
Ibu Sanaya mamanya Dennis sama sekali tidak mengetahui jika putra tunggalnya itu tertembak. Hingga kondisinya tidak sadarkan diri dan harus menjalani beberapa serangkaian operasi di atas tubuhnya itu.
David segera menghubungi nomor hpnya Dania dengan penuh pertimbangan sedangkan Pak Edgardo merasa selalu bersalah karena menganggap gara-gara dialah sehingga putra semata wayangnya itu harus terkena tembakan hingga dua kali di bagian dadanya.
"Kalau menurut aku segera telpon Dania agar ia tidak semakin ketakutan, jadi siapa yang kamu suruh untuk mengikuti penjahat yang membawa istri dan cucuku? karena aku tidak bisa pergi dalam keadaan seperti ini," sanggahnya Pak Edgar.
Di tempat lain, Dion mendapatkan sinyal dari alat yang dipakai oleh si kembar. Sesuai dengan arahan dari Dennis sebelumnya. Dion pun tidak mengetahui kondisi terakhir dari Dennis jika dia terkena tembakan. Dion semakin melajukan mobilnya menuju lokasi keberadaan anak-anak dari temannya itu.
"Itu tidak mungkin!! Pasti Mas Daniel salah orang, aku yakin itu bukan Mas Dennis!!" Jeritnya Dania yang merasa berita yang didengar olehnya itu hanya mimpi dan prank saja.
"Dania, saya harap kamu tenang dan segeralah datang ke rumah sakit untuk melihat langsung apa yang aku katakan bohong ataupun aku jujur," pungkas Danial Aryan Martadinata.
"Ya Allah… ini tidak mungkin, kenapa bisa terjadi seperti ini pada suamiku!" Ratapnya Dania yang sudah terduduk di atas lantai keramik.
"Segeralah datang sebelum terlambat, dan perbanyak berdoa untuk keselamatan suamimu," ujarnya Daniel lagi.
Berselang beberapa menit kemudian, Dania sudah berangkat ke rumah sakit diantar oleh supir pribadinya. Dia semakin menangis tersedu-sedu karena mengetahui jika suaminya tertembak ketika melindungi papa mertuanya itu.
"Ini gara-gara papa yang terlalu egois sehingga suamiku harus mengalami kejadian yang membahayakan nyawanya," geramnya Dania Andita Aulia Ramadhani.
Pak Edgar mengusap wajahnya dengan gusar karena sudah hampir tiga jam operasi tersebut belum selesai juga.
"Ya Allah… selamatlah putraku andai bisa maka gantikan lah aku dengan putraku biarlah aku saja yang mengalami kejadian seperti ini, aku tidak akan bisa memaafkan diriku jika terjadi sesuatu pada putraku itu," Lirihnya Pak Edgardo.
__ADS_1
"Daniel bagaimana dengan mama Sanaya dan di kembar apa sudah ditemukan jejaknya?" Tanyanya David Hermansyah Wijaya yang tepaksa pulang
Sedang di tempat lain tepatnya di dalam sebuah mobil minibus yang dipakai penjahat itu sudah memasuki sebuah rumah tua yang nampak masih berdiri kokoh dan kuat yang terletak di sekitar tengah hutan.
Rumah besar yang berdiri kokoh itu berada di pinggir hutan yang langsung berhadapan dengan jalan yang cukup sepi. Ibu Sanaya dan kedua cucu kembarnya Danisha dan Dafina dibawa ke sebuah ruangan bawah tanah.
"Bawa mereka ke ruangan bawah tanah dan ingat baik-baik jangan sekali-kali kalian tertipu oleh kedua bocah ini karena mereka itu pintar banget akting!" Sarkas Joko yang tersenyum penuh kelicikan di depan Bu Sanaya seraya mendorong kuat tubuhnya Icha dan Fina yang berontak ingin kabur dari sergapan anak buahnya Joko.
Mereka ditempatkan di ruangan yang kedap suara. Mata, mulut dan tangan mereka diikat untuk menghindari perlawanan. Salah satu dari mereka kemudian menelepon Bosnya besarnya.
"Halo, Iya bos kami sudah berada di ruangan bawah tanah," ujarnya.
