
Sudah lima belas menit, kami berdua hanya duduk di ujung-ujung kursi. Ku buang pandanganku ke sisi kosong begitu juga dengan pak Gilang.
Ya Tuhan, kenapa jadi seperti ini suasana nya? kenapa aku bisa seceroboh itu. Ayah, bisakah kita berpindah tempat, sungguh aku tak ingin lagi hidup rasanya.
"Terry." panggil pak Gilang, akhirnya.
"Ya." jawabku tanpa menolehkan pandangan.
"Bisakah kamu memaafkan saya? saya gak bermaksud untuk tidak sopan sama kamu."
"Iya, tentu saja, Pak." jawabku dengan tersipu malu.
"Apakah kamu akan mengusir saya? tapi saya belum mau pulang." ucap pak Gilang, melas.
Sontak ku palingkan wajahku kearah Pak Gilang. Ku lihat wajah pak Gilang yang tak kalah merona dari wajahku.
Ku lepas tawaku, dan menggeleng pasrah.
"Baiklah, saya tak akan mengusir Bapak. Tapi Bapak tak boleh mengingat kejadian tadi, walaupun sedetik." ucapku sedikit bercanda.
"Saya janji!" jawab pak Gilang antusias dan langsung menghadap kearahku.
Kembali ku lepas senyumku saat melihat reaksi pak Gilang. Ternyata lelaki dewasa ini bisa juga bersikap seperti anak kucing yang imut.
Eh ... Tunggu dulu, imut?
Ting ...
Sebuah notifikasi pesan masuk kedalam ponselku. Ku buka dengan cepat dan membacanya.
Ya Tuhan, bagaimana aku bisa melupakan, Bunda masih sendiri menjaga Ayah di dalam.
"Pak."
"Ya."
"Kita masuk?"
"Baiklah." jawab pak Gilang langsung.
Kami berjalan bersisian, menjejaki koridor rumah sakit untuk menemani Bunda.
Aku tak tahu kenapa pak Gilang tak mau pulang. Jujur, saat ini kehadiran pak Gilang sangat membantu aku disini. Apa lagi perkataan pak Gilang yang tadi, masih terus membayang dalam pikiranku.
Setelah keadaan ini membaik, aku harus bisa mengatakan ini pada Bunda. Mau tak mau, aku harus bisa buat Bunda cerita.
"Bunda!" Percy datang dengan berlari menuju kursi penunggu.
"Ada apa? kenapa Ayah bisa begini? apa yang terjadi Bunda? sejak kapan Ayah punya riwayat jantung?" sejuta pertanyaan terlontar dari bibir Percy.
Mendapatkan pertanyaan Percy kembali membuat Bunda menangis. Ku peluk badan gadis remaja ini dan mengelus pucuk kepalanya lembuat.
"Percy, tenanglah sayang. Jangan lemparkan pertanyaan yang Bunda juga gak tahu apa-apa." ucapku menenangkan.
"Tapi kenapa Ayah bisa begini, Terry?" tanya Percy yang mulai banjir air mata.
Ku leraikan pelukanku, jemariku meraih helaian rambut blonde milik Percy yang berantakan.
"Hey, sayang. Ini sudah menjadi takdir Allah. Sekarang kita hanya bisa banyak berdoa, semoga semua baik-baik saja." kembali aku menenangkan Percy.
__ADS_1
"Tapi aku takut, Terry. Aku sangat takut!" Percy memeluk badanku kembali erat. Badan mungilnya ikut bergetar karena tangisan yang ia limpahkan.
Aku juga sangat takut, Percy. Apalagi melihat air matamu dan juga Bunda yang tak berhenti sedari tadi.
Ku hela nafasku, ku tahan air mata yang berusaha mengalir mengikuti rasa takut. Aku harus kuat, setidaknya di depan Bunda dan Percy, karena saat ini hanya akulah yang bisa menguatkan mereka.
"Tenanglah, tenang adikku. Semua akan baik-baik saja." ku elus pundak Percy untuk menenangkannya.
"Kamu pasti lelah, pulanglah bersama Bunda. Biar kakak yang jaga Ayah disini." ku leraikan pelukan Percy.
"Enggak! aku masih mau disini!" sanggah Percy spontan.
"Bunda juga masih mau disini." jawab Bunda lemah.
"Bunda, tapi keadaan Bunda saat ini sudah sangat lemah. Istirahatlah, Terry gak akan tinggalin Ayah."
"Kamu saja yang pulang Terry, kamu kan masih harus kuliah besok. Ajak adikmu juga." jawab Bunda lemas.
"Enggak! aku gak mau pulang." sanggah Percy.
Ku hela nafas dan meraih sudut dahiku yang mulai sakit. Aku sudah lelah menghadapi semua ini.
"Bunda, Percy. Ayolah, kita sama-sama butuh kekuatan. Jika semua hanya ingin bertahan disini, lalu bagaimana besok dan seterusnya?"
"Kamu dan adik kamu saja yang pulang, Bunda yang akan jaga disini." jawab Bunda ngeyel.
"Bunda!" ku buang bokongku di sebalah Bunda. "Bunda saat ini sudah terlalu lemah, kalau Bunda bertahan disini, bagaimana besok Bunda masih bisa menjaga Ayah?"
Bunda memalingkan wajahnya dan menatapku dengan mata sembabnya itu.
"Terus, bagaimana dengan kamu?" tanya Bunda sendu.
"Gilang akan temeni Terry disini, Tante. Tante jangan khawatir." sambung pak Gilang menenangkan.
