Cinta Pertama

Cinta Pertama
Bab. 66


__ADS_3

Dania menaikkan kedua pundaknya, "Entahlah aku pun tak tahu, karena ibu Widya cuma bilang kalau aku dipanggil gitu saja," pungkasnya Dania yang membereskan barang-barang di atas mejanya.


"Oohh gitu, semoga tidak ada apa-apa yang urgen atau kesalahan yang kamu lakukan," ujarnya Ririn.


"Amin," ucap Dania.


"Kamu telpon kami saja kalau presdirnya macam-macam biar tak ulet-ulet kepalanya," gurau Dea yang ikutaan menimpali percakapan kedua sahabat terbaiknya.


Dania berjalan ke arah lift dan naik ke lantai 20 seakan-akan ia menghitung langkahnya saja. Dania bertanya-tanya kepada dirinya sendiri tentang alasan yang mendasari pemanggilnya ini.


"Aku punya salah apa yah, selama ini aku tidak pernah melalaikan tugas dan kewajibanku, bahkan kerjaanku beres sebelum waktunya, atau mungkin Pak Presdir menginginkan bantuan kali yah," cicitnya Dania yang tersenyum tipis karena menertawai perkataannya sendiri.


Pintu lift terbuka, ternyata Ahamd dan temannya yang masuk ke dalam lift. Dania menyingkir dan berjalan agak ke tepi lift, Dania berpura-pura tidak mengenali Ahmad.


"Hay, gimana kabarmu?" tanya Ahmad.


"Alhamdulillah baik," jawab Dania tanpa mengalihkan pandangannya ke arah lantai lift.


"Kok sendirian, emangnya kamu mau ke mana dan aku perhatikan dari raut wajahnya sepertinya kamu sedang kebingungan," tebaknya Ahmad Muller Winata Sing Antonio.


"Saya mau ke ruang Presdir! Pak","u jawab singkat Dania.


Suasana kembali hening setelah perbincangan singkat keduanya. Angka yang tertera di Lift menunjukkan angka 17 berarti Ahmad akan ke luar. Perasaan Dania, akhirnya lega dan senang.


Dania menghindari Ahmad karena Dania tidak ingin orang-orang sampaielihat dan menganggapnya wanita penggoda yang mencari kesempatan mendekati orang yang punya jabatan dan kekuasaan yang tinggi.


Karena statusnya juga masih istri orang jadi, Dania sangat membatasi pergaulannya terutama dengan laki-laki yang bukan anggota keluarganya. Lift kemudian berbunyi tanda sudah lantai 20.


Dania keluar dan sebelum keluar ia berdo'a agar semuanya baik-baik saja. Dania melangkah kakinya menemui sekretaris Presdirnya untuk menanyakan keberadaan pak presdir.


"Siang Mbak Resky," sapanya Dania.

__ADS_1


"Siang juga Mbak, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Mbak Risky Amelia.


"Apa pak presdir ada mbak Amelia?" Tanyanya Dania yang tersenyum tipis.


"Apa sudah janji sebelumnya?" Tanyanya lagi Resky Amelia yang menghentikan sementara waktu pekerjaannya.


"Tadi kepala bagian keuangan yang mengatakan kalau aku dipanggil sama Bapak, katanya beliau ingin bertemu denganku," tuturnya Dania.


"Tunggu aku konfirmasi dulu ke dalam, Mbak Dania bisa menunggu sebentar," sahutnya Resky.


"Baik," ucap Dania.


Sektretaris tersebut pun menelpon pak Presdir, "Silahkan masuk Mbak, anda sudah ditunggu dari tadi," ujarnya Resky dengan ramah.


"Makasih Mbak, kalau gitu aku masuk dulu," tuturnya Dania lalu berjalan ke pintu ruangan.


Delia kemudian mengetuk pintu ruangan presdirnya. "Masuk!" Ucap Dennis dari arah dalam pintu.


"Silahkan duduk," perintahnya tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Dania yang sudah duduk.


Denis berbicara sambil membelakangi Dania yang sudah mendudukkan tubuhnya sehingga mereka belum saling bertatapan langsung.


Dennis belum juga membuka percakapan diantara mereka. Bahkan ia dengan sengaja seakan-akan mengulur waktu. Padahal Dania sudah dibuat dah Dig Dug Derr saja. Dennis sedang melihat foto mereka waktu ijab qobul.


Dennis senyum-senyum sendiri melihat foto Dania. Beberapa saat kemudian, Dania membalikkan posisi duduknya. Dan sekarang mereka sudah saling berhadapan. Karena posisi Dania yang menunduk jadi Dania belum melihat wajahnya Dennis dengan jelas walaupun beberapa bulan yang lalu ia sudah pernah melihatnya sepintas lalu.


"Heeemmm!" Dania berdehem untuk mengalihkan pandangan Dania.


Ia refleks memandang ke arah Dennis dan betapa kagetnya ia setelah menatap mata yang selama ini Dania rindukan. Mata yang mampu membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama mereka. Mata yang selama selalu ia mimpikan.


Tiba-tiba air mata Dania jatuh membasahi pipinya tanpa aba-aba. Denis pun spontan menghapus jejak air mata Dania. Ia jadi salah tingkah dengan apa yang telah dia lakukan.

__ADS_1


Dania sempat memegang tangan Arya yang berusaha menghapus sisa air matanya.


"Maafkan saya telah berani menyentuhmu," kilahnya Dennis.


"Tidak apa-apa Pak, saya yang seharusnya meminta maaf karena sedikit kelilipan," sanggahnya Dania.


Dania berusaha menetralkan perasaannya. Saking rindunya dengan suaminya sampai-sampai Dania lupa kalau yang di depannya bukanlah suaminya.


Makasih banyak all readers…


I love you all..


Pengumuman!!!!!


Mulai besok hingga tanggal 4 aku akan adakan give away Novel MEREBUT HATI MANTAN ISTRI,



Dukungan Nomor Rank 1 dan 2 pulsa 50k Untuk dua orang.


Dukungan posisi rank ke 3-4 masing-masing 25k untuk 4 orang.


Khusus Satu Orang dengan komentar terbaik menurut Fania akan mendapatkan pulsa 25k.



Syaratnya Wajib:


Like, Baca dari bab 1 hingga update bab sampai tgl 4 Desember 2022. Perhitungannya mulai hari Senin tanggal 14 November.


Harus Follow akun Fania Mikaila Azzahrah yah!!

__ADS_1


__ADS_2