Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 30 : Bertemu Orang Aneh


__ADS_3

Dengan rentetan ledakan yang tiba-tiba terjadi membuat keadaan Mall menjadi panik dan langsung berantakan. Para pelanggan yang berada di dalam dengan paniknya mencoba menyelamatkan diri mereka dengan berlari keluar secepat mungkin.


Sementara ada beberapa orang dengan berpakaian dan bersenjata lengkap malah masuk tanpa rasa takut. Di antara mereka semua, yang paling depan memiliki penampilan rambut putih urakan dengan jaket serta celana kulit hitam.


"Keluarlah inang Subject C! Aku tahu kau ada di dalam! Keluarlah atau aku akan membunuhmu!" teriak Ardenter.


Ardenter mengetahui kalau kedua targetnya bersembunyi di dalam ruangan ganti baju di dalam outlet baju ini. Di bawah perintah Ardenter, pasukan bersenjata lainnya juga sudah bersiap dan mengerubungi ruangan ganti baju itu.


"Mereka berdua tidak mau keluar, Ardenter-sama," ucap salah satu pasukan bersenjata itu.


"Diamlah dan terus waspada!"


"Baik!"


Ardenter sudah memastikan kalau hanya ada dua orang di dalam. Tapi ia merasakan beberapa aura lain yang membuat ia ragu untuk bertindak gegabah langsung menyerangnya.


Rencananya kali ini adalah memberikan mereka ultimatum dan jika mereka berdua tidak keluar juga, pasukan bersenjata akan langsung menembaki mereka.


Sementara Herlin dan Iraya yang saat ini masih berada di dalam ruangan ganti baju itu belum bergerak sambil waspada dengan semua keadaan yang bisa terjadi saat ini.


***


Aku yang masih belum mengerti situasi yang terjadi saat ini hanya bisa berandai-andai apa yang terjadi, dan kemungkinan terbesar adalah mereka ingin mengambil kembali Cecilia yang berada di dalam tubuhku.


Aku menggenggam bajuku erat dan bertekad apapun yang terjadi Cecilia tidak boleh diambil kembali oleh mereka, karena apapun yang terjadi pasti hal buruk yang akan terjadi.


"Kemungkinan besar begitu." Cecilia di dalam kepalaku mengiyakan pemikiranku.


"Bagaimana ini?" tanyaku dengan nada berbisik.


"Untuk beberapa saat aku akan mencoba menganalisis keadaan dulu. Aku tidak tahu bagaimana cara mereka menemukan kita, tapi untuk saat ini prioritas kita adalah lari dari mereka."


"Lari? Kita tidak melawannya? Bukankah kau ini sangat kuat?"


"Ada kau di belakangku yang membuatku tidak bisa bergerak bebas, lagipula ini masih terlalu cepat bagimu untuk terjun dalam pertempuran langsung. Oh iya, Iraya."


"Ada apa?"


"Kalau kau bisa melihat The Unseen milikku, harusnya kau juga bisa memastikan jumlah musuh."


"Be-Benarkah? Baiklah, akan kucoba."


Aku memfokuskan auraku ke area mata dan mencoba menghitung jumlah orang yang berada di balik pintu ruang kamar ganti ini.


Pada awalnya aku hanya melihat satu orang saja, tapi setelah fokus lebih dalam lagi, aku mulai merasakan yang lainnya. Jumlah mereka semua adalah tujuh orang. Enam orang dari mereka membawa senjata api.


"Mereka ada tujuh orang, enam orang memakai senjata api. Apa yang akan kau lakukan?"


"Tujuh orang, ya?"


Di luar ruang kamar ganti, keenam orang yang memegang senjata api sudah berada dalam posisi siap menembak. Mereka tinggal menunggu aba-aba dari pemimpinnya saja.


"Inang Subject C! Dan juga siapapun yang bersamamu. Jika kau tidak keluar dalam hitungan ketiga, aku akan menembak kalian dari sini!"


Meskipun Ardenter sudah melayangkan ultimatum kepada Iraya dan Herlin. Tapi tidak ada balasan dari mereka berdua. Ardenter yang mulai kehabisan kesabarannya kemudian mengangkat tangan kanannya dan mulai menghitung.


"Satu! Dua!"


Enam orang di belakangnya juga sudah bersiap untuk menembak dalam hitungan ketiga. Tapi sebelum Ardenter sempat menyelesaikan hitungannya, seseorang membuka pintu ruangan ganti baju.


