
"Karena..." ku alihkan pandanganku, menatap pak Gilang yang saat ini sedang tersenyum sendu.
"Karena saya ingin memilih Bapak."
Pak Gilang terdiam, dia hanya menatapku dengan wajah yang datar.
Kenapa pak Gilang menatapku seperti itu?
Apa dia sudah menunggu aku terlalu lama, jadi rasanya padaku sudah hambar.
"Terry, saya gak salah dengar?" tanya pak Gilang bingung.
"Kenapa? Bapak gak suka lagi sama saya ya?" tanyaku sedikit takut.
Pak Gilang langsung menarik badanku dan memeluk dengan erat.
"Saya sudah menyiapkan hati untuk mendengar kamu menolak saya. Saya hanya tidak menyangka, saya pikir kamu akan menolak saya." ucap pak Gilang mengeratkan pelukannya.
"Eh, tunggu dulu Pak. Kenapa Bapak berpikir saya akan menolak Bapak?" tanyaku meleraikan.
"Kamu menjabarkan semua sisi saya, biasa seseorang kalau mau menolak akan berkata sehalus mungkin kan, agar tak menyikiti?"
"Biasa? berarti Bapak sudah biasa di tolak ya?"
Pak Gilang melepaskan senyumnya dan kembali menarik badanku untuk di peluk.
"Terima kasih Terry, terima kasih sudah memberikan saya kesempatan itu."
Ku lepaskan senyumku dan membalas pelukan Pak Gilang. Seharusnya aku yang berterima kasih padamu, Pak. Terima kasih sudah masuk kedalam kehidupanku dan mengubah banyak hal di dalam dunia kecilku.
Terima kasih atas semua sikapmu yang membuat aku merasa bahwa aku gak pernah berjuang sendiri selama ini. Aku akan berusaha untuk membuka hati untukmu dan mempercayaimu.
Karena lelaki itu kamu, aku bisa percaya, bahwa cinta itu nyata.
***
"Langsung istirahat ya." ucap pak Gilang, tangannya meraih sebelah pipiku.
Aku tersenyum dan mengangguk pasrah.
"Yasudah, masuk gih." perintah pak Gilang kembali.
Ku lambaikan tangan dan ku langkahkan kaki masuk kedalam rumah. Dengan sedikit menunduk aku berjalan memasuki rumah Ayah.
Ku hela nafas dengan sedikit lega, hanya tinggal mencari cara untuk menjelaskan pada Yudha. Ya aku harus bisa.
"Ehem, bagus ya, Terry." ucap Percy di ujung anak tangga dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.
Ku putar bola mataku malas dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamar.
"Gaya-gayaan gak mau di foto berdua sama mas Gilang, eh tahunya kamu malah udah pacaran sama mas Gilang. Dasar ganjen."
"Apa?" tanyaku membalikan badan.
"Memang kamu ganjen kan? menggoda Dosen kamu untuk di jadikan pacar sendiri. Huhhh." ledek Percy kembali.
"Apa Percy, bagus-bagus ya kalau ngomong sama aku, sini kamu!" teriakku.
"Terry ganjen, Terry ganjen." Percy menjulurkan lidahnya dan berlari memasuki kamar.
"Percy sini kamu!" teriakku mengejar langkah kaki Percy.
Ku gedor daun pintu kamar Percy dan dengan cepat membukanya. Saat Percy berlari menaiki kasur, ku tarik selimutnya, seketika ia gelempang di atas kasur. Ku lilit badan Percy menggunakan selimutnya dan ku pukul badan Percy dengan guling berkali-kali.
"Ah ... Bunda, Ayah! tolong aku!" teriak Percy lantang.
"Jangan main-main kamu sama aku, sini! rasakan ini!" ku hujani badan Percy yang sudah terlilit selimut dengan guling.
"Ayaaaaaah!" teriak Percy lantang.
"Hey Terry, Percy ada apa ini?" tanya Ayah datang mendekat.
"Rasakan ini!" ucapku tanpa peduli pada teriakan Percy.
"Terry." Ayah menarik pingangku dan menggendong aku turun dari kasur.
"Percy ada apa ini?" Bunda mendekati Percy dan membuka sisi selimut yang melilit badannya.
"Bunda." Percy langsung memeluk badan Bunda manja.
Sementara aku masih di peluk oleh Ayah, dengan mengambil nafas yang memburu, ku rapikan helaian rambutku yang berantakan.
