
Pusing… Panas… Sakit…
Rasa sakit yang tiba-tiba aku rasakan entah berasal darimana. Rasanya kepalaku seperti ingin meledak. Pandanganku gelap. Aku berusaha untuk mencari sesuatu yang dapat membantuku untuk melihat dalam kegelapan ini.
Apa itu?
Sebuah titik cahaya muncul dihadapan ku. Titik cahaya itu menjadi lebih besar dan kemudian lama-kelamaan aku bisa melihat ada seseorang yang muncul dari cahaya itu.
"Ibu?"
Sosok ibuku muncul dari titik cahaya yang semakin besar tadi. Aku mencoba mendekatinya, tapi tidak bisa. Tanganku mencoba untuk meraihnya, tapi tidak sampai. Suaraku mencoba memanggilnya, tapi tidak terdengar. Aku mencoba segala cara yang aku bisa untuk menjangkau sosok ibuku itu, namun tetap tidak bisa.
"Jangan pergi! Ibu!"
Aku yang sedang berusaha meraih ibuku pun terdiam ketika ibu mulai menggerakkan mulutnya.
"Kau tidak menolong ibu saat itu."
"Eh? Bukan begitu! Aku… Aku…!"
Suaraku gemetar saat ibu mengatakan hal seperti itu. Maafkan aku, tapi aku tidak menduga hal itu akan terjadi pada ibu.
"Aku kecewa padamu, Iraya."
Sosok ibu kemudian perlahan-lahan menghilang. Aku mencoba meraihnya, tetapi tetap tidak bisa. Kata-kata itu terngiang di dalam kepalaku. Maafkan aku Bu! Aku akan membalaskan dendammu! Maka dari itu… kumohon… kumohon jangan pergi!
"Ibu!"
Aku terbangun di atas tempat tidurku. Sinar matahari sudah menembus jendela kamarku. Dan alarm ku pun juga sudah berbunyi.
"Adu—! Kepalaku …."
Aku memegangi kepalaku yang terasa sangat pusing dan panas. Aku tidak tahu apa yang terjadi sampai kepalaku bisa sakit seperti ini. Rasanya aku tidak melakukan sesuatu yang berbahaya terhadap kepalaku. Tiba-tiba Cecilia berteriak kepadaku.
"Iraya?! Iraya! Kau tidak apa-apa?!"
Cecilia terdengar begitu khawatir padaku. Apa dia melakukan sesuatu yang berbahaya saat aku tidur tadi?
"Tenanglah, jangan berteriak-teriak di kepalaku pagi-pagi begini."
"Tadi malam kau mengerang kesakitan sambil memegangi kepalamu. Aku khawatir telah terjadi sesuatu kepadamu."
Aku mencoba mengingat hal yang dikatakan Cecilia, tapi aku tidak bisa mengingatnya sama sekali. Malahan kupikir kepalaku sakit karena mimpi itu.
Tanpa sadar aku mengingat mimpi yang barusan kualami. Aku pun menepuk lembut kedua pipiku untuk menghilangkan mimpi itu dari ingatanku sekarang dan kemudian bangun dari tempat tidur.
"Aku tidak apa-apa, semuanya terkendali disini," ucapku menenangkan Cecilia.
Kata-kataku tadi sebenarnya setengah benar setengah bohong, sih. Aku kemudian turun ke bawah dan di bawah aku melihat Tetsu yang sedang menyapu lantai. Ia sudah terbiasa untuk bangun lebih pagi dariku—meskipun kadang-kadang aku yang bangun duluan sih.
"Ah! Selamat pagi, Iraya!"
"Selamat pagi. Hn? Tetsu, yang kau pakai itu …?"
"Oh ini, aku menemukannya di dalam lemari. Karena mulai sekarang aku akan sekarang membersihkan rumah, sepertinya ini bagus juga. Cocok, kan?"
"Iya, terlihat cocok untukmu."