"Ti—!"


Kriieet...


Enam orang yang sudah berada dalam posisi menembak itu sedikit kehilangan fokus dan terkejut karena orang yang keluar adalah orang yang tidak mereka sangka. Herlin kali ini keluar dengan memakai penutup mulut dan kupluk Hoodie-nya sedang terpasang di kepalanya.


"Kau ...."


Ardenter menatap tajam ke arah Herlin, tapi itu tidak berpengaruh banyak padanya. Enam orang lainnya adalah orang biasa yang tidak perlu Herlin khawatirkan, dan masalah sebenarnya kali ini adalah Ardenter.


Keheningan memenuhi outlet baju ini untuk beberapa saat. Suasana tegang dan canggung sangat terasa di toko baju ini. Ardenter juga tidak menurunkan tangannya menandakan dia masih waspada terhadap pergerakan Herlin.


Zwuuushh...


"??!!!"


Tiba-tiba di belakang Herlin, seseorang keluar dari ruangan ganti baju dan melesat dengan cepat menjauhi Herlin dan yang lainnya. Tapi Ardenter yang melihat itu tidak tinggal diam dan langsung mengganti fokusnya pada Iraya.


"Tembak orang itu!"


Rentetan suara peluru memenuhi outlet baju ini. Semua peluru mengarah pada satu target yang sama, yaitu Iraya yang sedang berlari menjauh. Tapi meskipun peluru sudah mendekati tubuhnya, ia tidak bergeming dan terus berlari tanpa memperdulikannya.


Karena mereka sudah punya rencana untuk menghadapinya.


Semua peluru tadi berhenti bergerak dan terdiam di udara seakan ditahan oleh sesuatu yang tidak terlihat. Kekuatan dari Herlin, Mind Power miliknya.


"A-Apa?!"

__ADS_1


"Tidak mungkin!"


"Ada Exception lain di sini?!"


Begitulah beberapa reaksi kaget mereka mengetahui kalau Herlin juga seorang Exception. Sementara Ardenter yang sudah tahu akan hal itu masih diam memperhatikan Herlin dan juga Iraya yang terus berlari menjauh.


"Aku serahkan padamu, Herlin."


Herlin mengabaikannya. Ia terlalu fokus dengan musuh yang ada di depannya. Setelah menahan semua peluru itu, Herlin kemudian mengembalikannya dan mengenai keenam orang tadi. Beruntung mereka semua memakai rompi anti peluru sehingga tidak ada dari mereka yang terbunuh.


"Arrkkgghh ...!!"


Ardenter sempat melirik sedikit ke arah anak buahnya, tapi ia tidak terlalu memperdulikannya karena tahu mereka semua masih hidup. Kali ini fokusnya tertuju hanya pada Herlin semata.


"Akhirnya aku menemukanmu, pengendali The Beast."


"...."


"Nimis bilang kau mungkin punya hubungan dengan Murasaki Oita, tapi jika sudah berhadapan seperti ini, tidak mungkin aku tidak bertarung melawanmu."


Herlin sedikit terkejut ketika Ardenter mengucapkan nama 'Murasaki Oita', tapi untuk saat ini ia lebih memilih untuk diam agar Ardenter tidak mendapat informasi apapun darinya.


"Tidak mau menjawab, ya? Baiklah kalau begitu. Aku akan membuatmu bicara secara pak—?!!"


Saat Ardenter bicara dan lengah, tiba-tiba pipi kirinya tersayat oleh sesuatu yang tidak ia ketahui asalnya. Ia kemudian memegangi pipinya dan melihat darah yang mengucur keluar dari lukanya.


"Kau ...!!"


Aura berwarna abu-abu meledak mengelilingi tubuh Ardenter. Ia merasa kesal karena merasa dihina oleh orang yang bahkan tidak dikenali olehnya. Aura itu membuat tubuhnya menjadi lebih besar dan berotot, kuku-kukunya juga tumbuh menjadi lebih tajam.


Sementara Herlin menaikkan satu alisnya dan mengomentari kekuatan yang dimiliki oleh Ardenter.


"Hanya segitu?"


"Bocah sombong!"


"??!!"


Ardenter melesat dengan kecepatan tinggi yang membuat Herlin sedikit melebarkan matanya. Beruntung berkat refleksnya yang cepat, ia masih dapat menghindari serangannya itu.


