Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 151 : Kastil Blaircass


__ADS_3

Aku sudah memutuskan, kalau aku akan pergi untuk menemukan orang tuaku.


Itu adalah kata-kata ku dua tahun lalu ketika aku menguatkan diriku untuk pergi ke tempat yang sangat jauh dari Jepang. Ke barat. Daerah Eropa yang cukup dingin, kalau tidak salah namanya adalah Irlandia. Tentu saja itu bukanlah hal yang mudah bagi diriku yang bahkan belum berusia dua puluh tahun.


Bepergian sendirian, tanpa persiapan, berbekal uang pas-pasan, dan tanpa petunjuk yang jelas. Salah satu petunjuk yang aku miliki saat itu adalah dari wanita yang aku temui di radio stasiun saat itu.


Seseorang dengan rambut pirang seperti diriku dan memanggilku dengan nama 'Herlinia'.


Dan petunjuk lainnya adalah The Unseen milikku sendiri — Banshee. Setelah aku memeriksanya di internet, Banshee adalah makhluk mitologi yang berasal dari Irlandia. Hal itulah yang membuatku yakin untuk segera berangkat.


Dan jika kalian bertanya bagaimana caranya aku bisa bepergian keluar negeri sangat jauh. Nezumi membantuku, dia memberitahuku kalau keluar negeri harus menggunakan paspor, jadi dia membantuku membuat paspor dan dengan tabunganku, aku membeli tiket pesawat.


Tapi setelah sampai, aku kehilangan arah. Apa yang harus dilakukan terlebih dahulu aku tidak mengerti, bahkan kemampuan bahasa Inggris ku masih terbatas saat itu.


Seminggu lebih aku menjadi seorang nomaden dan tidur berpindah-pindah, entah itu di pinggir jalan, di kolong jembatan, bahkan sempat di emperan gereja. Tapi aku kehabisan uang dengan cepat dan tidak bisa membeli makanan selama berhari-hari.


Sampai suatu hari, ketika aku sudah berada di ujung batasku, pada hari dengan hujan yang mulai mereda. Aku sedang terduduk dan tiba-tiba seorang laki-laki memayungiku.


Lalu singkat cerita, bisa dibilang aku diadopsi oleh mereka. Karena menumpang tinggal di rumahnya terdengar seperti aku adalah seorang yang kurang ajar dan tidak tahu diuntung.


Laki-laki yang menemukanku bernama Edmund. Dia dan kedua orang tuanya menerimaku dengan cukup baik dan sebagai balasan yang bisa ku berikan adalah dengan membantu kedua orang tuanya membuat makan dan tidak meminta apapun dari keluarga mereka. Menumpang tidur atau aku lebih suka disebut kalau aku 'diadopsi' berlangsung sampai sekarang.


Berkat mereka, aku dapat melanjutkan pencarianku dengan lebih mudah. Dan sudah menemukan beberapa hal yang aku temukan tentang kota ini serta misterinya.


Ini adalah kota yang modern, dengan tetap mempertahankan beberapa aksen bangunan kuno yang kebanyakan diartikan sebagai jati diri kota atau mungkin daya tarik turis yang ingin berkunjung kesini.


Namun, terdapat satu kejanggalan yang membuatku kepikiran, ada sebuah danau cukup besar di tengah kota ini. Dan di tengah danau, ada pulau kecil yang berdiri sebuah kastil besar di tengah-tengahnya, atau setidaknya itu yang aku dengar dari internet.


Jadi malam ini akan ku periksa dengan mata kepalaku sendiri. Aku melihat ke jam yang menempel di dinding dan sudah hampir menunjukkan tengah malam. Waktu yang tepat untuk keluar.


Asal tidak berisik, aku bisa keluar sebebasnya di malam hari lewat jendela kamarku. Karena kebetulan ada di lantai dua, jadi hanya dengan melompat maka aku sudah berada di halaman depan rumah.


"Yosh."


Bangun dari tempat tidur dan membuka jendela. Setelah keluar, tidak lupa menutup dan menguncinya — meskipun aku sudah menyuruh Banshee untuk menjaga rumah ini hampir selama tujuh hari dua puluh empat jam, tapi itu hanya bagian dari etika yang aku pelajari dari Yuuki-san.


Ketika menengok ke kanan dan kiri setelah turun di halaman rumah, tidak ada yang melihatku. "Saatnya menyelidiki ke istana itu," gumamku.


"Apa yang kau lakukan di luar rumah jam segini?"


"??!!"


Seseorang memanggilku dari belakang. Tapi aku tidak melihatnya dan asal suara panggilan itu berasal dari balik pilar teras rumah, sampai dia menunjukkan wujudnya. Yang sebenarnya aku sudah tahu itu siapa.


"Edmund."


"Iya, ini aku."