Tetsu memakai sebuah appron berwarna kuning, appron itu dulunya adalah milik ibuku. Melihatnya memakai itu membuatku seketika teringat ibuku dan juga mimpi malam tadi. Tch! Lagi-lagi mimpi itu terbayang di kepalaku.
Setelah itu, aku kemudian bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Sampai saat jam istirahat, tidak ada sesuatu yang spesial terjadi di sekolah.
**
Saat jam istirahat berbunyi, seperti biasa Herlin dan Hasuki-san sudah bersiap untuk makan makanannya bersama. Herlin kemudian mengeluarkan dua kotak bento yang biasanya satu ia akan berikan kepadaku.
"Iraya, ini bento—"
"Maaf, aku sedang tidak lapar."
Aku pun langsung berdiri dari bangkuku dan berjalan keluar kelas. Herlin dan Hasuki yang melihat tingkah anehku hanya diam dan bingung. Ia kemudian melihat kearah satu bento sisa yang tidak termakan dan kemudian melihat kearah murid-murid kelas.
"Ada yang mau?"
"Ah! Aku! Aku! Aku!"
"Berikan kepadaku!"
"Hei! Dia menawarkan bento itu kepadaku!"
Herlin menawarkan bekal itu kepada siapa saja yang ada di kelas. Para laki-laki yang tidak ingin melewatkan kesempatan langka itupun kemudian berebut untuk mendapatkan bekal darinya. Kelas lagi-lagi menjadi sangat ribut saat itu.
Sementara aku berjalan menuju ke atap sekolah untuk menyendiri. Semenjak kejadian ledakan waktu itu, tidak ada lagi yang berani untuk datang kesini. Sepertinya mereka mengira jika berada di tempat ini akan terkena nasib buruk. Jadi ini adalah tempat yang cocok bagi orang yang sedang ingin menyendiri.
Aku terdiam sambil merenungi mimpi malam tadi. Gara-gara itu, aku jadi tidak nafsu makan saat ini dan memilih untuk pergi kesini. Cecilia yang melihatku kemudian bertanya kepadaku.
"Iraya, apa kau benar-benar tidak apa-apa? Apa kepalamu tidak pusing atau semacamnya?"
"Nn, aku tidak apa-apa."
"…." Cecilia tidak menjawab apa-apa lagi setelah itu. Ia sepertinya tahu kalau aku sedang tidak baik-baik saja.
"Hei, Cecilia. Bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Apa itu?"
"Aku tidak tahu apa kau bisa membantuku atau tidak, tapi … apa kau bisa memberitahuku tentang apa yang sedang kurasakan saat ini?"
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak nafsu makan, aku juga sedang tidak mood untuk berbicara dengan orang lain. Aku bahkan menolak bekal yang Herlin bawa tadi …."
Aku baru sadar kalau aku melakukan sesuatu yang buruk kepada Herlin tadi. Aku menunduk lemas dan sedikit kesal karena bingung dengan yang terjadi padaku saat ini.
"… Aku ini kenapa sih?"
"Sebelum itu aku ingin bertanya sesuatu padamu."
"Apa?"
"Apa yang terjadi padamu malam tadi? Apa kau bermimpi sesuatu?"
Saat Cecilia berbicara soal mimpi, aku langsung teringat dengan mimpi malam itu. Mimpi tentang ibuku yang kecewa padaku karena membiarkannya tewas.
Aku kemudian mengangkat kepalaku dan melihat kearah lapangan sekolah yang berada di bawah. Melihat para murid yang sedang makan bersama teman-temannya.
"Aku memimpikan ibuku."
"Ibumu?"
"Dia kecewa padaku karena aku tidak berhasil menyelamatkannya tepat waktu."
"Tapi meski begitu, itu tidak sepenuhnya salahmu." Cecilia berusaha untuk menghiburku.
"…"
"Kau saat itu sedang ada diluar dan terlambat untuk—"
"Aku tahu!"
