Cinta Pertama

Cinta Pertama
Bab. 110


__ADS_3

Daniel dan tak kuasa menahan tangisnya setelah melihat kondisi orang yang berada di dalam mobil itu yang sangat tampak mengenaskan bahkan sulit untuk mengenali wajah dan tubuhnya yang sudah habis dilalap si jago merah. Daniel untuk kesekian kalinya berteriak dan meraung melihat kondisi Dania dan Dennis. Dia segera menghubungi orang tua Dennis pak Edgardo Muller Winata Sing Antonio.


"Assalamu alaikum Uncle!" Ujarnya David Hermansyah Wijaya yang memilih untuk berbicara langsung melalui pesawat telpon dengan Pak Edgardo Muller Winata Sing Antonio.


"Waalaikum salam, ada apa David! Kau meneleponku,tidak kah kamu lihat jam?" Sarkasnya Pak Edgardo.


Daniel melupakan kalau Pak Edgardo pamannya sekaligus calon mertuanya itu berada di Inggris yang pastinya waktu disana London dengan di tanah air jauh berbeda Daniel hanya nyengir kuda sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Daniel tersenyum cengengesan, "Maafkan aku Paman, aku lupa tapi ini keadaannya sangat genting," kilahnya Daniel.


Pak Edgardo mengerutkan keningnya dan mulai terbuai dari rasa penasarannya lalu segera bangun dari tidurnya. Beliau pun berjalan ke arah meja kerjanya karena tidak ingin mengganggu kenyamanan tidur dari Nyonya Sanaya istrinya itu.


"Lanjut Daniel!" Imbuhnya Pak Edgardo.


"Maafkan aku Paman, aku tidak bisa menjaga Dennis dan juga kedua anak dan istrinya dengan baik," ratapnya Daniel dengan raut wajahnya yang berubah sendu.


"Jangan bertele-tele, to the points saja Daniel! langsung saja ke intinya!" Gerutunya Pak Edgardo yang sudah mulai terpancing emosinya.

__ADS_1


Daniel menarik nafasnya dengan panjang, "Begini ceritanya Paman! Dennis dan keluarganya mengalami kecelakaan dan mobil yang mereka pakai, mobil itu jatuh ke dalam jurang hingga hancur dan terbakar," jelasnya Daniel yang kembali meneteskan air matanya.


Betapa kaget dan shocknya Pak Edgar selaku Papanya Dennis ketika mendengar kabar jika putra tunggalnya itu dan keluarga kecilnya mengalami kecelakaan maut. Tangannya hingga menjatuhkan handphonenya ke atas lantai dan membuat Istrinya terbangun.


Bu Sanaya mengerjapkan kedua matanya lalu menatap ke arah suaminya yang sudah berdiri terdiam dan tak bergeming sedikitpun, "Ada apa Papa, kok hpnya bisa terjatuh, Papa baik-baik saja kan?" tanya Bu Sanaya seraya menyingkap selimutnya lalu segera berjalan ke arah Pak Edgardo.


Pak Edgardo tak kuasa menatap ke arah istrinya itu, ia menundukkan kepalanya menahan tetesan air matanya, "Ma putra kita Dennis!' ujarnya sendu.


Bu Sanaya semakin mempercepat langkahnya menuju suaminya berada, "Dennis Ritchie Valens Edgardo kenapa Mas!!" Tanyanya Bu Sanaya yang sudah menggoyang ke-dua lengannya suaminya itu.


Pak Edgardo tiba-tiba merasakan sesak di dadanya, suaranya tiba-tiba tercekat di batang tenggorokannya saja.


"Putra kita…" Pak Edgardo tidak bisa melanjutkan perkataannya, ia jatuh ke dalam pelukan Istrinya dan menangis tersedu-sedu.


"Dennis kenapa Mas, apa yang terjadi dengan Dennis anakku!" tanya Mama Sanaya yang sudah khawatir dengan keadaan puteranya.


Bu Sanaya segera mengambil handphone suaminya yang teronggok di lantai. Kemudian mengecek siapa yang menelpon suaminya hingga keadaan suaminya seperti sekarang ini, ia mengutak-atik hpnya Pak Edgardo.

__ADS_1


Bu Sanaya mengambil hp suaminya,"Hallo Daniel, ada apa Nak?" Ujarnya Bu Sanaya.


"Hallo Tante, De-nis Tante?" Ucapnya David Hermansyah yang sudah tergugu padahal ia menggantikan Daniel yang tidak kuasa menahan tangisannya itu.


"Apa yang terjadi dengan Dennis adikmu Nak?" Teriaknya Bu Sanaya yang mulai dibuat geram dan kesal dengan semua orang yang seperti gagu saja.


David membuang nafasnya dengan cukup kasar, "Dennis dan keluarganya mengalami kecelakaan Tante," balasnya David.


Bh Sanaya melototkan matanya saking tidak percayanya mendengar kabar itu, "Apa!! itu tidak mungkin Nak, kamu pasti salah orang, Tante yakin itu pasti bukan putraku Dennis," rengeknya Bu Sanaya yang tanpa aba-aba air matanya menetes membasahi pipinya.


Ibu Sanaya histeris mendengar kabar anak,menantu serta cucunya mengalami kecelakaan, bahkan beliau meraung.


"Tidak!! Anakku masih hidup, pasti ada kekeliruan di sini, putraku Dennis Ritchie Valens Edgardo!!" Jeritnya Bu Sanaya yang terduduk di atas lantai keramik kamar pribadinya itu.


Hal ini tak luput dari pendengaran anak kembarnya Cinta dan Citra. Keduanya buru-buru ke dalam kamar orang tuanya. Mereka ikut shock dan terkejut mendengar kabar dari berita itu.


Kehidupan in bukan untuk menemukan cinta, tapi untuk membangun cinta. Cinta yang indah tidak mungkin hanya ditemukan. Cinta yang indah menuntut pengorbanan yang tidak sederhana.

__ADS_1


Hanya dibutuhkan beberapa detik untuk jatuh cinta, tapi seumur hidup untuk membuktikannya.


"Menunggumu dalam kesabaran lebih indah bagiku dari pada mengungkapkannya. Menantimu dalam doa lebih bermakna dari pada menjelaskannya."


__ADS_2