
Di saat yang bersamaan dengan Iraya yang sedang berhadapan dengan orang berjubah—Delta. Di dalam pabrik, Kurobane-senpai juga sedang menghadapi orang yang sama, meskipun itu adalah klon nya.
Kurobane Mei PoV
Orang aneh ini mencoba untuk menjauhkanku dari tombol itu. Dengan kata lain, dia berusaha mencegahku untuk melepaskan para bahan eksperimen ini.
Aku melirik ke sekitarku. Ruangan ini terlalu sempit untuk dijadikan tempat pertarungan. Karena ruangan ini adalah tempat penyimpanan tabung-tabung kaca, maka hanya tersisa sebuah jalan kecil untuk memeriksa kondisi tabung-tabung tersebut.
Terdapat sekitar 20 tabung kaca yang ada di ruangan ini dan satu telah aku lepaskan. Aku melihat kearah orang yang baru saja kulepaskan dan sepertinya dia masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Tidak apa-apa, setidaknya dia masih bernafas. Itu yang terpenting.
Jalan di tempat ini terlalu sempit, di tambah dengan dua peneliti yang pingsan membuatnya semakin sempit lagi. Saat ini aku berada di seberang dari tempat tombol itu berada. Aku bisa meraihnya dengan satu kali lompatan. Tapi jika aku ceroboh, kecepatan semburan apinya bisa dengan cepat membakar seluruh tubuhku.
Tidak ada pilihan lain, aku harus bertarung.
Orang berjubah itu masih diam saja. Kalau tidak salah namanya Delta, ya? Aura nya lebih besar dari para peneliti ini, dengan kata lain dia adalah Exception. Ia masih mengarahkan tangannya kepada ku. Bersiap jika saja aku melakukan serangan kepadanya. Tapi dia terlalu meremehkanku.
Aku melirik ke penutup ventilasi yang sebelumnya aku tendang. Dengan Herlin yang menahan pergerakannya, seharusnya dia tidak bisa banyak bergerak. Kalau begitu ini keuntunganku!
Swuuushh… Klaank…
Aku menerbangkan penutup ventilasi tadi dan melemparkannya tepat ke arah kepala Delta.
"…?!"
Blaaaaarrr…
Tapi kecepatan semburan api dan panasnya yang sangat tinggi membuat penutup ventilasi yang terbuat dari besi tebal itu meleleh seketika saat sedang di udara.
Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Bersamaan dengan terbangnya penutup ventilasi tadi, aku langsung melesat dengan cepat ketika ia sedang membakar penutup ventilasi tersebut. Tapi dia masih bisa menggerakkan sedikit tangannya yang satunya lagi dan kembali menyemburkan api kearahku.
Blaaaarrr…
Aku bisa menghindari semburan apinya yang sangat cepat dari jarak kurang dari 3 meter. Lalu aku melompat dan bersiap memukul topengnya itu. Bermaksud untuk menghancurkannya dan melihat orang yang sedang ia lawan saat ini.
"Kena kau—! Ahakkh!"
Buuukhh…
Saat aku ingin memukulnya, tiba-tiba ia menendangku dengan lututnya yang langsung mengarah ke perutku. Ia kemudian menahan tubuhku di udara dan mengarahkan tangannya tepat di depan wajahku dan ingin langsung membakarnya.
Tap… Blaaaarrr…
Tapi aku menangkap pergelangan tangannya dan kemudian memiringkannya agar semburan api tadi tidak mengenai wajahku dan malah ke sebelah wajahku.
Di saat yang bersamaan, aku mengarahkan tangan kiriku ke arah wajahnya dan mengalirkan auraku ke tangan untuk menyerang wajahnya dengan hembusan angin tajam.
Tap… Swuuushh…
Ia juga melakukan gerakan yang sama, menangkap pergelangan tangan kiriku dan kemudian memiringkannya yang membuatnya berhasil menghindari seranganku.
"Haaarrgghh …!!"
Daaakk…
Aku membenturkan kepalaku dengan kepalanya. Tapi topengnya tidak tergores sama sekali meskipun aku sudah mengerahkan banyak tenaga pada kepalaku. Malahan dahiku yang berdarah akibat adu kepala barusan.