Aku menghentikan ucapan Cecilia dengan bentakkan yang cukup keras.
"Aku tahu kalau itu bukan salahku. Tapi aku tidak bisa melepaskannya begitu saja dari pikiranku. Kau tidak akan mengerti perasaan itu!"
Cecilia hanya terdiam dan membiarkanku untuk terus berbicara. Tiba-tiba air mata keluar dari mataku tanpa kusadari. Angin kemudian menghembus lembut seakan bersimpati pada kesedihanku saat ini.
"Kau tidak akan mengerti perasaan itu. Kau bahkan bukan manusia. Kau hanya alat, alat yang diciptakan untuk kepentingan seseorang. Bagaimana mungkin alat sepertimu mengerti perasaanku! Ibuku… ibuku… tidak ada hubungannya dengan ini semua. Tapi kenapa harus dia yang jadi korbannya?! Kenapa?!"
__ADS_1
"Iraya …." Cecilia mencoba memanggilku.
"Kenapa… kenapa harus ibuku? Kenapa bukan orang lain saja? Kenapa?"
Kriiieett…
Tiba-tiba pintu menuju tangga bawah terbuka dan seseorang masuk ke dalam. Dan ternyata yang datang adalah Kurobane-senpai.
"Senpai …?"
"Satou-kun?"
Aku dengan cepat menghapus air mataku dan kemudian Senpai berjalan mendekat kearahku. Ia kemudian ikut melihat kearah lapangan sekolah dan lama menatapnya dalam diam.
"Senpai… apa yang Senpai lakukan disini?"
"Aku sudah biasa kesini. Tempat ini sepi dan aku bisa sedikit menenangkan diriku disini."
"Apa Senpai tidak takut dengan rumor kalau tempat ini terkutuk?"
Kurobane-senpai kemudian melihat kearahku. Ia lalu menunjukku dan bertanya kepadaku.
"Kalau begitu aku bertanya padamu, apa kau tidak takut dengan rumor itu?"
"Tentu saja tidak, itu hanya sebuah rumor."
Lagipula rumor seperti itu tidak akan menakutiku. Aku punya hal yang lebih menakutkan dari kutukan atau semacamnya. Kurobane-senpai pun kembali ke dalam posisi awalnya.
"Aku pun begitu, aku tidak percaya dengan hal seperti itu."
Keheningan terjadi antara kami setelah kata-kata Senpai barusan. Aku menatap Kurobane-senpai dalam diam dan kemudian dia mulai berbicara.
"Nee …."
"Iya?"
"Sepertinya kau juga punya masalah keluarga ya?"
"Itu …." Kata-kataku tergantung.
"Tenang saja! Semua orang punya masalah dalam hidupnya. Tinggal dari diri kita yang sanggup menanggapinya atau tidak."
Aku tidak menanggapi kata-kata motivasinya dan malah merenungkannya. Aku kemudian kembali berbicara.
"Senpai, aku ingin bertanya sesuatu kepadamu."
"Ada apa?"
"Apa ayah Senpai diserang oleh monster sehingga ia tidak sembuh sampai sekarang? Atau mungkin ia koma?"
"Hmm… kau ini sok tahu ya?"
"Maafkan aku jika salah."
"Tidak, kau tidak salah kok. Ada suatu peristiwa yang membuatnya seperti itu. Tapi ia bukan diserang oleh monster."
Kurobane-senpai mengingat kejadian satu tahun lalu. Dalam ingatannya terkenang jelas saat tragedi itu terjadi. Benar, saat ia tidak sengaja membuat ayahnya koma karena kekuatannya.
Saat malam hari, ia dan ayahnya baru saja pulang belanja. Mereka berdua melewati sebuah gang yang terdapat sekumpulan orang-orang yang terlihat seperti berandalan.
Kurobane-senpai dan ayahnya mempercepat sedikit jalannya, tapi mereka dihadang oleh kumpulan berandalan itu.
