Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 123 : Pertarungan Di Dalam Tenda Sirkus


__ADS_3

Kejadian aneh terjadi di sekitar trio Black Rain dan mereka terjebak di dalamnya. Yang awalnya mereka berada di luar ruangan kini mereka berada di semacam tenda sirkus dengan diameter hampir 30 meter.


Mereka adalah yang disebut sebagai pasukan marching band. Tanpa senjata api, tombak, ataupun pedang. Yang mereka miliki saat ini hanyalah alat musik. Dengan rupa menyerupai boneka kayu manusia dengan wajah manusia dan mulut yang memiliki baut agar mereka dapat memainkan terompet.


Tabuhan berbagai jenis drum, terompet, dan alat musik lainnya mulai berbunyi dan melantunkan lagu yang tidak asing jika berada di tempat seperti ini.


Entry of The Gladiators dari Julius Fucik.


Atau yang biasa dikenal sebagai musik tema utama untuk sirkus berkumandang dengan sangat keras dan memulai para pasukan kartu remi seukuran manusia dewasa untuk berjalan kompak ke arah mereka bertiga.


Seharusnya lantunan musik ini menjadi musik yang menyenangkan yang biasa di dengarkan di televisi, tapi tidak bagi trio Black Rain saat ini. Seolah musik ini mengiringi mereka ke arah kuburan mereka sendiri, yaitu tempat ini.


"Selamat datang di Tenda Sirkus milikku!"


Lennova membuka kedua tangannya selebar-lebarnya seakan menandakan kalau ia sudah memenangi pertarungan ini. Tapi memang tidak bisa dipungkiri kalau Lennova memiliki keuntungan di sini. Wajah cemas dan bingung dapat terlihat jelas dari mereka bertiga saat ini.


"Sekarang ... apa yang akan kalian lakukan? Nimis dan Ardenter." Seringai puas dan ucapan kecil dari Lennova mengakhiri kata-kata sambutannya untuk memulai Tenda Sirkus ini.


"Apa yang sebenarnya terjadi di sini?!" Mei mengeraskan suaranya. Agar suaranya tidak kalah dengan musik yang sedang diputar saat ini.


"Kita berada di dalam area miliknya. Ini adalah representasi dari kekuatan Lennova dan semua jebakan dan pasukan ini juga merupakan buatannya," jelas Nigiyaka


"Apa? Bagaimana dia bisa melakukannya? Bukankah ini memerlukan energi yang sangat besar?"


"Apa kau lihat apa yang dilakukan kakek tua tadi?"


Akihito tiba-tiba masuk ke dalam pembicaraan mereka berdua, membuat Mei berpikir dan mengingat kejadian sebelumnya. Dan setelah merenungkannya, ia terkejut dengan fakta yang ia temukan.


"Jangan-jangan?!"


"Tepat seperti yang kau pikirkan. Tidak mungkin anak kecil seperti dia bisa melakukan teknik sehebat dan sebesar ini. Tentu saja kakek tua tadi membantunya, lagipula itu juga salah satu kemampuannya."


Pikiran Mei berhasil ditebak oleh Akihito. Tapi karena hal itu pula, Mei jadi penasaran dengan kekuatan kakek tua itu— Ivis, dan menanyakannya kepada Akihito ataupun Nigiyaka yang bisa bantu menjelaskan.


"Sederhananya, ia mengalirkan sebagian besar aura miliknya untuk mengaktifkan kemampuan terbaik bagi orang yang ia salurkan. Dengan begitu, dia bisa melakukan teknik yang sangat melelahkan ini. Dan terlebih lagi, merepotkan untuk kita."


"Itu ... curang sekali."


Nigiyaka mengeluarkan seringai. "Hehe ... tidak ada kata curang dalam pertarungan, Mei. Ini soal dibunuh atau membunuh, itu adalah prinsip yang harus diketahui oleh semua Assassin."


"Benar. Dan langkah pertama yang harus kau lakukan adalah menunduk."


"Eh? Menunduk?"


"Cepat!"


Mei yang masih bingung dengan perintah tiba-tiba dari Akihito dengan cepat menunduk. Pikirannya yang masih bingung berlawanan dengan tubuhnya yang menuruti perintah Akihito.


