Cinta Pertama

Cinta Pertama
34


__ADS_3

"Kamu tak perlu memilih, biar saya yang mengalah."


Pak Gilang tersenyum dan mentoel pipiku dengan lembut. Merapikan celananya dan melangkah perlahan.


Ku tarik pergelangan tangan pak Gilang sebelum ia beranjak menjauh. Pak Gilang menolehkan pandangannya kearahku, menaiki sebelah alis matanya.


"Maaf jika saya egois pak, tapi bisakah Bapak memberikan saya waktu?"


"Waktu?" pak Gilang menaiki sebelah alis matanya.


"Saat ini saya berpikir bagaimana caranya agar tak menyakiti siapapun Pak. Tanpa saya sadari, sikap saya menyakiti Bapak dan juga Yudha." ucapku dengan menunduk kebawah.


"Tapi saya mau membuka hati, saya mau memilih, bisakah Bapak jangan berhenti dulu?" sambungku lirih.


"Saya tahu saya sangat egois, saya merasa nyaman dengan keduanya dan saya tak ingin kehilangan keduanya. Tapi, tapi, saya, saya akan memantapkan hati, untuk memilih antara satu." ku hela nafasku, ku pejamkan mataku untuk menghilangi grogi yang membuat bibirku bergetar.


Ku dongakan kepalaku, ku tatap wajah manis milik lelaki di hadapanku ini.


"Untuk itu, bisakah Bapak menunggu sedikit lebih lama lagi? saya akan memilih dengan benar."


Pak Gilang tersenyum lebar, ia menarik tanganku untuk berdiri. Langsung memeluk tubuhku dengan sangat erat.


Seketika mataku membulat sempurna, sejenak aku terdiam, mencerna perbuatan pak Gilang yang spontan ini.


Terasa debaran jantung pak Gilang yang bertabuh dengan sangat kencang. Tangannya membelai kepalaku lembut.


Aku tersenyum sendu, ku balas pelukan pak Gilang, dan ku pejamkan mataku. Menikmati dekapan pak Gilang yang terasa sangat hangat di hatiku.


"Asalkan kamu yang memintanya, Terry. Selama apapun itu akan saya tunggu." ucap pak Gilang lembut.


"Apapun pilihan kamu nanti, asalkan ada kesempatan saya untuk mengenal kamu lebih dekat. Saya tak akan peduli."


Ku tarik bahu pak Gilang, dan ku leraikan pelukannya. Pak Gilang tersenyum dengan sangat lembut.


"Tapi bisakah Bapak tidak memperlakukan saya dengan cuek lagi?" tanyaku hati-hati.


"Saya tahu saya egois, saya tahu Bapak pasti sakit kalau melihat saya dan Yudha. Tapi bisakah Bapak jangan cuek seperti kemarin?"


Pak Gilang menaiki sebelah alis matanya, menyilangkan kedua tangannya di dada. Bibirnya tersenyum penuh makna.


"Jadi, kamu mau saya mengumumkan ke seluruh kampus. Kalau saya sedang menunggu hati kamu?"


Sontak perkataan pak Gilang membuat aku memalingkan wajahku, menatap wajah pak Gilang yang tersenyum selebarnya.


"A-a-a," ku putar bola mataku. "Bukan itu maksud saya."


"Saya tahu..." pak Gilang menarik ujung hidungku lembut.


"Maafkan saya kalau sempat menyakiti hati kamu, Terry." sambung Pak Gilang, ia meraih pucuk kepalaku.


Kembali ku tundukan pandanganku, ku gulum senyum, dan sedikit tersipu malu. Ada getaran yang kembali menyala di dada.


***


"Terry!" Tantri mencepit batang leherku dengan lengan tangannya.


Ku pukul lengan tangan Tantri dengan keras. Mencoba untuk melepaskan kitingan tangan Tantri.


"Apa sih Tantri, ih sakit." ku pukul lengan tangan Tantri kembali.


"Kamu hutang penjelasan sama aku, Terry." Tantri menarik kulit pipi kiriku dengan kencang.

__ADS_1


"Ih, Tantri lepas!" ku dorong badan Tantri dengan sedikit keras.


"Aku sudah bersahabat dengan kamu selama lima tahun, Terry. Tapi aku sama sekali gak tahu kamu punya mantan."


"Sakit banget," ucapku mengeluh, ku pegang pipi kiriku yang kram karena tarikannya.


"Jawab, Terry. Kenapa kamu rahasia-rahasiaan sama aku?"


"Iya, iya. Maaf." jawabku bersalah.


"Jadi si tampan Yudha itu, dari mana kamu kenalnya?" tanya Tantri penasaran.


"Yudha itu, mantan pacar aku waktu SMP, Tantri." ucapku sedikit menyengir.


"Apa?!" teriak Tantri seketika.


Ku gosok telinga kiriku yang pekak, akibat teriakan Tantri.


"Aku gak mau tahu, pokoknya kamu harus ceritakan seluruhnya secara detil." ucap Tantri sambil menggandeng lengan tanganku.


"Eh, Tantri, gak sekarang. Aku harus ke lab tumbuhan pagi ini." ku leraikan pelukan Tantri dari lengan tanganku.


"Baiklah, tapi setelah kelas selesai kamu harus ceritakan seluruhnya!" ancam Tantri padaku.


"Iya,"


"Tanpa ada yang terlewat sedikitpun."


"Iya, Tantri." jawabku dengan menggulum senyum. "Yasudah aku duluan ya."


