
"Laura, kamu ngapain kesini?" tanya Yudha sengit.
"Kamu gak pulang saat libur kuliah, jadi aku dan nenek nyusul kesini."
"Kan sudah aku bilang, aku kerja disini. Lagian ini aku sudah mau ambil cuti," jawab Yudha jutek.
"Tapi pertunangan aku dan kamu akan di pindah kesini, Yudha. Biar orang tua kamu juga hadir." jawab wanita itu gembira
"Apa? pertunangan?" tanyaku terkejut. Ku tatap Yudha lekat.
"Kamu siapa?" tanya wanita itu berpaling kearahku.
"Oh..." Ku sungging senyum kaku dan ku ulurkan tanganku. "Hai, aku Terry." ucapku sambil tersenyum.
"Aku teman SMP Yudha. Teman sekampus juga." ku gulum senyum, dan ku tatap Yudha yang saat ini berada di sampingku.
"Oh hai, aku Laura." gadis itu mengambil uluran tanganku.
Ku sungging bibirku, dan kembali tersenyum lebar, menampilkan sederet jejeran gigiku.
"Oh, sekalian ya. Datang ke acara pertunangan kami, nanti." gadis itu mengulurkan undangan berwarna silver perpaduan gold ke hadapanku.
Ku tatap undangan yang di sodorkan gadis itu. Kenapa saat ini mengetahui kenyataan ini membuat dadaku terasa begitu sesak. Ada rasa yang terganjal dan membuat aku sulit bernafas.
Aku tahu, saat ini ada pak Gilang di antara aku dan Yudha, tapi kenapa?
Kenapa kenyataan ini begitu sulit aku terima. Dengan sedikit tersenyum ku raih undangan itu.
"Apaan sih?" Yudha mengambil undangan itu sebelum tanganku mampu meraihnya.
"Cukup Laura, aku gak mau lihat kamu disini. Kamu pulang sekarang juga!" perintah Yudha tegas.
"Jangan." ucapku spontan. "Aku yang menganggu disini, jadi nikmati waktu kalian berdua ya."
Aku ambil undangan di tangan Yudha secara paksa dan pergi dengan sedikit berlari. Aku keluar dari gerbang kampus. Ku remas undangan pertunangan Yudha. Ku ambil oksigen yang begitu sulit untuk di hirup.
Yudha, kamu kembali hanya untuk menorehkan luka. Kebodohanku adalah, pernah menerima kehadiranmu kembali dalam hidupku.
"Terry, tunggu!" Yudha menarik tanganku dan membalikan badanku.
Sebuah tamparan ku layangkan di pipinya.
"Jangan sentuh aku!" ucapku sengit.
Namun bukan melepaskan pegangan tangannya, Yudha malah menguatkan pegangan tangannya.
"Terry, aku terima segala kemarahanmu. Tapi ini yang mau aku jelasin dari dulu."
"Cukup, aku gak ingin mendengar apapun lagi." ku tutup kedua telingaku.
"Terry, Terry. Dengarkan aku, aku mohon dengarkan aku." Yudha meraih kedua pipiku, berusaha menatap mataku.
"Ini yang selalu ingin aku katakan sama kamu. Saat itu aku pergi karena kakek sakit." ucap Yudha sedikit berteriak.
"Kakek banyak menghabiskan waktunya sama Laura, karena Laura adalah anak tetangga kakek."
"Terus aku harus percaya sama kamu gitu aja?" ucapku sambil tertawa kecut. Ku gelengkan kepalaku pasrah.
"Ayolah Yudha, aku sudah terlalu sakit karenamu."
"Terry aku mohon percaya sama aku. Aku sama sekali gak ada rasa sama Laura. Kakek yang jodohin aku sama Laura, kakek yang minta aku buat nikahi Laura sebelum kakek meninggal."
__ADS_1
Aku melepaskan tawa pahitku. Ku sapu jejak buliran air mata yang mulai mengalir di pipi. Ku lepaskan pegangan Yudha perlahan.
"Kebodohanku adalah percaya sama kamu, Yudha. Kesalahanku adalah pernah menerima kamu kembali dalam hidupku." ku hirup oksigen yang saat ini sangat terasa menyesak di dadaku.
"Sekarang pergilah, aku tak mau mendengar apapun lagi."
"Terry, aku mohon Terry. Ikut aku, akan aku jelasin sama Nenek. Kalau orang yang selalu ingin aku nikahi itu kamu, bukan Laura." Yudha menarik tanganku.
Dengan kuat ku hempaskan tangan Yudha. Air mata kembali menetes dari mataku. Ku pejamkan mataku sejenak, dan ku buang nafas yang begitu menyiksa dadaku saat ini.
