Crisis World XX

Crisis World XX
Special Chapter : Liburan!


__ADS_3

Setelah resmi keluar dari anggota keempat Kuni no Hashira, kini organisasi Black Rain menjadi lebih senggang dan menganggur karena frekuensi misi yang berkurang jauh dari sebelumnya.


Selain frekuensi misi, pendapatan yang dihasilkan pun juga ikut menurun. Jadi para anggota Black Rain yang ada memilih untuk bekerja demi keberlangsungan organisasi mereka.


Aku dan Herlin kini bekerja di Haiiro Cafe sebagai pelayan dan membantu Aiza-san meneruskan Cafe ini agar tidak tutup. Mei-senpai juga sama, ia mencari kerja sambilan di tempat lain demi membantu keuangan Black Rain sekaligus pengobatan ayahnya.


Lalu aku dengar juga kalau Akihito-san dan Nigiyaka-san kembali menjadi seorang Assassin meskipun tidak lagi berada di bawah nama Ayakashi Corp. Mereka kembali memakai nama Nimis dan Ardenter karena nama itu sudah lumayan terkenal di kalangan para Assassin di dunia gelap itu.


Untuk Ishikawa-san sendiri, ia bekerja lebih keras lagi saat ini. Sepeninggalan Oita-san seharusnya sudah tidak ada lagi orang yang mengancam kehidupannya, tapi ia lebih memilih untuk menjadi pengganti Oita-san di Black Rain ini.


Sementara Caramel sendiri, ia tidak melakukan apa-apa dan hanya numpang tinggal dan tidur di rumahku saja saat ini. Meskipun aku bilang numpang, tapi sesekali ia juga membantu Tetsu membersihkan rumah atau memasak—meskipun kadang jadinya malah berantakan.


Dan begitulah para anggota Black Rain menjalani kehidupannya saat ini. Meskipun kadang-kadang kami selalu kena sial, tapi ada kalanya keberuntungan berpihak pada kami. Contohnya saat ini.


**


Suatu hari saat aku dan Herlin sedang seperti biasa bekerja di Haiiro Cafe, rombongan Kudou, Hira, dan Anna-san masuk ke dalam Cafe setelah selesai pulang sekolah. Mereka jadi rutin datang kesini setelah pulang meskipun hanya minum dan mengobrol saja.


Kriiing...


Bel depan pintu berbunyi pertanda kalau ada orang yang masuk ke dalam Cafe. Dan dengan semangat Kudou langsung memanggil namaku dengan cukup keras padahal masih banyak orang di sini.


"I-ra-ya! Aku pesan satu es kopi seperti biasa!"


Pletunk...


"Adu—!"


Aku melemparkan sebuah kubus gula kecil yang mendarat tepat di dahi Kudou yang membuat dahinya merah dan ia meringis kesakitan.


"Kau mengganggu pelanggan yang lain. Oh iya, bayar kubus gula yang tadi, ya?"


"Kenapa aku yang harus bayar?! Kau yang melemparnya, oi!"


Hira kemudian mengajak Kudou dan Anna-san untuk duduk daripada menjadi pusat perhatian lebih lama lagi, ia diam-diam juga merasa malu karena tingkah Kudou.


Sementara aku dan Herlin membuatkan pesanan mereka bertiga dan setelah selesai, Herlin membawa tiga pesanannya itu ke meja mereka.


"Satu kopi es dan dua kopi hangat."


"Asyik! Akhirnya jadi juga," ucap Kudou senang.


"Terima kasih."


"Terima kasih, Herlin-san!"


Herlin mengangguk sambil memeluk nampannya. Ia beberapa saat melihat ke arah mereka bertiga yang sedang meminum pesanan mereka, Anna-san yang menyadari perilaku aneh Herlin kemudian bertanya kepadanya.


"Ada apa, Herlin-san?"


"Bagaimana ... rasanya?" ucap Herlin ragu.


"Nn! Ini enak!"


"Begitu, ya."


Herlin nampak lega karena ternyata pesanan mereka memenuhi kepuasan mereka. Dan tanpa Herlin sadari, aku sudah berada di belakangnya dan membeberkan fakta tingkah laku aneh Herlin barusan.


"Itu buatannya, dia ragu dengan buatannya sendiri jadi dia ingin mengeceknya secara langsung."