Tapi berkat itu juga, Mei berhasil menghindari serangan tombak manusia kartu. Dan sebagai balasannya, Akihito langsung melancarkan tinju mentahnya ke tubuh atau kepala manusia kartu itu.


Tidak ada yang bisa membedakan kepala atau tubuh jika dilihat dengan sekilas karena wajah manusianya berada di atas tengah kartu itu tanpa memiliki leher, jadi yang jelas Akihito memukul wajah manusia kartu itu sampai terpental cukup jauh.


Tapi memukul satu manusia kartu tidak cukup untuk menghentikan yang lainnya, mereka seperti tanpa emosi berjalan melewati sesama spesiesnya yang baru saja dipukul jatuh oleh Akihito. Dan yang dipukul oleh Akihito pun kembali berdiri.


"Se-sepertinya mereka bukan manusia," ucap Mei.


"Dari penampilannya saja juga sudah tahu, kan? Ayo kita naik ke tempat yang lebih aman."


Kami bertiga kemudian melompat tinggi, mencoba menaiki salah satu tribun yang kosong. Tapi Lennova tidak membiarkan kami dengan mudah, ia tentu saja punya cara lain untuk menghalanginya.

__ADS_1


"Kalian pikir kalian mau kemana?"


"Awas!"


Akihito mendorong kepala Mei agar ia menunduk sementara Nigiyaka punya refleks yang cukup cepat untuk menunduk dengan kemauannya sendiri. Beberapa pisau terlempar secara bersamaan ke arah mereka dari arah yang tidak mereka duga.


Kali ini adalah dari para monyet-monyet sebelumnya, mereka melempari mereka bertiga dengan pisau tanpa henti. Monyet-monyet ini tidak seperti monyet kebanyakan. Meskipun rambut dan bulu yang menutupi seluruh tubuhnya normal, tapi matanya keseluruhan merah yang membuatnya berbeda dari yang lainnya.


"Mereka juga menyerang kita?!"


"Jangan lengah sedikitpun!"


Nigiyaka mendorong Akihito dan Mei turun ke tribun dan meninggalkan dirinya sendiri di udara saat ini. Bukan tanpa alasan, karena dia saat ini digempur dengan banyak pisau dan batang kayu besar.


Batang kayu yang besar itu melebihi tubuh monyet-monyet kecil itu. Jadi tidak mungkin kalau mereka yang melemparnya, Nigiyaka melihat ke sekelilingnya dan menyadari kalau yang melemparnya adalah para gajah. Sama dengan para monyet, mata para gajah itu juga berwarna merah.


Nimis membalik katananya dan menyerang dengan sisi tumpul katananya. Ia kemudian menghempaskan kembali batang kayu itu dengan kekuatan penuh ke para gajah yang melemparnya.


Ada lima batang kayu besar yang mengarah kepadanya dan sebanyak itu pula ia menghempaskannya. Pisau-pisau sebelumnya juga menusuk ke batang kayu yang dihempaskan oleh Nigiyaka dan membuatnya sementara aman.


Akurasi yang baik serta kekuatan yang cukup membuat batang kayu itu berbalik menghantam para gajah. Beberapa dari mereka jatuh kesakitan dan beberapa lainnya marah. Para monyet juga melompat-lompat murka dan berteriak marah ketika tahu serangannya gagal.


Sementara Nigiyaka kini mendarat di atas tribun di samping Akihito dan Mei.


"Apa itu berhasil?"


"Entahlah. Aku sendiri tidak yakin kalau mereka itu hewan asli." Nigiyaka melihat kebawah ke kerumunan manusia kartu dan para hewan. "Kita kesampingkan hal itu dulu. Akihito, aku ingin kau mencoba sesuatu."


"Apa itu?"


"Aku ingin kau mencoba untuk menghancurkan dinding tenda ini."


"Kita akan keluar dari sini."


"Keluar? Apa itu mungkin untuk dilakukan?"


"Itulah yang ingin aku coba. Mungkin dinding tenda ini terlihat terbuat dari kain biasa, tapi jika kau perhatikan lebih baik lagi, ini bahkan lebih keras dari baja."


