
Setelah menemani Caramel mampir ke rumahnya yang lama, perjalananku pagi ini dengannya masih belum selesai karena ia masih mengajakku ke mall.
Padahal aku tidak punya banyak uang untuk belanja, apa lagi di mall yang harganya mahal. Tapi Caramel menenangkanku dan berkata kalau dia yang akan membayar semuanya jadi aku hanya menemaninya saja.
Padahal biasanya kalau belanja harusnya laki-laki yang membayar semuanya.
"Hei, Iraya," panggil Cecilia.
"Ada apa?"
"Apa kau merasa kalau dirimu tidak berguna saat ini?"
"Jangan menabur garam diatas lukaku, sialan," ucapku lemas.
"Ada apa Iraya? Kau bicara sendiri dari tadi."
"Ah, tidak. Aku sedang bicara dengan Cecilia."
"Cecilia? Nama Subject C itu? Kenapa kau bisa dengan santainya sih bicara dengan dia? Padahal dia itu monster berbahaya saat masih di dalam laboratorium."
"Kalau itu Nigiyaka-san juga pernah bilang begitu padaku. Tapi aku masih tidak percaya jika makhluk di dalam tubuhku ini adalah makhluk yang berbahaya."
Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Cecilia sebelum bertemu denganku. Lalu juga apa yang ia lakukan pada Astaroth saat mengambil kesadaranku malam itu, jadi aku masih belum menemukan hal yang menyeramkan dari makhluk yang ada di dalam tubuhku ini.
"Heh … ya terserah padamu sih kalau mau percaya atau tidak. Lagipula untuk sekarang itu sudah tidak penting lagi."
"Kau benar."
"Oh! Kita sudah sampai."
Dan tanpa kami sadari, kami sudah berada di depan mall. Karena jam yang masih lumayan pagi jadi belum banyak orang yang datang, jadi kami bisa leluasa untuk masuk ke sana. Tapi tiba-tiba Caramel diberhentikan oleh security yang berjaga di sana.
"Tunggu sebentar! Cairan apa yang ada di bajumu? Kalian tidak bisa masuk jika keadaan kalian kotor begitu."
"Benarkah? Sayang sekali, tapi desain ini adalah model yang sedang trend saat ini."
"Desain?"
"Benar, apa ini terlihat seperti darah asli? Berarti desain ini sangat bagus karena bisa membuatmu keliru."
Security itu masih bingung dengan pakaian Caramel. Ia malah melihat ke arahku seolah bertanya apakah itu benar, sementara aku hanya mengangguk sambil senyum agar kami diperbolehkan masuk. Akhirnya kami pun diperbolehkan masuk oleh security tadi.
"Kemampuan aktingmu mengerikan, kau tahu?"
"Ehehem … aku anggap itu sebagai pujian. Ayo temani aku ke toko baju."
Kami pun pergi ke toko baju. Entah kenapa aku merasa de javu karena pernah merasakan ini sebelumnya saat bersama Herlin dan Hasuki-san, namanya juga perempuan jadi mereka suka belanja, sih. Beberapa jam kami berada di sana hanya untuk memilih baju.
Caramel kemudian membawa beberapa baju ke dalam tempat ganti baju.
"Nanti beritahu aku pendapatmu, ya."
"A-Aku tidak mengerti soal pakaian."
"Sudahlah, coba saja dulu."
Caramel lalu menutup tirainya. Setelah beberapa saat ia kemudian keluar lagi dengan penampilan yang berbeda.
Ia memakai baju lengan pendek dengan tambahan Cardigan tanpa lengan yang memanjang sampai ke pahanya. Lalu untuk bagian celananya ia memakai celana panjang jeans biasa.
"Bagaimana?"
"Ya, lumayan."
Caramel beralih ke pakaian selanjutnya. Kali ini ia mencoba dress pendek sampai bagian atas lutut dengan hiasan renda yang menutupi dadanya sementara bagian lengan sampai pundaknya dapat terlihat.
