Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 60 : Keluar Dari Laboratorium


__ADS_3

Saat Herlin sudah menguatkan tekadnya untuk pergi ke pabrik. Tiba-tiba saja ia dipanggil oleh seseorang yang tidak dia sangka akan ada disini.


"Oita-san?!"


"Kenapa kau terkejut begitu?"


Oita-san muncul tiba-tiba dan mengagetkan Herlin. Tapi entah kenapa ada perasaan lega melihat kehadiran Oita-san disini, meskipun ia masih sedikit bingung.


"Kenapa Oita-san ada disini? Bukankah anda tidak ikut dalam misi kali ini?"


"Ahaha … aku tidak pernah bilang seperti itu. Aku hanya sedang mencari sedikit bantuan saja."


"'Sedikit', ya?"


"Eh?"


Dari belakang Oita-san, tiba-tiba muncul seseorang yang dapat menjadi sebuah bantuan besar. Diikuti oleh seorang lagi wajah yang Herlin kenal dan masih banyak lagi orang-orang yang ada di belakangnya.


"… Bisa-bisanya kau menyebut semua ini 'sedikit', dasar."


Dia adalah ketua dari Red Flame, Kurayami Ryuzaki beserta dengan tangan kanan terkuatnya, Hayashi Satou. Dan masih ada banyak murid dari organisasi Red Flame yang ikut dalam misi kali ini.


"Red Flame? Kenapa mereka ada disini?"


"Sudah jelas bukan …?"


"Eh?"


"Untuk membantu Black Rain menghancurkan Heiwa Pharmacy yang dicurigai sebagai tempat eksperimen dari Ayakashi Corp.!" ucap Ryuzaki.


"Sesuai perjanjiannya."


"Perjanjian?"


Oita-san menjelaskan kepada Herlin yang sedang terlihat sangat kebingungan saat ini. Oita-san menyebut tentang perjanjian yang dibuat karena kemenangan Iraya di Tokyo beberapa waktu lalu.


"Jika Black Rain menang dalam taruhan itu, maka Red Flame akan bersedia membantu dalam misi-misinya …?"


"Benar sekali."


Herlin mendongak ke atas. Melihat kearah langit mendung yang sebentar lagi akan mengeluarkan isinya. Di dalam tatapan kosongnya itu, Herlin sempat berpikir sedikit.


"Jadi kemenangannya itu berdampak sampai saat ini, ya?" gumam Herlin pelan.


Tiik… Tiik… Syuurr…


Tiba-tiba rintik-rintik hujan turun membasahi wajah Herlin. Menuruni pipi lembutnya dan berakhir jatuh di tanah. Hujan yang ringan itu lama kelamaan berubah menjadi deras dan suasana di sekitar sini pun mulai berkabut.


"Hujan?"


"Kenapa bisa tiba-tiba hujan begini? Bukankah tadi harusnya cuacanya cerah?"


"Karena petir tadi."


"Hn?"


Herlin kemudian menjawab pertanyaan Oita-san. Ia belum yakin sepenuhnya, tapi ini adalah penjelasan paling masuk akal dari fenomena ini. Dan kemungkinan besar, yang menciptakan hujan ini adalah petir tadi.


"Aku rasa serangan Iraya yang menciptakan hujan tiba-tiba ini," ucap Herlin.


"Hmm … jadi begitu. Ryuzaki, apa kau masih bisa menjalankan rencananya?"


"Heh! Hujan kecil seperti ini tidak akan bisa memadamkan api milikku."


"Lalu soal Exception musuh yang ada disini?" Oita-san bertanya kepada Herlin.


"Soal itu, aku melawan salah satu dari mereka sebelumnya. Dan kekuatan miliknya berada diluar kendaliku. Aku sangat beruntung karena bisa kabur saat dia sedang lengah. Kalau tidak salah namanya adalah Astaroth, pemimpin dari Assassin Ayakashi Corp.. Dan juga ada satu lagi yang sedang menghadapi Iraya dan Senpai, dia memiliki kekuatan menggandakan dirinya."


"Astaroth …?"


Oita-san memicingkan matanya ketika Herlin menyebut nama Astaroth. Ia seperti memiliki suatu hubungan dengan orang bernama Astaroth ini. Oita-san menunduk dan memegang dagunya. Ia memikirkan musuh lain selain orang bernama Astaroth tadi.