"Oi, aku tidak ragu!"


"Begitu ya. Jadi ini buatan Herlin-san, pantas aku merasakan perasaan cinta di dalamnya."


"Cinta? Rasanya aku tidak pakai itu," gumam Herlin bingung.


"Itu cuma kiasan," balasku cepat.


"Ehehehe ... Herlin-san ternyata manis juga saat sedang canggung begini, ya?" ucap Anna-san.


Ya, aku tidak menyangkal apa yang dikatakan Anna-san barusan, tapi aku juga tidak bisa mengatakannya secara langsung. Ia terlihat gugup saat menunggu penilaian dari mereka. Benar-benar seperti gadis sekolahan biasa.


Padahal sebelum ini semuanya sangat berbeda. Sekilas aku membayangkan Herlin beberapa bulan yang lalu. Hoodie dan wajah yang selalu kotor dengan darah, lalu tatapan dingin tanpa perasaan itu juga.


Saat aku sedang melamun mengingat masa lalu, tiba-tiba Herlin menengok ke arahku dan menyikut pinggangku.


"Kenapa kau melamun?"


"Aduh ... ti-tidak, kok."


"Oh iya, Iraya," panggil Hira.


"Ada apa?"


"Dulu aku sudah pernah melihatnya secara langsung, sih. Tapi aku ingin melihatnya langsung darimu, soal kemampuan Exception itu."


"Itu, ya?"


"Kau bisa membuktikannya, kan?"


"Kau menganggapku berbohong gitu?" ucapku datar.


Sepertinya tidak apa-apa sih menunjukkan hal ini kepada mereka, Herlin sepertinya juga tidak keberatan—ya, lagipula dia sendiri sih yang membongkar rahasia ini.


Aku kemudian mengangkat jari telunjukku dan mengalirkan sebagian kecil aura ke jari itu. Hasilnya beberapa detik kemudian, sebuah percikan kecil listrik muncul dari ujung kukuku yang membuat mereka semua terpana.


Bzzt... Bzzt...


"Ternyata itu beneran," ucap Kudou kagum.


"Kenapa kau tidak bilang dari dulu sih soal hal seperti ini?"


"Awalnya aku ingin memberitahu kalian soal hal ini, tapi jalan yang aku tempuh ternyata lebih berbahaya dari yang aku duga. Jadi aku tidak ingin mengganggu kehidupan damai kalian."


"Ya biarlah! Yang terjadi biarkan terjadi, mau ke Game Club sekarang?"


"Sebenarnya kalian peduli dengan ceritaku atau tidak, sih?"


Aku kadang heran dengan mereka berdua yang awalnya serius lalu tiba-tiba menghiraukan semuanya seakan tidak terjadi apa-apa, seolah mereka sudah tidak peduli lagi dengan hal itu.


Tapi kurasa itu adalah hal yang bagus, mereka tidak ingin terlalu ikut campur urusanku dan aku sangat senang dengan hal itu. Cecilia juga setuju denganku soal hal ini.


"Kau sangat beruntung memiliki mereka, aku rasa sudah jarang orang seperti mereka saat ini."


"Kau benar."


Lalu soal ajakan mereka tadi, sepertinya aku akan menolaknya karena pada jam-jam segini biasanya Cafe akan ramai dengan pengunjung.

__ADS_1


"Sepertinya aku tidak bisa ikut dengan kalian, Cafe sibuk di jam-jam segini soalnya."


"Tidak usah kau pikirkan!"


"Uwoo—! A-Aiza-san?!"


Tapi tiba-tiba Aiza-san muncul di belakangku yang membuatku terkejut.


"Bersenang-senanglah di Game Club, biar aku yang mengurus Cafe. Herlin, kau juga ikut mereka, kan?"


"Tidak, aku tidak i—"


"Sudahlah, tidak usah malu-malu."


Aiza-san langsung melepas celemek kami masing-masing dan memaksa kami untuk ikut bersama mereka. Sebenarnya aku tidak mau ikut sih, tapi jika Aiza-san memaksanya kurasa tidak ada pilihan lain.


"Selamat bersenang-senang~"


Kami berlima saat ini sudah berada di depan pintu Cafe. Dilepas kepergiannya oleh Aiza-san yang sudah masuk ke dalam karena masih ada Cafe yang harus diurus.


