
Tanpa terkecuali seluruh karyawan dan karyawati perusahaan Global Ones tbk. Dengan hadirnya Icha dan Fina di kediaman kakek dan neneknya suasana di kediaman itu jadi ramai dengan suka cita dan tawa renyah dari Icha dan Fina.
Di Sebuah Rumah yang sangat mewah dan besar, seseorang berdiri di depan jendela yang kacanya mengjulang tinggi menghadap ke arah pantai. Orang itu memegang sebuah Bingkai foto.
Dennis Ritchie Valens Edgardo terkejut mendengar perkataan dari salah satu anak buahnya yang mengatakan keselamatan anak dan mamanya itu yang membuatnya meradang dan marah.
Padahal rencananya hari ini Dennis dan Dania Aulia Ardita Ramadani berencana akan mendatangi rumah kedua orang tuanya tapi, takdir Tuhan Yang Maha Esa berkehendak lain.
Dennis membuang nafasnya dengan cukup kasar dan mengusap wajahnya dengan gusar," ya Allah… apa yang terjadi pada kedua anak kembarku dan mamaku, padahal Roni dan Nanda serta komplotannya sudah tertangkap basah, jadi siapa yang mencelakai anggota keluargaku!" Geramnya Dennis.
"Mas harus sabar, Daniel, David dan papa juga sudah di dalam perjalanan mengikuti mereka hingga ke tempat persembunyian penjahat tersebut," jelasnya Dania yang berusaha untuk membujuk dan menenangkan suaminya itu.
"Dika!" Teriaknya Dennis ketika berada di ujung pintu.
Dika yang mendengar teriakannya Dennis segera berjalan tergesa-gesa ke arah dalam rumah.
"Iya Tuan Muda, ada yang bisa aku bantu!" Imbuh Dika.
Dennis menatap ke arah Dika yang membungkukkan badannya itu di hadapannya," kamu persiapkan mobil yang warna hitam karena aku dengan istriku aja segera pergi," perintahnya Dennis dengan wajahnya yang garang.
Sedangkan di tempat lain, mobil yang membawa Bu Sanaya beserta cucu-cucunya menuju hutan belantara yang berada di dekat dengan pantai. Icha dan Fina walau bagaimanapun masih anak-anak sehingga mereka sangat ketakutan karena melihat leher neneknya sudah ditodongkan pistol tepat di lehernya Bu Sanaya.
Daniel segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena setelah mendapatkan kabar dari salah satu anak buahnya bahwa telah terjadi masalah besar di Perusahaan Global Ones tbk.
__ADS_1
"Ya Allah… semoga Tante Sanaya dengan kedua anaknya kembarnya Denni dalam keadaan yang baik-baik saja,"gumamnya Daniel.
Daniel masuk ke dalam perangkap sama sekali tidak menyadari kalau sebenarnya hal itu hanyalah rekayasa dan kebohongan yang sengaja diciptakan oleh penjahat itu. Sedang David mengikuti mobil yang dipakai oleh Pak Edgardo.
Beberapa saat kemudian, mobil Daniel memasuki parkiran perusahaan Global Group khusus untuk mobil petinggi perusahaan. Raut wajahnya sangat kalut khawatir.
"Sepertinya musuh kami bukan hanya Roni the geng tapi, ternyata ada kekuatan lain yang membantunya selama ini rupanya," cicitnya Daniel Mananta Aryana.
Daniel saking buru-burunya tidak sempat mengambil handphonenya di jok mobilnya," aku segera masuk ke dalam perusahaan, aku tidak mau kondisi di perusahaannya telah terjadi sesuatu,"
Tapi, langkahnya cukup terhenti karena terkejut melihat situasi di dalam perusahaan yang sama sekali tidak pernah terjadi sesuatu seperti yang diberitakan oleh pria yang mengaku anak buahnya itu.
"Ya Allah… syukur Alhamdulillah tidak terjadi sesuatu yang kami takutkan, tapi kenapa pria itu mengatakan jika terjadi masalah besar di perusahaan? Bego kenapa aku tidak menghubungi nomor hpnya Dion terlebih dahulu!" Umpatnya Daniel yang menggelengkan kepalanya saking begonya sudah ditipu dan terperdaya oleh tipu muslihat musuh bebuyutannya.
