Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 43 : Unique Skill


__ADS_3

Pertandingan kedua telah berakhir. Tapi sekarang bukan itu yang menjadi fokus utama ku. Karena sekarang aku berhasil mengungkap siapa Exception misterius yang menyembunyikan keberadaannya di sekolah, sekaligus juga menyelamatkanku dulu.


"Kau juga sempat bilang kalau merasakan Exception di sekolah, kan?"


"Benar, aku merasakannya."


"Kalau begitu itu mungkin saja dia. Dan nama 'Kurobane Mei' adalah nama yang pernah ku dengar di sekolah."


"Hmm ...."


Herlin kemudian mengalihkan pandangannya ke Kurobane Mei yang berada dalam posisi lemas, perempuan itu terlihat masih tak percaya kalau dirinya telah kalah dari Oukami. Dia menunduk cukup lama dan tangannya mengepal keras.


Tapi pada akhirnya, ia berjalan meninggalkan arena perlahan sambil tertunduk lemas. Tidak ada yang memperdulikannya. Semua perhatian tertuju pada Oukami — bahkan yang mengejeknya sebelumnya juga sudah tidak lagi peduli.


"Kasihan sekali." Herlin tiba-tiba berbicara.


"Hn ...? Kenapa tiba-tiba kasihan?"


"Tidak ada. Tapi jika dia benar-benar adalah teman sekolah kita, mari pastikan untuk menyambutnya dengan sambutan hangat."


"Ba-Baik." Ada apa dengannya tiba-tiba begitu. Aneh sekali.


Beberapa saat setelah pertandingan kedua selesai. Arena pertarungan juga sudah disterilkan dan siap untuk kembali digunakan. Dengungan mic lalu menggema di ruangan ini dan Mitsu dengan semangat langsung menyambut pertandingan ketiga.


"Ya, semuanya! Apa kalian siap untuk pertandingan ketiga?!"


"YEEEAAHHHH !!!"


Suara penuh semangatnya benar-benar dapat menggerakkan seisi ruangan ini. Awalnya aku memang meragukan seorang wanita mengisi jalannya pertandingan, tapi ternyata setelah mendengarnya, aku sekarang tahu kenapa dia jadi komentator.


Ngomong-ngomong, tidak ada istirahat sama sekali, ya? Padahal dua pertandingan sebelumnya sudah cukup menegangkan. Apalagi pertandingan pertama — ekhem ... aku menang, by the way.


"Oh iya, Herlin, apa kau tahu hari ini akan diadakan berapa pertandingan?


"Jumlah peserta tahun ini adalah tiga puluh dua, berarti akan ada enam belas pertandingan tanpa henti sepanjang hari. Dan esok harinya kita sudah masuk ke babak enam belas besar."


"Benar-benar barbar sekali. Dan juga lumayan banyak."


Lalu semua pertandingan dibawakan oleh Mitsu. Bicara tentang kekuatan untuk tetap menjaga perhatian penonton agar tetap semangat untuk menonton semua pertandingannya. Yah ... dia memang punya rekan, sih. Tapi ....


Aku kembali mengingat pertemuan aneh ku dengan perempuan rambut putih itu — kalau tidak salah Caramel namanya. Membayangkan wajah polos dan suara lembut miliknya, aku merasa kalau akan sangat sulit baginya untuk mengimbangi semangat membara yang dibangun oleh Mitsu.


"... Urushihara?"


Mengingat dia salah memanggil namaku padahal dia juga yang menyebutnya sebelum pertandingan, secara aneh membuatku bersyukur. Ternyata masih ada orang yang jauh lebih bodoh dariku.


"Tidak, tetap kau yang paling bodoh." Cecilia tiba-tiba mematahkan pemikiran positif ku.


"Kenapa kau tidak membiarkan sedikit pun kepercayaan diriku meningkat, sih?"


