Crisis World XX

Crisis World XX
Special Chapter : Liburan! (3)


__ADS_3

Acara berendam dan membersihkan diri pun selesai. Kami semua kembali ke kamar masing-masing dan diundang untuk makan malam di ruang utama.


Makanannya bisa dibilang lumayan mewah untuk ukuran sebuah pemandian yang sudah lama tidak mendapat pengunjung, semua berkat donatur itu kupikir.


Kami semua juga memakai kimono yang diberikan oleh pihak penginapan dan dipakai setelah berendam. Dan setelah makan pun, karena tidak ada kerjaan dan tidak ada yang bisa dilakukan, semuanya memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing.


"Hoaamm ... aku ngantuk tapi tidak bisa tidur."


Ngiing... Ngiing... Ngiing...


Suara serangga malam ini menemaniku yang belum bisa tidur dan hanya memandangi langit-langit gelap ruangan ini. Setelah cukup merasa bosan, aku pun memutuskan untuk keluar.


"Jalan-jalan sebentar sepertinya bisa membuatku ngantuk."


Aku menyusuri tempat ini dan berkeliling, sebenarnya tempat ini cukup bagus dan indah. Tapi rumor yang disebarkan benar-benar berhasil membuat mereka tidak memiliki pengunjung.


Lampu-lampu yang indah dan juga tanaman yang membuatnya terlihat asri. Bahkan jika aku tidak mendapat undian gratis itu, aku dengan senang hati ingin berkunjung ke sini.


Saat aku sedang menikmati keindahan penginapan ini, tiba-tiba aku melihat seseorang sedang berdiri diam sambil melamun. Orang itu memakai kimono berwarna biru dengan uwagi berwarna merah. Ia adalah Herlin.


"Herlin?"


"Iraya? Kau belum tidur?"


"Aku tidak bisa."


"Aku juga."


Suasana diam dan canggung menyerang kami untuk beberapa saat. Tapi untuk menghadapi itu, aku yang pertama memulai pembicaraan.


"Mau keliling sebentar?" ajakku.


"Boleh."


Herlin pun mengiyakan ajakanku lalu kami pun berjalan santai di tempat ini. Tempat seperti jalan setapak yang di kanan dan kirinya terdapat hutan bambu. Sambil berjalan, kami sedikit berbicara dan mengobrol soal yang terjadi tadi.


"Bagaimana pengalaman pertamamu? tanyaku memulai pembicaraan.


"Tidak buruk juga, tapi aku rasa airnya terlalu panas. Saat aku terlalu lama di dalam, kulitku jadi merah semua."


"Ya makanya jangan terlalu lama, dong. Oh iya, Tetsu bagaimana? Apa dia bersenang-senang?"


"Begitulah." Herlin melihat ke arah kalung sendok yang terkalungkan dilehernya saat ini.


"Aku rasa dia sangat menikmati hal ini. Dia sempat lari-larian di pinggir kolam dan di kejar oleh Mei-senpai, ia bilang berbahaya berlarian di pinggir kolam."


"Ahahaha ... aku bisa membayangkannya."


"Lalu Caramel dan Nigiyaka-san, mereka juga sempat bertengkar tadi, tapi untungnya dengan cepat dapat berbaikan."


"Kalau itu sih, aku tidak heran sama sekali. Sebelum mereka bergabung dengan kita pun mereka juga sering bertengkar, kan?"


"Ya, aku juga dengar begitu."


Kami berdua berhenti berjalan karena sudah sampai di ujung jalan dan tinggal tersisa jalan buntu saja. Di depan kami terdapat sebuah pagar pembatas dan sebuah batu tebing yang langsung mengarah ke pantai.


"Iraya, aku ingin tanya sesuatu padamu."


"Apa itu?"


"Soal ibumu, kenapa kau tidak memberitahukan berita meninggalnya beliau padaku?"


"So-soal itu ... aku tidak ingin membuat kalian semua khawatir dengan urusan pribadiku."


"Apa kau bodoh?"


"Ap—?"


"Apa kau tahu betapa kesalnya aku ketika mendengarnya dari Cecilia waktu itu. 'Apa orang bodoh ini sebegitu tidak percayanya denganku?' begitu pikirku."


"Bu-bukan begitu! Aku hanya tidak ingin membuat kalian semua—terutama kau khawatir. Hanya itu."


"Apa benar begitu?" tanya Herlin memastikan sekali lagi.


