
Setelah malam yang penuh ketegangan bagi Hanasaki-san serta Himeko dan kawan-kawannya, pada keesokan paginya sekolah berjalan seperti biasanya. Tidak ada yang tahu kejadian semalam kecuali orang-orang yang terlibat.
Tapi ada rumor yang beredar tentang kejadian semalam karena ada orang yang melihat Himeko masuk ke dalam gedung sekolah pada malam hari. Rumor itu semakin menguat ketika pada Senin ini, Himeko dan keempat kawannya tidak masuk sekolah.
Herlin juga terlihat seakan tidak melakukan apa-apa dan nampak normal, meskipun hanya sedikit mengantuk saja.
**
Satou Iraya PoV
Herlin menguap cukup lebar sampai air mata terbentuk di ujung matanya menandakan kalau semalam ia kurang tidur. Anna-san yang melihat itu kemudian bertanya padanya.
"Kau tidak apa-apa, Herlin-san? Sepertinya kau kurang semangat pagi ini."
"Ya begitulah, aku kurang tidur semalam. Jadi hari ini masih mengantuk."
"Tumben sekali, biasanya kau jam 9 malam sudah tidur seperti anak kecil," godaku.
"Tidur jam 9 malam membantu istirahatku lebih banyak dan energiku kembali terisi. Aku masih tidak mengerti dengan orang-orang yang bangga karena bisa tidur larut."
"Entahlah, mungkin menurut mereka itu keren."
Aku kemudian meninggalkan perhatianku terhadap Herlin dan beralih ke salah satu anak kelas yang sedang mengobrol bersama temannya.
"Hei, apa kau dengar rumornya? Semalam ada kejadian aneh di kelas, tahu."
"Masa? Ada kejadian apa?"
"Orang-orang yang lewat di depan sekolah pada tengah malam kemarin mendengar suara-suara teriakan serta lantunan merdu yang membuat bulu kuduk merinding."
"Benarkah? Sial! Kalau tahu begitu, kemarin aku pergi ke sekolah untuk merekamnya."
"Tapi kedatangannya sama misteriusnya dengan kepergiannya. Suara itu tiba-tiba hilang begitu saja seperti tanpa jejak sama sekali, aku juga yakin kalau itu yang membuat Himeko dan yang lainnya tidak masuk hari ini."
"Apa itu? Keren sekali!"
Aku selesai mendengarkan pembicaraan mereka dan mataku menyipit karena sadar serta curiga akan sesuatu. Aku melihat ke arah Herlin yang masih dalam keadaan menahan kepalanya agar tidak jatuh ke meja.
"Oi."
"Bukan aku."
Ia dengan cepat menjawabnya seakan sudah tahu apa yang ingin aku tanyakan. Ternyata benar kalau ada sesuatu yang mencurigakan dari rasa kantuknya pagi ini, tapi dia bersikeras masih tidak ingin mengakuinya.
"Hei, Cecilia."
"Aku tidak tahu."
"Aku bahkan belum bertanya!"
Kenapa sih semua orang pagi ini menyebalkan sekali. Rasanya mereka semua mengetahui sesuatu yang tidak aku pahami sama sekali dan itu membuatku merasa ditinggal.
Tapi sepertinya tidak ada gunanya memaksa orang seperti mereka untuk mengatakannya karena aku tidak akan mendapatkannya jika lewat jalur kekerasan, jadi aku akan membiarkannya saja sampai aku tahu dengan sendirinya.
Guru kemudian masuk ke kelas dan pelajaran pagi itu pun dimulai dari awal sampai akhir dengan normal.
Setelah jam istirahat selesai, aku seperti biasa ingin keluar kelas untuk makan bersama Kudou dan Hira, tapi perhatianku teralihkan dengan Hanasaki-san yang berjalan keluar kelas sambil membawa bekal.
Aku pikir Herlin sudah menyelesaikan masalahnya, tapi kenapa ia masih sendirian saja. Karena penasaran, aku pun mengikutinya dan ternyata ia masih makan di tempat yang sama.
Dari jarak yang cukup jauh, aku memastikan kalau ia tidak bisa mendengar maupun melihatku. Dan setelah beberapa menit, aku berniat kembali karena tidak ada hal yang menarik di sini.
"Kayaknya Herlin memang belum melakukan apa-apa, deh."
"Apa yang kau lakukan di sini, dasar stalker."
"Uwaaahh!"