Kemampuan pembacaan pikiran serta pemilihan kata menusuk hati miliknya membuatku kadang-kadang ingin mendorongnya keluar dari tubuhku. Meskipun pada akhirnya aku mengubur semua keinginan itu karena di sisi lain dia juga membantuku dalam banyak hal.


Saat aku sedang menghadapi krisis eksistensial akibat ucapan Cecilia, tiba-tiba suara seseorang menyadarkan ku dan memanggilku dari belakang. Oh! Aku kenal suara ini. Suara yang baru-baru ini aku dengar.


"Yo! Satou-kun." Dan setelah berbalik badan, ternyata benar dugaanku kalau yang memanggil adalah lawanku sebelumnya, Hayate Kendou.


"Hayate-san? Apa luka-lukamu sudah sembuh? Dan juga ada urusan apa?"


"Tidak ada, sih. Di ruang kesehatan sangat membosankan, jadi aku memutuskan untuk jalan-jalan. Dan untuk lukaku, tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena tidak ada yang serius di sana."


"Syukurlah."


Yap. Syukurlah. Karena di akhir-akhir pertandingan itu aku sempat kelepasan dan tidak sengaja menyerang Hayate-san dengan kekuatan Elemental listrik yang membuatnya terpental jauh keluar arena.


"Ngomong-ngomong, tadi kau masih menahan diri, ya? Serangan terakhir yang kau lancarkan rasanya sangat berbeda dengan serangan-serangan mu sebelumnya."


Gawat! Dia menyadarinya. Hayate-san bahkan terlihat penasaran dan menunggu jawabanku dengan tidak sabar. Aku harus menjawab sesuatu, supaya kemampuan asliku tidak terungkap sedini ini.


"Ti-tidak, kok. K-kau tahu ... itu, lho. Karena pergerakanku yang sangat cepat jadi menimbulkan efek terbakar dan panas. I-itu membuatmu kepanasan dan terpental."


"Hnm?"


Sialan. Aku malah terbata-bata membuat Hayate-san semakin curiga. Bahkan butir keringat kekhawatiran muncul di dahiku, tapi beruntungnya Hayate-san memutuskan untuk tidak menekanku lebih jauh dan membiarkanku lepas untuk kali ini.


"Aku mengerti. Semua orang punya rahasianya masing-masing, jadi akan ku anggap kalau aku tidak melihat apa-apa tadi."


"Te-terima kasih banyak ...."

__ADS_1


Entah kenapa aku bersyukur saat dia bilang begitu. Beruntung Hayate-san adalah seseorang yang pengertian dan bisa diajak kerja sama. Aku tidak tahu lagi jika dia membocorkannya ke lawanku selanjutnya.


"Memangnya ada apa dengan hal 'menyembunyikan kekuatanmu ini'? Kau tidak perlu melakukannya sejauh ini, kan?" Cecilia bertanya.


"Berisik."


Dasar makhluk yang tidak tahu perasaan manusia. Ia mungkin tidak pernah merasakan ketika seseorang sedang berada pada tingkat percaya diri tertingginya karena merasa sudah menang. Tapi tiba-tiba musuhnya yang hampir kalah itu mengeluarkan kekuatan tak masuk akal lalu mengalahkannya.


Perasaan ketika harapannya yang sudah melambung tinggi lalu dijatuhkan secara tak manusiawi. Ekspresi mereka benar-benar kesukaanku.


"Aku merasa kalau aku tidak ingin mengerti perasaan manusia yang satu itu," gumam Cecilia.


"Dasar makhluk kuno tak tahu fashion."


"Sepertinya sedang membayangkan sesuatu yang seru, ya, Satou-kun?"


"Eh?! Ahh ... tidak, kok. Maaf karena mengabaikan mu begitu, Hayate-san. Aku hanya sedang menyusun rencana untuk pertandingan ku selanjutnya. Hanya itu saja."


Lagi-lagi kelepasan berbicara dengan Cecilia di depan orang asing. Aku benar-benar harus waspada ketika bicara dengannya. Ayo hiraukan semua ocehannya, ayo hiraukan semua ocehannya.


