Cinta Pertama

Cinta Pertama
Bab. 150


__ADS_3

"Ingat lakukan semua sesuai instruksi dariku, jangan sampai ada kesalahan, aku ingin melihat reaksi dari penjahat itu, dan tambah perketat pengamanan semua lokasi tempat cucu-cucuku berada aku khawatir Roni masih punya komplotan di luar sana yang berbahaya," Pintanya Pak Edgar dengan orang yang dia telepon.


Pak Edgardo Muller Winata Sing langsung memerintahkan kepada seluruh anak buah terbaiknya untuk memperketat pengawasan kedua cucunya yaitu Danisha dan Dafina dan Bu Sanaya istrinya.


Ada beberapa mobil yang mengikuti mobil yang dipakai oleh keluarganya. Pak Edgar bahkan melengkapi anak buahnya dengan senjata super canggih yang baru dibelinya dari luar negeri khusus untuk memperkuat kekuatannya.


Perjalanan rombongan lancar tanpa ada hambatan. Beberapa menit kemudian, ereka sudah sampai ke tempat pemakaman umum tempat orang yang menjadi korban dalam kecelakaan mobil yang dipakainya oleh Dennis Ritchie Valens Edgardo.


Bu Sanaya tanpa sengaja mendengar suaminya menelpon, "Aku yakin penjahat itu akan melakukan aksinya untuk mencelakai cucu-cucuku dan aku akan memanfaatkan keadaan ini untuk menangkapnya dan tidak akan memberi ampun kepada penjahat itu, aku akan menghancurkan semua orang yang terlibat dalam kecelakaan itu," geramnya Pak Edgardo Malik Miller dengan tatapan mata yang ingin menelan hidup-hidup pelaku kejahatan itu.


Di tempat lain, Dennis, David dan Daniel sedang duduk menikmati minumannya sambil menelepon, "Rencana kita berjalan mulus, aku sangat salut dengan aksi si kembar yang sempat saya ragukan tapi ternyata anak itu bisa berakting dengan sangat baik dan alami," ujarnya Daniel di hadapan Dennis.


Anak buah yang ikut dalam penjagaan adalah anak buah terpilih dari semua anak buahnya Daniel Sahuleka dan David Luis Abimanyu. Nyonya Besar Sanaya kembali meneteskan air matanya, ketika mendoakan ke duanya. Orang yang dianggapnya adalah kedua anak dan menantunya itu. Tak lupa menaburkan bunga mawar kesukaan dari Dennis dan Dania Andita Aulia Ramadhani.


"Dennis, Mama datang lagi tapi kali ini, Mama tidak sendiri tapi ditemani oleh Mamamu dan kedua anak-anakmu, pasti kamu bahagia kan nak? lihatlah mereka sudah besar dan juga pinter dan tentunya semakin cantik," tuturnya ibu Sanaya.

__ADS_1


"Iya Nak, Anak-anak kalian sudah besar-besar, kehadiran mereka membuat hari-hari kami jadi penuh warna, Mama berharap kalian di sana Bahagia dan tenang" ucap Mama Elisabeth.


Bu Sanaya mengajak kedua cucunya itu untuk mendekat,"Ayo sini nak kalian doakan papa dan Mama kalian dan taburkan bunga ini karena kebetulan bunga ini kesukaan putranya nenek," ucap Nyonya Sanaya sambil memberikan satu tempat bunga mawar berbagai macam jenis bunga-bunga ke tangan Icha dan Fina.


"Kami datang Yah, Ma, kami sangat merindukan kalian, apa kalian Juga merindukan kami kan!" Ujarnya Icha seraya terus menaburkan bunga mawar di atas pusara pria yang dikira oleh Dennis.


"Fina juga sangat merindukan kehadiran kalian, apa kalian bahagia di sana tanpa kami," tuturnya Fina yang menetes.


Dia melampiaskan kerinduannya kepada ke dua orang tuanya di atas pusara korban kecelakaan itu. Sudah hampir tiga si kembar tidak bertemu dengan orang tuanya. Icha pun mencurahkan segala gundah gulananya. Semua ikut menangis dan terharu mendengar curahan hati kedua anak kembarnya.


Danisha dan Dafina membacakan surah Al fatihah diatas makam korban kecelakaan itu. Dalam doa ia tidak menyebut nama orang tuanya tetapi nama korban itu karena seperti itu lah kenyataannya.


Karena hari sudah semakin siang, matahari pun semakin menunjukkan tajinya menyinari bumi. Mereka pun meninggalkan taman makam umum, tapi sebelum pulang Sanaya singgah ke suatu tempat karena memiliki sedikit urusan yang harus dia selesaikan.


"Akhirnya anak-anak kalian muncul juga, pembalasan dendam jilid kedua akan aku lakukan, siap-siap saja kalian semua menanti pembalasan dendamku ini jadi persiapkan diri kalian dengan baik!" Ancam pria itu sambil sesekali meneguk minuman keras yang beralkohol tinggi itu itu tersenyum dengan penuh aura kemarahan.

__ADS_1


Bahkan saking kuat dan besarnya amarahnya itu hingga gelas yang sempat dia pegang hancur saking kerasnya dia memegang gelas itu. Dia juga tidak lupa melempar sisa gelas itu ke arah cermin dengan sekuat tenaga.


Bruuuuuukkkk.. prang!!!


Bunyi itu membuat anak buahnya kaget dan berlari ke arah kamar bosnya Tapi tidak ada yang berani mengusik pekerjaan Big bosnya.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di rumah kosan Dennis Ritchie Valens Edgardo dengan Dania Ardita Aulia Ramadhani sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon.


"Gimana perkembangannya, apa orang itu sudah menampakkan batang hidungnya?" tanyanya Dennis yang sangat menanti kabar tersebut.


Semua sumber dana dan maupun alat transportasi yang dipakai Dennis adalah berasal dari Danil dan David. Mereka berdua lah yang selalu membantu Dennis dan Dania selama berada di Desa Sukakarya.


Hari ini Icha dan Fina rencananya akan diajak oleh Kakek dan neneknya untuk mengunjungi makam orang tuanya. Danisha dan Dafina tidak banyak protes hanya mengiyakan saja keputusan-keputusan dari nenek nya itu.


"Daniel sebaiknya aku bertemu dengan Mama dan papa dan menjelaskan semuanya jika kami masih hidup," ungkap Dennis Ritchie Valens Edgardo.

__ADS_1


"Itu sangat bagus, kalau seperti ini akan bantu hingga sukses," timpalnya David.


Pak Edgardo langsung memerintahkan kepada seluruh anak buahnya untuk memperketat pengawasan Cucu dan Mamanya.


__ADS_2