Cinta Pertama

Cinta Pertama
22


__ADS_3

"Ada apa Kirei? kenapa tiba-tiba kamu menangis?" tanya Yudha sambil mendongakan kepalaku.


Aku tersenyum pahit dan menggeleng pasrah.


"Ada kata-kata ku yang menyakiti hatimu? aku minta maaf ya." Yudha meraih kedua tanganku dan mengecupnya.


Aku kembali tersenyum dan memukul dada bidang Yudha keras.


Kembali Yudha menarik kepalaku dan mendaratkan di dadanya. Ku palingkan wajahku saat berada di atas dada Yudha.


Ku lihat punggung seorang lelaki berjalan menjauh dariku. Setumpuk raut kekecewaan kembali menghiasi wajah manis itu.


'Kamu terlambat Pak, kamu selalu selangkah di belakang Yudha' lirihku dalam hati.


Ku tarik kepalaku dan ku tatap kembali wajah Yudha. Aku melepaskan tawa getirku saat melihat wajah Yudha yang menjadi jelek seketika.


"Jelek banget tahu, gak." ku cubit dada bidang milik Yudha dan kembali tertawa.


"Gitu dong. Jangan nangis lagi."


Ku sapu buliran air mata yang sempat melintasi wajahku tadi dan berjalan menjauh.


"Ada apa sih? kamu gak mau cerita sama aku?" kembali Yudha bertanya.


"Gak sekarang ya Yudha. Aku gak tahu harus bagaimana." ucapku sambil berjalan mengitari lantai keramik di bibir taman.


"Yasudah, kapanpun kamu mau cerita aku selalu siap buat dengarin." ucap Yudha yang saat ini berjalan bersisian denganku.


Yudha meraih pucuk kepalaku dan mengelusnya lembut. Ku tarik tangan Yudha dan menjauhkannya dari atas kepalaku. Yudha tersenyum sendu dan mengedipkan sebelah matanya padaku.


Kembali ku cubit lengan tangan Yudha yang saat ini berada di sisi kiriku.


"Kirei, coba lihat disana ada apa?" tunjuk Yudha kearah samping kananku.


Ku palingkan wajahku untuk melihat ke kanan. Tak ku temui apa yang Yudha maksud dari tunjukannya itu.


"Apa sih, Yud?" tanyaku sambil menyipitkan mataku untuk menatap apa yang di maksudkan Yudha.


"Itu, coba lihat itu." kembali Yudha memberikan aba-aba. Ku coba untuk menelisik satu persatu benda disana, namun tak ada sesuatu yang dimaksud oleh Yudha.


"Gak ada apa-apa." ucapku sambil membalikan wajahku kesisi kiri.


Sebuah kecupan mendarat di pipi kiriku, mulutku menganga seketika. Sementara Yudha sudah berlari menjauh dariku.

__ADS_1


"Yudha..." teriakku sambil mengejar Yudha yang berlari semakin menjauh.


Ku hujani pukulan dari sepatu heels boots yang aku lepaskan saat mengejar langkah Yudha tadi. Yudha hanya berjongkok sambil melindungi wajahnya dengan kedua lengan kekarnya itu.


"Gak sopan, gak sopan." ku pukul lengan Yudha keras-keras.


"Ampun ... Ampun Kirei." ucap Yudha sambil menangkap sepatuku dan melemparnya.


Lemparan Yudha membuat salah satu sepatuku masuk kedalam got. Kembali mulutku menganga lebar, ku tutup mulutku dengan kedua tanganku setelah sepersekian detik menganga.


"Yudha, itu sepatu aku." ucapku lemas.


"Maaf, Kirei. Aku gak benar-benar bermaksud menghilangkan barang bukti itu."


"Apa?" tanyaku terkejut.


"Itu kan barang bukti penganiayaan kamu ke aku." ucap Yudha sambil menggulum senyum


"Ih ... Aku serius tahu. Masak iya aku pulang nyeker." ku tatap kedua kakiku yang berdiri tanpa alas.


"Yasudah aku gantiin sandal jepit ya."


"Yudha gak lucu, aku serius tahu."


"Terserah!" ucapku merajuk.


Ku tinggalkan Yudha sendiri disana sambil menenteng sebelah sepatu heels bootku. Sifat Yudha yang terkadang aku gak suka adalah ini.


Suka bermain terlewat batas, dia kadang-kadang gak bisa membedakan yang mana lucu yang mana garing.


