
"Emh ... Pak. Bapak kan ada teman disini, kalau saya pulang duluan boleh gak?"
"Eh ... Kenapa? kamu gak suka makanannya?"
"Bukan, Pak." jawabku spontan.
"Terus, apa mau pindah tempat?"
"Bukan, itu Pak." jawabku spontan. "Cuma saya belum masak makan malam, sayang Ayah kalau pulang gak ada makan malam." sambungku.
Pak Gilang tersenyum dan menutup menu makanannya.
"Yasudah, sekalian kalau om Raihan pulang, mampir kesini saja. Makan bareng."
"Tapi, Pak." ucapku ragu.
"Apa mau saya yang minta izin?"
"Gak perlu, Pak. Biar saya yang kirim pesan ke Ayah."
Dengan cepat ku keluarkan gawaiku dan mengirimi pesan ke Ayah. Tanpa menunggu lama, balasan pesanku masuk.
(Terry nikmati saja makan malam sama Gilang. Semoga setelah ini ada kabar baik.)
Ku hela nafas panjang saat membaca pesan Ayah. Kembali Ayah menjodohkan aku dengan pak Gilang.
"Kenapa Terry? apa om Reihan gak mau singgah?" tanya pak Gilang saat melihat ekspresiku.
"Oh ... Ayah lagi di luar, katanya makan sama temannya." ucapku berkelit.
(Ayah, sudah berapa kali Terry bilang, jangan suka jodohi Terry sama pak Gilang. Gak ada yang terjadi di antara Terry dan pak Gilang.)
(Terus makan malam Ayah bagaimana?) ku kirim kembali pesan ke Ayah.
(Jangan di pikiri, Nak. Ayah bisa makan di warung nasi padang.) balasan cepat dari Ayah.
Ku garuk sudut dahiku yang tak gatal. Kenapa Ayah selalu menjodohkan aku dan Pak Gilang. Ku gelengkan kepalaku dan kembali menghela nafasku.
"Terry, mau makan apa?"
"Apa saja, Pak." ucapku pasrah.
Pak Gilang hanya mengangguk dan memesan beberapa makanan untuk kami berdua.
"Emh, Ter. Itu brosur kamu dapat dari mana?" Mata pak Gilang menatap kertas yang terlipat di dalam selipan lembar bukuku.
"Ehm ... Itu. Ehm ... Dari teman Pak." ucapku gugup.
Mati aku, kalau pak Gilang tahu aku dapat brosur itu dari Tantri dan teman-temannya, bisa habis Tantri.
"Teman kamu, siapa?"
"Anak jurnalis, Pak." jawabku cepat.
Pak Gilang tertawa dan menutup mulutnya dengan tangan.
"Kamu takut saya bakalan nyakiti teman kamu?" tanya pak Gilang tepat sasaran.
"Bukan begitu, Pak. Tapi teman saya bilang brosur itu udah dapet izin dari pak Reino."
Pak Gilang menganguk paham. Seperti menangkap sinyal kesalahanku.
Pak Gilang memfoto brosur itu dan mengetik beberapa huruf di gawainya.
"Pak, Bapak mau ngapain?" tanyaku spontan.
"Mau kirim ke grup Wa para dosen."
"Ih ... Jangan dong, Pak." pintaku memohon.
"Kenapa, Terry? saya gak akan bilang kamu yang beri tahu saya."
"Walaupun Bapak gak bilang, tapi teman saya pasti tahu, Pak. Karena dia kasih ke saya." ucapku membujuk.
__ADS_1
"Yasudah kalau begitu saya kirim ke dosen yang bersangkutan saja."
Pak Gilang sibuk pada gawainya, dahinya mengernyit saat membuka notifikasi pesan di ponselnya. Sampai akhirnya pak Gilang menghela nafasnya dan mengelus dahinya, seperti stres.
"Pantas saja Reino meminta foto saya beberapa minggu yang lalu." ucap Pak Gilang stres.
"Kenapa, Pak?" ku coba memberanikan diri untuk bertanya.
"Mereka memang sudah tahu. Hanya saya saja yang tidak tahu soal selebaran ini. Kacau." ucap pak Gilang sambil mengacak-acak rambutnya.
Apa? aku tak percaya, semua dosen yang terlibat memang menyetujui hal ini. Benar kata pak Gilang, kacau. Mereka semua kacau.
"Kenapa harus pasang foto saya? kenapa gak ambil foto dosen yang lainnya?" tanya Pak Gilang kembali.
"Kan Bapak salah satu dosen yang di idolakan di kampus, Pak." ucapku polos.
Pak Gilang memandangku dan menaiki sebelah alisnya. Menatapku heran dan juga seperti ingin tertawa.
"Saya? kenapa kamu bisa mengatakan saya termasuk dosen idola?"
"Ya, buktinya saja tadi ada yang memberikan bunga dan cokelat buat, Bapak."
"Saya pikir itu dari kamu, Terry." ucap pak Gilang serius.
"Saya?" tanyaku bingung.
Pak Gilang hanya mengangguk dan tersenyum.
"Gak mungkin saya berbuat seperti itu, Pak." ucapku membela.
"Kenapa gak mungkin? memang saya tidak termasuk idola kamu?"
"Bu-bu-bukan seperti itu, Pak." ucapku gagu.
"Ha ha ha." tawa pak Gilang meledak.
"Ya memang gak mungkin lah Terry." sambung pak Gilang sambil mencoba untuk menghentikan tawanya.
Aku tersipu malu memdengar ucapan pak Gilang. Memang aku seperti itu ya?
