Cinta Pertama

Cinta Pertama
29


__ADS_3

"Bunda, kok jadi pak Gilang lagi sih? Ayah pak Gilang, Percy pak Gilang. Pak Gilang saja terus." ucapku sedikit kesal.


Bunda mulai melepaskan tawanya, Bunda kembali pada kegiatan awalnya, merangkai mawar-mawar itu dalam buket besar.


"Bunda melihat kamu menjadi dua orang yang berbeda saat bersama mereka, Terry."


"Bagaimana bisa?" tanyaku sambil menyilangkan kedua tanganku di dada.


"Iya, Bunda lihat kamu kembali menjadi Terry yang dulu saat bersama Yudha. Saat bersama Gilang, kamu tetap menjadi Terry yang sekarang, hanya saja Gilang mampu mencairkan hatimu yang pernah beku."


"Bunda tahu dari mana?"


"Bunda punya mata, Terry. Saat kamu bersama Gilang, kamu tersenyum, kamu tertawa dan kamu jadi lebih terbuka, Gilang seperti mampu membasuh lukamu. Kembali menghidupkanmu dari kematian masa lalumu."


"Sudahlah Bunda, pak Gilang, Pak Gilang dan pak Gilang terus. Kenapa gak Bunda saja yang jadian sama pak Gilang?"


Bersamaan dengan motor sport berwarna biru abu-abu terlihat di depan toko Bunda. Ku raih tasku dan berjalan mendekati Bunda.


"Nanti aku akan sampaikan kalau Bunda kirim salam sama pak Gilang?" ucapku sambil mencium tangan Bunda takzim.


"Sepertinya, gak buruk juga punya Ayah tiri seperti pak Gilang." sambungku menggoda Bunda.


"Terry!" Bunda menjewer telingaku keras.


"Au, au, Bunda." ucapku meringis.


"Jangan main-main kamu," ucap Bunda kesal.


"Iya, ampun Bunda." ucapku memohon.


Saat Bunda melepaskan jewerannya, aku langsung berlari menjauh. Keluar dari pintu kaca dan mendekati pak Gilang yang berada diatas motornya.


Pak Gilang menyerahkan helm saat aku berdiri di samping motornya.


"Saya baru tahu, ternyata kamu nakal juga ya, Terry."


"Hah?"


"Sudah sebesar ini, masih suka di jewer." ucap Pak Gilang menggoda.


"Apaan sih, Pak?" ku pukul lengan tangan Pak Gilang.


Lalu langsung naik ke boncengan motor pak Gilang. Pak Gilang melajukan motornya perlahan, entah kemana arahnya. Setelah agak lama melajukan motornya, pak Gilang mulai keluar dari area kota.


Perasaan takut mulai menghantui perasaanku, kemana pak Gilang akan membawa aku?


"Pak kita mau kemana?" tanyaku sedikit menjerit.


Pak Gilang mengendurkan gasnya, melajukan motornya lebih pelan dari sebelumnya.


"Jangan takut, saya tidak akan menculikmu." ucap pak Gilang santai.


"Jadi kita mau kemana ini?"


"Tenang saja, sedikit lagi sampai kok."


Pak Gilang kembali menarik gasnya kuat-kuat. Melajukan kecepatan motornya menjadi maksimal.


Ku lingkari kedua tanganku di bahu pak Gilang. Ku pejamkan kedua mataku, takut.


Terasa laju motor kembali melambat. Pak Gilang membuka kaca helm full face yang ia kenakan.


"Terry, salah." ucap Pak Gilang sedikit berteriak.


"Bukan disini, tapi disini." ucap pak Gilang sambil memindahkan pelukan tanganku ke pinggangnya.

__ADS_1


"Maaf, bukan saya gak sopan. Tapi kalau kamu peluk di bahu, saya susah mengendarai motornya."


Ku kaitkan kedua jemariku yang saat ini melingkari perut pak Gilang. Sedikit tersipu, kembali kurasakan kehangatan mejalar dari peredaran darahku.


Kapan sih Pak, kamu berhenti membuat perasaanku menghangat seperti ini?


Kamu terus membuat aku tersipu malu begini.


Pak Gilang memberhentikan laju motornya, ku lihat sekeliling. Hamparan hijau dari perkebunan teh, cantik sekali. Aku gak pernah keluar, baru kali ini aku melihat pemandangan secantik ini.


"Mau turun?" pak Gilang menyodorkan tangannya padaku.


"Kita dimana ini, Pak?" tanyaku bingung.


"Gak jauh dari kota kok, disini ada rumah teman saya. Sekalian main, kita singgah ya."


Aku mengkuti langkah kaki pak Gilang, memasuki area perkebunan teh. Kurasakan udara yang terasa sejuk, sesejuk hatiku saat memandang pak Gilang di hadapanku.


Ku keluarkan gawaiku, mengambil beberapa foto spot yang cantik di mataku. Tak sengaja, aku merekam wajah pak Gilang yang sedang tersenyum sambil berbicara dengan temannya.


Ku jepret beberapa foto saat pak Gilang tersenyum. Kenapa, manis ssekali senyum yang kamu miliki itu pak?


Ku genggam gawaiku dengan kedua tanganku, ku letakan di depan dada. Sejenak aku tersenyum sendiri karena membayangkan wajah pak Gilang tadi.


"Terry."


"Hem."


"Apa kamu terkena ulat bulu? kenapa senyum-senyum sendiri?"


Aku hanya menggeleng dan kembali tersenyum malu karena ucapan pak Gilang. Aku berjalan mendekati pak Gilang.  Saat aku dan pak Gilang berada berdampingan.


Pak Gilang langsung mengambil jemariku, mengganggamnya erat. Memasukan jemariku kedalam kantung jaket yang ia gunakan.


