Cinta Pertama

Cinta Pertama
37


__ADS_3

Secepat yang ia bisa, penunggang itu menarik remnya sekuat tenaga. Menghentikan laju motor kencangnya agar tak menabrak badanku.


"Auw." rintihku saat ban depan motor ber les abu-abu, biru itu menyentuh kulit betisku.


"Terry apa yang kamu lakukan? kamu gak tahu ini bahaya?" tanya penunggang itu setelah menghentikan motornya tepat di sebelahku.


"Bagaimana jika saya tak sempat menarik rem motor tadi? bisa hilang kamu dari pandangan saya!" kembali pak Gilang membentakku.


Tak sanggup lagi menjawab, aku tak tahu harus bagaimana. Ayah aku mohon jangan tinggalkan aku.


"M-m-maafkan saya pak." jawabku sambil menangis tergugu.


Perlahan wajah pak Gilang melunak, pak Gilang mengelus pucuk kepalaku lembut.


"Saya juga minta maaf,"


"Maaf tapi saya harus pergi." kembali ku langkahkan kaki dengan berlari.


Namun tangan pak Gilang lebih dulu menarik lengan tanganku.


"Ada apa? kenapa kamu begitu ketakutan Terry?" tanya pak Gilang cemas.


"Maafkan saya, Pak. Saya harus bagaimana Pak? saya harus kerumah sakit." kembali aku ingin berlari, namun pak Gilang masih menahan lengan tanganku.


"Terry, tenanglah. Ada apa? apa kakimu sakit?"


"Tidak, tidak. Tidak sakit." jawabku sedikit linglung. Keadaan ini membuat aku tak bisa berpikir, aku seperti orang yang kehilangan arah.


"Terry, lihat saya." Pak Gilang meraih kedua bahuku dan menatap mataku dengan lekat.


Kembali air menetes dari kedua bola mataku. Entah kenapa, saat melihat bening mata milik pak Gilang rasanya semua menjadi lebih tenang.


"Tenangkan dirimu." ucap pak Gilang, mengencangkan pegangannya.


"Ada apa?" kembali ia bertanya dengan lembut.


"Ayah, Pak. Ayah..." tangisku kembali pecah, ku tutupi wajahku dengan kedua telapak tangan.


"Kenapa Ayah kamu?"


"Ayah terkena serangan jantung dan kritis di ICU." jawabku semakin menangis kencang.


Pak Gilang membuka jaket yang ia gunakan, memakaikannya ke badanku.


"Ayo naik, saya antar kamu ke rumah sakit."


****


Ku percepat langkahku saat berlari di koridor rumah sakit. Ku lihat Bunda di kursi penunggu sedang terduduk lesu.


"Bunda, apa yang terjadi?" tanyaku saat berdiri di depan Bunda.


"Ini salah Bunda Terry, ini salah Bunda." jawab Bunda menundukan pandangannya jauh kedalam.


"Bunda, ada apa ini?" tanyaku kembali bingung, ku kernyitkan dahiku.


Terasa tangan pak Gilang menyentuh pundakku. Ku palingkan wajahku kearah pak Gilang. Pak Gilang menggelengkan kepalanya.


Huft ... Ku hela nafas berat, ku hapus sisa buliran air mata dan melangkahkan kaki menuju daun pintu ruangan ICU. Ayah terbaring dengan selang pernafasan dan juga beberapa alat lainnya.


Ku sentuh badan Ayah dari balik kaca pintu ini. Ayah, walaupun terkadang aku tak bisa dekat denganmu, tapi aku masih sangat mencintaimu.


"Ini salah Bunda, Terry." kembali Bunda membuka suara.


Ku palingkan wajah seketika, ku lihat Bunda yang terus menundukan pandangannya kebawah.


"Jika terjadi sesuatu pada Ayah kalian, Bunda mohon jangan benci Bunda, Terry."


"Bunda, apa yang Bunda katakan?" ku langkahkan kaki mendekati Bunda. Ku tumpuhkan kedua lututku diatas lantai koridor, berlutut di hadapan Bunda.

__ADS_1


Ku raih kedua jemari Bunda, mencoba untuk melihat wajah Bunda yang terus menunduk jauh kebawah.


"Tadi Bunda dan teman Bunda sedang makan siang di restoran dekat Bank tempat Ayah kamu bekerja." ucap Bunda sendu.


"Bunda gak tahu jika ada Ayah kalian disitu," sambung Bunda dengan berderai air mata.