"Tapi saya tetap gak suka mereka memasang foto saya." ucap pak Gilang kembali serius.
"Kenapa, Pak?"
"Kalu seperti ini, maka akan banyak mahasiswi yang masuk hanya untuk main-main. Kalau sudah begini, yang ada kampus akan kacau."
"Iya sih, Pak." ucapku bingung.
"Maaf, seharusnya saya gak bahas masalah ini dengan kamu. Tapi kenapa saya juga harus dilibatkan?"
"Kan saya sudah bilang, Pak. Bapak termasuk dosen idol."
"Reino, Ruben, dan Zildane mungkin iya. Mereka ramah dan suka bergaul, tapi kalau saya, kamu tahu saya kan?" ucap pak Gilang sambil menggeleng pasrah.
"Pak, zaman sekarang wajah juga mendongkrak mahasiswi jadiin bapak kandidat, Pak."
"Kandidat? kandidat apa?"
"Ya, kandidat idol, Pak."
"Apa saya juga termasuk dalam kandidat kamu, Terry?" tanya pak Gilang serius.
"Apa?" tanyaku sedikit terkejut.
Pak Gilang ini semakin dilihat wajahnya semakin mirip dengan pembalap Rio Haryanto. Apalagi saat tersenyum dan menampilkan jajaran giginya yang indah itu. Semakin terlihat manis dengan wajah yang seperti orang Tiongkok.
"Lang, sambil nunggu makanan datang manggung dong." seseorang hadir dari belakang kursiku.
"Itu panggung sepi, coba nyanyiin satu lagu biar rame."
"Lain kali, gue lagi gak mood."
"Ayolah, Lang. Udah lama banget gak dengar kamu nyanyi. Nyanyiin satu lagu dong, buat gadis manis di depan kamu ini." ucap teman pak Gilang sambil menatap kearahku.
__ADS_1
"Udah gak bisa. Lupa kuncinya."
"Ah, bohong kamu. Ayolah, hidupkan kembali jiwa anak band dalam diri kamu." bujuk lelaki itu.
"Pak Gilang anak band?" tanyaku terkejut.
"Bukan cuma anak band, tapi juga vokalis band paling populer di kampus dulu."
"Apaan sih? lebay banget." ucap pak Gilang males.
"Terry mau dengar Gilang nyanyi, kan? coba minta sama dia buat nyanyiin satu lagu."
Aku hanya menggeleng pasrah, semakin mengenal dekat pak Gilang, semakin banyak hal-hal baru yang aku ketahui. Sebenarnya pak Gilang ini lelaki yang seperti apa sih?
Kalau jaman kuliahnya dia aktif begitu, kenapa saat ini dia jadi terlihat lebih pasif. Apa pak Gilang sama sepertiku, kehilangan semangat dan juga dunianya saat kehilangan cinta pertama.
"Yasudah deh, sepertinya kalian berdua sama. Cocok sih memang. Nikmati makan malam kalian ya." lelaki itu menepuk pundak pak Gilang dan beranjak pergi.
Ku perhatikan hidangan yang baru saja tersedia di hadapanku.
"Kenapa? kok cuma di lihatin aja?" tanya pak Gilang menyadarkan lamunanku.
Aku hanya tersenyum dan menggeleng.
"Saya gak nyangka kalau Bapak vokalis band."
"Haha. Gara-gara dia, saya jadi malu. Tapi jangan bilang-bilang sama yang lainnya."
"Kenapa, Pak?"
"Pokoknya jangan bilang-bilang saja. Saya malu."
"Kok malu sih Pak? kan keren bisa nyanyi."
"Memang kamu gak bisa nyanyi?"
Aku hanya menggeleng pasrah.
"Iya, gak mungkin juga kamu bisa nyanyi. Bicara saja jarang."
"Masa sih, Pak?" tanyaku tak percaya.
Pak Gilang hanya mengangguk dan menyuapi makanannya. Bibirnya mengunyah makanan tapi juga menyungging lebar.
"Kalau nunggu kamu bicara duluan, lebih baik nunggu dragon ball balik dari langit. Lebih cepat."
"Apa?" tanyaku sedikit terkejut.
"Sekarang saya paham sih, Pak." sambungku sambil tersenyum penuh makna.
"Paham, apa?"
"Saya pikir kemarin-kemarin, bagaimana bisa Bapak punya ibu seperti tante Namira."
"Memang kenapa? saya dan Mama saya?"
"Iya, Bapak itu dingin dan tak banyak basa-basi. Tapi Tante Namira kocak seperti itu. Ternyata hari ini saya lihat, Bapak dan tante Namira sama."
"Kok sama?"
"Iya, sama-sama kocak."
"Kocak apa somplak?" tanya pak Gilang sambil memainkan kedua alisnya.
"Keduanya sama, Pak." ucapku sambil tertawa.
Pak Gilang hanya tersenyum sambil memandangku. Seakan pandangannya penuh dengan arti tersendiri. Pak Gilang menarik sebuah tisu dan menulis seusatu di atas tisu itu. Lalu melipatnya dan menaruhnya di sudut meja dekat lengan tangannya.
Saat ingin beranjak pulang, pak Gilang menyodorkan tisu itu padaku. Lalu dia bangkit dan berjalan perlahan menuju kasir.
Perlahan ku buka tisu itu, ku tutup mulutku dengan tangan. Bibirku tak bisa berhenti melengkung dengan lebar. Entah kenapa hanya sebuah kalimat ini mampu membuat wajahku kembali menghangat.
'Ku Merasa tenang, bila kamu tersenyum.'
__ADS_1