"Bagaimana dengan yang ini?"
"Hoo! Aku suka ini!"
"Baguslah kalau kau suka, tapi aku sedikit tidak nyaman dan susah bergerak dengan pakaian ini. Lanjut!"
Caramel mencoba pakaian ketiga, kali ini ia memakai sebuah dungarees jeans panjang yang ia lipat sampai ke bagian bawah lutut. Dan kemudian mengombinasikannya dengan kaos lengan pendek berwarna biru pucat dengan motif sederhana.
"Kalau ini?"
"Kau terlihat seperti anak SD saat memakainya."
"Ehh … benarkah? Tapi aku suka dengan yang ini," ucap Caramel dengan nada kecewa.
Lalu sesi mencoba-coba pakaian pun terus berlanjut dan pada akhirnya Caramel membeli kira-kira tujuh sampai sepuluh pakaian baru. Ia juga memakai pakaian barunya yang ia sukai yaitu kombinasi dungarees jeans dan kaos biru pucat tadi.
Dan tentunya ia menyuruhku untuk membawa semuanya, ada sekitar lima tas di kedua tanganku saat ini.
"Kenapa aku yang harus membawanya?"
"Kau ini laki-laki, kan? Lagipula aku hanya menyuruhmu membawanya, bukan membayarnya jadi jangan banyak ngeluh."
"Entah kenapa aku merasa seperti pesuruh."
Tiiing… Tiiing…
Tiba-tiba Smartphone di kantong celanaku berbunyi. Tapi karena tanganku penuh dengan belanjaan Caramel, dengan cepat Caramel mengambilnya lalu mengangkatnya.
"Oi, jangan main angkat-angkat aja!"
"Halo, siapa ya?"
"Dengar aku tidak, oi?!"
Caramel mendengar suara perempuan yang membalasnya dengan bingung. Suara itu adalah suara Herlin dan ia pun mulai berbicara.
"Caramel? Kenapa kau yang mengangkatnya? Apa Iraya ada di sana?"
"Dia ada kok, cuma sedang sibuk mengangkat belanjaanku saja."
"Belanjaan? Memangnya ada di mana kalian sekarang?"
"Kami lagi di mall sedang berkencan."
"Kencan apa, oi?! Aku dijadikan pesuruh di sini!"
Aku kemudian menjatuhkan semua belanjaan yang aku pegang dan langsung merebut teleponku dari genggaman Caramel. Sementara Caramel hanya tersenyum seperti orang yang tidak punya dosa setelah mengatakan hal yang berbahaya seperti tadi.
"He-Herlin … kau di sana?"
"Aku mengganggu waktu kencan kalian, ya?"
"Ti-Tidak! Semua yang dibilang Caramel hanya bercanda, kami tidak sedang berkencan. He-Herlin?"
"Ishikawa-san menyuruh semua anggota Black Rain untuk berkumpul sekarang, aku hanya ingin menyampaikan hal itu."
"A-Aku mengerti. Oh iya, soal kencan itu—"
Tiiiit…
Tapi sebelum aku menyelesaikan kata-kataku, Herlin sudah menutup teleponnya duluan. Ia bahkan tidak membiarkanku memberikan alasannya, entah kenapa aku sudah tahu hal yang akan terjadi nantinya saat di sana.
"Siap-siap saja mendapat latihan keras dari Herlin," ucap Cecilia mengungkapkan pikiranku.
"Hah … semoga ia tidak mematahkan tulangku."
"Ada berita apa?" tanya Caramel.
"Ishikawa-san menyuruh kita semua berkumpul di Haiiro Cafe. Kita akan pulang dulu untuk menaruh belanjaanmu setelah itu baru pergi kesana."
"Okey."