"Aku tidak bohong! Kau bisa memeriksanya sendiri jika tidak percaya."


"Hmm ... Aku anggap kalau kau dapat dipercaya. Tapi setelah ini kau harus berjanji sesuatu padaku."


"Berjanji?"


"Untuk mempercayai satu sama lain. Aku percaya padamu, begitu juga denganmu. Jika terjadi sesuatu padamu dan kau ingin membicarakannya, kau bisa membicarakan hal itu denganku."


"Berbicara ...."


"Ada apa? Kau tidak senang dengan hal itu? Kau tidak punya teman yang bisa diajak bicara selain diriku, kan? Ya, itu sudah bisa ditebak sih."


"Oi! Apa kau melupakan Kudou dan Hira?"


"Bisa janji soal itu?"


Herlin mengeluarkan jari kelingkingnya dan ingin membuat janji kelingking denganku. Aku pun menghela nafas dan mengaitkan jari kelingkingku dengannya.


"Baiklah, aku berjanji."


"Nada bicaramu terdengar dipaksakan sekali, ya."


"Jangan ceramahi aku soal nada bicara ketika kau sendiri bicara seperti robot!"


Meskipun begitu, aku senang karena dia bisa menjadi peduli seperti ini. Dan karena hal itu juga, aku jadi teringat kalau aku punya sesuatu yang harus kuberikan pada Herlin sejak lama.


"Oh iya! Akhirnya aku memiliki kesempatan untuk memberikan ini padamu."


"Hn?"


Aku mengambil sesuatu dari dalam kimono-ku dan memberikannya pada Herlin, yaitu sebuah gantungan kunci berbentuk panda.


"Aku tahu ini sudah lama sekali, tapi aku membelikan ini untukmu."


"Ternyata kau berhasil mendapatkannya lagi, ya?"


"Eh? Kau tahu ini pernah diambil seseorang?"


"Terima kasih, dengan senang hati aku terima." Herlin tidak menjawab pertanyaanku dan tetap mengambilnya.


"Aku sudah mulai ngantuk, ayo kita kembali."


"Hah ... kau tidak menjawab pertanyaanku, tapi baiklah. Ayo kita kembali."


"KYAAAAA!!!"


"???!!!"


Saat kami baru ingin kembali, tiba-tiba sebuah teriakan terdengar dari arah penginapan. Terlebih lagi, itu adalah teriakan dari seseorang yang kami kenal.


"Anna-chan!"


Dengan cepat kami berlari kembali menuju ke penginapan dan ingin segera menolong Anna-san. Saat sudah sampai di sana, aku bisa melihat Anna-san yang terduduk ketakutan sambil menyeret bokongnya ke belakang menjauh dari sebuah ruangan.


"Ada apa, Anna-chan?!" tanya Herlin.


"A-ada sesuatu di dalam."


"Sesuatu?"


Yang lainnya juga segera datang dan menyusul kami.


"Apa yang terjadi? Kami dengar suara teriakan Anna-chan jadi kami datang kesini," ucap Mei-senpai.


"Aku tidak tahu, tapi dia bilang dia melihat sesuatu di dalam sana."


"Dari dalam?"


Ruangan itu terlalu gelap sehingga kami tidak bisa melihatnya dengan jelas. Herlin mencoba mendekati ruangan itu dengan pintu gesernya yang sudah terbuka sedikit.


Zwuushh...


"??!!"


Tiba-tiba sebuah kepala muncul dan melesat dari dalam ruangan gelap itu dengan leher yang sangat panjang yang membuat Herlin refleks menghindar mundur. Kepala perempuan dengan leher panjang itu kemudian menggigit kimono Anna-san dan menariknya ke dalam ruangan.


"Eh? Uwaaa!!!"


"Tidak akan kubiarkan!"


Aku dan Herlin meneriakkan hal yang sama dan juga langsung melompat meraih tangan Anna-san untuk mencegahnya masuk ke dalam ruangan itu, tapi usaha kami sia-sia karena ia terlalu kuat dan justru malah kami berdua yang juga ikut masuk ke dalam.


Zwuushh... Blaamm...


Pintu geser itu kemudian tertutup dengan sendirinya dan muncul tiga kertas segel yang langsung terbentuk di depan pintu geser itu, membuat pintu itu menjadi tertutup sempurna.


Mei-senpai mencoba membuka pintu itu dengan sekuat tenaganya, tapi meskipun sudah menggunakan auranya ia masih belum bisa membukanya.