"Beliau baik sekali, ya?" ucap Hira.


"Bisa aku bilang terlalu baik. Aku kadang suka tidak enak dengan kebaikannya itu, tapi dia selalu tidak mempermasalahkannya."


"Karena sudah begini, ayo kita berangkat!"


"A-ayo."


Kudou mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke atas dengan semangat, sementara kami berempat juga mengangkat tangan tinggi meskipun dengan suara yang lebih kecil supaya tidak lebih bikin malu.


Kami pun berangkat menuju ke Game Club sekitar pukul 4 sore, sudah cukup lama sejak aku kesini dan tidak ada yang berubah sama sekali di sini. Masih ramai dan meriah seperti biasanya. Apalagi ini adalah jam pulang sekolah yang membuatnya jadi tambah ramai lagi.


"Pertama kita mau main apa dulu?!" tanya Kudou.


"Terserah." Kami semua mengucapkan kata yang sama berbarengan.


"Kalian beneran mau kesini, kan?"


Dan karena kami tidak keberatan untuk memulai dari mana pun, pada akhirnya kami menuju ke salah satu arcade game fighting dari brand terkenal di negara ini.


Kami mengundi giliran dan diadakan kejuaraan kecil-kecilan untuk arcade game fighting ini. Pertandingan pertama antara aku dan Kudou, saat SMP dulu kami sering datang kesini dan memainkan game ini berkali-kali. Ini akan jadi rematch yang kesekian kalinya bagi kami berdua.


"Aku akan mengalahkanmu!"


"Coba saja!"


Pertarungan pun dimulai dan dengan cepat aku pun berhasil mengalahkan Kudou dengan telak.


Tiing... Tiing... Victory...


Suara kemenangan berkumandang menyambut kemenanganku, sementara Kudou masih terlutut lemas karena tidak percaya kalau dia telah kalah. Tapi aku pun menyemangatinya.


"Kenapa ... aku bisa kalah? Apa yang salah denganku?!"


"Kudou ... kau hanya kurang berlatih saja, tadi itu adalah pertandingan yang bagus."


"I-Iraya ...."


"Kudou ...."


"Hentikan drama jelek kalian."


Pertandingan kedua antara Hira melawan Herlin. Aku belum pernah melihat Herlin bermain permainan arcade sebelumnya, tapi kalau Hira dia adalah yang paling ahli soal arcade games daripada kami bertiga.


"Jadi aku hanya harus menekan tombol ini?" tanya Herlin.


"Ya, aku tidak akan terlalu serius, jadi kau bisa sekalian belajar, Ririsaka-san."


"Aku mengerti."


Sepertinya aku sudah bisa melihat pemenangnya dari awal, ternyata Herlin belum pernah mencoba arcade games sama sekali. Lalu setelah itu, pertandingannya dimulai.


Hira menguasai jalannya pertandingan dengan beberapa combo yang terus masuk dan tidak bisa ditahan oleh Herlin yang membuat darah Herlin berkurang dengan cepat.


Sementara Herlin yang sedang dalam tahap belajar masih kesulitan menghapal fungsi tombol-tombol itu. Dan darah Herlin terus berkurang karena ia terus terkena combo mematikan dari Hira.


"Darahnya tinggal seperempat, saatnya mengeluarkan jurus andalanku!"


Hira berteriak dan terlihat sudah terbawa suasana dan sepertinya akan segera menyelesaikan pertandingan ini. Tapi saat combo terakhir itu dilancarkan, Herlin tiba-tiba dapat menahan semua serangannya.


"Apa?!"


Herlin yang sedang fokus itu kemudian membalikkan keadaan dengan mengeluarkan satu combo yang sama berulang kali dan membuat Hira tidak bisa menahan ataupun bergerak sama sekali. Ia terus menyicil darah Hira sampai akhirnya Herlin memenangkan pertandingan.


Tiing... Tiing... Victory...


"A-aku kena combo murahan," ucap Hira lemas.


"Seharusnya spam combo seperti itu dilarang sih," ucapku.


"Apa aku salah? Aku baru hapal satu combo itu saja tadi makanya aku terus menekannya."


"Tidak salah, sih."


Secara mengejutkan ternyata Herlin dapat mengalahkan Hira dengan pengetahuan arcade games nya yang sedikit, meskipun tadi aku sempat melihat kalau kecepatan tangan Herlin memang melebihi kecepatan tangan Hira.