"Ada apa, Oita-san?"


"Tidak, tidak apa-apa. Kau bilang yang satu lagi memiliki kemampuan menggandakan dirinya? Aku belum pernah mendengar mereka punya anggota yang memiliki kemampuan seperti itu."


"Mungkin saja dia merekrut anggota baru," ucap Ryuzaki yang ikut masuk dalam pembicaraan mereka berdua.


"Benar. Mungkin saja seperti itu."


"Oita-san, mungkin sudah terlambat bertanya sekarang, tapi …."


"Ada apa?"


"Apa anda bisa memberitahuku anggota Assassin yang kau ketahui beserta kekuatannya?"


Oita-san tersenyum mendengar pertanyaan Herlin. Ini juga kesempatan yang bagus untuk memberitahunya sebelum bertarung melawan mereka.


"Tentu saja. Ingat nama mereka baik-baik. Kau mungkin sudah pernah menemui beberapa dari mereka. Yaitu Ardenter dan Nimis, mereka memiliki kemampuan Physical Strength dan Elemental. Ketiga ada Ivis, memiliki penampilan seperti pelayan tua dengan rambut putih. Ia memiliki kemampuan Elemental.


Keempat ada Lennova, seorang anak kecil yang memiliki rambut pink panjang dan stiker love di pipinya. Kemampuannya adalah Transformation. Selanjutnya ada Baram, dia adalah pria besar bertinggi dua setengah meter. Kemampuannya adalah Physical Strength.


Lalu ada Astaroth yang baru saja kau katakan. Sepertinya dia memiliki kemampuan Elemental. Tapi aku ragu kalau si sialan itu hanya memiliki satu kemampuan.


Dan yang terakhir adalah Caramel …."


Saat Oita-san menyebut nama Caramel, ekspresi Herlin berubah. Ia terkejut mendengar nama itu ada di antara para anggota Assassin lainnya. Tanpa sadar, sekelebat ingatan yang ingin Herlin lupakan saat di turnamen muncul kembali di dalam kepalanya.


Herlin sekarang sadar alasan dia saat itu berada di kamar Iraya adalah karena dia ingin menculik Iraya. Tapi dirinya malah bersikap kekanak-kanakan dan menuduh Iraya yang bukan-bukan.


"Herlin-chan?!"


"Eh?"


"Apa kau baik-baik saja?"


Suara dari Oita-san menyadarkan Herlin dari lamunannya. Herlin kemudian kembali fokus dan melupakan hal-hal yang tidak perlu untuk saat ini.


"Aku tidak apa-apa, kalau begitu ayo kita segera berangkat."


"Wow, semangat mu sudah kembali seperti semula. Syukurlah kalau begitu."


Oita-san kemudian menengok ke arah Ryuzaki dan yang lainnya kalau mereka sudah siap untuk menyerang. Ryuzaki dan yang lainnya mengerti oleh apa yang dimaksud oleh Oita-san dan membalasnya dengan sebuah anggukan.


"Ayo berangkat!"


Swuuushh… Swuuushh…


Mereka semua bergerak dengan kecepatan tinggi karena jarak dari pabrik dengan tempat mereka berada saat ini cukup jauh. Sekitar lima kilometer. Saat bergerak, Herlin sempat bergumam kecil.


"Tunggu aku … Senpai … Iraya!"


**


Sementara itu, saat ini Iraya sudah berada di dalam pabrik Heiwa Pharmacy. Di dalamnya begitu luas dan didominasi oleh warna putih. Iraya lalu melihat sebuah ruangan dan kemudian memasukinya.


Ruangan yang penuh dengan rak yang terbuat dari kaca dan di dalamnya berisi obat-obatan yang sebagian besar sudah berjatuhan dan berantakan. Kondisi disini sudah benar-benar kacau. Bau yang dikeluarkan obatnya sangat tajam dan membuatku tidak tahan berlama-lama di dalam sini.


"Kacau sekali," gumamku.


Sreet…


Saat aku sedang sibuk mengasihani dan mencari petunjuk di tempat ini, tiba-tiba ada sebuah pergerakan yang berada di belakangku. Aku pun dengan cepat langsung mengacungkan pedangku ke arah sumber suara.


"Hii …! Ampuni aku! Aku tidak melakukan apa-apa! Kumohon ampuni aku!"