Caramel kemudian berjalan duluan meninggalkanku lagi. Sepertinya aku harus terbiasa dengan sifat jahilnya ini, mungkin saja kedepannya hal itu akan menyebabkan masalah besar jika aku tidak terbiasa. Aku pun menyusul Caramel yang sudah berjalan duluan.
**
Setelah menaruh semua belanjaan kami, kami pun pergi menuju Haiiro Cafe. Dan setelah sampai di sana semua orang sudah sampai kecuali kami berdua.
Kriiing…
"Akhirnya kalian datang juga," sambut Ishikawa-san.
"Maaf kami terlambat. Hmm?"
Aku melihat ke arah Herlin, tapi ia langsung memalingkan wajahnya dariku. Sepertinya aku harus meyakinkannya lagi kalau itu semua tidak benar, tapi bagaimana caranya. Mei-senpai yang menyadari wajah pasrahku pun berbicara padaku.
"Iraya-kun, apa kau sedang ada masalah dengan Herlin?"
"Tidak ada, setidaknya itu yang aku percayai."
"Sudah cukup basa-basinya. Kau pasti memiliki alasan memanggil kami semua kesini, kan?" ucap Nigiyaka-san.
"Benar, ini masih soal penyerangan tiga monster besar di tiga kota berbeda."
Jadi masalah itu belum sepenuhnya selesai. Aku kira dengan mengalahkan Astaroth, semuanya akan menjadi bahagia tapi ternyata tidak semudah itu. Apalagi dengan kematian Oita-san yang tentu saja dampaknya sangat besar.
__ADS_1
"Kita akan pergi ke Tokyo sekarang, ke Dojo Red Flame."
Tujuan kami selanjutnya hari ini adalah menuju Tokyo, tepatnya ke tempat Kurayami Ryuzaki berada. Ia sempat muncul di TV sebelumnya dan setelah itu Black Rain mendapat undangan datang darinya.
Kami pun berangkat dengan menggunakan mobil yang dikendarai oleh Ishikawa-san, meskipun jumlah kami bertambah tapi satu mobil masih muat untuk diisi oleh kami semua.
Tidak ada hal yang menarik selama perjalanan, jadi seperti biasa aku menutup mataku dan tertidur sampai akhirnya kami sampai ke tempat tujuan.
Saat sudah sampai di depan gerbang Dojo, kami langsung disambut oleh beberapa murid Dojo dan mereka mengarahkan mobil kami ke tempat parkir Dojo. Kami kemudian keluar dari mobil dan berbicara kepada salah satu orang yang menyambut kami.
"Apa kalian dari Black Rain?"
"Ya benar."
"Silahkan ikuti kami."
Kami pun mengikuti beberapa orang yang dipersiapkan untuk menyambut kami. Selama perjalanan banyak murid-murid Dojo yang heboh dan ribut karena melihat beberapa orang yang mereka kenal.
"Me-Mereka …."
"Bukankah mereka Assassin yang ditargetkan sebelumnya? Apa yang mereka lakukan disini? Apa mereka ingin menyerang tempat ini?"
"Bukankah itu hal bodoh? Apalagi ada Kurayami-san di sini. Dan orang-orang yang bersama mereka itu …."
"Para anggota Black Rain?!"
Beberapa pembicaraan mereka dapat terdengar kami yang sensitif. Meskipun pada akhirnya kami semua mengabaikan bisikan mereka.
"Wah … ternyata kita cukup terkenal di sini, ya?" ucap Caramel.
"Kalian jadi buronan tingkat tinggi, loh. Tentu saja mereka kenal dengan kalian."
"Heh … begitu, ya."
"Fokus saja pada tujuan kita di sini."
"Mereka semua berisik sekali."
Nigiyaka-san dan Akihito-san juga tampaknya terganggu karena menjadi pusat perhatian. Tapi Akihito-san lebih bisa mengungkapkannya daripada Nigiyaka-san. Setelah kami berjalan cukup lama, akhirnya kami sampai juga di dalam kantor pemimpin mereka.