Dia adalah orang yang menemukan sekaligus menyelamatkanku. Anak dari pemilik rumah ini. Aku harus memujinya karena dia bisa lolos dari pengawasanku, meskipun aku agak sedikit santai dan melonggarkan penjagaanku karena rumah ini sudah dijaga Banshee.


Akhir-akhir ini dia seperti curiga padaku. Entah itu berasal dari insting pribadinya atau hanya tebakan tak berdasar, tapi dia cukup tajam juga untuk orang biasa. Benar, dia bukan seorang Exception. Itu juga yang menjadi alasan kenapa aku ingin tinggal di sini.


Pagi hari ini, contohnya. Ia melamun sambil memandangiku cukup lama dan membuat dirinya sendiri hampir tertabrak mobil. Beruntung, aku berhasil menariknya dengan kemampuanku sebelum kejadian buruk terjadi. Entah dia sadar atau tidak.


"Kenapa malah diam? Aku bertanya padamu."


Sepertinya aku terlalu lama berpikir. Tidak perlu memperdulikannya dan mari kita pergi saja dari sini, bisa? Aku berbalik badan dan berjalan meninggalkannya tanpa menjawab pertanyaannya.


"Oi! Jangan pergi begitu saja!"


Hah ... Dia lebih keras kepala dari yang kuduga. Aku harus berbuat sesuatu. Akan merepotkan kalau dia melaporkanku ke orang tuanya, diusir dari sini ketika penyelidikan ku belum selesai bisa menyulitkan ku.


Jadi aku merogoh kantong jaket dan memberinya beberapa lembar uang. "Ini. Anggap kau tidak melihatku sekarang."


"Memangnya aku anak kecil yang bisa disogok dengan uang?!"


Tch. Gagal.


Dia mendekat dan meraih pundak menahanku agar tidak kemana-mana. Cukup berani, Edmund. Tapi bukankah ini sudah masuk ke dalam pelecehan seksual? Jadi aku memandanginya lebih lama berharap dia mengerti maksudku.


"A-apa? Memohon tidak akan membuatku luluh!"


Wajah Edmund malah tersipu. Sebelumnya juga beberapa kali terjadi saat aku terlalu dekat dengannya, wajahnya berubah menjadi merah. Yah ... kurasa dia tidak biasa dekat dengan perempuan sebayanya.


"Lepaskan."


"Tidak akan! Sampai kau memberitahu mau pergi kemana!"

__ADS_1


"Jika aku berteriak, kau bisa dalam masalah besar."


"Coba saja."


Mata kami saling menatap untuk beberapa lama. Sifat keras kepalanya mengingatkanku pada seseorang. Dan tanpa sadar, ingatan itu membuatku yang luluh. Aku membuang muka sebelum berbicara. "Danau Roscommon," jawabku.


"Apa?"


"Aku ingin pergi ke Danau Roscommon."


"Aku dengar itu, tapi untuk apa?"


"Ada sesuatu yang ingin ku selidiki di sana. Karena tidak ingin merepotkan orang tuamu, aku memilih untuk keluar pada malam hari."


"Hanya itu?"


"Sudah puas sekarang? Bisa lepaskan aku?"


Edmund pun akhirnya melepaskan tangannya dari pundakku. Setelah itu aku segera berbalik badan dan pergi dari sini, tapi Edmund masih tidak ingin melepaskanku. Ya ampun, orang satu ini benar-benar keras kepala.


"Tunggu!"


"Apa lagi?"


Dia tidak menjawabku dan langsung pergi ke garasi. Beberapa saat kemudian, Edmund keluar sambil mengendarai sepeda dengan keranjang di depannya. Itu sepeda punya Ibunya Edmund.


"Jaraknya cukup jauh dari sini dan terlalu malam untuk naik bis, jadi aku akan mengantarmu."


"Tidak, aku bisa sendiri—"


"Kalau kau menolak, aku akan lapor ke orang tuaku dan kau tidak boleh keluar rumah tanpa pengawasanku."


"...."


**


Dibonceng sepeda oleh Edmund adalah caraku mencapai danau dan waktu sampai kami juga jadi lebih lama dari perkiraanku. Padahal jika berlari, aku yakin bisa mencapai danau tiga kali lebih cepat.


Udara dingin malam yang menusuk. Apa dia akan baik-baik saja? Dalam posisi duduk miring di belakang, aku mencoba melihat Edmund yang menggowes sekuat tenaga. Tentu nafasnya terdengar kelelahan.


"Kau bisa turunkan aku jika sudah tidak kuat," tawarku.


"Nafasmu berkata lain, tuh."


Yah ... kurasa akan ku biarkan saja. Lagipula sedikit lagi kita akan sampai.


Sekitar sepuluh menit kemudian, akhirnya kami sampai di sebuah jalan setapak pinggir danau. Edmund masih menunduk terengah-engah mencoba mengambil nafas sebanyak-banyaknya. "Apa kau baik-baik saja?"