"Ti-tidak bisa terbuka!"


"Minggir, biar aku yang melakukannya."


Akihito-san mencoba memfokuskan auranya dan memanjangkan kuku-kukunya secara instan. Lalu setelah itu, ia mencoba menyerangnya dengan kecepatan dan daya serang yang tinggi.


Sryiing... Sryiing... Sryiing... Csshh...


Tapi tetap saja pintu itu tidak terbuka bahkan tidak tergores sedikitpun. Saat mereka semua sedang putus asa, tiba-tiba datang staff perempuan yang tadi.


"Percuma saja kalian melakukan kekerasan," ucapnya.


"Oi! Kau tahu sesuatu tentang hal ini?! Bagaimana cara kami menyelamatkan mereka?!"


"Sudah tidak bisa."


"Apa?"


"Nyawa mereka sudah tidak tertolong lagi, mereka sudah menjadi persembahan baginya. Bagi Rokurokubi."


Saat staff perempuan itu menyebutkan kata 'Rokurokubi', pintu depan penginapan ini juga tiba-tiba terbentuk segel yang sama dengan pintu geser ini. Dan ruangan yang tadinya nyaman dan indah berubah menjadi lebih gelap dan kotor serta suasananya menjadi lebih mencekam dan mengerikan.


"Sebenarnya ... apa yang terjadi di sini?"


**


Sementara di dalam ruangan itu, aku dan Herlin yang mencoba menyelamatkan Anna-san dan malah ikut terbawa kesini berdiri dan mencoba memperhatikan sekitar.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Herlin.


"Ya. Apa kau melihat sesuatu yang menarik Anna-san tadi?"


"Aku lihat, tapi aku tidak yakin apakah aku salah lihat atau tidak."


"Aku juga, karena bentuknya sendiri ...."

__ADS_1


Bussh... Bussh... Bussh...


Saat aku sedang berbicara, tiba-tiba ada banyak lilin di pinggir ruangan yang menyala sendiri secara estafet dan saat sudah sampai ujung, aku bisa melihat dengan jelas sesuatu yang menarik Anna-san ke dalam sini.


"... Tidak manusiawi," lanjutku.


Sebelumnya aku tidak yakin, tapi sekarang aku dapat memastikannya. Leher makhluk yang menarik Anna-san kesini memang sangat panjang. Wajahnya pucat, seluruh giginya tajam, serta tatapan mengerikan yang diberikan olehnya membuat siapa saja yang melihatnya merinding.


"Makanan .... Persembahan .... Ada banyak ...."


Makhluk itu berbicara dengan nada yang aneh dan mengerikan. Ia menjatuhkan Anna-san di dekat tubuhnya yang sedang duduk bersimpuh dengan pakaian kimono tradisional ala perempuan jepang zaman Edo terdahulu.


"To-tolong aku—Hiikh!!"


Anna-san yang ingin menggerakan tubuhnya mendekati kami langsung di hadang oleh makhluk itu. Kepalanya dapat bergerak bebas berkat lehernya yang sangat panjang dan fleksibel.


"Dia salah satu makhluk mitos zaman dahulu," gumamku.


"Jadi begitu, dia jenis The Unseen juga," ucap Herlin memastikan.


"Apa kau punya rencana?" tanyaku.


"Entahlah, aku belum tahu soal kemampuannya sama sekali. Tapi sepertinya kita bisa mengalahkannya. Auranya tidak terlalu kuat dan juga tubuhnya tidak bisa bergerak bebas, satu-satunya masalah di sini adalah ruangan ini."


Seperti yang dibilang Herlin, ruangan ini seperti sengaja dirancang untuk tempat tinggalnya. Suasananya yang mengerikan seakan menyedot energi dan aura kami. Jadi semakin lama disini akan membahayakan bagi diri kami semua.


"Energiku terasa disedot perlahan," ucapku.


"Itu juga salah satu kemampuannya, makanya kita harus mengalahkannya dengan cepat."


"Makanan .... Terlalu banyak bicara ...!"


Swuuushh... Bruukkhh...


Makhluk itu—Rokurokubi mulai menyerang dan kepalanya berusaha menghantam perut kami, tapi dengan cepat kami berhasil menghindarinya dengan melompat ke samping.


Kepalanya membentur tempat masuk kami. Ia secara tidak sengaja menghancurkannya tapi perlahan-lahan temboknya dapat sembuh dengan sendirinya.


