Cinta Pertama

Cinta Pertama
Bab. 153


__ADS_3

Tapi, langkahnya cukup terhenti karena terkejut melihat situasi di dalam perusahaan yang sama sekali tidak pernah terjadi sesuatu seperti yang diberitakan oleh pria yang mengaku anak buahnya itu.


"Ya Allah… syukur Alhamdulillah tidak terjadi sesuatu yang kami takutkan, tapi kenapa pria itu mengatakan jika terjadi masalah besar di perusahaan? Bego kenapa aku tidak menghubungi nomor hpnya Dion terlebih dahulu!" Umpatnya Daniel yang menggelengkan kepalanya saking begonya sudah ditipu dan terperdaya oleh tipu muslihat musuh bebuyutannya.


"Aku harus segera memastikan bahwa apa yang sebenarnya terjadi di dalam perusahaan dan aku harus mencari tahu siapa sebenarnya dalang kejahatan semua ini karena aku yakin ada orang hebat dibalik Roni yang selama ini mendukungnya," gumam Daniel.


Langkah Danial semakin cepat dan gesit karena dia tidak ingin menunda lama waktu dan membuang waktu begitu saja.


Karena hal ini adalah hal langka yang tidak pernah Daniel Aryan Mananta lakukan selama menjabat sebagai asisten pribadinya Dennis atau pak Edgardo yang hanya sebentar saja waktu itu.


Tapi, langkahnya cukup terhenti karena terkejut melihat situasi di dalam perusahaan yang sama sekali tidak pernah terjadi sesuatu seperti yang diberitakan oleh pria yang mengaku anak buahnya itu.


"Ya Allah… syukur Alhamdulillah tidak terjadi sesuatu yang kami takutkan, tapi kenapa pria itu mengatakan jika terjadi masalah besar di perusahaan? Bego kenapa aku tidak menghubungi nomor hpnya Dion terlebih dahulu!" Umpatnya Daniel yang menggelengkan kepalanya saking begonya sudah ditipu dan terperdaya oleh tipu muslihat musuh bebuyutannya.


Sesampainya di ruangannya, Daniel tidak mendapati keberadaan sekretarisnya yang memberikan informasi tersebut. Daniel segera mencari keberadaan sekretarisnya dan bertanya kepada karyawan lain tapi, tidak ada yang mengetahui keberadaan dari sekretaris Sandi Sam Diego.


"Kenapa aku berfikir jika Sandi adalah anak buahnya orang yang mengatur kejahatan besar ini," kesalnya Daniel.


Daniel segeraingin menanyakan perihal keberadaan sekretarisnya yang baru dua minggu bekerhy, tapi tidak menemukan keberadaan gawainya. Dia sudah memeriksa saku celana dan bajunya, tetapi keberadaan gawainya tidak ditemukan.


"Ya Allah … kenapa juga dalam keadaan seperti ini hpku sampai-sampai aku lupa!" Kesalnya Daniel.


Tiba-tiba dia teringat kalau dia melupakan mengambil gawainya di dasboard depan mobilnya. Dia menggelengkan kepalanya tanda tidak percaya dengan keteledorannya itu.


"Ya Allah… kenapa aku ceroboh sekali padahal dalam keadaan genting seperti ini," Geramnya Daniel.

__ADS_1


Daniel segera memutar tubuhnya kembali berlari ke arah parkiran mobilnya, tapi hasilnya sama, hpnya itu yang dicarinya tidak ada. Danial kembali berlari ke dalam perusahaan dan bergegas ke arah ruangan pribadinya Pak Edgardo.


Tapi karena Pak Edgardo setelah mengetahui informasi kondisi istri dan cucu-cucunya. Beliau segera mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari keberadaan anggota keluarganya.


Jadi David lagi-lagi tidak berhasil bertemu dengan Pak Edgardo. Dia sudah prustasi dan pusing memikirkan keadaan ini. Ia bahkan sudah menghancurkan dan membuang barang-barang yang ada di depannya.


"Auhh!! Kenapa aku seperti ini bisa-bisanya dikalahkan oleh musuh!!" Teriaknya Daniel.


Daniel berlari ke arah ruang kendali cctv karena ia merasakan ada keanehan dari semua kejadian yang dia alami hari itu hingga detik ini.