__ADS_1
"Ada apa ini Terry? kenapa adik kamu, kamu siksa?" tanya Bunda padaku.
"Tanya saja sama dia Bunda," jawabku menyilangkan kedua tangan di dada.
"Percy kamu nakal lagi ya?" tanya Bunda.
"Enggak Bunda, aku hanya kasih lihat dia ini, terus dia marah sama aku."
Percy mengeluarkan ponselnya dan memberikan foto aku dan pak Gilang pada Bunda.
"Hey Percy, siniin ponselnya, kamu berani ya sama aku." aku berlari menaiki kasur Percy dan mencoba meraih ponsel Percy. Namun badan Percy lebih dulu sembunyi di balik punggung badan Bunda.
"Terry sudah." ucap Bunda menengahi.
Bunda tersenyum dan meraih kepalaku, merapikan helaian rambutku yang berantakan.
"Bunda senang kok kalau kamu nyaman sama Gilang. Gilang juga bukan lelaki yang buruk."
Ku silangkan kedua tanganku di dada dan duduk membelakangi Bunda. Wajahku memerah seketika.
"Pantas saja kan Bunda, saat Ayah masuk rumah sakit mas Gilang setia mendampingi Terry, ternyata eh ternyata..." Percy menggantung kalimatnya dan kembali menggodaku.
"Percy diam!" teriakku kesal.
"Sudahlah Terry, jangan kesal lagi pada adikmu, dia hanya mengoda kamu saja, hem." Bunda merangkul bahuku dan mencubit sebelah pipiku.
"Iya, lagian aku senang kamu bahagia, kakakku sayang." Percy ikut merangkul aku dan Bunda dari belekang.
"Sudah, jangan cemberut lagi dong." Bunda mengelus pipiku lembut.
Sementara aku masih menekuk wajahku, sebal dan juga kesal.
"Terry, ayo senyum." Percy mencium pipiku.
"Percy apaan sih? jangan cium-cium aku." ucapku kesal.
"Jadi maunya di cium mas Gilang aja gitu?"
"Percy diam!" teriakku kesal.
"Sudah, sudah. Ini sudah malam. Jangan ribut terus." kembali Bunda menenangkan kami berdua.
"Ayah baru sadar sekarang." ucap Ayah sendu.
"Kenapa selama ini anak-anak Ayah berubah. Ayah baru sadar sekarang." ucap Ayah mendekati kami.
"Baru satu hari kita berkumpul bersama, tapi suasana di rumah ini kembali ceria dan juga hangat. Maafkan kami Terry, kami sempat egois dan melupakan kebahagiaan kalian berdua."
"Sudahlah Ayah, lupakan apa yang menjadi masa lalu kita. Dan sekarang saatnya kita bahagia bersama." ucapku meraih kedua tangan Ayah.
"Ayah berjanji sama kalian bertiga, kalau Ayah akan melindungi tiga bidadari Ayah dan gak akan lagi mengecewakan kalian. Karena Ayah adalah pelindung kalian. Ayah sayang kalian, wanita-wanita Ayah."
Aku tersenyum dan bangkit, ku peluk badan Ayah dan di ikuti Percy dan juga Bunda.
"Kami juga menyanyangi Ayah."
Kurasakan kembali hangat keluarga ini yang sudah lama memudar. Sebelumnya aku sempat hancur bersama runtuhnya keluarga ini.
Aku bersyukur karena saat ini, aku menemukan seseorang yang membuat aku bangkit dari keterpurukan. Mengubah segala sudut pandangku tentang luka dan juga air mata.
Maaf Ayah, tapi saat ini aku menemukan pelindung yang lain, selain Ayah.
Ku turuni anak tangga dengan sedikit berlari. Karena kelelahan aku jadi kesiangan.
Ku ambil tas ranselku dan ku selempangkan di salah satu bahuku. Dengan membawa buku di tangan, aku berlari melewati ruang tamu.
"Terry, ayo sarapan dulu."
"Aku gak sempat lagi Ayah, Bunda. Aku pamit ya, assalamuailkum." ucapku sambil berlari.
Ku buka daun pintu rumah Ayah dan berlari menyusuri jalan komplek depan rumah Ayah.
Begitu sampai di depan gang komplek ku buang pandangaku, mencari ojek atau taksi yang lewat.