Saat aku sedang mengintip, tiba-tiba ada seseorang yang mengagetkanku dari belakang yang membuatku jatuh ke depan dan tentu saja ketahuan oleh Hanasaki-san.
Aku tidak bisa merasakan keberadaan orang di belakangku, tetapi kemudian aku jadi tahu kenapa karena orang yang mengagetkanku adalah Herlin. Dan ada Anna-san juga di situ.
"Aduh ... kau ini kenapa, sih?"
"Tingkahmu aneh dari tadi, jadi aku memutuskan untuk mengikutimu."
"Aku cuma ingin tahu kalau kau ada hubungannya dengan kejadian tadi malam atau tidak, tapi sepertinya aku hanya berpikir negatif saja."
Herlin kemudian menghela nafas karena aku yang terus gigih mencari kebenaran. Hanasaki-san juga kemudian menghampiri kami semua dan akhirnya Herlin mau membicarakan semuanya.
__ADS_1
"Kalian lagi," ucap Hanasaki-san.
"Jadi Hanasaki-san, apa kau sudah ingin memberitahu alasan kenapa kau membenciku dan Anna-san. Sebenarnya aku sudah bisa mengira-ngira, hanya saja aku ingin memastikannya dari mulutmu langsung," ucap Herlin.
Hanasaki-san terdiam sebentar. Ia seperti masih tidak yakin ingin memberitahukannya atau tidak, tapi pada akhirnya ia mau menceritakan semuanya. Aku kemudian berdiri dan ikut mendengarkannya juga.
"Baiklah. Akan aku ceritakan."
"Baik."
Hanasaki-san kemudian memulai ceritanya. Pada awalnya di kelas B kehidupannya berjalan normal dan tidak ada masalah, ia memang hanya memiliki sedikit teman tapi itu memang keinginannya sendiri. Meskipun begitu, ia masih berteman baik dengan teman-teman di kelasnya, termasuk dengan Anna-san.
Hubungannya dengan Anna-san bisa dibilang baik meskipun tidak dekat, mereka juga bahkan sudah bertukar nomor telepon.
Tapi ada satu momen yang membuat semuanya berubah. Kelas B kedatangan murid baru dari luar sekolah. Kepindahannya ini terjadi sebelum aku dan Herlin masuk ke kelas B. Obisa Himeko. Itu adalah awal dari semuanya.
Sejak awal Hanasaki-san sudah tidak menyukai Himeko. Bukan karena ia lebih cantik ataupun memiliki banyak teman, tapi ada hal yang membuat Hanasaki-san tidak menyukai Himeko sejak pandangan pertama. Makanya ia sebisa mungkin untuk tidak berurusan dengannya meski mereka adalah teman sekelas.
Dan kemudian firasatnya benar.
Awalnya ia mendengar ada desas-desus kalau terjadi kasus perundungan kepada Anna-san di area belakang sekolah yang kosong. Tapi Hanasaki-san masih belum percaya sampai pada akhirnya ia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
Saat selesai jam olahraga, ketika ia ingin mengembalikan bola yang dipakai untuk kegiatan olahraga. Ia harus melewati bagian jalan kecil untuk sampai ke gudang tempat dimana bola ditaruh.
Di area yang sepi itu, tidak sengaja ia melihat kejadian itu. Perundungan dari Himeko dan kelompoknya kepada Anna-san. Saat itu ia tidak memiliki keberanian untuk menolong atau bahkan memunculkan dirinya, ia hanya bisa bersembunyi sambil melihat pemandangan tak mengenakkan itu.
Hanasaki-san juga melihat kalau Himeko mengarahkan gunting ke arah rambut Anna-san. Sampai kemudian seseorang datang menghentikan mereka.
Orang itu hanya sendiri. Tubuhnya bahkan lebih pendek dari Himeko dan kawan-kawannya. Tapi dengan santainya ia menghentikan perbuatan mereka tanpa rasa takut.
"... Orang itu adalah kau, Ririsaka-san."
"Jadi kau melihatnya, ya?"
"Iya. Itu adalah pertama kalinya aku melihatmu dan kata pertama yang terbesit tentang dirimu adalah 'penyelamat'. Setidaknya itulah yang ada di dalam ada pikiranku."
Hanasaki-san kemudian melanjutkan ceritanya. Setelah Herlin muncul dan memberi sedikit 'pelajaran' yang membuat mereka lari ketakutan. Herlin kemudian pergi dan begitu juga dengan Anna-san.
