang senang.


Ku anggukan kepalaku, menjawab pertanyaan Gilang.


Gilang langsung menarik badanku dan memeluknya erat.


"Aku bahagia, Terry. Aku sangat bahagia." ucap Gilang senang.


"Gilang apa ini gak terlalu cepat ya?"


Gilang meleraikan pelukannya dan menatap wajahku.


"Maksud kamu?"


"Aku belum selesai kuliah Gilang, bagaimana aku bisa kuliah saat hamil?"


"Selesai semester ini aku buatkan izin cuti, setelah anak kita umur dua tahun kamu kuliah lagi, ya." jawab Gilang cepat.


"Gak bisa gitu, Gilang. Sebentar lagi aku mau wisuda." jawabku sedikit menekan.


"Kan bisa di tunda, Sayang."


"Tunda?" tanyaku sengit. "Gilang semester depan aku akan berangkat KKN loh, wisuda aku sudah di depan mata, Gilang."


"Kamu gak bisa KKN dalam keadaan seperti ini, Terry." jawab Gilang lembut.


"Kamu gak bisa pergi, gak tahu seperti apa tempat kamu KKN nanti. Aku gak bisa mempertaruhkan nyawa kamu dan anak kita hanya demi nilai akhir kuliah." jelas Gilang tegas.


"Tapi Gilang, aku gak bisa putus kuliah gitu aja. Ini sudah akhir, aku harus menyerah di akhir seperti ini?"


"Aku gak minta kamu putus kuliah, Terry, aku hanya ingin kamu menunda." tekan Gilang lembut.


"Terus, setelah dua tahun. Apa kamu pikir aku masih ada minat kuliah? dua tahun Gilang, pelajaran yang ada dalam otak aku juga sudah hilang."


"Jadi, apa maksud kamu ingin menggugurkan anak ini, Terry? anak kita?" tanya Gilang sengit.


Gilang tersenyum pahit dan menggelengkan kepalanya.


"Sumpah Terry, jika kamu ada pemikiran seperti itu, kamu sangat kejam untuk menjadi calon Ibu."


"A-a-aku gak ada pemikiran seperti itu Gilang."


"Sudahlah, aku gak ingin lagi berdebat. Aku harus pergi." Gilang menarik kepalaku dan mencium pucuk kepalaku.


Dengan cepat Gilang keluar dan membanting daun pintu dengan keras. Selama hampir lima bulan menikah, baru kali ini Gilang melakukan ini padaku.


Apa Gilang benar-benar marah padaku?


Ku raih perutku dan mengelusnya perlahan. Aku tak pernah ada niat untuk menggugurkan anak ini. Hanya saja ini terlalu cepat. Aku masih ingin wisuda dan membuat Ayah bangga.


Berjam-jam aku terdiam disini, menatap kosong ke jendela. Entahlah, bagaimana juga aku tak memiliki alasan untuk bisa mempertahankan kuliahku.


Ku langkahkan kaki menuruni anak tangga dan berjalan ke seberang jalan menuju rumah Ayah. Ku ketuk pintu rumah Ayah, terlihat Bunda di balik pintu menyambutku.


"Terry, kenapa wajah kamu lesu sekali?"


Ku tarik badan Bunda dan memeluknya erat. Ku pecahkan tangisan di bahu Bunda.


"Ada apa, Terry sayang? kamu kenapa?" Bunda menarik bahuku dan mencoba menatap wajahku.


"Cerita sama Bunda, apa Gilang menyakitimu?" tanya Bunda cemas.


Ku gelengkan kepala pasrah, ku dengar helaan nafas dari Bunda.


"Ayo masuk dulu, Bunda buatin teh hangat buat kamu." ajak Bunda padaku.


Ku putar gelas teh di hadapanku beberapa kali. Sudah beberapa menit berlalu, namun aku belum bisa menceritakan kejadiannya kepada Bunda.

__ADS_1


"Terry." Bunda mengambil tanganku, ku palingkan pandangan kearah Bunda.


"Gilang menyakiti kamu?" tanya Bunda lembut.


Ku gelengkan kembali kepalaku, menghembuskan nafas berat.


"Bunda." panggilku lembut.


"Iya."


"Gilang marah sama aku, Bunda."


"Kenapa Gilang marah sama kamu, Sayang?"


"Karena Gilang mau, aku gak pergi KKN semester depan, Bunda."


"Hem." Bunda menaiki sebelah alis matanya. "Kenapa Gilang gak mau kamu pergi, Terry. Bukankah itu bagian tugas akhir kamu?" tanya Bunda kembali.