"Kebiasaanmu adalah meninggalkan seseorang, Yudha. Setelah aku, kini kamu mau nyakiti wanita itu?" tanyaku ketus
"Ayolah Yudha, kamu tak sesempurna itu, kenapa kamu selalu mempermainkan perasaan orang?"
"Terry, aku benar-benar tak pernah mempermainkan perasaan kamu. Aku benar-benar mencintai kamu?" kembali Yudha meyakinkan aku.
"Cinta seperti apa yang kamu bilang? cinta yang terus kamu palsukan? Cinta yang kamu bungkus indah di balik semua luka?" tanyaku dengan sedikit menekan.
"Terry, aku gak pernah mau membuat kamu terluka..."
"Tapi cara kamu mencintai aku selalu menimbulkan luka. Cinta yang kamu bawa terbungkus di balik luka, Yudha. Kamu mencintaiku, tapi kamu terus menyakiti aku." ku tutupi wajahku dengan satu tanganku.
Kenapa? kenapa selalu akhir seperti ini yang kamu berikan kepadaku, Yudha?
Aku berusaha untuk menjelaskan keadaan aku dan pak Gilang padamu. Agar akhir kita bisa kembali berdamai, tapi aku salah. Akhir dari kisah kita memang tak harus selesai.
"Jangan kejar aku lagi, kembalilah pada wanita yang menunggumu, Yudha." ku balikan badanku dan ku langkahkan kakiku menjauh.
"Terry." kembali Yudha menarik lengan tanganku.
"Cukup!" ucapku tanpa menolehkan kembali wajahku.
"Jangan bilang apapun lagi, kali ini cukup Yudha." ku rasakan tangan Yudha yang perlahan melepaskan pergelangan tanganku.
"Bahkan saat ini, kisah kita sudah berakhir sebelum di mulai." sambungku pahit.
"Terry, aku selalu meminta waktumu untuk menjelaskan keadaan kita. Bagaimana juga aku tahu, aku salah, aku terima saat kamu marah. Tapi aku mohon jangan tinggalkan aku, percayalah sama aku."
Ku balikan badanku dan kembali berjalan mendekati Yudha.
"Aku gak bisa Yudha, aku sudah memilih, dan itu bukan kamu." ucapku kembali meneteskan air mata.
"Aku tahu aku salah, tapi aku mohon, berikan aku kesempatan, Terry." Yudha meraih kedua ujung bahuku kuat.
"Yudha, kamu harus tahu, sesuatu yang sudah berlalu, sampai kapanpun tak akan pernah bisa di ulang kembali. Kamu pernah melewatkanku, dan saat ini aku gak lagi berdiri di tempat yang sama." ku lepaskan pegangan tangan Yudha.
"Aku ingin memberitahumu pelan-pelan, karena aku takut menyakitimu, aku takut kamu merasa di buang kembali. Tapi aku terlalu percaya diri, pada kenyataannya, akulah yang selalu kamu buang." ku tundukan pandanganku dan menangis tergugu.
Kenapa aku bodoh sekali, aku masih terus merasa sakit saat Yudha mengkhianati kepercayaanku.
Aku berlari menjauh dari Yudha. Kenapa beban ini kembali terasa?
Hebat kamu Yudha, dua kali kamu membuat luka di hatiku. Saat ini semua terasa begitu indah, namun sekejap saja, kau buat semua kembali menjadi luka.
Ku hentikan langkah kakiku di ujung halte. Ku tumpuhkan satu tanganku di tiang peyanggah halte. Ku tundukan pandanganku, ku remas baju di bagian dadaku.
Sakit sekali, kenapa saat ini semua terasa lebih menyakitkan. Aku memang tak memilihmu Yudha, tapi aku terlalu percaya pada dirimu, aku kembali terluka, karena rasa percayaku padamu. Namun kamu terus mengkhianati rasaku padamu.
Aku mau tetap menjadi temanmu, bagian dari masa lalu kita adalah hal terindah yang pernah ada. Namun saat ini, kamu membuat aku membencimu bahkan walau hanya menyebut namamu saja.
Tubuh seseorang menyenggol tangan yang ku tumpuhkan pada tiang peyanggah dengan tiba-tiba. Sontak badanku jatuh menimpahi dada bidang yang menyenggol keras tanganku.
__ADS_1
Ku rasakan dua buah tangan melingakri badanku, memelukku erat. Ku benamkan wajahku pada dada bidang itu. Menangis sedalam yang ku mau.