"Oi oi oi. Kenapa kalian buru-buru sekali? Bagaimana kalau duduk sebentar disini?"
"Maaf, tapi kami harus buru-buru… ehehe …." Ayahnya mencoba untuk tenang dan menanggapi pertanyaan dari berandalan tersebut.
"Aku tidak bicara denganmu, tua bangka! Aku bicara dengan gadis manis ini."
Berandalan itu menyamakan posisi kepalanya dengan Kurobane-senpai yang memiliki tinggi lebih pendek darinya.
"Bagaimana, manis?"
"Ahahaha! Maafkan aku karena tempat ini kotor, ayo kita pindah ke tempat yang—"
"Maksudku, aku tidak tahan jika berada dekat dengan kotoran seperti kalian."
Kurobane-senpai menatap berandalan itu dengan tatapan penuh kebencian karena ia telah menghina ayahnya.
"Apa katamu?!"
"O-oi… dia itu perempuan …."
"Diam!"
Berandalan yang diperingatkan temannya itu tidak menghiraukan perkataan temannya dan tetap mengangkat kerah baju dari Kurobane-senpai. Kurobane-senpai tidak bergeming dan masih menatapnya dengan tatapan kebencian.
Swuuushh…
Ia kemudian menjatuhkan belanjaan yang sedang ia pegang dan bersiap untuk mengeluarkan kekuatannya. Angin disekitar mulai berhembus kencang dan rambut Kurobane-senpai mulai sedikit terkibar.
"Jangan sentuh putriku!"
Saat Kurobane-senpai telah bersiap untuk menyerang, tiba-tiba ayahnya mendorong berandalan tersebut sampai melepaskan genggamannya dan jatuh.
"A-Ayah?"
"Dasar tua bangka! Oi! Hajar dia dulu!"
Para berandalan yang lain kemudian menghajar ayah Kurobane-senpai secara bersamaan. Sekitar empat sampai lima orang dari mereka mengeroyoknya. Kurobane-senpai terhempas karena orang-orang yang lebih kuat dan lebih besar tenaganya dari dirinya.
"He-Hentikan!"
"Ahahaha! Rasakan itu, tua bangka!"
"Ti-Tidak …."
Swuuushh…
Dengan air mata yang mengalir keluar dari matanya dan lirihan tipis dari mulutnya, Kurobane-senpai menghembuskan angin yang sangat kencang dan menghempaskan para berandalan itu menjauh dan terpental ke dinding-dinding gedung.
"Ayah!"
Kurobane-senpai menghampiri ayahnya yang babak belur dan kemudian membantunya berdiri. Ia kemudian merangkul ayahnya sambil membawa belanjaannya.
Tapi tanpa mereka sadari, sebuah balok yang berada diatas gedung terjatuh akibat hempasan angin yang dikeluarkan oleh Kurobane-senpai sebelumnya dan jatuh tepat diatas kepala ayahnya.
"Ayah? Ayah! Bertahanlah!"
Ia tidak bisa melupakan hal yang membuat ayahnya koma sampai sekarang. Meski para tetangga mengetahui apa yang menimpa ayahnya sebagai sebuah kecelakaan. Tapi di dalam hati Kurobane-senpai, timbul rasa bersalah yang sangat besar dan hanya ia yang mengerti perasaan itu.
"Senpai… Senpai!"
"Eh?! Ada apa?"
"Tidak … kau dari tadi melamun."
"Ah … maaf, maaf."
Aku menyadarkan Kurobane-senpai dari lamunannya. Sepertinya ia melamunkan sesuatu tentang ayahnya.
"Sepertinya kau tidak perlu terlalu memikirkannya," ucap Kurobane-senpai.
"Eh?"
"Dulu aku juga sama sepertimu saat awal-awal ayahku koma. Aku mengutuk diriku sendiri, 'kenapa tidak aku saja yang kena? Kenapa harus dia?' Kau pasti juga berpikiran seperti itu, kan? Makanya aku bilang kalau itu tidak benar.