Suara tadi berasal dari seorang peneliti yang bersembunyi di ruangan ini. Bagaimana caranya dia bisa bertahan di ruangan dengan bau busuk seperti ini? Aku kemudian menarik pedangku dan kemudian mengangkat kerah baju peneliti itu.

__ADS_1


"Hii …!! Kumohon!! Aku akan melakukan apapun! Kumohon jangan bunuh aku!"


Kondisi peneliti itu sangat menyedihkan. Jas lab yang seharusnya berwarna putih, saat ini sudah bercampur berbagai macam warna akibat darah, bekas injakan sepatu, dan cairan warna lain yang kemungkinan adalah obat. Hidung dan pelipisnya juga mengeluarkan darah. Kondisi mentalnya juga sepertinya sudah tidak stabil.


Aku pun berhenti menakut-nakutinya dan kemudian menanyakan beberapa hal kepadanya.


"Kau! Apa ada Exception lain disini?! Selain si topeng berjubah itu?!"


"Hii …! Ada, ada!! Namanya Astaroth! Dia adalah pemimpin dari organisasi Assassin milik Ayakashi Corp.! Tapi saat ini dia sedang tidak berada disini."


Astaroth? Dia salah satu anggota Assassin juga, ya? Yosh! Ini adalah kesempatan yang bagus untuk mengorek informasi.


"Darimana asalnya semua keributan ini?!"


"Da-Dari makhluk eksperimen. Sepertinya mereka sudah terbangkitkan. Jika monster itu lolos ke kota, maka penduduk kota akan jadi makanan mereka."


"Dimana sekarang mereka?!"


"Diatas! Diatas! Di lantai dua! Aku sudah menjawab semua pertanyaanmu. Jadi kumohon lepaskan aku!"


Kepulan asap hitam semakin memenuhi jalanan di luar ruangan ini. Dan sedikit demi sedikit mulai memasuki ruangan ini yang membuatku sulit bernafas.


"Apa kelemahan monster itu?"


"Kelemahannya—"


Sebelum peneliti itu menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba ada sebuah teriakan dari luar ruangan ini. Teriakan yang sama sekali tidak mirip dengan teriakan manusia. Tapi karena tebalnya asap membuatku tidak bisa melihat makhluk itu dengan jelas.


"Ahh …!! Tidak, tidak, tidak! Makhluk itu akan memakanku! Aku tidak mau! Tidak, jangan!"


"Oi! Tenang sedikit!"


Peneliti itu memberontak dan berhasil melepaskan cengkramanku dari kerahnya. Sambil terduduk, ia pun bergerak mundur dan tangannya tidak sengaja terpeleset cairan obat yang jatuh ke lantai.


Kraakk… Craasshh…


Dan plafon yang sudah rapuh akibat kebakaran ini jatuh tepat diatas kepalanya yang membuat kepalanya hancur. Tangan peneliti itu sempat bergerak sedikit tapi lama kelamaan berhenti bersamaan dengan darah yang mengalir dari kepalanya yang telah hancur.


"Sialan!"


"Iraya, kita tidak punya banyak waktu lagi. Cepat cari dia dan keluar dari sini!"


"Eh~?! Aku ingin sedikit meminum darahnya! Tunggu sebentar!"


Aku tidak menghiraukan rengekan Tetsu dan langsung pergi dari ruangan itu menembus kepulan asap tebal ini. Sambil menutup hidungku dengan tangan, aku mencari tangga untuk menuju ke lantai dua.


"Disana!"


Merespon teriakan Cecilia. Aku langsung menengok ke arah sebuah tangga yang sudah hampir roboh. Tanpa pikir panjang, aku pun langsung naik menuju ke lantai dua.


Bruuukk…


Meskipun setelah aku melewatinya, tangga tersebut langsung roboh yang membuat jalan turun ku tertutup.


Aku tidak terlalu khawatir soal jalan kembali. Karena jika sudah sangat darurat, aku akan menghancurkan tembok pabrik ini dan langsung melompat keluar.


"Asapnya terlalu tebal!"


Di lantai dua, asap hitam semakin tebal dan memenuhi gedung ini. Tapi saat aku kebingungan, tiba-tiba ada suara teriakan yang kembali terdengar.


"GeEeyyYyaaAAhh …!!"


"Suara itu lagi?!"