Tak lama tangan itu meleraikan pelukannya, ku tutup wajahku dengan kedua tanganku. Sebuah jaket menutupi badanku.
Topi jaket itu menutupi kepala yang saat ini sedang ku tundukan.
Kembali tangan itu memelukku erat. Menyembunyikan badanku dalam dekapannya. Menutupi badanku dengan jaket yang ia berikan.
"Maaf, Terry. Tapi saat ini melihatmu begini pun membuat hati saya perih." ucap pria itu lembut.
Aku tak peduli pada keadaan sekitar yang melihatku saat ini. Semakin dalam tangisan yang ku rasakan semakin erat pula dekapan itu terasa.
Seperti ingin membuatku melepaskan beban itu. Lelaki ini hanya diam tanpa bertanya apapun.
Saat ini, saat luka ini kembali terasa, aku mendapatkan kehangatan yang luar biasa. Tapi kenapa hatiku tak ingin lagi menerima, sakit yang kurasakan saat ini kembali mengorek luka.
Ku coba untuk kembali menguatkan diri. Mengambil kembali kekuatan yang selama ini kususun rapi. Kembali untuk menguasi kembali hatiku.
Ku lepaskan pelukan dari tangan kekar itu. Ku lepaskan senyum getirku saat matanya menatap wajahku.
"Saya lebih suka melihat kamu menangis, dari pada kamu tersenyum dengan wajah seperti ini, Terry." ucapnya sambil merapikan helaian rambutku.
"Kapanpun itu, dada saya selalu ada untuk tempatmu melepas luka." sambungnya lembut.
"Makasih pak, Bapak masih sangat baik sama saya, walaupun saat ini saya sudah menyakiti Bapak, maaf." ucapku sendu.
"Saya gak merasa tersakiti. Saya baik-baik saja." ucap Pak Gilang, tersenyum.
Ku lepaskan senyum getirku, bagaimana dia tak sakit hati, jelas aku menangis karena lelaki lain. Kamu sok kuat Pak. Maafkan aku, maaf aku masih terjebak pada luka ini.
Pak Gilang menepuk pipiku lembut dan tersenyum sendu.
"Saya saat ini, sudah baik-baik saja Pak. Terima kasih." ku hapus buliran airmataku dan kembali tersenyum lebar.
"Kamu selalu sok kuat, Terry. Sesekali lemah itu biasa, jangan takut untuk berbagi luka. Saya ada, bukan hanya untuk tawamu, tapi juga untuk air matamu." ucap Pak Gilang sambil menyapu sisa jejak-jejak air mata di pipiku.
Ku tarik nafasku yang sedikit berat karena tercampur ingus. Aku melepaskan tawa getirku, kembali. Ku buka jaket yang sedari tadi menutupi sebagian atas badanku.
"Makasih, Pak. Saya sangat berterima kasih, karena Bapak saya baik-baik saja saat ini. Tapi maaf, saya terbawa perasaan. Maafkan saya, Pak." aku tersenyum sendu. Ku tatap wajah pak Gilang yang hanya menampilkan binar kesedihan.
"Gak perlu minta maaf, terus." pak Gilang meraih kedua pipiku. "Lepaskan saja apa yang ingin kamu lepaskan. Saya tak masalah, asalkan kamu tak lagi tersiksa." kembali pak Gilang tersenyum
Karena senyumnya itu, aku kembali menangis, kenapa? kenapa kamu begitu sangat melindungi aku?
tapi kenapa? kenapa aku tak bisa melindungi, bahkan walau hanya hatimu saja, Pak.
"Kenapa Pak? kenapa Bapak selalu melindungi saya? apa Bapak tak marah sama saya?" kembali air mataku melintas saat melihat wajahnya.
Pak Gilang tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Tak ada yang bisa di ubah dari masa lalumu, saya juga gak bisa mengubah. Kamu butuh waktu untuk kembali menata hatimu. Benarkan?"
Ku tatap lekat-lekat wajah lelaki di hadapanku ini, tanpa sadar, setiap kelopak mataku menutup, air mata ikut mengalir. Bukan lagi karena Yudha, namun karena kelembutan pria ini yang sudah ku sia-siakan.
"Terry, aku mohon dengarkan aku!" Yudha kembali menarik tanganku.
"Apa lagi sih Yudha?" tanyaku malas.
"Ikut aku, akan ku lamar kamu di hadapan, Bundamu." Yudha menarik kembali tanganku.
Namun kali ini pak Gilang juga ikut menarik tanganku. Ku buang pandanganku pada pak Gilang yang saat ini wajahnya kembali memerah.
__ADS_1
"Terry, menikahlah dengan saya." ucapnya serius.
"Apa?"