Buukk…
Delta kemudian menendangku keatas dan saat berada di udara, ia langsung menyerang dengan semburan apinya.
Tapi aku langsung mengarahkan tanganku ke arah kiri dan menembakkan angin yang membuat tubuhku melesat ke arah sebaliknya. Lalu aku membalikkan badan dan mengarahkan tanganku keatas agar aku bisa melesat ke bawah dan saat posisiku sudah setara dengan kepala Delta, aku mengarahkan tanganku ke kanan dan melesat dengan cepat ke arah Delta dan langsung melancarkan tendangan yang mengarah tepat ke kepalanya.
"HeeyAaHh …!!"
Baaakkhh…
Semua gerakan tadi kulakukan dalam waktu kurang dari 2 detik, membuat dorongan dan kekuatan tendanganku melebihi manusia normal yang bahkan bisa menghancurkan tembok pabrik ini. Delta yang merupakan seorang Exception pun bahkan sampai terpental cukup jauh dan baru berhenti saat menabrak salah satu tabung kaca.
__ADS_1
"Apa itu dapat melumpuhkannya? Hn?"
Delta yang terpental dan membentur cukup keras, perlahan-lahan mulai bangkit walaupun dengan kepayahan. Tendangan tadi tidak menggores topengnya sedikitpun bahkan ketika sudah membentur kaca keras di belakangnya.
"Tentu saja dia masih bangun. Tapi apa-apaan dengan ketahanan topengnya itu? Itu terlalu kuat, oi!" gumamku.
Sepertinya orang bernama Delta ini sangat merahasiakan identitasnya. Tapi itu malah membuatku penasaran. Ya meskipun jika aku tidak mengenalnya, hal itu akan jadi percuma.
Dan juga sepertinya ini bukan hanya perasaanku saja, tapi aliran masif aura milik Ririsaka-san yang dari tadi mencakup seluruh bagian bawah pabrik lama kelamaan mulai memudar. Apa ada sesuatu yang terjadi dengannya?
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku untuk mengusir khayalan buruk tentang apa yang akan terjadi pada Ririsaka-san. Lagipula dia adalah Ririsaka-san, monster sepertinya tidak akan dengan mudahnya kalah oleh seseorang.
"Jangan mati dulu, Ririsaka-san. Aku masih belum lulus dalam pelatihan mu, tau."
Samar-samar dari balik tembok pabrik, aku bisa mendengar suara pertarungan yang cukup keras. Sepertinya Satou-kun menemukan lawan yang seimbang dengannya. Tapi kalau mengingat saat taruhan di Tokyo dulu, aku rasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Praaang…
Aku menghancurkan tabung kaca menjadi pecahan kecil, lalu pecahan kaca tersebut aku lesatkan kearah Delta yang mengarah ke telapak tangan dan pergelangan kakinya agar dia tidak bisa bergerak lagi.
Aku pun berjalan ke arahnya, ia sedikit melakukan perlawanan tapi hal itu tidak berguna. Tubuhnya sudah melemah dan kemampuan apinya sudah berkurang. Kali ini aku akan melepaskan topengnya. Jika tidak bisa dilepaskan secara paksa, maka aku akan melakukannya secara perlahan.
Tapi tanpa kusadari, seorang peneliti yang tadi kubuat pingsan dua kali kembali tersadar. Dalam keadaan setengah sadar, ia melihat kalau Delta telah dikalahkan oleh penyusup itu. Tapi fokusnya tertuju ke suatu hal yang lain—papan tombol itu.
Dalam keadaan lemah, ia menyeret tubuhnya dan sebisa mungkin untuk diam agar tidak ketahuan oleh si penyusup. Dan saat ia sudah meraih papan tombol itu, ia mengeluarkan seringai dan kemudian berteriak kearah si penyusup.
"Oi!"
"Eh …?!"
"Kau akan mati ku disini! GahahHaha …!!"