"Cepat periksa cctv yang berada di lokasi parkir dan hingga ke ruanganku!" perintah Daniel dengan wajahnya yang penuh keseriusan dan kemarahan juga.


Berulang kali sudah ia coba untuk menelpon nomornya Dennis tapi, tidak diangkat dan lagi tetap mencoba menghubungi handphonenya Daniel, tapi hasilnya nihil.


Tapi tetap saja hasilnya pun sama, pak Edgardo sebagai calon mertuanya itu tidak mengangkat telponnya dikarenakan sedang baku tembak dengan anak buah penjahat yang menghalangi jalan anak buahnya.


"Apa yang terjadi pada mereka bertiga, semua nomor hp yang ada di dalam kontak hpku, tapi mereka tidak ada yang bisa mengangkat telponnya padahal ini sangat penting!" Kesalnya Daniel.


"Semoga saja telponnya kali ini diangkat atau apa aku menyusul mereka saja," Gumamnya Daniel.


Daniel kembali mencoba untuk menghubungi nomor handphonenya Dennis. Kali ini Dennis sudah mengangkat telponnya dengan susah payah Daniel berusaha untuk melakukan hal itu.


"Dennis, kamu ada di mana?" tanya Daniel yang sama sekali tidak sabaran.


"Aku lagi di jalan,ada apa?" Jawabnya Dennis dengan merasa heran dengan sikapmu Danil.

__ADS_1


"Sepertinya penjahat itu sudah beraksi Dennis, nyawa anak-anak dan keluarga kita dalam bahaya!" ucap Dennis.


"Kamu benar sekali, aku sudah mendapatkan sinyal tanda bahaya dari alat yang dipakai oleh kedua putri kembarku Icha dan Fina," Ungkap Dennis sambil tangannya masih setia dibalik kemudi mobilnya itu.


Daniel terus berkosentrasi mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi,ia pun perlahan menjelaskan awal dari kejadian ini. Malah Daniel sangat menyesal dengan kebodohannya.


"Maafkan aku semua ini gara-gara aku yang mudah dibodohi oleh mereka!" Ketusnya Daniel.


Daniel bergegas menelpon semua anak buahnya yang berada di camp rahasianya selama ini. Tempat pertemuan antara Dennis dan dirinya sekaligus menjadi tempat mereka melatih orang-orang kepercayaannya yang cukup tangguh.


Di dalam mobil, supir yang membawa mereka tidak melepaskan pistolnya dari kepala. Penjahat itu bahkan sudah melukai sudut bibir Mama Sanaya yang tadi sempat melawan dan meludahi supirnya karena sudah terprovokasi oleh anak buahnya penjahat tersebut.


"Apa kamu masih ingin dipukulin haa!!!" Hardik anak buah penjahat itu.


Nyonya Sanaya menatap jengah dan tajam tidak menyangka bahkan sempat syok dan ragu dengan penglihatannya. Karena selama ini supir pribadi Bu Sanaya tidak pernah menunjukkan perilaku atau pun sikap yang menyimpan.


Pak Joko padahal baru sekitar dua bulan bekerja menggantikan salah satu anggota keluarganya. Sehingga ibu Sanaya berusaha untuk melawan.


"Kamu tega sekali yah Joko, aku sangat baik padamu tapi, aku tidak menyangka kalau kamu adalah anak buah dari orang yang telah membunuh anak dan menantuku, apa salah kami padamu sehingga kamu tega melakukan ini!!" Pekik Bu Sanaya sebelum mulutnya ditutup oleh kain dan mengingat kedua tangannya.


Pak Joko menatap tajam ke arah Bu Sanaya mantan bosnya itu, "Hahahaha, Anda ingin tahu apa alasannya, baiklah aku akan menjelaskan semuanya!" Gerutu Pak Joko Supir pribadi Oma Sanaya.


Tawa Joko yang seperti seseorang yang gila membuat Icha dan Fina membuat ketakutan ketiganya. Karena hal ini menjadi pertama kalinya dalam hidup mereka melihat orang yang tertawa terbahak-bahak dengan raut wajah dan tatapan matanya yang garang dan tajam.


"Hanya satu alasannya yaitu bosku memberikan uang yang lebih banyak dari yang kalian selama ini berikan kepadaku, apa kamu sudah puas dengan jawabanku ha!!" Cibirnya mang Joko tanpa menurunkan pistolnya dari kepala Bu Sanaya.

__ADS_1


__ADS_2