"Terima kasih ya Gilang, karena ada di samping Terry saat-saat begini."
"Jangan khawatir Tante. Gilang janji akan menjaga Terry."
"Baiklah kalau begitu, Tante titip Terry ya Gilang. Ayo kita pulang Percy!"
"Tapi, Bunda." sanggah Percy keras.
"Ayo, Sayang, besok pagi kita akan gantian sama kakak kamu."
Dengan sedikit kesal, Percy mengikuti langkah kaki Bunda, beranjak pergi. Ku hela nafas dan ku senderkan kepalaku di dinding putih rumah sakit.
Kunpalingkan wajahku, melihat pak Gilang yang saat ini sedang duduk di sebelahku.
"Bapak pulang saja, saya bisa sendiri."
"Gak mau!"
"Pak, tinggalkan saya sendiri!" ucapku sedikit menekan.
"Tidak Terry, saya sudah janji sama Bunda kamu. Saya bukan orang yang mengingkari janji."
"Terserah Bapak!" ucapku mengalah.
Kembali mataku menatap lurus keatas, melihat langit-langit koridor rumah sakit.
__ADS_1
Berjam-jam kami hanya terdiam dalam posisi yang sama. Ku usap wajah kasar dan membetulkan posisi dudukku menjadi tegak.
Ku lihat Ayah dari balik kaca pintu ICU. Belum ada perubahan, Ayah masih dalam keadaan yang sama.
Kembali aku duduk di sebalah pak Gilang. Kenapa semakin terasa menyesak di dada. Saat ini memikirkan kehilangan Ayah sangat membuat jantungku berdenyut nyeri.
"Saya menyesal." ucapku memecahkan keheningan suasana.
"Saya menyesal pernah membenci Ayah, Pak. Saya menyesal menjauhkan diri dari Ayah, Pak. Saya pikir Ayah pantas menerima itu dari saya, namun saat ini saya sadar." ku hela nafas berat dari dalam dadaku.
"Ayah tak pernah pantas menerima apapun, karena Ayah selalu berusaha untuk memperbaiki, walaupun kami tak pernah memberikan kesempatan." ku palingkan wajahku untuk menatap pak Gilang.
"Trauma saya membuat saya enggan berdekatan dengan lelaki, termasuk Ayah. Aku kehilangan Ayah semenjak 4 tahun yang lalu."
"Perpisahan orang tua pasti akan meninggalkan trauma di ingatan anak-anaknya, Terry. Bagaimana juga, keadaan yang berubah pasti sulit untuk di terima." jawab pak Gilang sendu.
"Tapi saya salut sama kamu, kamu sama sekali tak melukai diri kamu sendiri, hanya menjadi tertutup namun masih dalam taraf baik-baik saja." pak Gilang meraih pucuk kepalaku dan mengelusnya dengan lembut.
"Gadis yang menakjubkan." pak Gilang menggulum senyum manisnya.
"Pak." panggilku lembut.
"Hem."
"Bolehkah saya pinjam dada Bapak sebentar?"
Pak Gilang tersenyum dan membuka kancing jaketnya. Menarik kepalaku, dan menyembunyikan di balik jaket yang ia kenakan.
"Menangislah selama yang kamu mau, saya tak akan pernah meninggalkan kamu."
Ku tarik sisi jaket pak Gilang, satu persatu air mataku jatuh. Bersama dengan beban hati yang perlahan luruh, karena mendapatkan sebuah penopang. Bolehkah aku bersikap lemah?
Aku sangat lelah, keadaan ini membuat aku sangat lelah. Ayah, Bunda, bisakah rumah kita kembali berwarna?
Bisakah kita menamam bunga di taman yang sama seperti dulu. Aku rindu keluarga kita, aku rindu rumah kita dan aku rindu hangatnya sebuah keluarga.
Tak ada yang namanya baik-baik saja saat aku melihat Ayah dan Bunda tinggal di rumah yang berbeda. Aku mencoba memahami, aku mencoba mengerti, namun aku juga selalu bertanya, mengapa semua ini terjadi?
Tak ada yang mau menjelaskan, tak ada yang mau menyelesaikan. Semua hanya mengambang tanpa sebuah akhir. Bisakah aku bertahan dengan kondisi yang terus menjeratku semakin jauh?
Aku terpisah oleh adikku satu-satunya. Aku gak bisa bermain bersama, bercerita bersama. Kami tak pernah menghabiskan waktu bersama. Kami terus terpisah dan terus di pisahkan.
Tanpa ada yang bertanya, akankah kami bahagia?
Tanpa ada yang mau memahami, akankah kami menderita?
Bisakah kami egois, Ayah, Bunda? saat kami meminta, kehidupan kami untuk kembali ke semula?
Semakin pecah tangisanku saat mengingat segala kenangan indah yang pernah terukir, kembali melintas di ingatanku.
Ku lingkari badan pak Gilang dan ku peluk dengan erat. Berharap agar sesak yang selama ini aku tahan bisa tertumpah seluruhnya di dada bidang lelaki ini.
Ku rasakan tangan pak Gilang yang terasa membalas pelukanku, sebelumnya pak Gilang sama sekali tak menyentuh kulit badanku.
Pak Gilang mengelus pungung badanku, dan kurasakan sebuah ciuman mendarat di pucuk kepalaku.
Semakin ku eratkan pelukan tanganku, ada sebuah rasa yang mulai hadir menyapa saat ini. Semua rasa itu terlihat lebih nyata saat ini.
'Maafkan aku, kalau aku terlalu nyaman bersamamu, Pak'.
__ADS_1