Tempat ruangan ganti baju yang ia pakai untuk bersembunyi kini sudah hancur berantakan dan tidak bisa dikenali lagi akibat serangan Ardenter yang tidak jadi mengenai Herlin.


"A-Ardenter-sama sudah mengamuk, apa yang harus kita lakukan?" tanya anak buah Ardenter.


"Tidak ada yang bisa kita lakukan di sini, ini sudah menjadi pertarungan Ardenter-sama. Sekarang tugas kita adalah mencari inang Subject C yang tadi."


"Ba-Baiklah."


Sementara Ardenter kini keluar dari reruntuhan ruangan ganti baju yang sudah ia hancurkan. Tidak ada luka ataupun goresan pada tubuhnya, bahkan pipinya yang tadi tergores kini sudah sembuh.


"Padahal aku hanya ingin menangkapmu secara baik-baik, tapi sekarang aku berubah pikiran. Perintah untuk tidak membunuh target hanya tertuju pada Inang Subject C. Itu berarti kau akan mati, bocah!"


"Physical Strength, tingkat menengah keatas. Jadi dia berasal dari perusahaan, ya? Dari tadi dia berbicara soal 'inang Subject C' yang tidak aku mengerti," gumam Herlin.


Ardenter kembali melesat ke arah Herlin dengan kecepatan yang tinggi, tapi Herlin lagi-lagi masih bisa menghindarinya. Pertarungan mereka kini sudah tidak bisa dihindarkan lagi.


***


Sementara aku yang disuruh lari oleh Herlin kali ini sedang menuju pintu utama Mall. Sebenarnya ini bukan gayaku sekali untuk meninggalkan teman saat sedang kesusahan, tapi aku harus mengikuti kata Herlin kalau aku ingin hidup. Jadi mau bagaimana lagi.


Akhirnya aku sudah sampai di depan pintu Mall, tapi semuanya tidak berjalan sesuai rencana. Pintu depan Mall tidak bisa dilewati karena tertutup oleh reruntuhan bangunan ini.


"Sial. Pintunya tidak bisa dilewati, apa aku pakai kekerasan saja, ya?"


"Jangan, bodoh!" Tiba-tiba Cecilia berteriak di dalam kepalaku sampai membuat telingaku hampir tuli.


"Ce-Cecilia?"


"Bangunan ini sudah hampir mau rubuh, jika kau memaksa memakai kekerasan kau pasti tahu apa yang akan terjadi, kan?"


"Y-Ya, itu benar juga, sih."


Dia memang benar memberitahuku, tapi kadang-kadang teriakan tiba-tibanya membuatku ingin mengeluarkannya dari kepalaku secara paksa. Aku pun kemudian menuju ke pintu lainnya.


Saat sedang menuju ke pintu belakang Mall dan melewati sebuah outlet makanan dan minuman ringan, tiba-tiba ada pemandangan yang menarik perhatianku. Seorang laki-laki yang sedang sibuk memandangi etalase minuman.


"Dia itu ... orang, kan?"


"Bukankah sudah jelas?" ucap Cecilia.


"Aku memastikan saja, orang bodoh mana yang masih dengan santainya berbelanja di Mall yang hampir roboh seperti ini."


Aku pun kemudian menghampirinya dan mengajaknya untuk segera keluar dari sini. Seorang pria dewasa yang terlihat sedang bingung itu tidak menghiraukan keberadaanku.


"Oi! Apa yang sedang kau lakukan di sini?! Di sini berbahaya!"


"Aku sedang bingung ...."

__ADS_1


"Hn?!"


"... Lebih baik di minum saat selesai sarapan, susu dengan teh atau susu dengan kopi?" tanya orang itu.


"Hah? Tapi ... kalau menurutku lebih baik dengan kopi, sih."


"Begitu. Terima kasih ya, nak."


"Sama-sama—Eh? Tunggu! Bukan itu yang ingin aku bicarakan! Cepat keluar dari sini sebelum Mall ini rubuh! Hn?"


Saat aku sedang berbicara dengan pria itu, tiba-tiba pasukan bersenjata tadi datang menyusulku dan langsung menodongkan senjatanya ke arah kami berdua.


"Kalian berdua angkat tangan! Dan kau Inang Subject C! Cepat ikut dengan kami atau orang yang bersama denganmu akan aku tembak!"


Mereka hanya orang biasa yang memakai biasa, tentu saja aku tidak ingin menuruti perintahnya. Tapi orang di sampingku ini juga tidak mengangkat tangannya, apa dia cari mati?