Nigiyaka mencoba mengetuk beberapa kali dinding tenda itu dan muncul suara seperti sedang mengetuk besi. "Terlebih lagi, aku punya firasat buruk kalau kita lama-lama berada di dalam sini."


"Akan kucoba."


Akihito kemudian menghadap dinding tenda itu, ia memfokuskan auranya di kepalan tangannya. Aura besar berwarna keabu-abuan kini mengelilingi tinju Akihito.


"HAAAHHH !!!"


Suara keras bergema karena getaran keras antara pukulan dengan dinding tenda. Aura yang berada di tangan Akihito menghilang sesuai keinginannya dan muncul asap di dinding tenda. Tapi sayangnya itu bahkan tidak tergores, semuanya terlihat seperti baru dan seperti tidak terjadi apa-apa.


"Seperti yang sudah kuduga. Memang tidak akan semudah itu."


"Apa yang sedang kalian pikirkan?" Lennova hanya berdiri di bagian tribun lainnya. "Jika kalian pikir tenda sirkus ini bisa dihancurkan, lebih baik menyerah saja. Aku sudah membuatnya tidak bisa dihancurkan kecuali atas kemauanku sendiri."


Lennova mengatakan itu dengan bangga dan tanpa ditutup-tutupi. Seringai juga ia pancarkan ketika trio Black Rain melakukan percobaan putus asa seperti tadi. Dia sangat percaya diri atas kemenangannya saat ini, karena ini adalah teknik rahasia yang tidak terkalahkan.


Ivis kemudian berjalan ke samping Lennova. Ia baru terlihat setelah beberapa saat lalu hilang entah kemana. "Lennova, kau tidak boleh bergerak dulu," ucapnya.


"Aku tahu. Aku hanya jalan beberapa langkah saja, tidak lebih. Sisanya akan aku serahkan pada boneka-boneka buatanku."


Ivis melirik ke arah tangan dan kaki Lennova dalam diam. Kedua alat geraknya itu bergetar hebat seolah mengatakan kalau ia tidak kuat untuk bergerak. Tapi ekspresi yang dikeluarkan Lennova seolah menutupi getaran hebat pada tangan dan kakinya.

__ADS_1


Ia telah mengeluarkan energi yang sangat banyak, bahkan meminjam aura milik Ivis yang belum tentu cocok dengan dirinya untuk membuat tenda sebesar ini. Belum lagi berbagai macam pasukan boneka yang ada di dalamnya. Jadi wajar kalau tubuhnya sudah lelah untuk digerakkan.


Tapi Ivis menyimpan pikiran itu untuk dirinya sendiri, lagipula trio Black Rain tidak tahu dengan rahasia kecil itu.


"Sekarang akan aku buat kalian lebih putus asa! Semuanya, habisi mereka!"


Teriakan perintah itu membuat semua boneka Lennova seakan dicambuk untuk menuruti perintahnya. Mereka menjadi lebih agresif untuk menyerang trio Black Rain.


Permainan pasukan marching band temponya menjadi lebih cepat. Seolah memancing yang lain untuk bergerak lebih cepat dan lebih semangat dari yang sebelumnya.


Para manusia kartu yang awalnya berbaris rapi dan berjalan teratur mendekati trio Black Rain, kini mereka berlomba untuk naik ke atas tribun dan ingin secepatnya menyerang mereka.


Tidak ada tangga dari bawah untuk menaiki tribun di atas, jadi mereka berbaris dan saling bertumpukan agar spesies mereka yang lainnya dapat naik dengan memanjat tubuh mereka.


Para hewan juga tidak kalah agresif dengan manusia kartu. Monyet yang bergelantungan dari satu tali ke tali lainnya agar semakin mendekati mereka, lalu ada gajah yang bersiap untuk melempari batang kayu lainnya. Tapi dari mereka semua, ada satu hewan yang kecepatannya melebihi yang lainnya.


Di saat para manusia kartu sedang bertumpukan untuk naik ke atas, seekor singa melompat dengan lompatan yang tinggi dan kini sudah berada di atas tribun, berhadapan dengan trio Black Rain.