Lalu pertandingan berikutnya kembali dimulai. Kali ini pertandingan ketiga antara Herlin melawan Anna-san. Ia terlihat seperti anak baik-baik, apa dia bisa bermain game kekerasan seperti ini, ya?


Pertandingan ketiga pun dimulai. Dan Herlin mulai menyerang duluan. Ia terus menyerang Anna-san dengan telak dan menghabisi karakternya yang terlihat tak bergerak, tapi karena kasihan Herlin pun berhenti untuk sementara waktu.


"Apa kau tidak mau menyerang, Anna-chan?"


"Eh?! Ah, ba-baiklah."


Anna-san kemudian menyerang Herlin dan membuat darahnya berkurang sedikit. Tapi ia terlihat panik dan langsung meminta maaf kepada Herlin.


"A-Ah! Ma-maafkan aku! Apa itu sakit?!"


"Itu memang tujuan game-nya, Anna-chan," ucap Herlin.


Kami bertiga yang menyaksikannya hanya diam saja dan memiliki respon yang sama meskipun tidak mengeluarkannya secara lantang dan hanya berada di dalam hati kami.


"Dia terlalu baik."


Tiing... Tiing... Victory...


"Maafkan aku karena telah menyerangmu, Herlin-san!"

__ADS_1


"Tidak, kau tidak melakukan kesalahan apa-apa."


Anna-san menundukkan kepalanya untuk meminta maaf, padahal ia tidak salah sama sekali. Memang orang baik itu masih ada meskipun sedikit. Tapi pertandingan tetap dilanjutkan dan final antara aku dan Herlin akan segera dimulai.


"Heheh ... kalau soal arcade games aku tidak akan kalah darimu," ucapku semangat.


"Aku tidak terlalu mengerti, tapi aku juga tidak akan kalah!"


Ready... Fight...


Tanda pertarungan dimulai sudah berdering. Aku dan Herlin sama-sama bertarung dengan sengit dan tidak ingin melakukan kesalahan sedikit pun. Aku yang menyerangnya dengan berbagai macam combo melawan Herlin yang baru bisa menjalankan satu combo saja.


Pertandingan berjalan serius dan aku merasa kalau aku masuk ke dalam arena permainan. Ini rasanya sama seperti melawan Herlin saat latihan bertarung dan dengan area yang sama juga yaitu di bukit belakang.


Aku melesat maju ke depan dan memukul Herlin dengan berbagai macam combo, tapi Herlin masih bisa menahannya meskipun darahnya sedikit demi sedikit mulai berkurang.


Merasa kalau tidak bisa begini terus, aku membiarkan pertahananku lengah dan memancing Herlin untuk membuka pertahanannya. Cara itu berhasil dan Herlin mulai menyerang dan melakukan satu combo yang ia kuasai tadi.


"Kesempatan!"


Aku melakukan pukulan uppercut dan memukul tepat di dagunya yang membuatnya terpental ke atas. Dan tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu, aku langsung melancarkan combo mematikan serta spell khusus jika bar energy sudah terisi penuh.


"Haaa ...! Hadouken!"


Aku merapalkan sesuatu dan melemparkan bola energi ke arah Herlin yang sedang terjatuh. Dengan begini kemenanganku sudah dipastikan.


"Heh! Kau pikir kau sudah menang?!"


"Apa?!"


Herlin memutar dirinya di udara dan menghindari bola energi yang aku tembakkan. Saat aku masih terkejut dan lengah itu, ia menunjukkan combo baru yang tidak pernah aku lihat ia pernah memakainya sebelumnya.


"Saatnya serangan balik!"


Tiing... Tiing... Victory...


Herlin berhasil memenangkan turnamen kecil ini. Sial! Padahal sedikit lagi aku menang, tapi dia tiba-tiba menyerangku balik dan setelah itu menghajarku dengan spam combo murahannya lagi.


"A-aku kalah ...," ucapku tidak percaya.


"Lagi-lagi kau lengah, di pertarungan sungguhan kau bisa mati, lho."


"Iya, iya, aku tahu."


Yang lainnya kemudian menghampiriku dan Herlin yang sudah selesai bertanding. Mereka memberiku semangat juga selamat kepada Herlin.