Sesaat Bunda kembali menangis terseduh, badannya bergetar karena tangisannya yang kian dalam.


Ku biarkan sejenak, memberikan ruang untuk Bunda agar kembali tenang untuk melanjutkan ceritanya.


"Tenang lah, Bunda. Ayah akan baik-baik saja. Ayah lelaki yang sangat kuat, Bunda." ucapku menenangkan.


"Bunda tak tahu bagaimana menjelaskannya, Terry." ku lihat wajah Bunda yang semakin terlihat sedih.


Air matanya terus menetes, mengalir sederas mungkin.


"Bunda hanya makan siang bersama teman Bunda. Bunda gak tahu jika teman Bunda sengaja menyiapkan makan siang itu ..." Bunda memandang kearahku, ku kernyitkan dahiku, menunggu sambungan pernyataan Bunda.


"Untuk melamar Bunda." sambung Bunda lirih.


"Apa?" sontak aku langsung berdiri.


Bunda masih terus menundukan pandangannya jauh kedalam. Jadi selama ini Bunda dekat dengan lelaki lain, alasan Bunda tak ingin kembali, karena Bunda sudah terpaut oleh lelaki lain.


Ku palingkan wajahku kearah pak Gilang yang saat ini berdiri di sampingku. Pak Gilang melepaskan senyumnya, meraih pucuk kepalaku, dan mengelusnya lembut.


"Saya ke cafetaria dulu ya." ucap Pak Gilang berlalu menjauh.


"Jadi, apa Bunda sama Ayah bertengkar lagi?" tanyaku hati-hati.


"Ayah meminta Bunda untuk kembali bersama dengannya, Terry. Tapi Bunda selalu menolaknya, Bunda takut untuk memulai kembali bersama Ayah kalian." Bunda menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Kembali Bunda menangis tergugu, membuat badan lelahnya itu bergetar. Ku hela kembali nafas yang terasa begitu berat untuk ku hirup.


Ku buang bokong di sebelah Bunda, dan ku peluk badan Bunda erat.


Aku juga ingin Bunda bahagia, jika memang ada orang lain yang ingin membantu Bunda menyembuhkan luka, aku tak mungkin marah. Bunda pasti akan kecewa, dan itu akan buat Bunda merasa lebih menderita.


"Bunda jangan sedih, Bunda gak salah apa-apa kok." ucapku menenangkan Bunda.


"Ini salah Bunda, Terry. Salah Bunda semua." kembali Bunda berucap.


"Bunda, Bunda." ku tarik kedua ujung bahu Bunda, ku tatap wajah Bunda yang terlihat putus asa.


"Aku tahu selama ini Bunda sudah berusaha keras. Bunda pasti lelah dan juga jengah, Bunda membesarkan kami berdua, dan pasti itu semua sulit buat Bunda." ucapku menenangkan.


Ku raih kedua jemari Bunda dan mencium pungung tangan Bunda dengan takzim. Selama ini tangan ini yang berusaha menopang hidupku dan juga Percy.


"Aku tak akan marah, Bunda berhak untuk bahagia. Bunda harus bahagia untuk hidup Bunda sendiri." sambungku lembut.


"Terry, kamu mungkin akan mengerti karena kamu sudah dewasa. Tapi bagaimana kalau Percy tahu? dia akan menyalahkan Bunda, Sayang."


"Bunda, suatu saat nanti Percy akan mengerti. Untuk sementara kita sembunyikan dulu masalah ini dari dia."


Bunda menggulum senyum pahitnya, ia menarik bahuku dan membenamkan wajahnya di bahuku. Sejenak ku biarkan Bunda melepaskan segala beban hatinya.


Berat, pasti kehidupan yang Bunda jalani saat ini. Tapi aku juga tahu, berada di posisi Bunda saat ini juga tak mudah. Kita berdua berada dalam kondisi yang sangat rumit, Bunda.


Aku harap agar Bunda bisa selalu bahagia, apapun pilihan Bunda. Itulah yang terbaik untuk Bunda.


"Bunda takut, Sayang. Bunda takut Ayah kamu kenapa-kenapa, Sayang."


"Ssttt ... Semua akan baik-baik saja Bunda. Percaya sama aku." ku ambil jemari Bunda dan menggenggamnya erat.


Ku peluk badan Bunda yang terus bergetar karena tangisannya yang begitu dalam. Ya Tuhan Bunda, bagaimana bisa Bunda menahan ini semua sendiri selama bertahun-tahun.