Ia sedang duduk sambil berbincang dengan bawahan yang sangat dipercayainya, yaitu Hayashi Satou. Setelah melihat kedatangan kami, Ryuzaki-san kemudian menyuruh orang yang mengantar kami untuk keluar dari ruangannya baru berbicara dengan kami.
"Selamat datang lagi di kantorku, Black Rain."
"Kami senang karena kau mengundang kami kesini lagi," balas Ishikawa-san.
"Aku rasa sudah cukup basa-basinya. Karena aku ingin tahu semua kebenarannya dan hal yang dilihat oleh mataku saat ini."
Ryuzaki-san menatap kami dengan tatapan tajam seakan curiga. Sementara kami semua hanya bisa diam dan waspada soal pertanyaan yang akan diberikan olehnya.
"Pertanyaan pertamaku adalah lelucon apa yang kalian bawa kesini? Membawa tiga Assassin ke dalam kantorku, apa kalian ingin pamer kalau kalian yang menangkap mereka ke hadapanku?"
"Tidak, mereka bukan lagi seorang Assassin. Mereka adalah anggota dari Black Rain sekarang."
"Anggota? Ahaha HAHAHA …!!!"
Tentu saja dia akan tertawa. Cuma orang konyol yang menerima seorang Assassin masuk ke dalam organisasinya. Kami tidak bereaksi berlebihan, hanya menunggu Ryuzaki-san selesai tertawa.
"Aku tahu ini hal yang aneh, tapi yang menyarankan mereka untuk masuk adalah Murasaki Oita."
"Oita? Oh iya, ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan. Tapi melihat dirinya tidak ada di sini saat ini sepertinya sudah menjawab pertanyaanku."
"Benar, dia sudah mati," jawab Herlin memperjelas.
Herlin memperjelas semuanya. Ryuzaki yang sebelumnya berekspresi kini lebih tenang dan diam karena mendengar hal itu. Ia kemudian berdiri dari kursinya dan ingin melakukan sesuatu.
Zwuusshh…
Ryuzaki tiba-tiba melesat dengan sangat cepat dan berhenti tepat di depan wajah Herlin. Sementara Herlin juga tidak bisa bereaksi dengan sempurna sehingga ia hanya bisa menatap balik mata dengan tatapan terkejut.
"Kau membiarkan salah satu orang terkuat di negara ini mati, kau tahu?"
Syiiing… Swuuushh…
Nigiyaka-san yang ingin membantu Herlin dengan mengeluarkan pedangnya, tidak memiliki banyak kesempatan karena Hayashi langsung bergerak dan menodong leher Nigiyaka-san.
"Jangan bergerak."
"Tch!"
"Semuanya jangan bergerak. Apa kalian lupa kalau sedang berada di dalam kantorku? Aku bisa saja melaporkan kalian dan membuat kalian semua menjadi target Kuni no Hashira."
Setelah diancam seperti itu, akhirnya Nigiyaka-san menjauhkan tangannya dari pedangnya dan mencoba bersikap lebih tenang lagi.
"Aku hanya ingin tahu soal rumor itu. Dan memastikan kalau rumor tersebut tidak benar. Tapi …. Tck."
"Oita-san berhasil membunuh pemimpin dari para Assassin ini. Jadi kematiannya tidaklah terlalu merugikan, kau sendiri tidak bisa mengalahkan orang itu, kan?"
Herlin memprovokasi Ryuzaki dengan kata-katanya tapi itu tidak cukup untuk membuatnya terganggu. Ia masih terlihat tenang dan tidak terpancing sama sekali.
"Aku belum pernah berhadapan dengannya secara langsung, jadi aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Tapi apa menurutmu kau—tidak, semua anggota Black Rain saat ini melawanku sendiri, apa kalian yakin kalian bisa menang?"