"Tapi tadi itu menyenangkan sekali!" ucap Kudou.


"Nn! Aku tidak mengerti tapi aku juga ikut menikmatinya!"


"Mau lanjut main yang lain?"


"Ayo!"


Dan kami pun melanjutkan permainan lain di Game Club. Semuanya terasa begitu cepat dan menyenangkan, karena lapar kami juga membeli crepe dan menikmatinya bersama-sama. Tak terasa matahari sudah terbenam dan langit pun sudah gelap saat kami keluar.


"Uwaah ...! Hari ini menyenangkan sekali, aku tidak sabar ingin melakukannya lagi nanti."


"Kau benar, sekali-kali seperti ini aku juga tidak keberatan."


Kami benar-benar bersenang-senang saat ini. Tapi entah kenapa aku malah nostalgia dengan hal burukku yang terjadi di sini, saat Kudou dan Hira pingsan dan kemudian aku bertemu Herlin.


Aku tidak bisa mengatakan hal itu buruk juga sih meski tentu saja ini tidak terlalu menyenangkan. Tapi aku tetap bersyukur karena pada akhirnya aku bisa bertemu banyak teman dan orang-orang yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.


Criing... Criing...


"Ayo buktikan keberuntunganmu sekarang dan menangkan hadiah liburan ke Asamogawa Onsen yang terkenal indah dengan pemandangan pantai indah dan pemandian air panas yang menyegarkan!"


"Hn?"


Perhatian kami berlima tertuju pada seorang wanita pengundi yang meneriakkan sebuah undian liburan gratis. Di dalam sebuah alat undi berbentuk segi enam dari kayu yang memiliki sebuah lubang di sisi bawahnya.


Dan dari dalam alat undi itu akan keluar bola-bola yang menunjukkan hasil undiannya. Jika menang akan mendapatkan hadiah besarnya sedangkan jika kalah maka akan mendapatkan satu pak tisu.


Ada ramai orang di situ yang mengantri dan mengetes keberuntungannya, tapi banyak yang tidak kurang beruntung. Lalu Kudou berbicara pada kami semua.


"Mau mencobanya?"


"Tidak, siapa tahu itu penipuan, kan?" ucapku.


"Kalau penipuan bukankah mereka harusnya sudah ditangkap? Sudahlah, ayo coba saja."


"Ya ampun, anak ini."


Kami pun akhirnya ikut mengantri dan ikut mencoba keberuntungan kami. Setelah lama menunggu akhirnya datang giliran kami untuk mencoba. Aku, Kudou, dan Hira mendapatkan bola warna putih yang berarti kami tidak memenangkan hadiah utamanya.


"Sudah kubilang kita tidak mungkin menang," ucapku.


"Ya siapa tahu saja, kan?"


"Bagaimana denganmu, Herlin?"


"Aku juga dapat yang putih."


"Sudah kuduga."


Criing... Criing... Plok... Plok...


Suara tembakan conffetti mengejutkan kami semua. Jika ada conffetti yang ditembakkan itu berarti ada yang mendapatkan bola berwarna emas alias hadiah utamanya.


"Selamat, kau berhasil mendapatkan hadiah utama liburan ke Asamogawa Onsen untuk dua hari satu malam! Kau bisa membawa sembilan orang lainnya bersamamu, " ucap penjaga wanita tadi sambil membunyikan lonceng yang dipegangnya berulang kali.


"Eh? Benarkah? Aku menang?"


"Selamat, ya."


"Selamat!"


"Kau beruntung sekali, gadis manis."


Ucapan selamat dari banyak orang tadi membuat wajah pemenangnya itu menjadi merah karena malu. Dan seperti yang kalian sudah kira, orang yang menang adalah Anna-san.


Anna-san kemudian melihat ke arah rombongan kami dengan wajah yang memerah. Ia mencoba tersenyum karena berhasil memenangkan undian itu, sementara kami hanya memberinya empat jempol ke atas untuk Anna-san.


"Orang baik memang selalu diberkahi."


Dan begitulah ceritanya, kami memenangkan undian tersebut dan mendapat liburan gratis ke sebuah onsen bernama Asamogawa Onsen. Anna-san berniat mengajak kami berempat tapi karena hadiahnya untuk sepuluh orang, maka aku berniat untuk mengajak yang lainnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2