Seandainya Bunda cerita, aku akan berusaha untuk memahami segalanya. Tapi Bunda malah memilih diam, Bunda memilih jalanku untuk meredam masalah. Ini sakit Bunda, sakit sekali saat melihat Bunda hancur seperti ini.


Setelah sekian lama berdiam, Bunda mulai mengangkat kepalanya dan menghapus sisa buliran air matanya.

__ADS_1


"Terry." Bunda meraih jemariku dan tersenyum sendu.


"Iya, Bunda."


"Dimana Gilang? ini sudah sangat lama, dia masih menunggu kamu?"


"Ah, aku lupa Bunda." ucapku sambil menyeringai kuda.


"Temui dia, jangan biarkan dia menunggu lebih lama lagi."


"Tapi Ayah dan Bunda?" tanyaku, bingung.


"Ayah ada Bunda disini, Bunda gak apa-apa, Sayang. Temui saja dia, ya." bujuk Bunda lembut.


"Baiklah Bunda." jawabku mengalah.


Ku langkahkan kaki menyusuri koridor rumah sakit. Ku cari pak Gilang di jejeran kursi cafetaria, namun punggung badan lelaki manis itu sudah tak ada.


Mungkin pak Gilang sudah pulang, dia telah menunggu terlalu lama. Siapa juga yang tak bosan.


Ku buang nafasku kasar dan berjalan kembali menyusuri koridor. Di tengah perjalanan ku belokan langkahku menuju taman rumah sakit. Sekedar menghela nafas yang terasa begitu menyesak di dada.


Kapan semua ini bisa berakhir bahagia?


Ku sentuh sudut dahi yang terasa mulai berat. Ku buang bokongku di bibir lantai koridor rumah sakit.


"Terry, kenapa duduk disini?"


"Loh, Bapak kok masih disini?" kembali aku bertanya.


"Kan saya kesini sama kamu." jawab pak Gilang datar.


"Bukan itu maksud saya, tadi saya cari Bapak di cafetaria, tapi Bapak gak ada."


"Cie ... Tumben kamu cariin saya? udah mulai kangen ya?" goda pak Gilang padaku.


Ku putar bola mataku malas, ku sungging senyum pahit di bibirku.


"Ayolah, Pak. Ini bukan waktunya untuk bercanda." ku cubit lengan tangan pak Gilang, geram.


"Setidaknya kamu sudah bereaksi. Itu sudah cukup." ucap pak Gilang sambil memandangku lekat.


"Apa sih Pak? gak jelas!" ku gelengkan kepalaku pasrah.


Bersamaan angin sore yang bertiup sedikit kencang. Membawa segala beban ini sedikit menghilang.


"Kamu mau minum sesuatu? biar saya belikan?" tanya pak Gilang kembali.


"Jika tidak merepotkan," jawabku dengan menggulum senyum.


Pak Gilang hanya tersenyum dan mulai bangkit. Berjalan menjauh perlahan, ku perhatikan punggung badan pak Gilang yang berjalan menjauh dari pandanganku.


Ku hirup udara sore yang sedikit sejuk di taman belakang rumah sakit. Entah angin dari alam atau angin yang di bawa pak Gilang. Sepertinya pak Gilang mampu membuat suasana ini sedikit lebih baik.


Ku bersihkan jeans celanaku yang sedikit kotor karena duduk di bibir koridor. Perlahan ku langkahkan kaki memasuki perkarangan taman. Ku cari kursi di sudut taman, selain agak sepi, suasananya lebih tenang karena jauh dari orang-orang yang bersantai disini.


Setelah beberapa menit berlalu, pak Gilang datang dengan minuman di tangannya. Dengan menggulum senyum, ku ambil air yang di berikan oleh pak Gilang.


Sesaat suasana hanya hening, ku biarkan angin sore menjadi satu-satunya penyapa diri.


"Terry, kamu baik-baik saja?" tanya Pak Gilang membuka suaranya.


"Emh." ku anggukan kepalaku dan tersenyum sendu. Ku teguk kembali air minum di tanganku.


"Gadis kuat!" pak Gilang menyentuh kulit pipiku dengan ibu jarinya, memainkan lembut di kulit pipiku.


Sementara, aku hanya bisa memandang pak Gilang dengan ujung mataku. Perlahan rona merah muncul di kedua pipiku.


Oh ayolah Terry, saat ini tak tepat jika harus jatuh cinta.

__ADS_1


__ADS_2