Aku langsung berlari kearah sumber suara tadi dan menemukan sebuah ruangan yang jalan masuknya sudah tertutup puing-puing bangunan. Suara teriakan mengerikan keluar dari dalam ruangan itu. Aku secara perlahan mencoba mendekatinya. Tapi saat mendekatinya tiba-tiba ada sebuah tangan yang menutup mulutku dari belakang.


"Mmrrh?! Emmrh …?!"


"Jangan berisik …! Para monster itu bisa mendengarmu!"


Suara itu memperingatkanku dengan nada teriak yang berbisik. Suara yang kukenal terdengar di telingaku. Aku menjadi lebih tenang dan orang itu pun melepaskan tangannya dari mulutku. Aku berbalik badan untuk melihatnya dengan lebih jelas.


Buukk…


"Sudah kubilang jangan berisik!"


"Ma-Maaf."


Kurobane-senpai memukulku karena aku tidak sengaja berteriak. Aku bersyukur karena Senpai masih hidup dan dalam kondisi yang baik-baik saja. Tapi meskipun baik-baik saja, kondisi tubuhnya cukup kotor dan kakinya terluka. Saat ini pun Senpai hanya memakai sebuah singlet hitam dan tidak memakai jaketnya.


"Jadi, bagaimana dengan lawan yang kau lawan tadi?"


"A-Ah so-soal itu … aku bisa mengalahkannya. Meskipun pada akhirnya dia kabur."


"Begitu ya."


Aku mencoba untuk fokus dalam pembicaraan, tapi tanpa sadar bola mataku melihat kebawah berulang kali meskipun aku sudah berusaha untuk menatap wajah Senpai. Wajahku memerah seperti tersetrum sesuatu dan membuatku harus memalingkan wajahku kearah lain.


"Hentai …."


Cecilia dan Tetsu mengucapkan kata itu secara bersamaan. Membuatku terlihat seperti orang mesum meskipun disaat seperti ini. Maafkan aku, okey?! Aku ini juga laki-laki.


"Nn, Iraya? Ada apa?"


"Ah! Ti-Tidak ada apa-apa!"


Kurobane-senpai sempat memiringkan kepalanya seakan bertanya. Tapi ia tidak menghiraukannya untuk waktu yang lama dan kemudian berjalan ke suatu ruangan. Aku pun berjalan mengikutinya.


"Senpai, kita mau pergi kemana?"


Sebelum Senpai sempat menjawab, pertanyaanku seakan terjawab saat melihat seorang wanita yang hanya memakai jaket—yang kemungkinan jaket Senpai, sedang duduk lemas menyandar ke tembok.


"Senpai, dia …?"


"Dia adalah salah satu korban eksperimen yang berhasil aku selamatkan. Aku hanya baru tau namanya saja, sepertinya ingatannya masih sedikit kabur."


"Heh~…."


Aku pun mendekati perempuan itu. Ia seperti ketakutan dan menutup daerah sensitifnya dengan jaket milik Senpai. Tapi aku berhasil meyakinkannya kalau aku ini tidak berbahaya.


"Namamu?"


"Ha-Haru …."


"Selamat malam Haru-san, namaku Satou Iraya. Mmm … meskipun masih banyak hal yang belum kamu mengerti, tapi aku jamin kalau kami akan membawamu keluar dengan selamat. Okey?"


Aku pun mengulurkan tanganku. Meskipun masih sedikit takut, tapi pada akhirnya ia menyambut uluran tanganku.


"Tadi aku juga belum sempat memberitahu namaku. Aku Kurobane Mei, dan aku sudah berjanji untuk membawamu keluar sebelum anak ini, kan?"


Perempuan itu terlihat kebingungan. Tapi setelah itu tiba-tiba dia mengeluarkan air mata. Ia pun menggenggam tanganku dengan kedua tangannya dengan lebih erat sambil melirih dan memohon.


"Kumohon … aku takut …. Aku ingin keluar dari sini."


Aku pun menggenggam tangannya dengan kedua tangannya. Memberikan sebuah senyuman optimis kearah wajah penuh air mata miliknya. Membuatnya merasa aman dan tidak takut lagi.


"Tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja."


"Baiklah, kita akan mengatur rencana untuk keluar dari sini. Prioritas utama kita sekarang berubah, Iraya."