"Ingat jaga baik-baik mereka jangan sampai mereka lolos dan satu hal lagi jangan berikan minuman dan makanan kepada mereka, Aku Ingin melihat mereka mengemis untuk dilepaskan dan meminta tolong padaku!" ucap Big bosnya yang masih misterius siapa otangny.
"Baik bos, kami akan laksanakan semuanya sesuai dengan instruksi dari Bos," imbuhnya Pak Joko.
"Apa yang terjadi, kenapa sinyalnya menjadi lemah seperti ini!" Dion keheranan ketika melihat layar hpnya karena tanda-tanda keberadaan Icha dan Fina hampir menghilang dari layar.
"Apa jangan-jangan mereka ketahuan jika memiliki alat pelacak?" Tanyanya Damar asisten pribadinya sekaligus rekan kerjanya Dion sebagai bodi guard kepercayaannya pak Edgar.
Hal itu membuat Dion dengan Damar frustasi dan semakin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi seperti orang kesetanan saja. Keduanya semakin kalut dan pusing setelah mendengar informasi terakhir jika Dennis Ritchie Valens Edgardo Tuan Muda mereka terkena tembakan.
Karena lokasi dari si kembar yang sudah semakin mengjauh akhirnya sinyalnya semakin lemah dan lama-lama menghilang. Dion tidak tahu lagi harus mengemudikan mobilnya ke arah mana.
__ADS_1
Damar memukul setir mobilnya," sial!! Sepertinya semakin sulit apa yang kita kerjakan ini!" Kesalnya Damar.
Dion kemudian turun dari mobilnya dan hendak menghubungi Daniel tap, tidak ada sinyal di daerah itu" ya elah kok bisa daerah sini sulit sekali untuk mendapatkan sinyal! Apa yang harus kita lakukan kalau seperti ini," Dion menendang ban bagian depan mobilnya itu.
Mobil yang dipakai Keduanya dengan kode dan tipe kuda jingkrak itu tidak berwarna merah cukup mencolok. Mobil tersebut sengaja dipilih untuk mencari keberadaan anak-anak Dennis dan keluarganya. Damar tiba-tiba tidak tahu arah jalan mana yang seharusnya dia pilih karena GPS-nya mati.
Dion semakin dibuat pustasi memikirkan keadaan keluarga dari bosnya. Damar dan yang lainnya saling berusaha untuk menguatkan diri mereka masing-masing.
"Damar! gimana sekarang apa kita lanjutkan saja perjalanan untuk mencari keberadaan mereka atau kita pulang saja dulu?" Tanyanya Dion yang masih mengemudikan mobilnya itu dengan kecepatan sedang.
Walaupun di dalam lubuk hatinya dan pikirannya Dion dan juga Damar sebenarnya sangat takut dan khawatir tapi mereka sama-sama menutupi hal itu dari yang lain nya karena tidak ingin menambah beban kepada anak buahnya.
Mereka tetap memperlihatkan kegundahan hatinya pastinya mereka juga akan semakin dibuat pusing dan cemas.
Sedangkan Di rumah sakit Medical center, pak Edgar, Daniel dan David dibuat cemas dan khawatir menunggu hasil operasi Dennis.
Daniel juga tidak lupa segera menghubungi Citra jekasihnya dan adik angkatnya Cinta tentang keadaan yang sedang mereka hadapi.
Mereka yang sama-sama yang sedang berada di Jepang Tokyo dan juga ada yang di Paris Perancis segera bersiap untuk kembali ke tanah air. Mereka tidak lupa menghubungi seluruh anggota keluarganya.
Operasi yang dilakukan dokter untuk menyelamatkan Nyawa Dennis akhirnya berhasil setelah hampir enam jam lamanya di dalam ruang operasi.
Dania datang sebelum operasi selesai, ia berteriak kencang dan histeris di depan papa mertuanya itu tanpa memikirkan keadaannya lagi.
__ADS_1
"Papa semua ini gara-gara kesalahan papa sehingga suamiku harus menderita!!" Pekiknya Dania lalu pingsan tak sadarkan diri lagi.
"Dania!!" Teriaknya Ririn dan Dea yang kebetulan ada bersamanya segera membantu Dania yang sudah terjatuh untungnya David sigap menolong untuk membantu Dania istrinya Dennis.