
Ardika menarik tangan Bella karena jika sampai dia mengetahui kehadiran nya, maka lelaki misterius tersebut pasti akan pergi.
"Bella, kamu percaya dengan aku yang akan selalu melindungi mu. Aku akan bersembunyi di kamar Annabella sampai lelaki misterius tersebut benar-benar masuk ke dalam Apartemen ini."
Tangan Bella begitu sangat bergetar sekali dia seperti tidak sanggup untuk melakukan nya.
Apalagi dia masih terbayang pisau tajam di hadapan nya.
"Aku sebenarnya sangat takut sekali untuk melakukan nya, tapi aku juga tidak mau kehidupan ku yang selalu di bayang-bayang kan oleh teror misterius ini. Ini harus segera di akhiri."
Ardika mencium kening Bella dan dia langsung pergi ke dalam kamar Annabella.
Bella pun duduk dan menyalakan televisi dia mencoba untuk menenangkan perasaan dan pikiran.
Lelaki misterius tersebut pun mengetahui nya, dia mendengar suara televisi yang memang dengan volume yang sangat kencang sekali.
Lelaki misterius tersebut pun membuka kembali pintu tersebut dan Bella merasakan kan.
Bella mencoba untuk menenangkan diri nya.
__ADS_1
Dan tiba-tiba saja pisau tajam tersenyum sudah ada di dekat leher nya.
Bella seketika seperti tidak bisa mengeluarkan suara nya, dia seperti di buat terdiam karena ketakutan sekali.
Volume televisi yang sangat kencang sekali membuat Bella kesulitan untuk berteriak-teriak kencang agar Ardika keluar dari kamar Annabella.
"Diam, jangan berteriak. Jika kamu berteriak pisau ini akan menusuk leher mulus mu ini."
Bella memejamkan mata nya, dia juga meneteskan air mata nya.
"Kenapa kamu harus menagis kita apa yang sudah kamu lakukan kepada sahabat baik ku, Kelvin Leonel. Aku tidak pernah menyangka kamu yang begitu sangat kejam sekali Ibu Bella."
Bella pun semakin tidak bisa berkata-kata apa-apa dia terus saja melirikan mata nya kepada kamar Annabella.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Bella, apakah mungkin lelaki misterius itu tidak masuk ke dalam Apartemen ini."
Ardika pun memilih untuk membuka pintu kamar dan dia begitu sangat terkejut sekali ketika melihat Bella yang sudah di tikam oleh Lelaki misterius tersebut.
Lelaki misterius tersebut pun langsung tersenyum ketika melihat Ardika yang keluar dari kamar nya.
__ADS_1
"Jatuh kan pisau tajam itu dari Bella, aku yang membuat Kelvin meninggal dan aku yang membuang jasad nya ke sungai. Jadi jangan lukai Bella. Jika kamu lelaki berhadapan dengan ku."
Ardika pun langsung menghampiri lelaki tersebut tapi dia semakin mendekat kan pisau tersebut ke leher Bella.
Bella hanya bisa pasrah dengan keadaan, jika memang ini adalah hari terakhir dia untuk hidup.
"Jangan mendekat, jika kamu masih menginginkan wanita kesayangan mu ini. Tapi dia sangat licik sekali dan aku membencinya."
Lelaki misterius tersebut mencoba untuk menusukkan pisau tajam tersebut tapi Bella menginjak kaki lelaki misterius tersebut dengan sepatu tinggi dan membuat Bella yang memegang pisau tajam tersebut.
Ardika pun seketika langsung terkejut ketika Bella yang memegang pisau tajam tersebut dan Bella menghampiri lelaki misterius tersebut.
"Kau ingin membuat ku kehilangan nyawa ku, tapi kenyataan aku yang akan membuat nyawa mu yang menghilang sekarang juga."
Tangan Bella terlihat sangat bergetar sekali.
"Aku pernah membunuh Sesilia dengan gunting, kan dia itu adalah istri dari mantan suami ku. Aku yang menghabiskan nyawa tapi seolah-olah terjadi kecelakaan yang membuat dia kehilangan nyawa nya."
Bella tersenyum tipis sambil memandangi wajah lelaki misterius tersebut yang masih memakai masker hitam.
__ADS_1
Di saat Bella yang ingin menghabiskan nyawa lelaki misterius tersebut, Annabella memilih untuk berlari menuju ke Apartemen tersebut ketika melihat Jackson yang turun dari mobil nya.
Jackson langsung berlari menghampiri Annabella tapi Annabella lari dengan sangat kencang sekali sehingga Jackson yang tidak bisa menarik tangan Annabella.