"Karena ..." ku gantungkan kalimatku dan ku tatap mata Bunda. "Karena Bunda akan menjadi Oma."


"Hah?" Bunda langsung menatapku seketika. "Kamu hamil, Terry?"


"Iya Bunda."


Bunda tersenyum dan memeluk badanku erat.


"Ah ya ampun, gak terasa gadis kecil Bunda yang dulu sangat manja, kini sudah dewasa dan akan menjadi Mama."


"Bunda bahagia?"


"Tentu saja bahagia, apa kamu enggak bahagia, Terry?" tanya Bunda kembali.


"Aku gak tahu, Bunda. Di satu sisi aku bahagia, tapi di sisi lain aku bingung harus berbuat apa."


"Apa yang membuat kamu bingung Sayang?" tanya Bunda mengelus rambutku lembut.


"Kuliah aku bagaimana, Bunda?"


Bunda menarik kursi di sebelahku, mengelus lembut rambutku.


"Apa kamu menyesal menikahi Gilang di usia muda?"


"Tidak Bunda. Tidak sama sekali." jawabku cepat.


"Kamu percaya Gilang bisa menjaga dan melindungi kamu dengan baik, enggak?"


"Ehm." ku anggukan kepalaku.


"Tapi bagaimana jika minat belajarku hilang, Bunda? sayang kan, usaha aku sudah sampai akhir Bunda."


"Apa menjadi Ibu rumah tangga begitu menakutkan Terry? bukankah kamu percaya Gilang akan menjagamu kan?"


"Tapi Bunda..."


"Dalam hidup ini banyak sekali pilihan berat dalam hidup kita, Terry." putus Bunda langsung.


"Kamu beruntung bisa memiliki anak di usia dini pernikahan kalian. Lihat berapa banyak yang menikah bertahun-tahun, tapi mereka belum di kasih kepercayaan menjadi orang tua." Bunda meraih daguku dan mendongakannya.


"Lihat mata Bunda. Kuliahmu akan tetap selesai hanya menunda sedikit lebih lama saja. Tapi kalau kali ini kamu menggugurkan bayi ini, bisa selamanya kamu tak memiliki anak lagi, Terry."


"Tapi aku gak ada niat buat gugurin bayi ini, Bunda." jawabku cepat.


"Tapi jika setiap orang yang melihatmu seperti ini, mereka pasti berpikir kamu akan menggugurkan bayi ini, Terry."


"Apa Gilang juga berpikir seperti itu ya, Bunda?"


"Tentu saja." jawab Bunda lembut.


"Tapi aku gak ada niat begitu Bunda. Aku hanya ingin kuliah dan mengandung anak ini bersamaan. Aku sanggup, Bunda."


"Terry, Gilang itu dosen kamu, dia lebih paham lokasi kamu KKN dan juga pengerjaan apa selama KKN itu. Jika dia melarang kamu, berarti itu bahaya buat kamu."


"Tapi bagaimana jika Ayah kecewa Bunda? aku hanya ingin buat Ayah bangga dan gak sia-siain usaha Ayah untuk kuliahin aku selama ini."


"Ayah kamu gak mungkin kecewa Sayang, dan ilmu itu sampai kapanpun akan tetap berguna. Gak ada yang sia-sia Sayang."


Setelah berbincang panjang dengan Bunda, ku langkahkan kaki menuju taman samping rumah Ayah. Ku buang bokong dan menghirup udara ini sedikit berat.


Berjam-jam aku hanya berdiam disini, membiarkan angin menyapa hatiku yang sedang dilema.


Apa yang di bilang Bunda ada benarnya, tapi aku masih gak bisa terima. Usaha ini, aku melakukannya sebaik mungkin. Haruskah terhenti disini?


Di penghujung akhir perjuanganku?


"Sayang." panggil Gilang lembut.


"Gilang." ku peluk badan Gilang yang saat ini duduk di sebelahku.


"Aku gak ada niat buat gugurin anak ini, Gilang." jelasku cepat.

__ADS_1


"Aku tahu," jawab Gilang lembut. "Maafin aku untuk yang tadi pagi, ya."


"Enggak! kamu menyakiti hati aku." jawabku merajuk, ku leraikan pelukanku dengan cepat.


"Itu terlalu berbahaya, Terry. Selama berbulan-bulan kamu jauh dari aku, kamu pikir aku bisa?" ucap Gilang lembut.


"Gak mau dengar." ku tutup kedua telingaku dengan tangan.


"Terry, dengar!" Gilang meraih kedua tanganku, ku gelengkan kepala dan menutup telingaku semakin erat.


