
3 Bulan yang lalu.
Ku ambil lipatan brosur yang jatuh dari dalam dompetku. Ku pandangi wajah pak Gilang yang terlipat kecil dalam brosur itu.
Perlahan ku buka kertas itu menjadi besar, dan ku pandangi wajah pak Gilang. Manis, manis sekali. Kamu memiliki senyum yang sangat manis Pak. Dan aku tak ingin kehilangan senyum ini.
Akan ku selesaikan masa lalu aku dengannya, agar tak akan ada duri yang akan menusukmu di masa depan kita kelak, Pak.
Mataku tertuju pada bayangan tulisan kecil di balik brosur itu. Sejenak ku balik brosur itu dan kubaca tulisan yang di buat pak Gilang.
"Kapan dia nulis ini?" lirihku.
'9 September, tanggal saya pertama kali memijakan kaki di SMA swasta Tunas bangsa.
Hari itu saya kesana dengan tujuan melakukan penelitian akhir untuk tugas kampus saya.
Saat berjalan keluar dari kelas XII IPA, saya melewati kelas IX IPA, tanpa sengaja saya melihat seorang gadis memakai pita berwarna biru, sendiri di dalam ruangan kelas yang saat itu sepi.
Mencoret-coret sebuah kertas, sejenak saya tertegun. Memandang gadis kecil itu dari balik kaca jendela kelas. Wajahnya begitu sendu, saya merasakan ketenangan saat menatap wajahnya.
Tak lama seorang gadis lainnya datang, menarik gadis itu menghilang dari pandangan saya.
Saya hanya tersenyum dan melanjutkan perjalanan saya yang terhenti karena pesona gadis berpita biru di balik kaca.
Tak sengaja, saya menabrak badan seorang guru disana. Semua kertas tugas siswa yang saya bawa jatuh bertaburan.
Dengan cepat saya membereskannya, namun salah satu kertas itu terpijak seorang siswi. Jejak kaki siswi itu mengokotori kertas saya.
Dengan cepat siswi itu membantu saya memungut kertas yang tersisa. Dengan mengeluarkan lolipop dari dalam bibirnya. Siswi itu tersenyum.
"Maafkan saya, Pak. Kertas tugas Bapak jadi kotor."
Siswi itu tersenyum manis, bukan tak pernah melihat senyum yang jauh lebih manis dari itu. Namun bersamaan jejak kakinya yang tertinggal di kertas saya, seperti itulah jejak wajahnya tertinggal di dalam hati saya.
Gadis kecil berpita biru itu pergi, meninggalkan saya, setelah membantu merapikan kertas. Namun tanpa ia sadari senyumnya juga telah merapikan keberantakan dalam hati saya.
Mungkin gadis itu melupakan kejadian ini, namun buat saya. Kejadian ini adalah sesuatu yang selalu saya rindukan.
Selama bertahun tahun wajahnya tertinggal dalam ingatan saya. Walaupun dia tak mengingat wajah saya, namun wajahnya tak pernah menghilang dalam ingatan saya.
Masihkah kamu mengingat kejadian itu?
Masihkan kamu mengingat wajah saya?
Terry Nergissah, wanita berpita biru, gadis manis di balik kaca kelas hari itu.'
Senyumku merakah selebarnya, tak ku sangka gadis SMA yang di ceritakan pak Gilang hari itu adalah aku.
"Terry." panggilan itu membuat pandanganku teralih.
"Kamu disini?" tanyanya senang sambil berjalan mendekatiku.
Aku hanya tersenyum bahagia, ku ikuti langkahnya dan berjalan mendekat kearahnya.
"Ayo masuk, akan aku batalin acara ini." tariknya langsung.
"Tidak, aku tidak akan membatalkan acara ini. Akan ku sematkan cincin itu padamu." sambungnya sambil meraih kedua pipiku. Lalu kembali berjalan sambil menggandeng tanganku.
"Yudha." panggilku lembut.
Yudha mengalihkan pandangannya padaku. Aku tersenyum bahagia, menampilkan sederet jejeran gigiku padanya. Perlahan aku berjalan mendekatinya dan ku peluk badannya erat.
"Aku sangat merindukanmu, Yudha." ucapku sambil mengeratkan pelukanku.
"Aku juga sangat merindukanmu, Kirei." Yudha membalas pelukanku.
Setelah beberapa lama, aku melepaskan pelukan Yudha.
"Ayo masuk, akan ku jelaskan sama Nenek."
"Tidak Yudha. Aku kesini bukan untuk menghancurkan acara ini."
"Maksud kamu?"
"Aku kesini untuk memberikan doa restuku padamu." jawabku sambil tersenyum sendu.
"Aku melepaskanmu dalam hatiku."
"Jadi kamu benar serius pilih Gilang, Terry?"
__ADS_1
Aku hanya mengangguk dan tersenyum manis.
"Kenapa?" tanyanya ketus.