Seiring berjalannya waktu, Hanasaki-san memperhatikan Himeko di dalam kelas yang sedikit ketakutan jika ingin berurusan dengan Anna-san. Lama-lama kasus perundungannya juga sudah mulai menghilang dan rumornya juga perlahan lenyap.
Lalu ada sebuah momen, dimana itu menjadi awal dari kebencian Hanasaki-san kepada Herlin dan Anna-san.
Dan saat sedang menuju ke sana di tempat yang sama ketika ia melihat Anna-san waktu itu, ia melihat Himeko dengan kawan-kawannya sedang berkumpul di sana. Hanasaki-san ingat kalau saat itu Himeko sedang kesal karena ia sudah tidak bisa memalak duit dari Anna-san lagi karena Anna-san sudah berteman dengan Herlin.
Lalu di waktu yang sangat tidak tepat, seakan menyerahkan diri untuk menggantikan tempat Anna-san, aku muncul di hadapan Himeko yang sedang kesal.
"... Dan dari sana lah neraka itu dimulai. Aku dipalak, dipukul, dijambak, dan lain sebagainya. Orang-orang di kelas sebenarnya sudah tahu tentang keadaanku, tapi tidak ada satupun dari mereka yang membantu."
"Lalu kenapa kau membenci kami berdua? Bukankah seharusnya kau membenci mereka?" tanya Herlin.
Hanasaki-san terdiam lalu kemudian memalingkan wajahnya sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Herlin.
"Saat mereka pergi setelah melukaiku, aku terbaring di aspal sambil melihat ke arah langit. Aku memiliki sebuah harapan kecil di dalam hatiku."
"Harapan?"
"Sebuah harapan. 'Suatu hari, orang itu akan datang menolongku. Sama seperti saat dia menolongnya'. Itu yang selalu aku tekankan dalam hatiku, makanya aku selalu sabar dalam menghadapi mereka."
"Maksudmu ... kau menungguku?"
"Tentu saja aku membenci Himeko dan teman-temannya karena membuatku merasakan hal seperti ini. Tapi aku lebih benci padamu, Ririsaka-san—tidak, kebencian terbesarku adalah padamu, Kuromichi Anna!"
"A-aku?"
"Kenapa harus kau yang diselamatkan oleh Ririsaka-san?! Kenapa harus kau yang lepas dari genggaman Himeko?! Kenapa harus kau yang merasakan kebahagiaan itu?! Lalu kenapa harus aku yang menggantikan penderitaanmu?! Kau dengan senyum bahagiamu tertawa bersama dengan Ririsaka-san disaat aku sedang menangis berbaring di atas tanah, kenapa harus aku yang merasakannya?! Kenapa harus aku yang merasakan pahitnya?! Kenapa bukan kau?! Kenapa bukan orang sepertimu?! Kenapa?!"
"I-itu—"
"Aku juga membencimu, Ririsaka-san. Aku kira kau adalah 'penyelamat' seperti yang aku kira, tapi kau tidak ada bedanya dengan semua orang yang ada di kelas!"
Hanasaki-san mengeluarkan semua perasaan bencinya kepada Anna-san yang tidak melakukan apa-apa, tapi menurutnya Anna-san lah yang salah. Ia bersalah karena kabur dari genggaman Himeko. Air mata mulai mengalir deras dari kedua mata Hanasaki-san yang terus keluar meskipun sudah berusaha ia tahan.
Untuk beberapa saat, hanya suara tangis sesenggukan saja yang terdengar di parkiran saat ini. Tidak ada dari kami bertiga yang mencoba berbicara, tapi Anna-san kemudian menghampiri Hanasaki-san yang sedang menangis.
Anna-san kemudian memegang kedua pundak Hanasaki-san dan menatap langsung matanya. Ia yang sadar Anna-san mendekat kemudian membalas tatapan matanya.
"Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kau jadi korban selanjutnya setelah aku. Aku tahu aku yang salah karena tidak mencoba mencari tahu dan menolongmu, aku terlalu senang karena akhirnya ada seseorang yang bisa menerimaku menjadi temannya."
"Karena itu aku membencimu."
__ADS_1
"Aku tahu. Kau boleh membenciku sepuasmu, tapi satu hal yang harus kau tahu, kau tidak boleh membenci Herlin-san."
"Tidak boleh? Tapi kenapa?"
"Karena meskipun terlambat, ia masih mencoba untuk membantumu. Aku tidak tahu tentang rumor tadi malam itu benar atau tidak, tapi aku yakin kalau Herlin-san tidak akan membiarkanmu begitu saja jika ia tahu kalau kau sedang dalam masalah."