"Iya."


Ku pandangi pintu masuk labtoratorium ini, ya ampun bagaimana bisa aku menatap pak Gilang setelah apa yang terjadi kemarin.


Kenapa aku bisa sebodoh ini? apa yang kukatakan kemarin. Dasar Terry bodoh, bagaimana kali ini aku akan belajar dengan baik.


"Terry, ayo masuk." panggil salah seorang temanku.


"Ah, oke." jawabku pasrah.


Saat aku masuk, ku lihat pak Gilang dan beberapa Dosen jurusan MIPA sedang bercengkrama ringan. Sesekali pak Gilang membetulkan letak kacamatanya dengan jari.


"Aish ... Kenapa aku jadi salah tingkah sendiri saat melihat pak Gilang?" ucapku lirih.


Ku coba untuk kembali fokus, namun pikiranku tetap melayang. Tak habis pikir aku, bagaimana bisa? aku membalas pelukan pak Gilang dan menikmatinya.


Apa yang aku katakan? aku akan memilih dengan benar?


Oh yang benar saja Terry, kau bahkan menyuruh pak Gilang bersabar menunggu.


"Haduhh, Terry. Matilah kau!" makiku sendiri.


"Ah ... Cacing!" teriak seorang wanita mengejutkanku.


Seekor cacing mendarat diatas kertas laporan yang saat ini ada di tanganku. Mataku membulat, memperhatikan hewan berwarna cokelat, panjang, dan melingkar uget-uget di kertas putih dalam genggamanku.


"Ah...!" ku kemparkan kertas itu dan melompat-lompat geli.


Seluruh badanku bergidik geli, aku melompat-melompat dengan menyapu setiap lenganku yang terasa begitu sangat geli. Tanpa sengaja, karena pergerakanku yang terlalu aktif, kepalaku terbentur sebuah pot yang bergantungan di atasku.


"Terry, awas!" pak Gilang meraih bahuku dan berjongkok bersamaan.

__ADS_1


Mata pak Gilang memperhatikan pot diatas kepala kami yang saling bergoyang dan beradu satu sama lain.


Ku pandangi wajah pak Gilang yang begitu dekat denganku saat ini. Entah kenapa, saat sudut dahi pak Gilang di hiasi buliran keringat, malah menjadi lebih keren di mataku.


Tanpa sadar, aku kembali meraih dahi pak Gilang dan menghapus bulir di dahinya. Seketika pak Gilang memalingkan wajahnya kearahku.


Kembali mata kami bertautan. Kurasakan debaran jantungku yang sudah tak karuan.


Kenapa? saat memandang wajah pak Gilang, debaran ini terasa begitu nyata?


"Kamu gak apa-apa?" tanya pak Gilang menyadarkan lamunanku.


"Ah," ku pegang bagian samping kepalaku yang sakit karena terantuk pot tadi.


"Gak apa-apa, Pak." jawabku dengan sedikit gugup.


"Hati-hati Terry, perhatikan langkahmu. Kalau sampai pot itu menghantam kembali kepalamu, bisa gegar otak kamu." ucap pak Gilang kembali merangkul bahuku untuk bangun.


"Ini kerjaan siapa?" tanya pak Gilang pada bagian mahasiswa.


Seluruh mahasiswa hanya bisa menunduk, tak ada yang berani menatap mata tajam milik Dosen muda ini.


"Bercanda ada tempatnya, kalian lagi berada di laboratorium. Jangan bercanda, kalian disini buat belajar bukan buat main!" tegas pak Gilang.


"Kalian bukan cuma bahayain tanaman disini, kalian juga bahayain teman kalian sendiri. Kalian sudah dewasa, berhentilah bertingkah seperti bocah!"


Semua anak-anak hanya saling menunduk dan menyenggol lengan tangan orang di sebalahnya.


"Saya harap tak ada lagi kejadian seperti ini kedepannya." sambung pak Gilang melembut.


"Terry,"


"Ya, Pak."


"Kamu keruangan saya selesai ini!"


"Baik, Pak."


Terdengar suara helaan nafas dari anak-anak, saat punggung badan pak Gilang berlalu pergi.


"Gila, makin killer aja tuh Dosen muda." ucap salah satu mahasiswi.


"Tapi makin killer makin menggoda aja pak Gilang itu. Ya gak sih?" sanggah Shasha dengan senyum melengkung lebar.


Aku hanya melepaskan senyumku dan menggelengkan kepalaku melihat cinta buta para penggemar pak Gilang .


"Hey, Terry. Maaf ya, aku gak niat buat celakain kamu." sapa Tama, teman sekelasku.


"Iya, aku juga baik-baik saja." jawabku lembut.


"Aku cuma mau godain Shasha tadi, eh malah melayang tempat kamu. Sekali lagi sorry, ya."


"Ehm." aku tersenyum dan mengangguk.


"Gila gak sih, seandainya aku yang di selamati pak Gilang tadi? mungkin aku bakalan pura-pura pingsan biar bisa di peluk pak Gilang." kembali Shasha berucap ngawur.


"Iya, sih. Secara makin hari pak Gilang makin menggoda saja." sambung temannya yang lain.


Tapi apa yang di bilang mereka ada benarnya juga, semakin pak Gilang terlihat killer. Pesonanya semakin terlihat keren.


Ya Tuhan, Terry, sepertinya pot itu telah membuat sebagian otakmu tak bekerja.

__ADS_1


__ADS_2