Ryuzaki menjawab provokasi Herlin dengan menantang balik kami semua. Meskipun aku tidak bisa menjawabnya sih bagaimana hasilnya nanti.
"Aku rasa dengan kekuatan barumu, kau bisa setara dengannya," ucap Cecilia.
"Diamlah, ini bukan saatnya terlihat keren."
Saat aku sedang berbicara dengan Cecilia, tidak sengaja obrolanku terdengar oleh Ryuzaki dan ia pun berjalan ke arahku. Dasar Cecilia sialan, menempatkan pada kondisi yang tidak enak begini.
"Apa kau bilang sesuatu tadi?"
"Ti-Tidak …." Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain.
"Kau memiliki sesuatu di dalam tubuhmu, kan? Hasil eksperimen mereka, Spirit itu. Bagaimana keadaannya sekarang setelah penciptanya mati?"
Dia mengetahui keberadaan Cecilia di dalam tubuhku. Aku harus mengalihkan perhatiannya agar percakapan ini tidak berlangsung terlalu jauh.
"Benda itu sudah mati, saat itu ia membela Astaroth dan aku pun membunuhnya dengan tanganku sendiri."
"Oi!"
Aku malah menjawabnya dengan ngasal. Cecilia juga berteriak di dalam kepalaku, aku tidak tahu apakah jawaban ini bisa mengelabuinya atau tidak sih. Tapi yang pasti Cecilia marah karena jawabanku.
"Oh. Kudengar itu Spirit yang kuat. Bisa dibunuh oleh orang sepertimu, tidak heran kau bisa menaklukkannya dan menaruhnya di dalam tubuhmu. Dia hanyalah Spirit yang lemah. Dan pedang yang kuberikan padamu …."
Ia mengambil pedang Tetsu yang berada di punggungku. Ia terkejut karena bilah pedang Tetsu hanya tersisa setengah saja karena hancur bekas pertarungan melawan Astaroth.
"Kau menghancurkannya. Orang bodoh macam apa kau? Padahal aku kira kau sedikit istimewa karena bisa mengalahkan Hayashi, tapi sekarang aku rasa itu hanya sebuah keberuntungan."
Ia melemparkan pedang rusak itu dan aku pun menangkapnya dengan sempurna. Ryuzaki kembali berjalan ke dekat mejanya dan tekanan yang ia berikan padaku pun sedikit menurun.
"Apa kalian mengerti kalau Black Rain menjadi salah satu anggota Kuni no Hashira karena keberadaan Murasaki Oita di dalamnya? Tapi karena dia sudah tidak ada, hal itu sudah tidak relevan lagi."
"Jadi itu artinya—?!"
"Ya, aku mengundang kalian semua kesini untuk mengumumkan kalau Black Rain bukan lagi anggota Kuni no Hashira dan hanyalah organisasi kecil biasa di bawah naungan tiga organisasi utama Kuni no Hashira."
Ternyata kami dikeluarkan oleh mereka. Tidak ada jawaban atau protes yang dilontarkan oleh pihak Black Rain baik Ishikawa-san, Herlin, maupun yang lainnya. Karena mereka memang tidak bisa melakukan apa-apa lagi.
"Tapi—!"
"Jika kalian melawan atau menolak, kalian akan melawan satu negara ini. Apa kalian bersedia?"
Pernyataan itu seperti menantang sekaligus meledek kami. Tapi kami tidak memiliki hak untuk marah, jadi yang bisa kami lakukan saat ini hanyalah pergi dari sini dan menghilangkan wajah Ryuzaki dari pandangan kami sekarang.
Tidak ada konflik berlebihan yang akan merugikan kami ke depannya. Jadi kami hanya bisa menerimanya dengan pasrah saja. Saat kami semua sudah pergi dan keluar dari ruangan itu, Hayashi sempat berbicara pada Ryuzaki.
"Apa yang akan kita lakukan pada tiga Assassin tadi?"