"So-soal itu ... aku rasa kau benar."
Anna-san kemudian tersenyum karena ucapannya ternyata tepat. Ia kemudian bertanya lagi tentang kebenciannya kepada Herlin dan kebencian Hanasaki-san sudah mulai berkurang.
"Lalu yang terakhir, aku akan mencoba satu hal padamu."
"Satu hal?"
"Nn! Aku akan membuatmu agar tidak membenciku lagi. Aku tahu ini sikap egoisku sendiri, tapi aku tidak suka jika hidup dengan dibenci seseorang. Jadi aku akan mencoba untuk menghilangkannya. Terlebih lagi, aku belum dapat biodata dirimu."
"Biodata?"
Hanasaki-san terlihat bingung dengan perkataan Anna-san yang terakhir. Tapi ia kemudian menghapus air matanya dan terlihat sedikit tersenyum.
"Kuromichi-san, aku membencimu. Sangat membencimu."
"Nn. Aku tahu."
"Tapi aku akan memberimu kesempatan untukmu agar kau bisa menghilangkan perasaan benci ini di dalam hatiku."
"Terima kasih, Hanasaki-san! Aku yakin aku akan menghilangkannya!"
Dan sepertinya masalah ini sudah lumayan selesai tanpa sedikitpun campur tangan dariku. Entah kenapa aku merasa lega karena aku tidak perlu melakukan apapun.
"Maaf Herlin-san, Iraya-san, bisakah kalian tinggalkan kami berdua? Ada baaanyak hal yang ingin kami bicarakan berdua."
"Aku mengerti. Yang akrab ya, kalian berdua."
"Tentu!"
"Semoga saja."
Aku dan Herlin pun kemudian pergi dari sana meninggalkan Hanasaki-san dan Anna-san yang mencoba membangun hubungan baik mereka berdua lagi. Di perjalanan ke kelas, kami berdua sempat membicarakan hal ini.
"Jadi Hanasaki-san adalah orang yang berharap akan kau tolong, sama seperti saat kau menolong Anna-san waktu itu?"
"Sepertinya dia menganggapku begitu. Tapi meski begitu, pertemuanku dengan Anna-san waktu itu juga hanya kebetulan saja dan menurutku kebetulan tidak akan datang dua kali."
"Pada akhirnya kau tetap menolongnya, kan? Tepatnya malam kemarin."
"Iya."
"Jadi begitu."
"Terlalu berharap dengan seseorang, sebenarnya yang akan kau dapatkan hanyalah rasa kecewa," gumam Herlin kecil.
Herlin seperti bergumam kecil dan aku tidak dapat mendengarnya dengan jelas. Tapi aku tidak ingin menanyakannya lebih jauh tentang itu karena sorotan matanya seperti seseorang yang kesal dan kasihan. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk menanyakan hal lain.
"Hah ... kau ini, kenapa tidak mengajakku, sih?"
"Karena jika mengajakmu aku yakin urusannya akan semakin panjang, tapi sebagai gantinya aku mengajak Caramel untuk membantuku."
"Caramel?! Kau mengajaknya tapi tidak mengajakku?! Aku benar-benar merasa dikhianati."
Aku memasang wajah sedih dan kecewa. Tapi itu tidak dihiraukan oleh Herlin karena dia tahu kalau aku sedang bercanda.
"Tapi aku bangga dengan Anna-san."
"Hn?"
"Pada awal bertemu dengannya, dia sangat pemalu dan bahkan tidak bisa melihat mata lawan bicaranya. Tapi sekarang dia bahkan sudah bisa memulai pembicaraan dan berbicara dengan percaya diri seperti itu."
"Ya ... kalau aku pikir-pikir, dia memang pemalu dan lembut sekali, sih. Bahkan seperti aku tidak bisa berbicara dengan nada keras padanya."
"Kau harus belajar cara bersosialisasi dengannya, kau tahu."
"Heh! Sebenarnya aku bisa dapat seratus teman, tapi aku memilih untuk misterius dan memiliki sedikit teman. Karena itulah jalan ninjaku!"
"Ya, ya, terserah kau saja. Nanti sore jangan lupa latihan di tempat biasa, porsimu dengan Mei-senpai akan aku tambahkan."
Herlin sama sekali dengan jalan ninjaku dan sekarang dia malah menambah porsi latihanku. Hah ... Hidupku apes sekali.
Bersambung
__ADS_1