"Kamu merasa dingin gak sih?" tanya pak Gilang sesaat setelah memasukan jemariku kedalam kantung jaketnya.


"Tapi saya dingin, tuh." ucap pak Gilang ketus.


Aku hanya menggelengkan kepalaku pasrah. Aku tak bisa lagi merasakan dingin saat berada di sampingmu pak. Karena keberadaan dirimu membuatku merasa hangat.


*****


"Mas, bakso dua mangkuk ya." pintaku pada pedagang kaki lima di bibir jalan.


Hari mulai senja, keasyikan bermain di kebun teh, aku jadi kesorean makan siang.


Ku lihat pak Gilang yang duduk diatas kursi plastik, sedang melipat-lipat tisu milik pedagang bakso ini.


"Saya bingung, sebenarnya bapak ini Dosen atau guru lipat origami sih?" ucapku sambil berjalan mendekat, ku tarik salah satu kursi plastik dan duduk bersebelahan dengan pak Gilang.


Pak Gilang memberikan tisu itu kepadaku, aku tersenyum mengambilnya. Ku kernyitkan dahiku saat membuka tisu yang di lipat oleh pak Gilang tadi.


Gak seperti biasa, kenapa kali ini tisu itu kosong?


Ku buang pandanganku kearah pak Gilang.


"Saya gak mau saja, kalau salah satu mahasiswi saya banyak menyimpan lipatan tisu di balik lembaran buku biologinya."


Ku kernyitkan kembali dahiku, bagaimana mungkin pak Gilang tahu kalau aku menyimpan tisu yang ia tulis di balik lembaran buku-buku ku.


Pak Gilang mengeluarkan sebuah tisu, dan menjepitnya di antara dua jari tangannya.


"Saya gak nyangka ada seseorang yang menyimpan ini."


Seketika mulutku menganga, ku rebut lembaran tisu itu dan ku buka. Benar saja, ini tisu pertama yang di tulis pak Gilang padaku. Dari mana pak Gilang dapat tisu ini?

__ADS_1


Apa kemarin aku lupa memindahkannya?


"Dari mana bapak dapat tisu ini?" tanyaku sengit.


"Kemarin Percy minta saya bantuin tugas biologinya. Dia keluarin buku kamu, dan saat saya membantu dia mencari jawabannya, saya menemukan itu di lembaran buku kamu."


Pak Gilang menumpuhkan dagunya diatas telapak tangannya. Memandangku dengan senyuman penuh makna. Sementara aku hanya salah tingkah, tak tahu harus bagaimana, malu ketahuan oleh pak Gilang.


"Terry, boleh saya cerita sesuatu?"


"Cerita saja." jawabku cuek.


"Saya pernah jatuh cinta sama seseorang pada pandangan pertama, dan itu cinta pertama saya."


"Lalu?"


"Yah ... Sayang, saya jatuh cinta oleh seorang anak SMA."


Ku pandangi wajah pak Gilang yang saat ini mulai menampilkan ekspresi sendu. Terdengar helaan nafas pak Gilang yang terdengar lelah.


"Apa itu wanita yang sering bapak kunjungi di makam?"


"Bukan." ucap pak Gilang sambil tersenyum pahit.


"Tara itu sahabat saya dari SMA. Tara suka sama saya, karena saya gak mau nyakiti perasaannya, saya terima dia jadi pacar saya. Kalau di bilang jatuh cinta, saya hanya pernah jatuh cinta sekali."


"Masak, sih. Kok saya gak percaya ya, Pak?" jawabku tak percaya.


"Iya lah. Kalau kamu percaya sama saya, nambah dong rukun iman kamu."


Aku tertawa meledak mendengar ucapan pak Gilang. Ku gelengkan kepalaku sambil menatap wajahnya.


"Jadi, kenapa pacar Bapak bisa meninggal?"


"Tifus."


"Selain rasa sayang sebagai sahabat, apa Bapak gak ada perasaan sayang yang lain?"


"Saya bukan orang yang terlalu mengurusi soal hati, Terry. Buat saya dulu karir dan pendidikan lebih penting. Selain itu saya lebih suka berteman. Karena itu saya membiarkan cinta pertama saya pergi begitu saja."


Pak Gilang mulai melahap isi mangkuk yang saat ini kami pegang. Entah kenapa, aku suka sekali saat melihat bibirnya mengunyah makanan. Ku sunggingkan bibirku, tak lama ku tundukan pandanganku malu.


"Terry."


"Hem."


Pak Gilang menyodorkan lembaran brosur yang di buat Tantri hari itu. Iya, aku meletakan lembaran brosur ini bersama tisu pemberian pak Gilang saat itu.


Pak Gilang melipat brosur itu sampai kecil, hanya memperlihatkan wajah ia dalam brosur itu. Aku hanya kembali tersenyum dan meraih brosur itu. Ku buka lipatan brosur itu.


"Terry." panggil Pak Gilang kembali, menghentikan gerakan tanganku.


"Yudha itu, orang yang bersamamu di taman, bukan?"


"Iya," jawabku cuek sambil memasukan lipatan brosur itu kedalam tas milikku.


"Cinta pertama kamu?"


"He em." jawabku sambil menyuapi bakso dalam mangkukku.


"Kalau gitu, biarkan saya yang menjadi cinta terakhirmu."


"Hah, maksud Bapak?" ucapku hampir nenyemburkan makanan dalam mulutku.


"Saya suka sama kamu, Terry. Izinkan saya untuk meminta kamu pada Ayahmu."

__ADS_1


Seketika mataku membulat sempurna, tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh pak Gilang.


Ku tatap wajah pak Gilang yang menampilkan ekspresi serius. Ya Tuhan, apa aku gak salah dengar?


__ADS_2