"Untuk saat ini kita biarkan saja dulu, jika mereka berbuat sesuatu baru kita akan bergerak dan menangkapnya.
**
Setelah mendapat berita yang tidak menyenangkan saat datang ke Tokyo, aku dan yang lainnya pulang dengan keadaan suram. Kami memutuskan untuk mampir dulu ke Haiiro Cafe.
Saat sampai di dalam Cafe, kami semua hanya bisa diam dan terduduk lemas. Sama sekali tidak ada wajah semangat yang keluar dari wajah kami dan kebetulan ada Aiza-san yang sedang ingin menutup Cafe karena hari sudah malam.
"Selamat datang semua," sambut Yuuki-san.
"Maaf malam-malam kami datang ke sini, hanya mengobrol sebentar saja kok," ucap Ishikawa-san.
"Tidak apa-apa. Selain Cafe, tempat ini memang berfungsi sebagai tempat berkumpul kalian, kan?"
"Terima kasih, Aiza-san."
Beruntung ada Aiza-san yang sangat peduli dan perhatian kepada kami. Meskipun Oita-san sudah tidak ada tapi ia masih memperhatikan Black Rain ini yang bisa saja jadi sumber masalah bagi keberlangsungan bisnis Cafe ini.
Meski begitu, hal itu belum menyelesaikan masalah kami sekarang. Black Rain baru saja dikeluarkan dari Kuni no Hashira dan sekarang tidak lebih dari organisasi biasa, tentu saja semuanya merasa bingung.
"Aku mau tanya." tiba-tiba Mei-senpai berbicara.
__ADS_1
"Ada apa?" jawab Ishikawa-san.
"Apa dampak yang kita dapatkan kalau kita dikeluarkan dari Kuni no Hashira?"
"Itu …."
"Pendapatan kita akan menurun. Sumber dana kami sebenarnya berasal dari organisasi Kuni no Hashira yang membiayai kami. Tapi jika kita sudah tidak menjadi bagian dari mereka lagi, dana tersebut tidak akan sederas dulu. Kita tidak akan mendapatkan uang kecuali kita menjalankan misi yang diminta oleh salah satu organisasi besar Kuni no Hashira," jelas Herlin.
"Jadi selama ini, pendapatan terbesar Cafe ini berasal dari kucuran dana yang diberikan oleh Kuni no Hashira?"
"Itu benar."
"Cafe ini sebenarnya tidak terlalu ramai, tapi bisa secara ajaib bertahan karena hal itu. Dan jika tidak ada dana itu, Cafe ini dan juga … panti asuhan …."
Jadi begitu. Selain mendapat biaya dari pemerintah, Haiiro Cafe juga menjadi penyumbang terbesar bagi Himawari Orphanage, tempat di mana Herlin dan anak-anak lainnya tinggal. Dan jika aliran dana itu terhenti, maka panti asuhan juga akan ikut merasakan akibatnya.
Herlin mendecakkan lidahnya pelan dan mengepalkan tangannya kesal menahan amarah. Ia bisa membayangkan apa yang terjadi pada tempat tinggalnya nanti jika kekurangan dana.
"Apa tidak ada yang bisa kita lakukan?" tanyaku.
Tidak ada yang bisa menjawabnya. Karena mereka tidak bisa menanggung beban seberat ini. Tapi tiba-tiba Caramel berbicara dan maju ke depan.
"Hah … mau bagaimana lagi, pada dasarnya kita ini memang hanya sebuah organisasi kecil dan miskin yang bahkan anggotanya tidak lebih dari sepuluh orang."
"Oi Caramel! Ini bukan saatnya untuk—!"
"Oleh karena itu, kita boleh melakukan hal yang kita mau."
Caramel menyela perkataanku dan malah mengatakan hal yang tidak masuk akal lainnya. Nigiyaka-san dan Herlin juga terlihat kesal dengan perilaku Caramel.
"Sebenarnya apa yang mau kau lakukan?" tanya Herlin.