"Aku harus segera memastikan bahwa apa yang sebenarnya terjadi di dalam perusahaan dan aku harus mencari tahu siapa sebenarnya dalang kejahatan semua ini karena aku yakin ada orang hebat dibalik Roni yang selama ini mendukungnya," gumam Daniel.
Karena hal ini adalah hal langka yang tidak pernah Daniel Aryan Mananta lakukan selama menjabat sebagai asisten pribadinya Dennis atau pak Edgardo yang hanya sebentar saja waktu itu.
Beberapa saat kemudian, dengan tidak sabarnya Daniel terus mendesak pegawai bagian cctv dan akhirnya mengetahui apa motif dari kejadian ini.
"Aku sudah dapat jawabannya dan semoga aku tidak salah orang!" Kesalnya Daniel.
Daniel segera menghubungi Dennis, untung saja nomor handphone Dennis ada di handphone salah satu anak buahnya yang berada di ruangan cctv.
__ADS_1
"Dennis angkat teleponnya please!" Cicitnya Daniel yang mendapati kalau Dennis Ritchie Valens Edgardo sama tidak mengangkat hpnya.
"Kamu sekarang di mana? Karena aku juga sudah otw menuju tempat yang didatangi oleh paman dan David," imbuhnya Daniel Aryan Mananta yang bertanya kepada Dennis.
"Kami sudah berada di jalan untuk mengikuti mobil yang membawa Mama dan Icha serta Fina anakku dan tampaknya mereka mengarah ke arah hutan," ungkap Dennis Ritchie Valens Edgardo.
"Baiklah, aku akan segera mengikuti kamu, aku bodoh sekali tidak mengetahui kalau ternyata aku masuk ke dalam perangkat mereka, ternyata selama ini sekretarisku bersekongkol dengan penjahat itu!" Geramnya Daniel.
"Maksudnya Daniel! Jangan bicara sepotong-sepotong langsung to the points!" Ketusnya Dennis.
"Karena gara-gara uang kamu tega melakukan semua ini kepada kami, apa kami kurang baik, apa kamu lupa siapa yang telah menolong
Ibu dan adikmu dulu waktu mengalami kecelakaan!" Sarkasnya Bu Sanaya dengan perasannya yang menggebu-gebu seakan-akan ingin menelan mentah-mentah Mang Joko.
"Persetan dengan semua itu, saya tidak pernah mengemis bantuan kalian, kalian saja yang sok baik sok dermawan sok suci dan penuh dengan kemunafikan!" Cibirnya Mang Joko yang mendelik ke dua matanya itu yang cukup muak mendengar perkataan dari Nyonya Besar Sanaya.
Tiba-tiba Bu Sanaya merangkak ke arah depannya Mang Joko lalu berusaha untuk melepaskan ikatan ditangannya dan langsung ingin menampar Jokoi. Tetapi tangannya segera ditarik oleh asisten mang Joko.
Ibu Sanaya belum menyentuh pipi mang Joko tapi, Joko Doni sudah menangkap dan memutar tangan Bu Sanaya ke arah belakang tanpa sedikitpun untuk kasihan kepada Bu Sanaya yang sudut bibirnya sudah berdarah.
"Tolong, Sakit!!" Jeritnya Bu Sanaya yang tampak kesakitan karena tangannya di pelintir oleh Joko tanpa ada sedikitpun rasa kasih sayangnya itu.
"Lepaskan nenekku, jangan sakiti nenekku!" Pekiknya Icha yang berusaha melawan Joko agar pak Joko langsung mundur dan melepaskan mereka.
__ADS_1
Hal itu tidak membuat pak Joko melepaskan tangannya dari tangan Bu Sanaya bahkan Joko sudah kesetanan marena selain memelintir tangan Mama Sanaya juga sudah melayangkan tamparan yang cukup keras ke arah wajahnya agar diam dan tidak mencoba untuk melawan Joko lagi lebih diam dan menurut.
"kalian sebaiknya diam dan jadi orang penurut dari jadi orang yang tidak bisa diatur sedikit pun!" sarkasnya Mang Joko.