Kita tidak bisa mengubah masa lalu, tapi kita masih bisa mengubah masa depan. Jadi tidak bagus jika kita terus-terusan mengeluh, masih ada masa depan yang harus kita ubah agar jadi lebih baik. Dan jika di suatu waktu kau merasa sangat kelelahan, kau tidak sendirian. Masih ada orang-orang yang mau mendengarkan dan tidak akan menjauh darimu. Ya, kan?" ucapnya dengan senyum manis di akhir kalimat.
__ADS_1
"Senpai …."
Kurobane-senpai berbicara panjang lebar untuk mengingatkanku.
Dia benar, aku tidak sendirian. Ada Yuuki-san yang mau menjadi sandaranku di saat aku sedih waktu itu. Ada juga Kudou dan Hira yang tetap mau berteman denganku walau aku dikucilkan oleh teman kelasku yang lain. Dan juga Herlin, orang itu meskipun menyebalkan tapi dia selalu ada dan selalu mendukungku. Aku pun menyunggingkan senyum setelah menyadari semua itu.
Kata-katanya benar-benar berhasil menyelamatkanku. Ya ampun, dia benar-benar memenuhi kriteria dari seorang primadona sekolah. Ia pun kembali melontarkan senyum manisnya.
"Tidak salah kalau Senpai menjadi primadona sekolah ya?"
Wajahnya tiba-tiba memerah dan kemudian berteriak tanpa alasan yang jelas kepadaku.
"Ap— Apa kau menghinaku?!"
"Ahaha… mana mungkin! Itu pujian tau, pujian."
"Dasar Satou-kun bodoh, bodoh! Aku menyesal telah menyemangatimu!"
Wajahnya semakin memerah saat aku bilang seperti itu. Sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi sekarang.
"Ahahaha…"
Tanpa mereka berdua sadari, Herlin sedang menguping pembicaraan mereka sejak dari awal kedatangan Kurobane-senpai. Ia sebenarnya datang untuk menyemangati Iraya, tapi saat kedatangan Senpai, ia memilih untuk menguping dan bersembunyi.
"Sepertinya tidak ada yang bisa kulakukan lagi disini," gumam Herlin.
Sluurpp…
Herlin menguping sambil meminum kopi susu kalengan yang ia beli di vending machine.
Gaaaooo~…
Tiba-tiba notifikasi smartphone Herlin yang bernada teriakan Yuna-san dari anime Kuma Kuma Kuma Bear pun berbunyi. Ia kemudian membacanya dan ekspresinya tiba-tiba berubah menjadi serius. Setelah membacanya, ia pun bergegas untuk turun dari sana.
Sementara Iraya dan Kurobane-senpai masih berbincang dan bersenda gurau sambil menunggu bel istirahat selesai berbunyi. Tiba-tiba secara bersamaan notifikasi dari masing-masing ponsel mereka berbunyi.
Tiing… Tiing…
Kami berdua memeriksanya dan setelah membacanya kami saling bertatapan dengan ekspresi serius.
"Satou-kun, ini …."
"Ya, benar sekali. Kita mendapat misi dari Murasaki-san."
**
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku dan Kurobane-senpai langsung berangkat menuju Haiiro Cafe. Murasaki-san telah menyuruh kami untuk berkumpul disana.
Saat tiba disana, kami berdua langsung masuk ke ruangan Oita-san dan terdapat Herlin dan juga Murasaki-san.
"Pulangmu cepat juga ya, Herlin?"
"Ya begitulah."
"Jadi semuanya telah disini. Kalau begitu aku akan segera memulai pembahasan misi kali ini."
Murasaki-san kemudian memulai pembicaraannya. Ia terlihat sangat serius dalam misi kali ini. Tidak seperti misi-misi sebelumnya.
"Sebenarnya apa yang akan kita lakukan sekarang?"
"Kita akan menghancurkan bahan eksperimen dari Ayakashi Corp."