"Kalau begitu berjuanglah, Satou-kun. Jadilah juara satu karena sudah mengalahkanku, ya?"


"Aku tidak bisa janji, tapi akan ku usahakan."


Kami berdua masuk ke dalam obrolan yang asyik cukup lama dan tanpa sadar meninggalkan Herlin sendirian. Jika aku tidak melirik ke arahnya yang memperhatikan kami dalam diam, mungkin kami berdua tidak akan sadar dengan keberadaannya.


"Ahh ... Aku hampir lupa denganmu, Ririsaka-san. Senang bertemu denganmu lagi."


Tapi Herlin tidak menyapanya balik. Sepertinya Herlin masih marah dengan kekalahannya dua tahun lalu. Ia juga menatap kami berdua dengan cukup sinis.


"A-aku diabaikan, ya?"


"Ma-maafkan dia, Hayate-san. Aku rasa dia masih marah dengan kekalahannya dua tahun lalu."


Tapi dia langsung menatapku sinis dan membuat bulu kudukku merinding. Sepertinya aku memang benar, hanya saja dia tidak ingin membahasnya. Tapi pada akhirnya Herlin menjawab sapaannya, meskipun dengan balasan yang cukup aneh.


"Senang bertemu denganmu juga, Orang-yang-mengalahkanku-dua-tahun-lalu-tapi-jika-bertarung-lagi-aku-akan-mengalahkanmu-dengan-telak-san."


"Tuh kan, masih kesal."


"Itu semua di masa lalu. Aku juga yakin sekarang kau sudah berkembang jauh. Jadi mari kita lupakan saja hal itu, ya?"


"Ngomong-ngomong pertandingan tadi benar-benar membuatku terkejut, lho. Padahal aku sudah sangat yakin dengan kekuatanku dan mengira akan menang mudah, tapi sepertinya kepalaku terlalu besar. Ahahaha ...."


Aku mengerti perasaannya. Jika aku tidak memiliki Cecilia dan Herlin yang memberitahuku cara untuk menghadapinya, aku mungkin tidak memiliki kesempatan sama sekali.


Tapi hal itu jadi membuatku penasaran. Dan tanpa basa basi, juga langsung menanyakannya.


"Hayate-san, kalau boleh tahu kau ini Exception tipe apa?"


"Seperti yang bisa kau lihat sebelumnya, aku adalah tipe Physical Strength. Aku dapat memperkuat otot-otot di tubuhku dan mampu bergerak dengan cepat."


"Dan bagaimana dengan 'Unique Skill' itu? Kemampuan Teleportasi itu ... aku cukup yakin kalau itu tidak ada hubungannya dengan tipe Exception-mu kan?"


"Kau sama sekali tidak salah."


Ternyata dugaanku tepat. Berarti ada faktor lain yang menyebabkan seseorang bisa mendapatkan kemampuan Unique Skill. Hal yang bahkan Cecilia sendiri kurang paham tentangnya.


"Apa kau bisa memberitahukannya padaku? Bagaimana kau bisa mendapatkan Unique Skill?"


"Bisa saja, sih. Tapi bahkan aku sendiri tidak terlalu yakin dengan bagaimana kemampuan ini muncul, jadi mungkin penjelasanku tidak terlalu jelas. Apa kau tidak keberatan dengan hal itu?"


"Sama sekali tidak! Sekecil atau setidak jelas apapun itu, informasi tetaplah informasi!"


"Wah ... entah kenapa kata-kata itu membuatku merasa de Javu." Cecilia tiba-tiba bergumam sendiri. Tapi kali ini akan aku biarkan karena ada hal yang lebih penting untuk diurus.


"Kalau begitu, aku mulai ceritanya. Kejadiannya sekitar lima tahun lalu ...."


Hayate-san kemudian mulai bercerita dan aku mendengarnya dengan seksama. Saat itu, dia bilang kalau ia sedang berjalan bersama perempuan yang memakai seragam SD tepat pada jam pulang sekolah — itu adalah adiknya.