"Ki-kita terkepung." Mei nampak putus asa dengan pemandangan yang ada di hadapannya ini. Tapi saat dia sudah hampir kehilangan harapan, Akihito menerjang ke depan ke para manusia kartu yang sedang bertumpukan menjadi tangga.


"Eh?"


Ia mengumpulkan aura di tangan kanannya, lalu memukul bagian tribun yang dekat dengan ujung bawah. Pukulan itu menghasilkan suara retakan yang keras dan goncangan kuat pada pijakan mereka.


Tapi hal itu cukup efektif. Ujung tribun yang membuat mereka berpegangan kini ikut runtuh dan tangga daging yang mereka bangun juga langsung hancur, membuat mereka harus mengulanginya dari awal lagi.


Meskipun ada beberapa dari mereka yang sudah berada di atas tribun, tapi jumlahnya bukan masalah daripada yang sedang jatuh ke bawah.


"Masih terlalu cepat untuk menyerah. Aku akan mengurus para sialan ini. Kalian urus bagian lainnya." Setelah bicara seperti itu, Akihito terjun ke bawah dan para manusia kartu yang sudah naik juga ikut turun ke bawah.


"Maju kalian semua, keparat!"


"Akihito benar. Aku juga tidak berencana untuk kalah di sini. Aku akan urus singa ini, kau urus yang ada di udara, apa kau mengerti?"


"A-aku? Tapi bukankah kau bilang kalau aku hanya menonton saja kali ini?"


"Situasinya sudah berubah. Sekarang kami benar-benar membutuhkan bantuanmu, jadi kau urus para monyet dan gajah itu, apa kau mengerti?"


Nigiyaka kembali mengulangi pertanyaannya. Mei sebenarnya ragu akan kemampuannya sendiri, tapi keraguan itu ia telan dalam-dalam dan hanya tatapan serius yang kini ada di wajahnya.


"Aku mengerti."


Tanpa basa basi, Mei langsung berlari sampai ke ujung tribun dan melompat tinggi. Saat di udara, ia memfokuskan aura dan membuat sebuah dua penopang angin yang berputar di bawah kedua telapak kakinya yang membuatnya tidak jatuh melainkan melayang di udara.


"Akulah lawan kalian!"


Sementara Lennova yang memperhatikan itu tidak terkejut maupun tertarik sama sekali. "Heh ... jadi dia bisa terbang. Tapi kurasa kata 'terbang' tidak cocok dengannya, ia hanya menjadikan elemen anginnya sebagai pijakan untuk kakinya. Ya, terserahlah. Aku rasa dia bukan masalah besar," gumamnya.


Pertarungan masing-masing mereka bertiga pun dimulai. Akihito di bagian bawah mengacak-acak para manusia kartu yang mencoba mengepungnya, kecepatan dan amukannya terlalu hebat untuk para manusia kartu itu.


Sementara di bagian tribun, Nigiyaka juga tidak mengalami kesulitan berlebihan melawan singa yang memiliki kelincahan dan daya serang yang lebih tinggi. Meskipun mereka juga mengepung dan terus menyerang Nigiyaka secara bersamaan.


Lalu terakhir di udara, monyet-monyet yang bergelantungan dan lemparan batang kayu serta batu dari para gajah dapat dihindari dengan cekatan oleh Mei. Kecepatan serta koordinasi dalam mengatur arah saat ia terbang terlihat sangat baik seolah ia memiliki sayap di punggungnya.


Pemandangan yang jelas-jelas berpihak pada Black Rain seharusnya membuat Lennova marah. Ivis juga menyadari hal itu, tapi saat ia melihat wajah Lennova, tidak ada rasa kesal atau frustasi yang berlebih— Walaupun wajah seriusnya belum sama sekali hilang.


Ia memegang dagunya seolah sedang memikirkan sesuatu. "Lennova, sepertinya ini—" Ivis mencoba untuk mengajaknya berbicara, tapi dengan cepat dipotong oleh Lennova. "Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi mereka masih belum menyadarinya. Tenang saja."


Tanpa sadar mulut Lennova menyeringai. "Meskipun pemandangannya seakan kita akan kalah, tapi ini hanya soal waktu. Ini benar-benar hanya soal waktu. Setelah itu mereka akan habis. Pengkhianat dan anggota Black Rian itu akan tamat."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2