Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 138 : Sang Bintang Utama


__ADS_3

Apa aku ketiduran? Seharusnya saat ini aku sedang bertarung di stasiun radio, tapi kenapa pemandangannya begitu gelap dan dingin. Apa malam ini memang sedingin ini?


Bagaimana dengan Iraya? Apa dia baik-baik saja? Aku memang menyerangnya duluan dan terpental karena terkena tendangannya, setelah itu semuanya gelap dan dingin.


Eh?


Apa itu?


Aku sedikit demi sedikit dapat melihat sesuatu. Itu ... berbeda dari yang seharusnya aku lihat, kan? Seharusnya yang aku lihat adalah gedung stasiun radio yang sudah berantakan, tapi kenapa sekarang di depanku ada seorang gadis.


Dia berlutut— sepertinya menyamakan tingginya agar sejajar dengan tinggiku. Di sini bahkan tidak malam, lebih ke senja yang hangat. Lalu pemandangan di sekitarnya adalah padang rumput yang luas dengan banyak bunga yang tumbuh indah di sekitar sini.


Aku tidak begitu tahu tentang nama bunga, tapi aku bisa tahu kalau itu adalah bunga yang indah. Dengan kelopak putih dan wangi yang harum, gadis di depanku merangkainya menjadi sebuah bulatan yang terhubung.


Itu adalah mahkota bunga.


Gadis itu merangkainya dengan terampil dan setelah jadi, memberitahukannya padaku dan memintaku untuk memakainya. Aku tidak bisa melihat matanya dengan jelas, tapi dia tersenyum dan rambutnya berwarna kecoklatan.


Ia kemudian memakaikan mahkota bunga yang baru saja ia rangkai itu ke kepalaku.


"Itu terlihat cocok pada anda, Herlinia-sama."


Bahasa Inggris? Kenapa tiba-tiba seseorang berbicara bahasa Inggris denganku? Oh ..., aku baru ingat kalau aku pernah merasakan hal yang mirip seperti ini.


Ini adalah mimpi.


Aku tidak tahu kenapa aku bermimpi di saat begini tapi mimpi ini begitu mirip dengan mimpiku yang sebelumnya— meskipun akhir mimpi itu tidak mengenakkan.


Aku pun membuka mulut, mencoba berbicara dengannya untuk setidaknya membalas pujian yang ia berikan padaku. Tapi anehnya kata-kataku tidak bisa keluar, seolah ada yang menahan suaraku di dalam tenggorokan.


Gadis itu juga terlihat bingung dengan sikapku yang aneh ini, dia memiringkan kepalanya dan bertanya padaku. "Apa ada yang salah, Herlinia-sama?"


Aku kembali mencoba berbicara, tapi usahaku percuma. Aku benar-benar tidak bisa berbicara saat ini. Gadis itu pun kembali bereaksi dengan tingkah anehku, senyum sedih tergambar jelas di wajahnya saat ini dan sepertinya itu adalah salahku.


"Sepertinya anda ingin pergi ke suatu tempat, ya? Kalau begitu anda harus bangun secepatnya, Herlinia-sama."


Setelah ia berbicara seperti itu, tiba-tiba sesuatu seperti angin kencang menarikku dan membawaku menjauh dari gadis itu. Tunggu! Tunggu sebentar! Aku ingin berbicara dengannya! Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja! Ada yang harus aku katakan!


Aku mengulurkan tanganku putus asa mencoba untuk meraihnya yang semakin menjauh di bawahku, aku di bawa terbang tinggi tapi aku masih belum juga bisa untuk melihat matanya. Angin kencang ini menutupi sebagian wajahnya.


Lalu semuanya kembali gelap.


Dan aku membelalakan mataku. Mataku kembali terbuka dan sekarang pemandangannya adalah sesuatu yang aku kenal. Ini adalah stasiun radio tempat kami bertarung. Aku telah kembali.