"Banshee!"


"Kau memanggilnya?!"


"Lawannya sama-sama The Unseen, aku tidak perlu ragu untuk memanggilnya."


Banshee kemudian keluar setelah dipanggil oleh Herlin. Dengan cepat Herlin langsung menyuruhnya untuk menghadapi Rokurokubi yang menyadari keberadaan Banshee.


"AaaaAaaAaa !!!"


Wajah Banshee berubah menjadi mengerikan dan mulai menyerang Rokurokubi yang marah ketika melihat Banshee.


"Bukan persembahan ...? Tidak boleh disini ...!"


Swuuushh... Triiing... Triiing...


Mereka berdua mulai bertarung. Aku dan Herlin pun kemudian menggunakan kesempatan itu untuk mendekati Anna-san dan menyelamatkannya.


"Anna-san," panggilku.


"Iraya-san!"


Aku pun meraih tangannya dan memberikannya kepada Herlin agar ia merasa lebih nyaman. Anna-san pun langsung memeluk Herlin dan hampir menangis karena saking ketakutannya.


"Herlin-chan! Aku takut sekali!"


"Sudah, sudah, semuanya baik-baik saja, Anna-chan."


Herlin mengelus kepala Anna-san untuk menenangkannya dan setelah lumayan tenang, kami pun berniat untuk keluar dari sini.


"Sudah lebih baik?" tanya Herlin.


"Nn." Anna-san mengangguk.


"Kita harus cepat mencari jalan keluarnya selagi Banshee menyibukkan dia," ucap Herlin.


Kami berdua mengangguk dan secara perlahan berjalan menjauh dari tubuh Rokurokubi. Kami merayap di tembok berusaha sebisa mungkin untuk tidak menarik perhatian Rokurokubi, tapi tiba-tiba sebuah perasaan aneh menghampiriku.


Greb...


"Ap—?! Herlin, Anna-san, hati-hati!"


Sebuah tangan yang tiba-tiba tumbuh dari tembok mencekik dan menahanku agar tidak boleh berjalan lebih jauh lagi. Herlin dan Anna-san yang mendengar teriakan langsung menyadari hal itu, tapi Herlin lebih mementingkan keselamatan Anna-san.


Ziiing...


Dengan kemampuannya, Herlin menerbangkan Anna-san menjauh dari tembok agar lepas dari tangan yang tumbuh dari tembok. Cara itu berhasil membebaskan Anna-san, tapi tidak dengan Herlin.


"Herlin-san!"


Herlin keadaannya sama sepertiku, dicekik dan ditahan pergerakannya. Selain dari tembok, tangan itu juga tumbuh dari lantai dan menahan kaki kami berdua. Beruntung bagi Anna-san ia melayang berkat Herlin, tangan-tangan tadi tidak bisa meraihnya dari lantai meskipun Herlin harus mengendurkan pertahanannya sendiri.


"Si-sial!"


"Jangan gampang kalah begitu, Iraya!"


"Aku tahu!"


Bzztt... Bzztt...


Teriakan dari Cecilia memancing semangatku untuk tidak cepat menyerah. Aku mengalirkan listrik ke seluruh tubuhku dan membuat tubuhku jadi teraliri listrik, alhasil tangan yang mencoba menahanku pun jadi tersetrum dan kekuatannya menurun.


Bzztt... Bzztt... Zwuuusshh...


Aku mendekati Herlin dan menarik kalung sendok yang sedang dipakai oleh Herlin sampai putus. Karena aku tidak punya pedang, aku akan menggunakan ini sebagai senjata, lagipula di dalamnya juga ada Spirit yang kuat.


"Siap, Tetsu?!"


"Ayo hajar dia!"


Bzztt... Blaaarrr...


Aku mengalirkan aura hijau ke sendok itu. Sebenarnya sendok itu hanya berfungsi sebagai sebuah konduktor agar aku bisa mengalirkan auraku menjadi lebih baik, karena jika tanpa konduktor seperti contohnya pedangku sebelumnya, aku tidak bisa menahan pedang auraku dalam waktu yang lama.


Aku pun membuat pedang yang memiliki panjang kira-kira 80 cm. Dan setelah itu menebas tangan yang menahan leher, perut, paha, serta betis Herlin.


Sryiing... Sryiing... Sryiiing...


"ArrRrgGgghhHhh !!!"