"Ya, aku mengerti. Setelah terbakarnya pabrik ini, setidaknya tujuan kita sudah setengahnya tercapai. Jadi ini masih sebuah keuntungan bagi kita."


"Kalau soal jalan keluarnya …."


Aku memeriksa tembok di ruangan ini. Keadaannya sudah sangat rapuh. Besar kemungkinan jika aku menghancurkannya, maka keseluruhan ruangan ini akan hancur. Jadi aku tidak bisa menggunakan kekuatanku secara sembarangan, ya?"


"Tch!"

__ADS_1


"Aku rasa aku melihat sebuah lubang yang cukup besar akibat ledakan ini," ucap Senpai.


"Dimana?"


"Di sebelah ruangan monster itu berada. Masalahnya setelah menjadi monster, kemampuan indranya meningkat yang membuat kita tidak bisa sembarangan bergerak."


"Apa Senpai tidak bisa menggunakan kemampuan terbang Senpai?"


"Aku bisa, tapi luka di betisku membuatku tidak bisa mengendalikan gerakannya. Jadi percuma saja."


"Begitu."


Keadaan saat ini benar-benar sulit. Senpai terluka, ditambah lagi kita membawa satu orang tambahan. Tapi aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Aku tidak bisa bertarung dengan bebas jika ada orang di sekitarku. Berpikirlah otakku!


"Kau terlalu banyak berpikir."


"Dia benar, tau."


"Eh?"


Tiba-tiba Cecilia dan Tetsu berbicara kepadaku saat aku sedang berpikir.


"Kau yang paling kuat disini saat ini. Bukankah yang harusnya kau lakukan adalah melindungi mereka berdua?" ucap Tetsu.


"Dan kau ini laki-laki, kan? Kau pernah bilang kalau kau akan melindunginya selama kau bisa. Atau jangan-jangan kau hanya bilang begitu jika yang harus kau lindungi adalah Herlin?" ucap Cecilia.


Ujung bibirku terangkat karena kata-kata mereka berdua. Aku tidak tahu yang mereka berikan tadi adalah saran, ucapan yang membuatku tenang, atau sedang mengejekku. Tapi itu tidak merubah fakta kalau aku menjadi lebih percaya diri sekarang.


"Hah … Spirit-Spirit bodoh ini …."


Benar. Sederhana saja, yang harus kulakukan adalah melindungi mereka berdua sampai kita semua keluar dari sini.


"Apa kau bisa berjalan?"


Haru-san mengangguk pelan. Sepertinya tubuhnya sudah lumayan kuat. Aku pun mengangguk dan melihat kearah Senpai.


"Apa kau bisa menuntunnya ke jalan keluar, Senpai?"


"Bisa. Lalu apa yang akan kau lakukan?"


"Sudah jelas bukan?! Aku akan menjaga kalian berdua keluar dari sini. Tidak peduli makhluk seperti apa monster itu, aku tidak takut!"


Senpai melihat kearah Haru-san. Ia pun juga melakukan hal yang sama. Dan tiba-tiba mereka berdua tertawa secara bersamaan. Seakan yang kukatakan adalah hal yang lucu.


"A-Apa ada yang lucu?"


"Tidak ada. Ya, kan?"


Senpai bertanya ke Haru-san dan ia pun mengangguk sambil masih sedikit tertawa. Aku yang sadar kalau yang aku lakukan memalukan membuat wajahku merah padam.


"Po-Pokoknya! Ayo kita keluar dari sini."


"Nn!"


**


Setelah melakukan persiapan sebentar, akhirnya kami bersiap untuk keluar dari pabrik ini. Kurobane-senpai merangkul Haru-san dan berjalan pelan di depanku. Sementara aku menjaga mereka berdua dari belakang.


Kami berjalan pelan diantara puing-puing bangunan yang berserakan di jalan. Suara para monster itu juga semakin terdengar jelas ketika kami mendekati ruangan penuh monster itu.


Sebisa mungkin kami tidak menimbulkan suara ketika melewati pintu ruangan monster itu. Aku sedikit mengintip ke dalam dan melihat belasan monster tinggi yang berkumpul entah sedang melakukan apa. Aku kemudian mengisyaratkan kepada mereka berdua untuk terlebih dahulu jalan di depanku.