Aku memeriksa kondisiku. Tubuhku masih menempel di tembok yang membuatku terjebak cukup dalam karena terkena serangannya. Kalau tidak salah aku ditendang sampai tidak sadar, ya? Dan menabrak tembok juga membuat kondisi tubuhku makin buruk.


Pertarungan di depanku masih berlangsung, Iraya masih terus mencoba menyerang dan menyerang Okita, tapi dia tidak menunjukkan adanya kemajuan dari serangannya. Semuanya seolah dapat dimentahkan dengan mudah.


Lagipula sudah berapa lama aku pingsan? Apakah cukup lama sampai membuat kondisi Iraya menjadi separah itu?


Dan juga dari tadi aku memang merasakan sesuatu yang tidak enak, tapi sepertinya firasatku benar.


Aku melirik ke luar jendela gedung, aku dapat merasakannya walaupun samar. Ada orang yang mengawasi kami dari jauh. Aku tidak tahu jumlah pastinya, tapi mereka lebih dari satu orang.


Apa mereka bala bantuan musuh? Kalau begitu kenapa tidak membantu Okita yang sedang bertarung melawan kami di sini? Apapun itu aku tetap harus menyediakan sedikit tenaga jika sudah mengalahkan Okita.


Tapi aura mereka itu, entah kenapa ... terasa familiar.


Ini bukan saatnya memikirkan yang tidak perlu, dasar Herlin bodoh! Terlebih lagi kondisiku juga masih jauh dari kata 'mengalahkan'. Aku melihat tanganku dan mencoba menggerakkan jari-jariku— itu masih bisa digerakkan meskipun sakitnya luar biasa.


Tidak apa. Harus kutahan. Yang penting saat ini bisa bergerak dulu, karena Iraya tidak bisa terus bertarung sendirian melawannya.


Dengan tenaga yang susah payah aku kumpulkan, akhirnya aku berhasil keluar dari tembok itu. Sial. Sepertinya kepalaku terkena luka yang paling parah. Telingaku berdengung dan kepalaku pusing, selain itu kakiku gemetar hebat.


Benar-benar kondisi terburuk.


Aku masih terus memperhatikan pertarungan Iraya, beberapa kali ia dapat menghindari serangan dari titik butanya yang bahkan membuat Okita terkejut. Benang-benang aura itu dapat memanjang atau memendek seenaknya hingga membuatnya memiliki banyak pilihan dalam menyerang.


Okita menyerang lagi, kali ini benangnya memutar dari belakang dan mencoba untuk mengikat Iraya, tapi Iraya memutar pergelangannya dan berhasil memutus benang itu sebelum dia terperangkap.


"Apa kau punya mata di belakang kepalamu?! Bagaimana kau tahu yang satu itu?!"


"Aku punya enam mata!"


Enam mata. Itu benar. Tetsu dan Cecilia yang ada di dalam tubuhnya berperan besar membantu Iraya selama pertarungan ini— tidak, sejak dahulu Iraya memang tidak pernah bertarung sendirian. Dia hampir selalu unggul jumlah orang. Setidaknya, serangan kejutan biasa tidak akan membunuhnya begitu saja.


"Besar kepala juga kau, ya!"


"Aghkkh !!"


Kali ini Iraya tidak bisa menghindarinya, serangan tipuan dilakukan oleh Okita. Tadi ia berpura-pura ingin memanjangkan benangnya, tapi sebelum Iraya memotong benangnya, ia merubah serangannya menjadi serangan fisik dan memukul Iraya tepat di wajah.


"?!!"


Dia terpental ke arah sini!


Iraya terpental cukup jauh ke belakang dan aku yang kebetulan berada di belakangnya menangkapnya agar ia tidak menabrak tembok. Entah berapa kali sudah kami rasakan rasanya tembok keras itu.


"Apa kau tidak apa?"


"Herlin! Kau sudah bangun?! Tunggu sebentar, penampilanmu kacau banget!"


"Aku tidak mau mendengar itu darimu." Dia ini selalu saja mengomentari hal-hal yang tidak perlu. "Sudah berapa lama semenjak aku tidak sadarkan diri? Lalu bagaimana kondisi pertarungannya?" tanyaku.