Dia dengan santainya memasukkan belanjaannya ke dalam troli yang dari tadi dia bawa. Pasukan bersenjata itu kemudian mulai menembak ke arah pria tadi karena mereka tidak membutuhkannya.


"Tembak orang itu!"


"Awas!"


Aku mencoba melindunginya dari tembakan itu. Tapi kecepatan peluru dan jarak yang jauh antara aku dan pria itu membuatku tidak sempat untuk menahan peluru tadi.


"Tenanglah, nak. Kalau cuma begini, aku tidak akan mati."


"Eh?"


Aku melihat sesuatu yang mengejutkanku. Orang itu memegang sebuah aura berwarna biru keperakan yang melindungi kami berdua dari tembakan tadi. Tentu saja itu membuatku terkejut sampai berteriak.


"Ka-Kau seorang Exception?! Dan tameng itu? Pemilik kemampuan Transformation?!"


"Exception? Transformation? Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan, nak."


Pria jni tidak tahu soal Exception dan Transformation. Berarti dia adalah orang yang mempunyai kekuatan tanpa mengetahui istilah tersebut.


"Ti-Tidak mungkin!"


"Dua Exception tidak dikenal di sekitar inang Subject C?!"


Jangankan mereka, aku saja terkejut karena tau bahwa pria ini adalah seorang Exception. Dan juga dia menahan peluru itu dengan tameng buatan miliknya. Kecepatan Transformation yang dia miliki sepertinya bukan main-main.


"Sepertinya kau kaget bukan karena melihat hal ini, tapi kau kaget karena aku memilikinya. Apa mungkin kau juga memiliki kekuatan aneh seperti punyaku?"


"Itu ... kebetulan iya."


"Kalau begitu mari kita serang mereka. Karena mereka sudah menyerang kita duluan."


Maksud dia prinsipnya itu tidak akan menyerang sebelum diserang duluan, begitu? Pria ini sangat aneh sampai aku tidak mengerti apa yang dipikirkan olehnya.


Tapi kalau untuk menyerang, aku tidak butuh bantuannya. Aku kemudian maju ke depan dan melakukan kuda-kuda.


Aku kemudian fokus mengumpulkan aura di sekitar tanganku dan membentuk sebuah pedang solid dengan warna kehijauan. Dan pria itu melihatku dengan tatapan yang cukup takjub.


"Kau hebat juga ya, bocah."


"Bo-Bocah? Ya terserahlah, tapi kalau soal menyerang mereka aku tidak butuh bantuanmu."


"Benarkah? Kalau begitu baiklah."


Aku kemudian berkonsentrasi, aku harus fokus untuk menyelesaikan ini dalam satu serangan. Aku mengumpulkan aura di kedua kakiku dan terlihat percikan-percikan listrik di sekitaran kakiku. Setelah itu aku menatap fokus kepada enam orang itu dan langsung melesat.


"T-Terlalu cepat!"


"Arrgghh ...!!"


Aku melesat dengan sangat cepat dan berhenti di belakang mereka. Senjata dan rompi mereka hancur berkeping-keping terkena seranganku, tapi tidak ada dari mereka yang terbunuh. Meskipun mereka babak belur dan seluruh tubuhnya menghitam.


Pria itu kemudian menghampiriku dan memberiku tepuk tangan.


"Kau hebat sekali, nak. Tapi kalau hanya mereka sepertinya tidak bisa membuat Mall ini jadi runtuh, ya?"


"Pemikiran paman tajam juga. Ya, masih ada satu orang lagi di sini dan aku disuruh kabur darinya."


"Woo! Aku suka panggilan 'paman' itu. Tapi apa kau yakin, nak?"


"Apanya?"


"Kau meninggalkan temanmu, lho. Ayo kita kembali membantunya. Kau tidak perlu takut karena ada paman baik di sini."


"I-itu ...."


Sepertinya dia benar juga. Meskipun Herlin memang kuat, tapi aku tetap saja khawatir. Padahal aku sudah berjanji pada Oita-san untuk melindunginya.


"... Aku rasa paman benar juga."


"Kalau begitu ayo!"

__ADS_1


Aku pun tidak jadi berjalan keluar Mall dan malah kembali ke tempat Herlin bertarung. Aku tidak tahu aku akan diomeli atau tidak, tapi setidaknya aku akan membantunya sedikit.


Bersambung


__ADS_2