Tebasan bertubi-tubi yang aku lakukan membuat kepala Rokurokubi yang sedang bertarung dengan Banshee menjerit kesakitan. Seakan menjelaskan sesuatu yang baru aku sadari.


"Jangan-jangan ... tubuhnya terhubung dengan seluruh ruangan ini?"


"Itu bisa jadi."


"Herlin?"


Sambil menurunkan Anna-san yang sedari tadi ia buat melayang, Herlin menjelaskan hubungan ruangan ini dengan Rokurokubi.


"Apa maksudmu dugaanku benar?"


"Kemungkinan besar begitu, tubuhnya bukan lagi hanya yang sedang bersimpuh di sana, tetapi seluruh ruangan ini adalah tubuhnya. Itu menjelaskan aura pekat yang dihasilkan oleh ruangan ini dari awal kita terjebak di sini."


"Jadi begitu. Itu berarti selama kita tidak mengalahkannya ...."


"... Kita tidak akan bisa keluar dari sini," lanjut Herlin.


Butiran keringat kekhawatiran jatuh di dahiku. Terlebih lagi selama kita berada di sini, energi dan aura kita juga disedot olehnya. Itu yang membuat Rokurokubi belum kalah melawan Banshee yang jauh lebih kuat darinya. Ia juga menyedot energi Banshee.


"Lalu apa yang akan kau lakukan?"


"Eh?"


"Ehehem ... apa kau akan mengandalkanku dan bergantung padaku terus?"


Tiba-tiba Cecilia berbicara di dalam kepalaku. Ia malah tertawa dan mengejekku padahal aku belum minta apa-apa ke dia. Hah ... Spirit menyebalkan satu ini memang suka tidak tahu tempat kalau bercanda.


Tapi meski begitu, aku jadi tertantang olehnya dan otakku berhasil menemukan ide yang kemungkinan bisa membuat kita keluar dari sini.


Aku melihat ke pertarungan Banshee dengan Rokurokubi. Keduanya saling melakukan jual beli serangan dan dua-duanya seakan tidak menunjukkan kalau pertarungan akan berakhir, karena setiap kali salah satunya terkena serangan, tubuhnya akan beregenerasi lagi.


Lalu aku pun tersenyum melihat hal itu. Sebelumnya aku berhasil melakukan ini kepada The Beast, tapi aku tidak tahu apa ini bisa dilakukan ke The Unseen atau tidak, tapi mari kita coba.


"Herlin, aku punya rencana. Tapi kau harus membantuku."


"Hn?"


Aku pun memberitahukan rencanaku kepada Herlin. Ini memang beresiko melukai diri kami sendiri, tapi ini adalah cara yang paling masuk akal menurutku. Lalu Herlin berpikir sebentar setelah mendengar rencanaku.


"Itu memang bisa dilakukan. Tapi menurutmu, berapa persen keberhasilannya?" tanya Herlin.


"Heh! Tentu saja seribu persen!" Aku tersenyum percaya diri.


"Hah ... aku jadi tidak yakin. Tapi ayo kita jalankan rencananya. Soal keselamatan Anna-chan biar aku yang urus," ucap Herlin.


"Aku mengandalkanmu."


Saat Banshee dan Rokurokubi sedang melakukan pertarungan tanpa akhir, tiba-tiba dari belakang ia dipanggil oleh Herlin untuk mundur.


"Banshee!"


"??!!"


"Mundur dan lindungi kami!"


Banshee pun menuruti perintah Herlin yang saat ini sedang melayang bersama Anna-san di belakangku. Banshee memeluk mereka berdua dan tidak membiarkan mereka terkena seranganku. Rokurokubi yang melihat hal itu pun bingung dan bertanya.


"Sudah menyerah ...?"


"Menyerah? Menyerah, matamu!" ucapku.


Aku menancapkan sendok yang sudah aku aliri aura itu ke lantai tatami tersebut.


"Kau tahu, karena ini serangan yang kuat kau harus menamainya dengan nama yang keren," ucap Cecilia.


"Sudah kupikirkan dengan matang."


Aku berlutut dengan satu kaki dan menarik nafas sebanyak-banyaknya lalu berkonsentrasi. Mengalirkan seluruh auraku untuk menciptakan serangan yang kuat lewat perantara sendok ini.


Setelah persiapan selesai, aku membuka mataku dan melepaskan aura yang ada di dalam tubuhku ke seluruh penjuru ruangan tanpa ada yang terlewat.


"Hanasaku no Tenrai!"


Blaaaaarrrr...