"Sepuluh menit. Dan seperti yang kau lihat ..., tidak jauh dari kata 'buruk'."


Sepuluh menit?! Aku pingsan terlalu lama. Tubuhku masih lemah dan tidak kuat jika diserang secara fisik seperti itu, bahkan aku tidak tahu kapan aku akan bangun jika mimpi aneh itu tidak muncul.


Iraya kemudian berdiri, begitu juga dengan diriku. Energiku perlahan sudah mulai pulih dan aku sudah mulai berdiri dengan benar.

__ADS_1


"Apa saja yang sudah kau dapatkan setelah pertarungan lebih dari sepuluh menit itu?"


"Ah, itu. Aku merasa kalau serangan kita yang saat ini tidak akan mempan padanya. Seakan-akan serangan kecil yang kita lakukan terasa bercanda di hadapannya."


Jadi kita membutuhkan serangan yang memiliki daya ledak yang besar, ya? Sejujurnya, aku tidak punya hal yang seperti itu. Bahkan dengan serangan terkuatku— Banshee, dia hanya menyerang dengan cakaran yang sangat cepat dan brutal.


Sulit untuk mengatakannya kalau itu adalah yang kita butuhkan saat ini. Tapi selain itu ..., aku tidak punya hal lain. Aku berpikir sebentar dan melihat sekitar untuk mencari inspirasi, sampai pada akhirnya aku menatap wajah bingung Iraya.


Wajah kotor dan penuh luka itu ... dia masih mencoba untuk menutupi ekspresi kesakitan dan kelelahan pada saat di depanku. Padahal sudah aku bilang untuk tidak perlu bersikap sok kuat.


Tidak. Kurasa bukan itu tujuannya. Dia bersikap biasa saja seperti itu adalah untuk membuatku tidak khawatir. Apalagi aku sadar kalau kondisiku lebih kacau dari dirinya, jadi dia mencoba untuk setidaknya berdiri di depanku seolah melindungiku dengan bersikap baik-baik saja.


"He-Herlin? Ada apa?"


Dasar bodoh, kau tahu aku tidak perlu dilindungi sampai sebegitunya. Tapi, yah ... aku jadi merasa tenang. Dan ketika aku tenang, otakku dapat bekerja lebih baik daripada biasanya.


Mataku terbelalak. Baru saja aku bilang kalau aku dapat berpikir lebih baik ketika otakku tenang dan sekarang aku mendapatkan ide di kepalaku. Jawabannya sangat mudah, ya ampun.


"Herlin, apa kau baik-baik saja? Apa ada yang salah di wajahku?"


Benar juga, dari tadi aku melamun sambil menatap wajahnya. "Tidak, tapi sepertinya aku menemukan cara untuk melawannya."


Jika kau butuh serangan besar yang ekplosif, tentu saja jawabanku adalah Iraya. Meskipun rencana yang ada di kepalaku saat ini memiliki resiko tinggi baik bagi Iraya maupun diriku sendiri.


Tapi aku tidak punya waktu lagi untuk ragu. "Dengarkan aku, Iraya."


"Eh?"


"Akan aku buat kau menjadi bintang pada pertarungan ini."


**


Kini aku berdiri berhadapan satu lawan satu dengan musuh kami, Okita. 'Pastikan kau tetap hidup', adalah kata-kata terakhir Iraya sebelum ia pergi untuk melaksanakan rencanaku.


Dan sekarang adalah giliranku. Aku tidak tahu seberapa lama aku bisa bertarung melawannya dengan kondisiku yang seperti ini, tapi aku telah menjawab Iraya dengan jawaban percaya diri. Aku tidak boleh mengecewakannya!


"Oya, oya, kau mau melawanku seorang diri?"


Bernafas. Lupakan semua rasa sakit yang ada di tubuhmu untuk beberapa menit ke depan. Tahan. Hilangkan. Berhentilah gemetar. Tidak akan ada yang mengasihanimu, tidak akan ada yang peduli. Maju terus, dan .... Konsentrasi.


