Cinta Pertama

Cinta Pertama
Bab. 113


__ADS_3

"Dulu aku menjebak kalian agar segera menikah dan membuat Ayahmu yang sombong itu hancur tapi tidak berhasil malahan kalian masih bisa bersatu, tetapi untuk kali ini itu tidak akan berhasil karena kamu akan segera bersatu menjadi tanah," kesalnya dengan senyuman liciknya.


"Adikku adinda moga kau bisa tenang karena kakak sudah membalaskan dendanmu ini!," Orang itu memegang foto adiknya yang sudah tiada.


Kehidupan in bukan untuk menemukan cinta, tapi untuk membangun cinta. Cinta yang indah tidak mungkin hanya ditemukan. Cinta yang indah menuntut pengorbanan yang tidak sederhana.


Hanya dibutuhkan beberapa detik untuk jatuh cinta, tapi seumur hidup untuk membuktikannya.


"Menunggumu dalam kesabaran lebih indah bagiku dari pada mengungkapkannya. Menantimu dalam doa lebih bermakna dari pada menjelaskannya."


Pihak kepolisian memutuskan untuk menurunkan berita bahwa yang menjadi korban dalam kecelakaan itu adalah Dennis Ritchie Valens Edgardo dengan Dania Almira Ramadani Satya.


Korban itu adalah Dennis dengan Istrinya yang meninggal dunia saat kecelakaan maut itu terjadi. Sedangkan anak-anak mereka sampai sekarang belum ditemukan.


"Ya Allah… aku tidak percaya jika cucuku dan istrinya lah yang menjadi korban dari kecelakaan tragis itu, aku tidak menyangka," lirihnya Bu Martha Adinata Wijayanto.


Nyonya Sanaya Almier Edgardo pingsan dan tak sadarkan diri. Bu Martha pun langsung terduduk tak percaya jika cucu dan menantunya sudah meninggal dunia.

__ADS_1


"Ya Allah… begitu cepat Engkau memanggil anak dan menantuku, mereka belum bahagia ya Allah…," ratapnya Bu Sanaya yang menangis tersedu-sedu setelah mendengar berita tersebut.


Tangis histeris dari keluarga dan sahabat ke dua korban pun pecah. Tak ada yang percaya dengan kejadian yang begitu cepat terjadi. Ririn Dwi Ariyanti dan Dea Adinda Chandani Dirman tersedu-sedu setelah melihat jasad korban kecelakaan itu.


"Dania, selamat jalan sahabat, aku sangat sedih dan terpukul setelah mengetahui kamu sudah pergi meninggalkan kami untuk selamanya," cicitnya Dea yang menyeka air matanya.


Korban itu setelah diotopsi segera dibawah ke rumah duka tepatnya di rumah kedua orang tuanya Dennis. Setelah semua selesai, jasad mereka telah dikremasi kemudian dibawa ke makam terdekat. Saking banyaknya pelayak yang datang sampai-sampai rumahnya Pak Edgardo tidak bisa menampung mereka.


Ada yang bisa melihat langsung kondisi korban ada juga yang tidak bisa masuk ke dalam rumah duka bahkan hanya berdiri saja di jalan. Oma Martha dan mama Sanaya tidak bisa ikut menghadiri pemakaman mereka dikarenakan kondisi mereka yang tidak stabil jadi diputuskan mereka terpaksa beristirahat di rumah utama.


Tujuh bulan kemudian..


Dennis dan pelakunya bagaikan di telang bumi, satu pun tanda-tanda keberadaannya tak ada. Di suatu daerah yang terpencil bahkan bisa dibilang daerah itu termasuk daerah yang terisolir dari daerah lain. Tak ada teknologi informasi maupun teknologi modern yang mengjangkau daerah itu.


Daerah itu penduduknya sudah terbiasa tidak menggunakan pengcahayaan yang bersumber dari listrik. Mereka masih hidup dalam keadaan sangat kuno dan terbelakang. Keseharian masyarakat di sana bekerja sebagai petani dan nelayan yang memanfaatkan keberkahan dari daerahnya.


Karena daerahnya berdekatan langsung dengan pantai jadi hasil laut melimpah ruah sedangkan hasil pertaniannya juga bagus karena daerah mereka berdekatan dengan gunung yang tidak aktif. Keadaan di sana sangat damai dan masih sangat kental dengan nuansa gotong royong.

__ADS_1


Daerah itu bernama daerah Sukarya, untuk mencapai akses dari daerah itu ke kota butuh waktu kurang lebih dua minggu untuk berjalan kaki karena medannya yang tidak bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan apa pun lalu perjalanan dilanjutkan sekitar dua minggu perjalanan menggunakan mobil. Sehingga total keseluruhan waktu yang dibutuhkan untuk ke kota adalah satu bulan.


Karena medannya yang sulit dan susah untuk dijangkau dengan kendaraan roda 4.


Daerah itu sangat jauh dari kata pencemaran lingkungan. Masyarakatnya masih menggunakan teknologi sangat sederhana dalam kesehariannya.


Di Sebuah rumah yang terbilang sederhana sekali yang terbuat dari kayu jati dan beratapkan daun lontar. Hiduplah sepasang suami-istri dan dua anaknya.


Dia adalah Dennis Ritchie Valens Edgardo beserta istri dan anak-anaknya. Mereka selamat dari kecelakaan berkat pertolongan Allah. Karena waktu itu tidak memiliki uang dan handphone, mereka terpaksa berjalan menyusuri jalan yang dikelilingi hutan untuk mencari jalan pulang.


Akan tetapi malah mereka tersesat semakin dalam hutan yang begitu lebatnya. Kejadian itu berlangsung beberapa hari. Mereka makan apa yang mereka temukan dan sesuai dengan hukum Islam apa itu halal atau tidak. Mereka hidup terlunta-lunta.


"Dania, istriku bertahanlah, aku mohon," ratapnya Dania yang menggoyang tubuhnya Dania agar segera tersadar dari pingsannya.


Hingga suatu hari mereka tidak mampu lagi untuk bertahan untuk melanjutkan perjalanannya, akhirnya Dania dan anak-anaknya pingsan karena sudah tidak sanggup untuk melanjutkan perjalanannya lagi, Dennis tidak tahu harus berbuat apa.


"Ya Allah… kedua anakku Icha dan Fina juga sudah tidak mampu untuk bertahan, apa yang harus aku lakukan kalau seperti ini," cicitnya Dennis seraya menyeka air matanya.

__ADS_1


Dennis berjalan tertatih ke sana kemari di dalam hutan. Ia berteriak kencang agar ada orang yang mendengar teriakannya itu. Sudah hampir sebulan ia hidup di dalam hutan yang tidak tahu dimana ujungnya hutan lebat tersebut.


__ADS_2