"AaaaAaggGggHhh!!"


Ruangan itu selama beberapa detik menjadi sangat terang karena listrik yang aku alirkan. Teriakan kesakitan dari Rokurokubi terdengar sangat jelas di telingaku selain suara listrik yang menyambar.

__ADS_1


Bzztt... Bzztt... Bruukkhh...


Tubuh Rokurokubi menjadi hangus karena terkena seranganku. Aura yang dihasilkannya juga sudah melemah. Dan ia pun ambruk ke tanah. Dalam kesengsaraannya dan di saat-saat terakhirnya, Rokurokubi masih menyebutkan beberapa kata dari mulutnya.


"En ... ma ...."


Dan setelah itu tubuhnya mulai bersinar terang. Muncul seorang wanita dengan wajah cantik dan penampilan wanita Edo seperti umumnya, ia tersenyum dengan wajah cantiknya dan kemudian menghilang bersama dengan sinarnya yang perlahan juga meredup dan hilang.


"Aku berhasil."


"Banshee, kau bisa kembali."


Dengan tubuhnya yang hangus dan babak belur, Banshee kemudian menuruti perintah Herlin untuk kembali dalam mode tak terlihatnya dan menyembuhkan dirinya sendiri. Sementara Herlin dan Anna-san mulai turun secara perlahan.


"A-apakah sudah berakhir?" tanya Anna-san.


"Sudah kok, tenang saja Anna-san," ucapku.


Ruangan ini juga berubah menjadi semula lagi. Barang-barangnya sudah kembali dan sudah menjadi seperti gudang pada umumnya. Jimat yang menempel di pintu juga sudah terbakar habis dan menghilang.


Aku melihat kearah sendok yang aku gunakan untuk mengalirkan listrik tadi. Itu berubah menjadi hitam dan menjadi butiran-butiran dan tidak bisa dibilang sebagai sendok lagi.


"Waahh ... seranganmu benar-benar kuat sekali ya, Iraya."


"Hn? Tetsu?"


Karena tempat tinggalnya sudah hancur, Tetsu pun akhirnya keluar dari sendok itu. Tapi ada yang membuatku khawatir, yaitu penampilan Tetsu yang kotor dan penuh luka bakar meskipun ia masih tersenyum lebar seperti biasanya.


"Tetsu?! Apa tubuhmu tidak apa-apa?!"


"Tenang saja, tenang saja, luka seperti ini akan sembuh sendiri jika aku tidur."


"Be-benarkah?"


"Iya kok, tenang sa— ja."


Bruukkhh...


Tiba-tiba Tetsu ambruk dan tidak sadarkan diri. Aku yang panik pun langsung menahannya agar tidak jatuh dengan keras ke lantai.


"Tetsu?! Oi, kau bilang tidak apa-apa!"


"Sepertinya dia hanya kelelahan, kok," ucap Herlin.


"Eh?"


Aku pun memperhatikannya lagi. Ternyata ia masih bernafas dan saking lelahnya, Tetsu malah mendengkur. Tapi ini tetap saja berbahaya karena tanpa tinggal di dalam sebuah inang, Tetsu bisa saja kekurangan nutrisi dan kemudian menghilang.


Aku kemudian mencari-cari barang yang bisa aku gunakan sebagai pengganti pedang untuk tempat dia tidur untuk sementara waktu. Dan aku pun menemukannya.


**


Sementara itu diluar, Mei-senpai masih marah-marah ke staff wanita penginapan ini. Ia terus berusaha agar bagaimana pun caranya mereka bisa masuk ke dalam, tapi staff wanita itu bilang kalau sampai acara di dalam selesai, mereka tidak akan bisa masuk.


"Apa tidak ada cara lain selain menunggu?!"


"Tidak ada, apa pun yang kau lakukan ketiga orang itu sudah tidak bisa selamat lagi."


"Tidak mungkin ...."


"Kalau begitu, kau juga akan menyusul mereka."


Akihito-san kemudian menarik kerah staff wanita itu dan mengancam akan membunuhnya. Tapi staff wanita itu tidak takut dan malah memberikannya tatapan serius.


"Silahkan bunuh aku. Selama penginapan ini terus beroperasi, nyawaku tidaklah penting."


"Tch!"


Csshh... Csshh... Csshh...


Perhatian mereka semua kemudian teralihkan dengan tiga jimat pada pintu tadi yang terbakar habis. Suasana dari dalam ruangan itu sudah tidak mencekam lagi seperti sebelumnya saat jimat tadi masih ada.