Aku berhasil melakukannya. Pikiranku membuat rasa sakit yang luar biasa ini sedikit berkurang. Tapi ini baru awalannya, akan ada sesuatu yang perlu aku lakukan lebih dari ini.


Aku kemudian menatapnya ketika fokusku sudah pada puncak tertingginya. Dan menjawab pertanyaannya. "Seorang diri? Aku tidak tahu apa yang kau maksud."


"Apa?"


Aku mengeluarkan auraku menyebar ke seluruh tubuh. Aura membunuh yang membuat orang-orang di sekitarnya serasa ditusuk-tusuk. Selain itu, aura mengerikan lainnya juga terbentuk di sampingku— menampilkan wujudnya.


Wanita pucat dengan gaun putih melayang dengan anggunnya yang dapat menghipnotis semua orang dengan kecantikannya. Tapi penampilan itu tidak bertahan lama, karena wujud sebenarnya dari wanita itu pun terkuak.


"Banshee, bersiaplah." Wajah Banshee berubah menjadi monster mengerikan tak kenal ampun yang akan merobek serta menghancurkan musuhnya.


"Apa kau tahu yang satu ini juga?" tanyaku.


"Tentu saja! Kenapa kau mengeluarkannya sekarang?! Bukankah lawanmu masih manusia?!"


"Kau bahkan tahu soal hal itu. Sebenarnya berapa banyak informasi yang kau miliki? Tapi, itu tidak penting ...."


Pandanganku tajam tertuju padanya. Sementara ia sepertinya ketakutan dengan wujud Banshee yang sekarang, meskipun tahu tentangnya, semua orang tetap saja akan ketakutan jika bertemu langsung dengan Banshee.


Dirinya yang masih berbentuk wanita cantik saja sudah mengeluarkan aura yang tidak mengenakkan, apalagi ketika dia sudah marah.


Sebenarnya aku masih memiliki beberapa The Unseen tangkapanku lainnya. Tapi aku menyimpannya di kubus milik Caramel. Sial, seharusnya aku meminta dia untuk memberikan kubus itu saja kepadaku.


Itu seakan kandang yang diciptakan untuk memerangkap beberapa The Unseen dan karena Caramel memakainya untuk latihan, tanpa sepengetahuannya, aku menaruh beberapa The Unseen lain selain yang pernah ia lihat saat itu.


Apa dia menyadarinya, ya? Bodo amat lah, nanti dia juga akan protes jika dia tahu. Sekarang aku akan fokus ke pertarunganku dulu.


"... Akan aku kalahkan kau di sini! Banshee!"


"AKkkhgRhgrh!!!"


Teriakan melengking menggema di ruangan ini ketika Banshee menghilang dari tempatnya melayang dan dalam sekejap telah berada di depan Okita.


"Sial! Terlalu cepat!"


Okita kembali meregangkan benang aura dan menjadikannya perisai, tapi cakaran Banshee lebih kuat dan dapat menembus benang itu dengan mudah. Terlebih lagi, cakarannya cukup dalam dan menggores dada Okita.


Sederhananya, The Unseen adalah kumpulan aura yang tercipta dari energi alam. Energi di bumi ini tidak akan pernah habis dan juga tidak dapat dihancurkan, jadi banyak manusia yang memanfaatkannya dan merubahnya menjadi berbagai macam bentuk.


Tapi kebanyakan The Unseen terbentuk secara natural, lewat kebencian ratusan bahkan ribuan manusia yang dapat menciptakan The Unseen terkuat. Dan yang pasti, Banshee adalah salah satu The Unseen paling kuat yang ada di bumi.


Mereka masih terus membalas serangan, Okita nampak kesulitan menghadapi kecepatan Banshee yang terus menyerangnya dengan kuku-kukunya yang tajam.