Piip… Piip… Piip…
Sebelum aku membuka topeng Delta, peneliti yang baru sadar itu kemudian menekan beberapa tombol secara cepat. Dan tiba-tiba semua tabung kaca yang masih berisi manusia di dalamnya dimasukkan sebuah cairan berwarna ungu yang kemudian bercampur dengan air di dalamnya.
"Apa yang kau lakukan?!"
"GahahHahAa …!! Rasakan ini!!"
Tiba-tiba perubahan terjadi di tubuh para manusia eksperimen itu. Otot-ototnya secara signifikan mengembang, gigi-giginya juga menajam, tinggi badannya juga secara cepat meningkat. Wajahnya juga berubah mengerikan bak monster. Baik perempuan maupun laki-laki semuanya tidak ada bedanya, mereka semua berubah menjadi monster yang mengerikan.
Praaang… Praaang… Praaang…
Para monster itu kemudian memecahkan kaca yang sudah terlihat lebih sempit akibat tubuhnya yang membesar. Beberapa dari mereka kemudian melihat kearah peneliti yang melepaskan mereka. Ia tidak memandangnya sebagai tuan, tetapi sebagai mangsa yang lemah.
"Eh? Apa yang kalian lakukan?! Tidak! Bukan aku! Yang harus kalian serang bukan aku! Harusnya kalian menyerang—AaaArRggghh …!!"
Craasshh…
Dengan cepat monster itu melesat kearah peneliti itu dan membunuhnya dalam hitungan detik, setelah itu memakannya dengan brutal. Darah bekas peneliti tadi tertinggal di mulut dan cakarnya. Selain itu, peneliti satunya yang masih pingsan pun juga ikut diangkat dan siap di makan olehnya. Tapi ia malah sempat tersadar sebelum dimakan oleh mereka.
"Eh? Akhh …!! Apa yang terjadi?! Tolong aku! Tolong aku! Aku bukan makanan kalian! Aku bukan makanan kalian! Aku bukan—"
Craasshh…
Teriakan putus asa peneliti itu terhenti ketika kepalanya terpisah dari tubuhnya. Manusia-manusia biasa benar-benar bukan tandingan bagi mereka.
Aku yang melihat pemandangan ini hanya bisa terdiam ketakutan. Membayangkan hal-hal buruk yang akan terjadi di masa depan. Apa yang akan terjadi jika monster ini lolos ke jalan? Apa yang terjadi jika monster ini menginvasi kota? Dan apa yang terjadi jika monster ini masuk ke rumah ku?
Seketika kakiku gemetar membayangkan hal-hal tersebut. Nafasku menjadi berat dan jantungku berdegup kencang. Rasa takutku saat ini tidak bisa kupungkiri lagi.
Aku melihat salah satu dari mereka menempel di tembok dan mencoba menarik salah satu kabel listrik. Ia menariknya sampai kabel itu putus. Dan ketika putus, gesekan yang terjadi dengan tubuhnya menciptakan percikan api yang menyebabkan korsleting listrik.
Duuuuaaarrrr…
"GeEeyyYyaaAAhh …!!"
__ADS_1
Monster itu berteriak setelah terkena ledakan dari korsleting listrik yang mereka buat sendiri. Sepertinya mereka memiliki kecerdasan yang kurang dan hanya memiliki tubuh yang besar dan hanya mengandalkan insting bertahan hidup—persis seperti binatang.
Aku menarik nafas panjang untuk membuatku tenang. Hal yang seperti dipikiranku tidak akan terjadi jika aku berhasil menghancurkan mereka disini. Aku mengangguk dengan mantap dan tekad yang kuat.
"Yosh!"
Makhluk-makhluk itu mulai menyadari keberadaanku dan sekitar lima dari mereka mulai melesat kearahku.
Swuuushh…
Tapi aku mengalirkan auraku ke telapak kaki dan menciptakan sebuah pusaran angin yang membuatku terbang keatas dan berhasil menghindari mereka. Dari jarak yang aman, aku menghitung jumlah mereka.
"Sembilan belas … Ahh! Dia!"