"Acara persembahannya sudah selesai," gumam staff wanita itu.


Pintu geser itu pun terbuka. Dan dari dalamnya keluar tiga orang yang diharapkan oleh semua orang kecuali staff wanita yang terlihat terkejut dan tidak percaya.


Aku keluar sambil membawa sebuah tongkat golf sementara Herlin memapah Anna-san. Kami semua disambut senang oleh semua orang terutama Mei-senpai yang langsung menghampiri Herlin dan Anna-san lalu memeluknya.


"Herlin, Anna-chan! Kalian berdua tidak apa-apa?!"


"Ka-kami tidak apa-apa, Mei-senpai. Justru kami kenapa-napa karena kau memeluk kami terlalu keras," ucap Herlin.


"Eh? Ah, maaf-maaf. Habisnya kalian membuatku khawatir, sih."


"Ma-maafkan aku, karena aku kalian semua jadi—"


"Tidak perlu minta maaf, Anna-chan. Yang penting kau baik-baik saja itu sudah cukup bagiku."


Mei-senpai mengelus kepala Anna-san yang terlihat sangat bersalah. Ia meyakinkan Anna-san kalau itu bukan salahnya. Melihat mereka semua begitu dekat sih membuatku senang, tapi aku juga sedih karena tidak ada yang menanyakan keadaanku.


"Hah ... sedihnya jadi diriku," gumamku.


"Oi." Seseorang memanggilku dan ia adalah Caramel.


"Hn? Ada apa?"


"Kok kau masih hidup?"


"Pertanyaanmu itu seolah kau tidak senang kalau aku ini selamat, kau tahu."


Caramel hanya tertawa kecil ketika ia berhasil menjahiliku, sementara aku hanya memandanginya datar. Lalu Nigiyaka-san pun menghampiriku.


"Sebenarnya apa yang sudah terjadi, Iraya-kun?"


"Ah, kalau itu ...."


Aku tidak menjawab pertanyaan Nigiyaka-san dan malah berjalan mendekati staff wanita yang terduduk setelah dijatuhkan oleh Akihito-san tadi. Ia tampak terkejut dan masih melihatku dengan tatapan itu.


"Kenapa kau masih hidup?" tanyanya.


"Kita perlu bicara, Enma-san."


Wajahnya tambah terkejut saat aku bisa mengetahui namanya. Awalnya ini hanya dugaanku tapi ternyata hal itu benar. Dan ia pun menceritakan semuanya soal penginapan ini dan The Unseen yang ada di dalam ruangan itu.


"Sebenarnya penginapan ini sudah berdiri sejak lama, kami selalu menjadi destinasi utama pengunjung karena penginapan serta pemandian air panas yang terkenal.


Tapi tiba-tiba tanpa aku ketahui alasannya, pengunjung mulai berkurang dan lama-lama semakin sedikit yang datang kesini. Itu mulai terjadi saat aku kecil dan sampai aku sebesar sekarang, penginapan ini sudah beberapa bulan tidak ada pengunjung dan terancam bangkrut.


Lalu aku diberitahu temanku kalau ada suatu perusahaan yang mau membantu tempat-tempat yang ingin bangkrut seperti kami. Kalau tidak salah nama perusahaannya adalah Ayakashi Corp."


Kami semua terkejut saat Enma-san menyebut nama Ayakashi Corp., itu adalah perusahaan yang menyewa para Assassin dan mendanai penelitian Astaroth. Dan mereka juga melakukan hal seperti ini kepada Asamogawa Onsen.


"Ayakashi Corp.?" tanya Mei-senpai kaget.


"Pantas saja tidak beres," gumam Herlin.


"Nee, Iraya, memangnya apa itu Ayakashi Corp.?" tanya Kudou dan sepertinya Hira juga ingin tahu karena ia juga melihat ke arahku.


"Ia adalah perusahaan yang mendanai penelitian makhluk-makhluk besar yang menyerang tiga kota besar beberapa waktu lalu. Kau ingat itu?"


"Jadi Ayakashi Corp. yang menyebabkan semuanya?" gumam Kudou.


"Saat datang ke kantornya aku diberi tahu oleh mereka untuk membawa mereka ke makam orang terdekatku. Lalu aku membawanya ke makam ibuku. Dan saat aku sedang berada di Asamogawa Onsen, seseorang yang misterius datang dan membawa sebuah kotak besar.