"Kirei... Kirei. Maafin aku."


"Gak mau, pergi sana." usirku padanya.


"Benar nih, mau aku pergi?" tanyanya sekali lagi.


"Iya, pergi sana!" ucapku merajuk.


"Yasudah, aku pergi ya." ucap Yudha sambil berlalu pergi berjalan kearah motor miliknya.


Ku silangkan kedua tanganku didada dan mengerucutkan bibirku kesal. Yudha melajukan motornya ke depanku, ia membuka kaca helm full face nya dan melirik kearahku.


"Ayo naik. Aku gantikan sepatumu dengan sandal jepit."

__ADS_1


"Aku gak mau Yudha. Udah pergi sana." ucapku jutek.


"Kirei, jangan seperti anak kecil. Ayo naik."


"Kamu bilangi aku anak kecil? bukannya kamu yang kayak anak kecil?"


"Ayolah, Terry. Jangan seperti ini."


"Sudah peegi sana," usirku kesal.


Yudha menggeleng dan melajukan motornya menjauh. Aku gak suka melihat tingkah usil Yudha yang begitu, dia yang menjatuhkan sepatuku. Seenaknya dia ingin mengganti dengan sandal jepit.


Bunda susah payah membeli sepatu itu untukku. Yudha tak pernah tahu bagaiman sakitnya Bunda mencari uang untuk membelikan perlengkapanku.


Aku berjalan mendekati got tempat Yudha melempar sepatuku tadi. Ku geser sedikit penutup beton yang menutupi saluran got itu. Tercium bau got yang menyeruak keluar, sesaat aku terbatuk dan ingin muntah.


Ku buang pandanganku untuk mencari sesuatu yang bisa meraih sepatuku di dalam sana. Kurasakan perih dari telapak tanganku yang terkoyak karena cor-an beton penutup yang kasar itu.


Darah mulai menetes, sedikit menahan sakit aku mencuci tanganku dengan botol air mineral minumanku tadi. Setelah agak kering, aku kembali mencari ranting yang mungkin bisa meraih sepatu boots ku itu.


Jahat, kamu Yudha. Bunda sulit mencari uang untuk membelikan boots heels itu. Sekilas mataku kembali berembun, teringat akan kerasnya perjuangan Bunda.


Mungkin kalau anak lainnya mereka tak akan peduli pada barang pemberian orang tua mereka hilang. Tapi buat aku, segala sesuatu yang di berikan Bunda itu lebih berharga dari apapun.


Bukan hanya tentang apa barang itu, tapi juga tentang perjuangan dan keringat yang di tetesi Bunda di setiap barang yang ia belikan untukku.


Aku tahu Bunda kekurangan uang, aku tahu Bunda masih banyak keperluan. Walaupun begitu, Bunda lebih mementingkan penampilan dan gayaku agar aku tidak di cela teman-temanku.


"Bunda, maafkan aku." ucapku sambil menyapu buliran air mataku yang kembali menetes.


Sebuah ranting kayu jatuh di sebelah tempat aku bersimpuh. Ku buang pandanganku dan kulihat ranting kayu diatas.


Sebuah ranting menjuntai kebawah, aku beridiri dan mencoba meraih ranting itu. Namun tanganku tak cukup panjang untuk meraihnya.


Aku melompat dan mencoba untuk meraih itu. Beberapa kali melompat, ku lihat sedikit lagi ranting itu sampai ke jangkauanku. Ujung jemariku mulai menyentuh ranting itu, aku melompat lebih tinggi.


Namun sayang ranting itu putus di tengah dan membuat aku terjatuh. Kedua lututku menghantam lantai keramik keras. Sedikit kebas, kuraskan dengkulku kembali berdarah.


Dasar Terry bodoh, ceroboh. Makiku dalam hati. Ku pukul-pukul lantai kermik itu dengan tumbukanku. Masih terduduk, ku hela nafas panjang dan ku lihat boots itu masih berada jauh kedalam got.


Kembali air mata ini melintas di pipiku. Seseorang berlutut di hadapanku dan menatapku sendu. Ku tarik kerah kemeja lelaki itu dan ku benamkan wajahku di dadanya.


"Jahat, kamu." ucapku sambil mencengkram kuat kerah kemeja lelaki itu.

__ADS_1


"Kamu jahat." ku pecahkan tangisanku di dada itu, ku tarik kuat dua sisi kemeja lelaki itu untuk menyembunyikan wajahku.


__ADS_2