"Karena selama ini aku mencari sisa puing hatiku yang tertinggal padamu." ucapku sendu.
Ku hela nafasku dan ku raih kedua pipi Yudha. Ku gulum kembali senyum terbaik dari wajahku.
"Aku harap saat kembali bersamamu puing itu akan kembali utuh. Namun lebih dulu pak Gilang melengkapi puing hatiku yang hilang karenamu."
"Tapi, Terry..."
"Saat ini aku sadar, bahwa cinta yang diberikan pak Gilang adalah anugerah terindah dalam hidupku." putusku sebelum Yudha menyambung kalimatnya.
"Dia melepaskan aku, namun itu membuat aku sadar dan memahami. Dia mengambil rasa sakitku, dia meminta sedihku. Tanpa dia rasakan sakitnya, tanpa dia pikirkan sedihnya."
"Jelaskan padaku Yudha, bagaimana aku bisa meninggalkan orang yang melihat sakit hatiku tapi dia tak melihat rasa sakit dirinya sendiri? dia yang peduli pada kebahagianku, tanpa dia pedulikan kebahagian untuk dirinya." jawabku dengan tersenyum.
"Katakan padaku Yudha, bagaimana aku bisa begitu buta? tak melihat seluruh pengorbanan dia? tak mau mengerti perjuangan dia?"
Yudha hanya tersenyum pahit, berjalan mendekat perlahan kepadaku.
"Baiklah, jika Gilang lebih pantas bersanding denganmu. Aku bisa apa?"
"Aku telah menemukan sisa puing hatiku yang hilang, aku harap kamu juga bisa menemukan puing itu bersama Laura, Yudha."
Yudha hanya tersenyum dan meraih pipiku. Mengangguk pasrah, menahan semua luka yang kembali berdarah.
"Kisah kita tak akan pernah bisa berubah, bagiku kamu adalah orang yang pertama kali aku sayangi. Walau kini, aku lebih memilih hati yang baru untuk melengkapi sisa waktu dalam hidupku."
"Baiklah, jika itu keputusanmu, aku akan mencoba untuk memahami." ucap Yudha lemas.
Ku peluk sekali lagi badan Yudha. Kurasakan Yudha membalas pelukanku, sejenak pelukannya mengerat, tak lama ku leraikan pelukan itu dan kembali tersenyum.
"Semoga kamu bahagia, Kirei."
Aku hanya tersenyum dan membalikan badanku dengan cepat. Ku langkahkan kaki menjauh dari rumah itu.
Karena. Bunda bilang, Carilah orang yang mencintaimu tanpa harus menyakiti kamu.
Saat ini aku sadar, bahwa cinta tak harus selamanya memiliki. Jika cinta hadir hanya untuk menyakiti maka lebih baik melangkah pergi, melepaskan tak semudah memejamkan mata, namun bertahan dalam luka lebih menyiksa dari penjara.
Pak Gilang mencintaku dan ia rela sakit karenaku. Merelakan diriku untuk mengejar bahagiaku. Tanpa ia peduli bagaimana akan luka hatinya.
"Tunggu aku, Pak." ucapku sambil berlari kembali.
Ku susuri trotoar jalan dengan berlari kencang. Aku harap kamu masih menungguku disana pak. Karena aku memang tak pernah ingin kehilangan kamu.
Aku hanya mencoba mencari jawaban atas pertanyaan hatiku. Aku mencoba untuk menyelesaikan sesuatu yang tak pernah usai.
Ku hela nafasku, ku ambil nafas dengan memburu kencang. Ku sapu dahiku yang kini berderai keringat karena berlari.
Ku tatap jalanan depan dengan pasti. Sedikit lagi, aku harus mengejarnya sedikit lagi.
Kembali ku langkahkan kakiku dengan berlari kencang. Menyusuri gelap malam, demi seorang lelaki yang mencoba menghilang.
Menghilang dari dalam hatiku, dan mencoba menghilang dalam angan masa depanku.
Huuh, ku buang kembali nafasku berat. Ku bungkukan sedikit badanku dan mencoba sedikit mengatur nafasku. Bibirku kebali merekah lebar saat melihat punggung lelaki berbalut kemeja biru, masih menumpuhkan kedua tangannya diatas tembok pembatas yang hanya setinggi perutnya itu.
Perlahan aku berjalan mendekatinya, ku lingkari kedua tanganku di perutnya dan memeluknya dari belakang.
"Kenapa kembali?" tanyanya saat mendapati lingkaran tanganku.
"Karena aku memang tak ingin pergi."
"Maksudnya?" pak Gilang meleraikan pelukanku dan menggendong badanku, menududukan aku di pagar pembatas. Lalu kedua tangannya tertumpuh pada atas pagar pembatas mengurungku dalam kedua tangannya.
"Yudha menyakitimu kembali?" tanyanya serius.
Aku hanya menggulum senyum dan menggeleng pasrah.