Saat sedang memastikan jumlah mereka, aku melihat seorang wanita yang tergeletak di lantai. Tanpa busana dan tubuhnya yang basah. Ia adalah orang yang aku keluarkan dari tabung kaca sebelumnya.
Ia menggerakkan tangannya sedikit yang menandakan kalau dirinya masih hidup. Namun juga membuat para monster itu sadar akan keberadaannya.
Tap… Syuuushh…
"Ap—!"
Saat aku ingin menolongnya karena para monster itu mulai mendekatinya, tiba-tiba dari sampingku ada seekor monster yang memanjat dinding lalu melompat ke arahku. Beruntung aku masih bisa menghindarinya.
Monster-monster yang lainnya juga ikut untuk memanjat dan mencoba menangkapku. Tapi semuanya masih bisa kuhindari. Meskipun disini aman, tapi yang aku khawatirkan saat ini adalah wanita itu. Para monster yang tidak mengejar ku mulai mendekatinya.
"Tidak ada pilihan lain …!"
Syiiingg… Zwuuuushhh…
Aku mengumpulkan aura yang lebih banyak di telapak kakiku dan menciptakan hentakan yang mendorongku sangat cepat ke arah wanita itu. Aku berhasil meraih tangan wanita itu dan berhasil untuk membawanya bersamaku.
Craasshh…
"Akkhh …!!"
Bruuukk…
Tapi salah satu dari mereka berhasil mencakar betisku yang membuatku kehilangan keseimbangan dan jatuh menghantam lantai dan saat ini kami dalam posisi terpojok.
"Sialan!"
Aku memeluk wanita yang masih setengah sadar ini dan berusaha setidaknya untuk menjaganya tetap hangat. Tapi dalam posisi ini, rasa takutku kembali hadir. Rasa takut akan kematian yang membuatku ingin berteriak tapi tidak bisa seakan tertahan oleh sesuatu.
Monster-monster itu mulai mendekat ke arah kami. Belasan monster yang besarnya hampir sekitar dua meter. Dalam kondisi saat itu, tanpa sadar aku melirih kecil. Meminta bantuan kepada siapa saja.
"Siapa saja … tolong kami … Satou-kun …."
Blaaaaaarrr…
Tiba-tiba sebuah suara melengking tinggi yang memekakkan telinga terdengar dari luar. Seperti suara petir yang menyambar sesuatu. Para monster itu sepertinya memiliki telinga yang sensitif sehingga seluruh dari mereka berteriak kesakitan. Dan kemudian aku berpikir sesuatu. Ini adalah kesempatanku!
Dengan kepayahan, aku berdiri sambil memapah wanita yang baru kuselamatkan. Meskipun aku berjalan perlahan, tapi para monster ini tidak memperhatikanku dan masih merasakan sakit karena suara petir tadi.
Aku melihat kearah bekas Delta sebelumnya, tubuhnya telah menghilang. Aku tidak tahu apa dia sudah kabur atau bagaimana. Tapi aku memutuskan untuk mengabaikannya dan keluar dari ruangan itu.
Aku mencopot baju lengan panjang ku dan membiarkannya memakai baju itu. Karena bajuku hampir menutupi seluruh tubuhnya—meskipun hanya sampai paha. Tapi ini lebih baik daripada tidak sama sekali karena aku masih memakai sebuah singlet sebagai dalaman.
"Untuk sekarang sepertinya akan aman," gumamku.
"A-Ano …. Apa kita akan keluar dari sini?"
"Hn?"
Wanita tadi sepertinya sudah sadar sepenuhnya. Meskipun tubuhnya masih lemah, tapi dia sudah bisa berbicara. Aku kemudian tersenyum dan meyakinkan dirinya.
"Kau tidak perlu khawatir, kita pasti akan keluar dari sini. Pasti!"
__ADS_1
Dia tersenyum lega mendengar kata-kataku. Untuk saat ini aku hanya bisa memberikan harapan yang tinggi padanya. Tapi ini juga sekaligus adalah janji pada diriku sendiri. Kalau aku akan membawanya keluar dengan selamat dari sini!
Bersambung