Melewati distrik perbelanjaan yang ramai pada jam-jam sibuk, mereka berdua bergandengan tangan supaya tidak terpisah di keadaan yang penuh sesak ini.


Sejauh ini masih cerita yang normal dan belum ada sesuatu yang bisa dijadikan sebagai petunjuk. Terkadang Hayate-san juga kelepasan membicarakan hal-hal yang tidak ada hubungannya, jadi aku harus menyadarkannya kembali.


"Waktu itu, adikku masih sangat lucu dan menempel terus denganku. Ahh ... indahnya masa-masa itu." Hayate-san kembali bernostalgia. "Bahkan dia berpikir dengan keras saat aku tanya apa yang ingin dimakannya pada hari itu."


"Hayate-san, Hayate-san?! Kembali ke sini."

__ADS_1


Ini gawat. Aku harus terus menyadarkannya supaya dia tidak terbawa arus nostalgia terlalu dalam.


"Tapi selanjutnya hal yang mengejutkan ku terjadi ...."


"Apa itu?"


"Setelah dia memutuskan untuk makan apa, aku kemudian menelepon orang tuaku di rumah. Tapi saat itu aku kehilangan pandangan pada adikku, dia teralihkan oleh kupu-kupu yang terbang di depannya lalu pada akhirnya mengejarnya sampai ke tengah jalan."


"Berkat teriakan seseorang, aku berhasil sadar tapi keadaannya sudah lumayan terlambat. Sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya dan adikku hanya bisa terdiam," lanjutnya.


"L-lalu apa yang terjadi?"


Dia mendongak ke atas sebelum melanjutkan ceritanya. "Di sinilah kejadiannya menjadi aneh, aku yang sedang panik tanpa pikir panjang langsung melesat menuju adikku tanpa menengok ke kanan dan kiri. Lalu aku melompat. Tiba-tiba dekapanku dapat mencapai adikku serta menghindarkan kami berdua dari kecelakaan."


"Saat itu kau tidak tahu apa yang terjadi?" Tiba-tiba Herlin masuk ke dalam pembicaraan kami.


Meskipun masih dengan sedikit sikap acuh tak acuh, tapi pembicaraan ini terlalu menarik untuk dilewatkan bahkan untuk dirinya jadi dia tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut mengobrol. Dan Hayate-san tersenyum dengan hal itu.


"Ya, aku masih tidak mengerti bahkan terkejut dengan diriku sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa aku benar-benar menyelamatkannya? Pertanyaan-pertanyaan itu sempat terbesit di dalam benakku. Tapi ketika aku melihat adikku yang menangis keras di pelukanku, dan masih bernafas, aku merasa kalau itu semua tidak penting."


Dan cerita Hayate-san selesai sampai di sana. Semenjak saat itu ia selalu melatih kemampuan barunya sampai menguasainya. Tapi bagiku, kejelasan ceritanya masih sangat kurang. Itu terjadi begitu saja, secara acak, dan terlalu tiba-tiba.


Aku bahkan tidak bisa menyimpulkan hasil apapun dari cerita Hayate-san barusan. Kemudian aku memangku dagu untuk membantu ku lebih konsentrasi dalam berpikir, siapa tahu itu berpengaruh.


"Jangan sok berpikir, aku tahu kau tidak mengerti apapun." Tapi Herlin mengomentari ku yang sedang diam berpikir, lagi-lagi menusukku dengan panah imajiner.


"Gkkh ...! Kalau begitu, apa kau bisa mengambil sesuatu dari ceritanya?!" Sialan. Bukannya membantu, dia malah membuatku terlihat seperti orang bodoh. Meskipun aku memang tidak mengerti apapun, sih.


"Entahlah." Dia juga tidak mengerti! Lalu kenapa dia seenaknya menyebutku bodoh?! "Ngomong-ngomong, apa itu memiliki efek samping?" lanjut tanya Herlin.