"Jangan memandangiku seperti itu, aku tidak akan mengkhianati kalian. Tapi saat aku bekerja nanti, mungkin aku tidak akan membawa nama Black Rain."
"Bekerja? Memangnya pekerjaan apa yang kau bicarakan?"
"Ehehem … bukankah kalian sudah tahu, Nimis dan Ardenter?"
"Kembali menjadi Assassin …," gumam Nigiyaka-san.
"Itu tidak masuk akal!"
"Itu bisa saja aku lakukan."
"Eh? Serius?"
"Ya, kami sudah lama menjadi Assassin. Jika ada seseorang yang membayar kami, kami siap untuk membunuh siapapun. Tapi karena aku sudah bersama dengan kalian, aku bisa mengurangi jumlah permintaannya."
Nigiyaka-san entah kenapa setuju dengan rencana asal yang diucapkan oleh Caramel. Kembali menjadi Assassin. Seakan itu adalah hal yang mudah, tapi apa aku juga harus bekerja sebagai Assassin? Aku dengar menjadi Assassin adalah pekerjaan yang menghasilkan banyak uang.
Pemikiran-pemikiran liar kembali menyelimutiku saat ini. Tapi jika menjadi Assassin itu berarti aku harus siap membunuh seseorang. Setiap mendengar kata itu perasaanku langsung menjadi aneh, hati kecilku mengatakan kalau itu adalah hal yang tidak boleh dilakukan.
Herlin tanpa sengaja melihatku yang sedang kebingungan dan menghampiriku. Aku yang sadar kalau di dekati Herlin langsung melihat kearahnya, tapi dia malah menyentil kepalaku.
Tuuk…
"Adu—!"
"Kau pasti berpikiran aneh-aneh lagi, ya?"
"Ti-Tidak …."
"Kalian boleh melakukan pekerjaan Assassin lagi, kami berdua akan bekerja di sini."
"Eh? Bekerja di sini?"
"Benar sekali, kalian bisa membantuku dengan bekerja di sini," ucap Aiza-san.
"Kau berpikir untuk menjadi Assassin, kan? Jika keyakinanmu belum kuat untuk melakukan hal itu, lebih baik tidak usah," ucap Herlin pelan.
Nafasku yang tadinya tidak beraturan kini menjadi lebih tenang berkat Herlin. Ia berhasil menenangkanku sekaligus memberikan solusi yang tepat.
"Terima kasih, Herlin."
"Kalau begitu aku akan mencari kerja sambilan yang lain untuk membantu kalian," ucap Mei-senpai.
"Hah … sepertinya aku harus bekerja lebih keras lagi untuk mencarikan misi untuk kalian. Lagipula Murasaki-san mempercayakanku untuk menggantikannya," ucap Ishikawa-san.
Tiba-tiba kami semua menjadi lebih bersemangat. Perasaan suram yang tadi kami rasakan seketika sirna dan berganti menjadi lebih optimis lagi. Dan akhirnya, aku mulai besok secara resmi menjadi pegawai di Haiiro Cafe ini.
Keesokan harinya aku sudah mulai bekerja di sini dan datang pada pagi hari sekitar pukul 9 pagi. Cafe buka sekitar pukul 10 pagi jadi masih ada waktu untuk bersiap-siap.
Kriiing…
Bel pintu masuk Cafe berbunyi menandakan aku sudah masuk ke Cafe. Dan terlihat ada Aiza-san dan Herlin yang sedang mempersiapkan Cafe buka, tapi aku lebih terpana dengan penampilan Herlin.
"Maaf aku terlam— … bat."
Herlin tampil sedikit berbeda saat ini. Ia memakai celemek berwarna ungu dengan logo Haiiro Cafe di bagian depan. Lalu ia juga tidak memakai Hoodie-nya, hanya kaos lengan pendek biasa dan rambut yang diikat dengan gaya kuncir kuda, persis seperti di sekolah meskipun tanpa kacamata.