Tapi aku tidak boleh lengah, dia tahu beberapa informasi yang seharusnya tidak ada orang yang tahu selain aku dan beberapa orang terdekatku. Tapi bagaimana dia bisa tahu? Apa mungkin informannya ....


Tidak. Menganggap temanku berkhianat adalah hal yang harus kuhindari, tapi jika bukan itu, berarti pilihannya tinggal satu. Aku melihat Okita yang sedang bertarung dengan Banshee. Penampilannya, auranya, serangannya. Apakah itu benar-benar anda?


Tidak. Itu tidak mungkin. Orang yang sudah mati tidak mungkin hidup lagi.


Aku harus membuang pemikiran tak penting ini dan fokus pada pertarungan. Sekarang hal yang sedang aku kerjakan telah selesai, aku melihat ke atap dan terdapat lubang menuju ke rooftop gedung ini. Aku melubanginya untuk melakukan rencanaku yang selanjutnya.


Tapi jika dia mati karena Banshee, itu malah lebih bagus lagi.


"Tch! Aku sudah tidak tahan lagi!"


Okita berhenti bergerak mundur dan menghindar, dia juga menghilangkan benang aura yang merupakan senjatanya, apa yang ingin dia lakukan?


"Gkahkh!"

__ADS_1


"A-apa ...?" Mataku melebar terkejut. Tiba-tiba gerakan Banshee berhenti di udara. Ia mencoba untuk melepaskan dirinya tapi tidak bisa. Seolah ada sesuatu yang kuat yang menahannya, tapi aku tidak bisa melihat apapun yang menahannya itu.


Craashh... Craashh... Craashh...


"KyaaAkhhkHKh !!!"


"??!!"


Lengan kanan, lengan kiri, dan perut Banshee hancur terkena tekanan misterius. Dia seperti ..., seperti digenggam oleh cengkeraman yang kuat.


Ini gawat!


"Banshee, menghilanglah!"


Banshee menghilang begitu saja dari sana dan berhasil menghindari maut. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi itu terlalu berbahaya untuk dilanjutkan.


"Ohokh ...!" Sial. Di saat seperti ini aku malah muntah darah. Kedua kakiku terlutut karena tubuhku yang tanpa sadar melemas dan mulutku memuntahkan darah yang banyak.


"Sepertinya kau sudah mencapai batasmu, Herlin-chan."


Okita berjalan mendekatiku. Aku tidak tahu serangan apa yang barusan ia gunakan kepada Banshee, tapi shock yang dihasilkan membuat fokusku hilang dan membuatku kembali merasakan sakit yang sebelumnya.


"Sayang sekali impianku tidak tercapai, tapi ya sudahlah. Bye bye, Herlin-chan."


Dia merapatkan jari-jari tangannya dan mengencangkannya. Ia juga melapisi aura dengan dan dapat menembus daging manusia dengan mudah.


"Jangan ...."


"Apa?!"


"... Panggil aku dengan sebutan itu!"


Kakiku melontarkan tubuhku yang sedang terlutut menuju ke lubang yang sebelumnya aku buat. Ini adalah lubang pelarianku!


Tapi aku tahu kalau tidak akan semudah itu, Okita masih terus mengejarku. Ia ikut melompat ke luar gedung dan naik ke atas rooftop, mencoba meraih kakiku yang sudah hampir kehabisan tenaga.


"Mau kemana kau?!"


Dia benar-benar mencoba untuk mengejarku dan bahkan tidak peduli pada sekitarnya. Benar-benar ..., terperangkap seperti tikus.


"??!!"


Dan di situlah saatnya kau bersinar.


Dari samping kami berdua, dia sudah menunggu dari tadi dan mengumpulkan begitu banyak aura di ujung pedangnya. Serangan eksplosif yang aku tunggu-tunggu dari tadi.


Aku tahu kau adalah seorang yang suka pamer, mencoba menjadi keren, dan mencoba menjadi pahlawan lebih dari siapapun. Maka dari itu, akan aku berikan padamu. Skenario yang kau sukai itu. Penyelesaian sang bintang utama!