Ayolah, ada kelas pak Gilang pagi ini, aku bisa di usir keluar kalau sampai telat.
Ku dengar suara deru motor berhenti di sebelahku, ku palingkan pandanganku, pak Gilang membuka kaca helm motornya.
"Terry ayo naik, kita pergi bareng."
"Gak usah pak, saya sudah pesan ojek."
__ADS_1
"Naik atau saya keluarkan dari kelas?" ancam pak Gilang.
"Hah?" tanyaku sedikit bungung.
"Satu,"
"Satu?" tanyaku kembali.
"Dua, kalau saya hitung sampai lima kamu gak naik, jangan masuk kelas saya hari ini." ancam pak Gilang kembali.
"Lima."
"Ah, baiklah, baiklah." ucapku mengalah.
Pak Gilang melepaskan tawanya dan memberikan helm kepadaku. Dengan cepat ku naiki boncengan motor pak Gilang.
"Apa sekarang Bapak suka mengancam mahasiswi?" tanyaku saat berada di boncengan motor pak Gilang.
"Kalau saya gak ancam, kamu gak akan mau naik, padahal saat ini saya pacar kamu." jawab pak Gilang lembut.
Sejenak aku kembali terdiam, mengingat kejadian kemarin malam. Kenapa saat mengingat pak Gilang itu pacar aku, malah jadi malu sendiri ya?
"Pak."
"Hem."
"Tapi untuk sementara bolehkan kita pacaran di luar aja. Kalau di kampus kita tetap mahasiswi dan dosen." pintaku.
"Kenapa?" tanya pak Gilang ketus.
"Saya butuh waktu buat beradaptasi Pak. Dan saya juga butuh waktu untuk bicara sama Yudha."
"Baiklah, senyaman kamu saja." jawab Pak Gilang mengalah. "Tapi kalau di luar kamu harus peluk saya saat naik motor bersama, termasuk seperti sekarang ini."
"Apa?" tanyaku terkejut.
"Kalau gak mau, saya umumin deh di mading kampus."
"Hais, baiklah." ku lingkari kedua tanganku di pinggang pak Gilang.
Ini bukan pertama kalinya aku duduk di boncengan motor pak Gilang. Namun kenapa sekarang rasanya lebih deg-deg an di bandingkan pertama kali di bonceng pak Gilang.
Haduh Terry, jangan permalukan dirimu sendiri. Pak Gilang biasa saja, kenapa kamu yang salah tingkah begini.
Pak Gilang memberhentikan laju motornya sebelum sampai gerbang kampus. Dengan cepat aku turun dan membuka helm yang ku gunakan.
"Terima kasih, Pak. Saya duluan." pamitku langsung.
"Eh ... Tunggu." pak Gilang menarik lengan tanganku dan membuka helmnya.
"Kenapa, Pak?"
"Kok masih kaku saja sih?" tanya pak Gilang datar.
"Saya, saya, saya belum terbiasa, Pak." jawabku kaku.
"Santai saja, hubungan itu terjalin karena kenyamanan keduanya, kalau kamu gak bisa nyaman bagaimana bisa menjalin hubungan?"
"Saya nyaman, tapi saya belum terbiasa saja."
Pak Gilang tersenyum dan mengelus poni baruku.
"Yasudah, masuklah. Hati-hati." ucap pak Gilang lembut.
Saat ingin beranjak pergi, pak Gilang menarik lengan tanganku. Mendaratkan sebuah ciuman di dahiku. Seketika mataku melebar dengan sempurna.
"Semangat belajarnya, Sayangku." sambungnya lembut.
Ku gigit bibir bawahku dan langsung berbalik meninggalkan pak Gilang. Ya Tuhan, jantungku hampir copot karena ulahnya.
Dengan cepat ku langkahkan kaki menjauh dari pak Gilang.
"Terry." panggil pak Gilang kembali.
Ku palingkan wajahku, melihat pak Gilang yang berada diatas motornya.
"Poni kamu, bagus." ucapnya sambil tersenyum manis, menampilkan sederet jejeran giginya yang indah.
Ku balikan badan secepatnya, ku tangkupkan tangan di depan mulut dan berjalan sambil menunduk.
Ku pejamkan mataku, saat merasakan debaran di jantungku sudah membawa kehangatan yang mengalir ke seluruh tubuh.
__ADS_1
"Ya Tuhan, aku gak kuat."