"Ah, kau sudah datang. Cepat bantu aku beres-beres, sejam lagi kita akan buka."
"A-Aku mengerti."
Herlin memberiku celemek juga dan kami pun membantu Aiza-san. Beberapa jam toko sudah buka dan hanya ada beberapa pelanggan saja yang datang, mungkin karena jam masih pagi. Jadi aku masih belum terlalu sibuk.
Baru lah saat sekitar jam istirahat makan siang, Cafe ini mulai ramai pengunjung. Meskipun tidak membeludak sampai ramai antrian, tapi bisa dibilang tidak terlalu sedikit.
Dan saat sore hari, saat pengunjung sudah mulai sepi dan anak-anak sekolahan sudah pulang dari sekolah. Ada beberapa anak sekolahan yang datang kesini dan tiba-tiba aku melihat tiga anak sekolahan yang aku kenal.
Kriiing…
"Sudah lama aku tidak kesini."
"Akhirnya kalian datang juga, silahkan cari bangku yang kosong," ucap Herlin menyambut mereka.
"Herlin-chan, lama tidak ketemu!"
"Akhirnya kita bertemu lagi, Anna-chan."
Mereka adalah Kudou, Hira, dan temannya Herlin, Kuromichi Anna. Aku langsung meninggalkan posku dan berlari menuju ke Kudou dan Hira lalu melompat untuk memeluknya.
"Kudou, Hira! Akhirnya aku bisa bertemu kalian lagi!"
Guubrak…
Tapi dengan sigap mereka berdua langsung menghindariku dan membiarkanku terjatuh dan menabrak pintu depan.
"Adu-du-duh … kalian ini kenapa sih? Tidak kangen padaku?"
"…."
"…."
Mereka tidak menjawabnya. Mereka justru berekspresi diam yang menimbulkan pertanyaan lalu melihat ke arah satu sama lain. Setelah itu mereka dengan kompak memukul kepalaku bersamaan.
Bonk… Bonk…
"Aduh! A-Apa itu diperlukan, oi?!"
"Beraninya kau menyembunyikan sesuatu dari kami," ucap Kudou.
"Eh?"
"Kami sudah tahu semuanya, 'Exception'."
Saat Hira mengucapkan kata-kata itu, aku terkejut bukan main karena mereka bisa mengetahui hal itu tanpa aku beritahu.
"Da-Darimana kalian mengetahui hal itu?"
Mereka berdua menengok ke arah Herlin. Sementara Herlin menengok ke arah dan tanpa rasa bersalah malah berpose 'peace'.
"A-Aku minta maaf, aku hanya tidak ingin kalian terlibat dengan semua ini. Ini bukan hal main-main dan bisa membahayakan nyawa kalian. Aku benar-benar minta maaf."
Ada jeda diam dari mereka berdua ketika mendengar permintaan maafku, tapi pada akhirnya mereka bisa menerimanya.
"Ya terserahlah, dari dulu kau memang suka sok pahlawan."
"Benar sekali. Oh iya, kau bekerja di sini, kan? Buatkan kami kopi yang enak, ya?!"
"Kalian memang yang terbaik! Dua kopi kualitas terbaik akan segera datang! Oh iya, Anna-san mau juga?"
"Nn. Aku juga!"
"Baiklah kalau begitu. Ngomong-ngomong, soal pembagian kelas yang terbaru bagaimana?"
"Ah soal itu, kami berdua masuk ke kelas B, sementara kau dan Ririsaka-san masuk ke kelas C."
Mendengar hal itu, rasa senangku yang tadi melimpah ruah langsung bocor dan tumpah seketika. Kenapa, kenapa aku yang hanya ingin bersenang-senang ini selalu jadi korban sial dari takdir.
"SIALAN KAU, DASAR TAKDIR!!!"
__ADS_1
Bersambung