"SEKARANG, IRAYA!!!"


"Pusatkan semuanya pada satu titik. Usui Tenrai!"


Usui Tenrai. Aura berbentuk listrik yang menghujam lurus menghancurkan semua yang dilewatinya. Ini adalah salah satu serangan dengan kerusakan besar yang dimiliki oleh Iraya. Tidak aku sangka hal itu bisa dipakai di saat seperti ini.


"Gawat!"


Dia mencoba untuk menahan dengan auranya lagi. Tidak akan kubiarkan! "Banshee!" Banshee dengan cepat muncul dan mencakar apapun aura tak terlihat yang coba ia buat itu. Lalu setelah itu ia menyingkir dari sana.


"Sial! Tidak akan sempat ...!"


Buuummm... Blaaarrrr...


Kena! Iraya berhasil mengenainya! Serangannya memang hanya bisa lurus saja, tapi jika kena, dampaknya akan sangat besar. Beberapa detik sinar listrik itu menghantam Okita dan setelah itu, sinar dan auranya menghilang perlahan. Mengembalikan gelapnya malam yang hanya disinari oleh bulan.


Setelah menggunakannya, Iraya langsung tersungkur dan pedang auranya menyisakan gagangnya saja. Tapi ia masih bisa menengok ke arahku dan mengangkat jempolnya— Itu berarti dia baik-baik saja.


Selain itu, aku masih punya urusan lain. Aku berjalan mendekati Okita yang sudah tidak berdaya. Perutnya berlubang besar menembus punggung dan seluruh tubuhnya terbakar. Tapi ia masih sadar dan sedikit bergerak.


"Kkhh ... benar-benar kena."


"Jadi, siapa sebenarnya dirimu?" Aku bertanya. Tapi dia malah tersenyum dan menyuruhku untuk menunduk lalu mendekatkan wajahku. Karena dia sudah lemah, jadi aku pun menurutinya.


Dia memperhatikanku cukup lama. Mata orang asing itu menatapku dengan kelembutan yang aku kenal.


"Ahahaha .... Pada akhirnya impianku tercapai, ya?"


Aku yakin. Tidak salah lagi. Kenapa aku bisa tidak sadar. Meskipun auranya berbeda tapi seharusnya aku tahu dari awal. Kenapa aku sangat bodoh karena tidak menyadarinya.


Tanpa sadar, air mataku berlinang dan jatuh ke dadanya. Sementara ia mengusap mataku yang berair dengan tangannya yang lemah dan penuh luka.


"Ya ampun .... Warna rambut dan iris matamu memang milik ayahmu, tapi semua bentuk wajahmu adalah ibumu. Kau benar-benar ... anak kebanggaan mereka," ucapnya lemah.


"Jadi itu benar-benar anda, Oita-san?"


Tapi ia tidak menjawabnya. Sudah terlambat. Dia sudah tidak lagi berada di dunia ini. Matanya juga sudah tidak menunjukkan cahaya kehidupan lagi dan tangan yang ia gunakan untuk mengusap air mataku jatuh ke tanah.


Lalu sebuah partikel aura kecil keluar dari mulutnya lalu jatuh ke tanganku yang sedang menengadah bersandar paha, kemudian menghilang.


Sekarang dia benar-benar sudah pergi. Aku berharap semoga tidak ada yang mengganggu tidur panjangmu lagi, Oita-san.


"??!!"


Tapi dalam kesunyian itu, seseorang tiba-tiba muncul dan berdiri menatapku. Ia memiliki rambut dan iris mata yang sama denganku, tapi dengan perawakan yang lebih tua. Dia adalah orang yang pernah kutemui di kuil sebelumnya.


"Ternyata kau memang masih hidup, Herlinia." Dia kemudian menunjuk ke arahku. "Pulanglah ke tempat kau seharusnya berada, Herlinia."


Lalu setelah itu, ia pergi dari sana. Meninggalkanku dalam kebingungan akan pernyataan yang diberikan olehnya. "Herli ... nia?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2