"Tentu saja ada. Setelah kejadian itu, aku mencoba melakukannya lagi sebagai eksperimen. Tapi setelah itu, aku merasakan pusing dan mual yang hebat di kepala dan perutku."


"Apa kau merasakan sesuatu saat kau tiba-tiba bisa ber-teleportasi seperti itu?"


"Hmm ...." Dia kembali berpikir. "Sepertinya aku merasakan seperti sebuah kobaran api tiba-tiba muncul di alam bawah sadarku."


"Kobaran api?"


"Aku juga tidak begitu mengerti. Tapi aku seperti melihat ruangan hitam yang gelap gulita, lalu di tengahnya terdapat kobaran api yang awalnya kecil menjadi semakin tak terkontrol."


Kobaran api? Itu bahkan tidak ada hubungannya dengan kemampuan Hayate-san yang seorang Physical Strength. Sialan. Ini percuma saja. Semuanya menjadi lebih memusingkan daripada yang aku duga. Petunjuk-petunjuk yang diberikan Hayate-san malah membuatku semakin tersesat.


"Kau masih perlu lebih banyak petunjuk lagi," ucap Cecilia.


"Hah ... Ya, kurasa kau benar."


Pembicaraan kami pun selesai dan tidak lupa mengucapkan terima kasih pada Hayate-san. Meskipun ia juga minta maaf karena penjelasannya kurang bisa dimengerti, tapi aku memakluminya. Karena lebih baik memiliki peta yang berantakan daripada tidak memiliki peta sama sekali.


**


Seluruh pertandingan telah selesai hari ini. Para peserta yang melaju ke babak selanjutnya bisa menggunakan kamar yang disediakan untuk peserta, lokasinya berada satu lantai di atas arena.


Dan di sinilah aku berada. Berbaring di kasur sambil memandangi langit-langit. Waktu juga belum terlalu larut dan tidak ada yang bisa aku lakukan, jadi aku memanfaatkan waktu-waktu senggang itu untuk tiduran tak melakukan apapun.


"Hayate-san ... Teleportasi ... Adiknya ... Kobaran api ...."


Petunjuk bagai kepingan puzzle itu terbayang di kepalaku saat ini. Jika Hayate-san mendapatkannya saat ingin menyelamatkan adiknya, lalu kenapa itu tidak berlaku saat Ibu diserang waktu itu? Argh ...! Menyebalkan!


"Semuanya terlalu tidak jelas!" Aku putus asa dan kakiku menendang-nendang kasur. "Hei, Cecilia, apa kau benar-benar tidak tahu soal ini?"


"Aku mencoba menyelam dalam ingatanku, tapi masih belum menemukan sesuatu. Mungkin penyebab seseorang bisa mendapatkannya berbeda-beda."


"Kalau benar begitu, informasi Hayate-san jadi tidak berguna, dong."


Yah ... tidak ada gunanya juga untuk berpikir sekarang, mungkin aku akan menemukannya seiring berjalannya waktu. Mungkin.


Pada akhirnya, aku memutuskan untuk beristirahat dan memejamkan mataku. Tapi tepat beberapa detik sebelum aku masuk ke dalam mode tidur, seseorang tiba-tiba mengetuk pintu.


"Hngh?! Siapa pula coba yang datang jam segini?"


Dengan malas, aku bangun dan meraih pintu lalu membukanya. Entah itu Herlin atau Oita-san, aku akan memarahi siapapun yang datang ke kamarku jam segini. Tidak akan segan!


"Siapa sih yang—?"


Ucapanku mengecil ketika seseorang yang berada di depan pintu bukan dua orang yang aku kira. Melainkan orang asing — yah, tidak terlalu asing, sih. Tapi tetap saja sangat aneh jika dia datang ke kamarku. Dan pada jam segini pula.


"C-Caramel-san? Apa kau memiliki urusan denganku malam-malam begini?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2