Aku yang bertanya apa isi kotak besar itu kemudian diberitahu kalau isinya adalah ibuku. Ia menyuruhku untuk menaruhnya di tempat yang jarang dimasuki orang dan tertutup oleh sinar matahari. Lalu aku menaruhnya di gudang.


Setelah itu pun mereka memberiku dana untuk mengadakan undian untuk menjadi makanan bagi ibuku. Agar kami mendapat pengunjung dan ibuku juga mendapat makanannya.


Anehnya setelah kami melakukan apa yang disuruh oleh orang itu, pengunjung mulai berdatangan asal kami tidak berhenti untuk mengadakan undian itu."


"Jadi orang yang menang undian itu adalah tumbalnya? Sudah berapa orang sebelum kami?" tanya Nigiyaka-san.


"Sekitar lima kali."


Kami memandang satu sama lain. Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan untuk membalas perbuatannya. Tidak ada yang terluka juga dari pihak kami dan Rokurokubi itu juga sudah mati jadi tidak ada gunanya juga untuk balas dendam.


"Lalu setelah ini kalian bagaimana, Enma-san? Rokurokubi itu sudah kami kalahkan, lho."


"Entahlah, aku juga tidak tahu."


Aku kemudian menghampiri Enma-san yang terlihat sedih itu. Ia pun menyadari kalau aku mendekatinya dan melihat ke arahku.


"Aku tahu kau peduli dengan tempat ini, tapi apa kau tidak memikirkan perasaan ibumu?"


"Ibuku? Bu-bukankah dia sudah tidak punya perasaan lagi? Orang dari Ayakashi Corp. bilang begitu padaku."


"Saat sebelum ia aku habisi, ia sempat memanggil namamu. Tatapannya terlihat tersiksa dan sedih."


"Ti-tidak mungkin ... tidak mungkin ... ibu ... itu tidak mungkin ...."


Air mata mulai keluar dari mata Enma dan ia terlutut lemas. Ia terlalu memikirkan cara untuk mempertahankan penginapan ini sampai melupakan hal yang lebih penting dari hanya sebuah penginapan.


**


Setelah kejadian itu, kami tetap tinggal di penginapan sampai waktu kami habis. Enma-san dan yang lainnya meminta maaf kepada kami dan berhak untuk melaporkan mereka ke polisi atas perbuatan mereka. Tapi kami memilih untuk tidak melakukannya.


Saat perjalanan pulang ke stasiun, Herlin sempat bertanya kepada Ishikawa-san kenapa ia tidak melaporkan mereka.


"Ishikawa-san, kenapa anda tidak melaporkan mereka?"


"Hmm ... kenapa, ya? Pasti ujung-ujungnya kita akan jadi saksinya dan bukti korban pun juga tidak ada, kan? Hal itu terlalu merepotkan bagiku."


"Ka-kau ini ... apa kau benar-benar seorang pemimpin?" ucap Nigiyaka-san.


"Ahahaha ... tidak apa, tidak apa, anggap saja kita tidak melihat apa-apa. Ahahaha !!!"


Kami semua memandang datar Ishikawa-san yang bersikap terlalu santai. Kalau Oita-san ada di sini pasti dia akan kena marah dan mendapat hukuman berat.


Liburan dadakan kami yang mendebarkan dan tidak terduga itu pun akhirnya selesai dengan bahagia. Meskipun liburan ini tidak sesantai yang aku kira, tapi aku masih tetap menikmatinya.


"Aku tidak sabar kedepannya akan seperti apa," ucapku.


"Semoga saja tidak lebih merepotkan dari sekarang," jawab Herlin.


Tamat


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Yo, Author Shiroikaji disini.


Terima kasih telah membaca Crisis Word XX sampai sekarang. Dan season 1 ini telah mencapai akhirnya. Walaupun ada tulisan tamat disitu tapi cerita ini belum tamat sepenuhnya karena season 2 akan segera hadir.


Jadi untuk yang sudah baca cerita ini sampai sini saya ucapkan terima kasih dan saksikan terus aksi Iraya dan teman-temannya di season 2 nanti. Pastinya bakal lebih seru dan menarik dari sebelumnya (semoga).


Itu aja mungkin yang maj author sampaikan di akhir season 1 ini. Terima kasih bagi readers setia cerita ini dan sampai ketemu di season 2.


Author Shiroikaji pamit, Ciao.

__ADS_1


__ADS_2