"Jadi, kenapa kamu kembali?"
"Karena aku tak pernah pergi, Pak?"
"Maksudnya?"
"Bapak kan pintar baca isi hati dan pikiran, masa begini saja gak tahu sih?"
__ADS_1
Pak Gilang menaiki sebelah alis matanya.
"Karena saat aku pergi, maka hatiku akan tetap tertinggal disini." ku sentuh dada kiri pak Gilang.
Pak Gilang tersenyum lebar, menampilkan sederet jejeran giginya yang sangat indah.
"Kamu itu aneh, saat saya kejar kamu lepas. Saat saya lepas kamu malah mendekat."
"Aku sadar, karena Bapak melepaskan aku, aku tahu. Bahwa cinta Bapak sama aku, bukan untuk menyiksa, namun untuk bahagia. Bukan untuk menyakiti namun untuk melengkapi."
Pak Gilang kembali tersenyum, tangannya menarik ujung hidungku lembut.
"Sudah bisa gombal? biasa ngomong saja susah." ledek pak Gilang padaku.
"Bapak apaan sih?" ku pukul bahu pak Gilang lembut.
Pak Gilang menarik kepalaku dan menjatuhkan kepalaku di dada bidangnya.
"Saya gak pernah berfikir bahwa kamu akan kembali saat saya lepas, Terry. Saya hanya ingin kamu bahagia, walaupun itu bukan bersama saya."
"Bunda bilang, saat seorang mencintai kita, maka dia juga harus bisa menghormati kita. Bahagia itu bukan hanya tentang cinta, tapi juga bagaimana kita bisa mengatasi luka."
"Saya gak nyangka kamu bisa sepintar ini mengolah kata, Terry."
Ku balikan badanku dan ku lihat hamparan luas pesisir pantai. Ku belakangi pak Gilang yang sedari tadi menatapku lekat. Tak bisa ku sembunyikan lagi, kini wajahku akan semakin merona saat menatap mata sipitnya itu.
Kurasakan tangan pak Gilang yang melingkari parutku, memelukku erat dari belakang. Meletakan dagunya diatas bahuku.
"Siap nikah sama saya?"
"Emh," ku putar bola mataku. "Tapi ada syaratnya."
"Apa?"
"Bapak harus lamar aku dengan lagu, bapak harus maini gitar untuk membangunkan aku setiap pagi. Bapak harus bisa buat nilai IPK aku tinggi terus. Apa lagi ya?" ku letakan jari di sudut daguku.
Ku putar bola mataku memikirkan apa lagi yang harus di lakukan pak Gilang untukku.
Pak Gilang menatapku denganku menaiki sebelah alis matanya.
"Ah ... Aku tahu..." pak Gilang kembali menarik ujung hidungku.
"Saya curiga kamu mau menikahi saya, jangan-jangan untuk membuat IP kamu tinggi lagi?"
"Itu harus dong, Pak."
"Di kampus kamu tetap mahasiswi saya, Terry." ucap pak Gilang tegas.
"Kalau gitu kita tunda sampai aku bukan lagi jadi mahasiswi Bapak. Jadi kalau IPK aku rendah, aku gak jadi nikah sama Bapak?"
"Jadi kamu ngancam saya?"
"Bukan ngancam, tapi ini namanya simbiosis mutualisme. Benarkan, Pak?"
"Baiklah, saya akan buat IPK kamu tinggi terus." ucap Pak Gilang dengan senyum penuh makna.
"Tapi dengan syarat, kamu harus bisa buat ranjang saya menghangat setiap malam." bisiknya lembut di telingaku.
Seketika mulutku menganga lebar. Ku pukul dahi pak Gilang keras.
"Kenapa sudah bahas itu sih, Pak?" ucapku kembali merona merah. Malu sendiri memikirkan ucapan pak Gilang.
Pak Gilang hanya kembali tertawa, kali ini tawanya kembali pecah. Tak lama ia mengelus kepalaku lembut. Merapikan rambutku yang tertiup angin malam dari pantai.
"Tak akan saya biarkan senyum itu memudar dari wajahmu, saya tak akan pernah kehabisan cara untuk membuat bibirmu terus melengkung, Terry. Percayalah."
Kembali aku menggulum senyum, ku tundukan kepalaku. Bahagia dengan lelaki yang saat ini berada di sisiku.
Pak Gilang menarik daguku, menaikan wajahku.
"Saya tak akan pernah membuat hatimu terluka, karena kamu, terlalu indah untuk di sakiti."
"Gombal saja terus pak." ucapku merona.
Pak Gilang mengambil salah satu ranting dari pohon cemara. Membentuk ranting lunak menjadi sebuah cincin sederhana.
"Ini dulu ya, nanti saya belikan yang asli." ucap pak Gilang sambil menyematkan cincin ranting itu di jari manisku.
"Maukah kamu menjadi istriku?"
__ADS_1
"Cherry?"