"Bahan eksperimen? Apa ada yang seperti itu?" tanyaku.
"Ada."
"Eh?"
Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam ruangan ini. Ia terlihat seperti seseorang yang habis berperang dengan banyak luka dan perban di sekujur tubuhnya. Bahkan telapak tangan kirinya sampai lengan semuanya tertutup dengan perban.
"Ishikawa-san?! Apa kau baik-baik saja?!"
"Bukankah sudah kubilang untuk istirahat dirumah saja, Ishikawa-san," ucap Murasaki-san.
"Yah, aku tidak bisa melewatkan pertemuan penting seperti ini tau. Aku juga masih bagian dari organisasi ini. Tentu saja aku akan datang!"
Ishikawa-san meskipun dengan luka seperti itu ia masih bersemangat seperti biasanya. Jiwa mudanya benar-benar belum mati.
"Jadi apa yang harus kami lakukan untuk menghancurkannya?" tanya Herlin.
"Dari yang sudah Ishikawa-san temukan, manusia-manusia eksperimen itu—"
"Ma-Manusia?!" Kurobane-senpai terkejut ketika Murasaki-san menyebutkan kata-kata 'manusia'.
"Benar, mereka menggunakan manusia untuk menjadi bahan eksperimennya. Jadi seperti yang aku bilang tadi, para manusia itu hanyalah manusia biasa di dalam tabung kaca sebelum ia disuntikkan sesuatu ke dalamnya. Jadi pastikan untuk menghancurkan mereka sebelum mereka berevolusi."
"Jadi… kita akan membunuh manusia?" ucapku.
"Tidak usah terkejut seperti itu."
"Herlin?"
"Ini adalah konsekuensi yang harus kau lakukan ketika sudah berada di sisi dunia ini. Cepat atau lambat kau akan segera membunuh manusia. Dan itu pasti."
"…"
Aku dan Kurobane-senpai hanya diam saja setelah Herlin berbicara seperti itu. Memang benar kalau ada manusia yang bersalah yang pantas untuk diberi hukuman, tapi untuk mereka yang bahkan tidak tahu-menahu soal hal seperti ini…
Aku langsung membayangkan wajah ibuku saat berpikir manusia tak bersalah yang menjadi korban.
"Iraya …." Cecilia memanggilku.
"Eh?"
"Semua akan baik-baik saja. Percaya kepadaku."
Benar. Semua akan baik-baik saja. Aku hanya harus menyelesaikannya secepat mungkin. Aku mengepalkan tanganku dengan erat dan membulatkan tekad di dalam hatiku.
Herlin yang melihatku bernafas berat dan sedikit berkeringat kemudian memegang tanganku.
"Eh?"
"Eh?!"
"Ehhh?!! Tu-Tunggu sebentar! Apa yang kau lakukan Herlin?!"
Wajahku memerah saat ia tiba-tiba memegang tanganku. Aku mencoba mengibas-ngibaskan tanganku dengan kuat dan akhirnya ia melepaskan genggamannya.
"A-Apa yang kau lakukan tiba-tiba?!"
"Tanganmu dingin tadi, jadi aku ingin menghangatkannya," ucap Herlin datar.
"Bukan itu masalahnya! Kau ini bodoh, kah?"
"Pfft… Ahahaha! Ekspresimu lucu sekali, Satou-kun! Aku tidak bisa menahannya."
"Senpai?!"
"Enaknya masa muda~"
"Ishikawa-san juga?!"
Kurobane-senpai dan Ishikawa-san malah tertawa mengejekku yang sedang kebingungan. Ahh! Herlin ini benar-benar bodoh. Murasaki-san tanpa kami semua sadari kemudian tersenyum tipis.
"Kerja yang bagus, Herlin-chan," gumamnya.
Setelah pertemuan itu, pada malam harinya kami semua kembali berkumpul di Haiiro Cafe untuk melaksanakan misi.
__ADS_1
Bersambung