Senpai dan Haru-san berjalan di depanku. Para monster itu belum menyadari keberadaan mereka. Dan setelah beberapa saat, akhirnya mereka bisa melewati pintu itu dengan aman.


Mereka sedikit beristirahat dan menghela nafas karena keadaan menegangkan tadi. Tapi dari arah atas mereka, sebuah plafon yang rapuh jatuh tepat diatas kepala Haru-san.


"Awas!"


Swuuushh… Klaank… Klaank…


Senpai tidak membiarkan plafon itu mengenai kepala Haru-san dan menerbangkannya jauh dengan kekuatannya.


"Kau tidak apa-apa?"


"I-Iya …."


Mungkin hal yang dilakukan oleh Senpai tadi dapat menyelesaikan satu masalah. Tapi masalah berikutnya datang dengan sangat cepat.


"GeEeyyYyaaAAhh …!!"


"Lari semua!"


Para monster itu mendengar plafon yang rubuh barusan dan secara berbondong-bondong berebut ingin keluar dari pintu. Hal itu mengulur sedikit waktu agar Senpai dan Haru-san dapat berlari. Sementara aku mencoba menahan mereka selama mungkin.


"Jangan pikir kalian bisa lewat!"


Sryiiingg… Sryiiingg…


Aku menebaskan pedangku ke udara dan hembusannya yang tajam melukai beberapa dari mereka. Tapi hal itu hanya memperlambatnya sedikit. Para monster itu tetap berlari mengejar kami bertiga.


"Tidak melambat?!"


"Iraya! Cepat lari dari sini!" ucap Cecilia.


Aku pun dengan cepat menyusul Kurobane-senpai dan Haru-san. Gerombolan monster itu terlihat berebut dan terkadang mereka jatuh karena tersandung meskipun mereka langsung bangkit kembali.


Aku melihat sebuah lubang bekas ledakan yang cukup besar dan bisa kami gunakan untuk keluar dari sini.


"Cepat ke lubang itu!"


Bzztt… Bzzt…


Swuuushh…


Aku mengalirkan sedikit aura ku ke kaki yang membuat langkahku semakin ringan dan cepat. Sementara Kurobane-senpai mengarahkan tangannya kebelakang dan melepaskan hembusan angin yang dapat mempercepat pergerakannya.


Kami semakin dekat dengan lubang itu dan ketika sudah sampai, tanpa pikir panjang kami melompat secara bersamaan dan seirama. Meninggalkan pabrik yang terbakar tadi.


"Berhasil …!"


Grab…


"Eh?!"


Tapi salah satu dari monster itu dengan tubuh yang penuh luka dan gosong, berhasil menarik rambut Haru-san pada detik-detik terakhir dan berhasil memisahkannya dari rangkulan Kurobane-senpai.


"HARU-SAAAAN …!!!"


Ekspresi Haru-san seperti shock namun tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya mencoba mengulurkan tangannya berharap ada keajaiban yang dapat meraih tangannya.


Tapi semuanya terlambat.


Monster itu menarik Haru-san kembali ke dalam pabrik dan bersamaan dengan itu, puing-puing bangunan menutup lubang tempat jalan keluar kami yang tadi.


Sementara aku dan Kurobane-senpai jatuh diatas hamparan rumput yang membuat kami tidak terluka sedikitpun. Kurobane-senpai masih mengulurkan tangannya, masih mencoba untuk menyelamatkan Haru-san yang sudah tidak ada.


"Lagi …. Aku gagal menyelamatkan seseorang lagi …. Sialan …."


Kurobane-senpai menutup matanya yang sedang mengeluarkan air mata. Aku tidak bisa menumpahkan semua kesalahan ini kepadanya. Ini juga adalah salahku.


Tap… Tap…


"Wah, wah, wah, sepertinya kita menemukan buruan utamanya sebelum bos, ya?"


Aku terkejut mendengar suara itu. Suara yang kukenal. Suara yang membuatku berkelahi dengan Herlin sebelumnya. Aku menengok kearah sumber suara itu. Tiga orang telah berdiri di depan kami. Tiga orang yang kukenal.


"Kau …! Assassin sialan!"

__ADS_1


Aku mengacungkan pedangku dengan kuda-kuda yang sudah melemah kepada mereka. Nimis, Ardenter, dan juga Caramel. Aku bersiap bertarung demi dirinya. Demi Kurobane-senpai!


Bersambung


__ADS_2