"Terry!" ucap Gilang sedikit menekan, Gilang meraih kedua pipiku, menekan kedua pipiku sehingga membuat bibirku mengerucut.


"He he he." Gilang melepaskan senyumnya.


Gilang menekan pipiku dan menggoyangkan kepalaku. Dengan cepat Gilang mencium bibirku, menarik pinggangku untuk lebih dekat dengannya.


Seketika ku turunkan kedua tanganku dan mendorong badan Gilang lembut.


"Dengar Terry, KKN itu berat terkadang juga bahaya. Banyak mahasiswi yang mengalami bahaya saat KKN, Terry. Mereka yang masih gadis saja kadang gak sanggup, apalagi kamu dalam keadaan begini?" jelas Gilang lembut.


"Kamu menakut-nakuti aku, Gilang."


"Katakan, bagaimana bisa aku mengizinkan kamu menjalani semua itu dalam keadaan begini? hanya demi ijazah?" tanya Gilang kembali menekan.


"KKN, terkadang harus naik gunung turun sungai. Belum lagi cuaca buruk atau keadaan desa yang masih tertinggal jauh dari kata modern dan teknologi. Terkadang mandi dan nyuci harus di sungai, bagaimana jika jalanan sungai licin, apa kamu berpikir bagaimana nasib anak kita?" ucap Gilang melemah.


"Jadi aku harus bagaimana, Gilang?"


"Cuti dulu ya, kamu jangan khawatir, kalau kamu mau kuliah lagi, nanti aku bantu ajarin materinya."


"Terserah apa katamu saja." ucapku mengalah.


"Jangan marah, atau gak kamu bisa ambil ijazah aku buat kamu."


"Gak perlu." jawabku ketus.


Perlahan aku bangkit dan meninggalkan Gilang sendiri. Gilang mengejar langkahku dan memeluk bahuku erat.


"Terry, jangan seperti ini. Apa kamu menyesal menikahi aku?"


"Aku sama sekali tidak menyesal, Gilang."


"Lahirkan anak ini, ya. Aku janji akan merawatnya dengan baik."


"Tanpa kamu minta, aku akan tetap lahirkan. Karena aku Ibunya." jawabku ketus.


"Terry, aku tahu kamu kesal sama aku, tapi kamu juga harus tahu kalau aku sama sekali tidak marah padamu."


"Bohong!" sanggahku kesal.


"Baiklah, anggap semua yang pernah aku katakan padamu adalah sebuah kebohongan."


Ku leraikan pelukan Gilang dan membalikan badanku. Menghadap kearah Gilang.


"Kenapa begitu?" tanyaku jutek.


"Karena dari dulu sampai sekarang, yang jujur dari aku hanyalah hati. Jika kamu bisa membedakan mana ucapan yang dari bibir, dan mana ucapan yang tulus dari hati. Maka kamu tahu aku jujur atau berbohong padamu." Gilang memainkan sebelah alis matanya.


Ku tahan bibirku yang ingin tersenyum karena ucapan Gilang.


"Gombal, kamu itu dari dulu pintar sekali membuat kata-kata manis, Gilang. Aku hampir diabetes karena ucapanmu yang terlalu manis itu."


Gilang melepaskan senyumnya dan meraih sebelah pipiku.


"Aku hanya mengucapkan kata-kata manis untuk wanitaku, Terry. Apa kamu tidak suka?"


"Enggak!"


"Suka atau tidak, kamu harus terima."


"Kenapa memaksa?"


"Karena sejak kamu memilih bersamaku, kamu sudah memilih untuk menjadi wanitaku. Jika kamu wanitaku, maka menggodamu adalah kewajibanku."


"Ah Gilang, hentikan!" ku balikan badanku dengan cepat dan melangkah menjauh.


Gilang menarik lengan tanganku, memutar badanku untuk kembali menghadapnya dan memegang kedua ujung bahuku.


"Kamu tahu kenapa menggodamu menjadi kewajibanku, Terry?"


"Kenapa?" tanyaku sambil tersenyum manja.


"Karena saat pipimu merona memerah muda, bahkan bunga sakura sekalipun tak mampu menandingi keindahan dari senyummu."


"Gombal terus, keluarin semua kata-kata manismu. Aku gak akan lagi tertipu."


"Sebenarnya ucapan aku itu tidak manis, Terry. Kamu tahu apa itu yang manis?"


"Apa?" tanyaku jutek.

__ADS_1


"Yang manis itu cinta. Karena cintaku padamu yang membuat setiap ucapanku seakan manis, walau tak semanis dirimu."


"Ah ... Gilang. Aku bisa gila." teriakku keras.


__ADS_2