"B-beri aku istirahat ... satu, ti-tidak, lima menit saja."


"Sudah aku bilang sebelumnya, tidak usah mengantarku."


"Berisik. Memangnya apa yang ingin kau selidiki di sini?"


Benar juga, ya. Sesuatu yang ingin aku selidiki adalah akses masuk untuk menuju ke kastil itu. Berada di tengah danau tentu saja akses seperti jembatan atau jalan khusus akan terlihat dari pinggir danau.


Tapi dari sini aku tidak melihat apapun seperti jembatan atau semacamnya. Malahan, aku merasa ada sesuatu yang menghalangi pandanganku jika ingin melihat ke tengah danau. Kabut? Tidak, ini jauh lebih tebal. Namun, kabut hanya bisa tercipta dalam kondisi tertentu.


"Hey, apa kau tahu soal kastil di tengah danau ini?"


"Kastil? Maksudmu Kastil Blaircass? Setahuku kastil itu sudah ditinggalkan pemiliknya sejak lama. Dulunya, keluarga berdarah ningrat, Keluarga Blaircass yang menempati kastil itu."


"Blaircass ...."


Aku tidak pernah dengar nama itu. Bahkan pencarian di internet tidak menampilkan apapun soal Blaircass. Apa mereka mencoba menyembunyikan diri dari dunia luar? Tapi untuk apa? Bukankah mereka cukup kuat untuk tampil gagah tanpa perlu takut apapun?


"Tunggu sebentar, sepertinya aku keliru." Tiba-tiba Edmund mengoreksi kata-katanya


"Apa kau tahu sesuatu?"


"Warga sekitar memang jarang melihat Kastil Blaircass karena selalu tertutup kabut, tapi setiap satu tahun sekali, Kastil Blaircass membuka kastilnya bagi orang-orang beruntung untuk mengikuti acara yang bernama 'Pesta Topeng'."


"Pesta Topeng?"


"Aku kurang tahu detailnya, tapi menjadi tamu 'Pesta Topeng' adalah hal yang sangat didambakan orang-orang di kota ini. Meskipun yang ikut hanyalah orang-orang tua dan jarang anak muda yang tertarik."


Aku merenungkannya sekali lagi. Acara 'Pesta Topeng' bisa menjadi jalan masuk untuk ke kastil Blaircass. Yang perlu aku cari tahu adalah syarat untuk mengikutinya. Orang-orang beruntung, katanya? Pasti ada suatu persyaratan yang bisa aku penuhi.

__ADS_1


"Oi, tunggu! Herlinia?! Jangan pergi tiba-tiba begitu!"


Aku meninggalkan Edmund untuk menuruni area turunan mendekati air danau. Dan dia juga mengikutiku sampai harus meninggalkan sepedanya.


Mendekat sampai ke daerah bebatuan kerikil di pinggir danau. Bahkan setelah sedekat ini, kabutnya masih terlalu tebal. Sepertinya memang ada seseorang yang mencoba menutupi pandangan orang yang ingin mengintip ke tengah danau.


"Yah ... namanya juga markas musuh, pastinya akan sulit untuk ditembus," gumamku sambil tersenyum tipis.


"Ya ampun, kenapa kau cepat sekali, sih?" gerutu Edmund.


"Oh, tidak menunggu ku di sepeda?"


"Mana mungkin aku meninggalkanmu di pinggir danau gelap seperti ini?!"


"Kau cukup jantan juga. Apa kau punya pacar?"


"P-pertanyaan menohok tanpa basa-basi?!" Edmund terkejut dengan wajah memerah. "T-tidak ada, aku belum punya." Lalu dia menjawab dengan suara kecil dan malu-malu.


"Heh~?"


"Kau ini kenapa, sih?!"


Aku tidak menjawab pertanyaannya. Tapi, yah ... kurasa nanti siapapun yang jadi pasangannya cukup beruntung. Meninggalkan Edmund yang masih menunggu jawaban, aku kembali fokus ke tengah danau.


Lalu melebarkan mata serta memfokuskan aura ke kedua mataku. Tapi seperti yang aku duga ... Itu tidak berhasil. Di sana aku melihatnya, meskipun samar-samar, tapi ada sebuah kubah aura raksasa yang mengelilingi entah apapun yang berada di tengahnya.


Jadi aku memutuskan untuk sedikit bersabar dan menyudahi penyelidikan malam ini. "Sepertinya cukup sampai sini saja. Ayo kita pulang," ucapku.


"Eh? Sudah selesai? Aku kira kita bakal bertemu sesuatu yang menyeramkan, begitu." Edmund terdengar kecewa.


"Kalau ada yang begituan, aku akan lari meninggalkanmu." Awalnya aku hanya bercanda, tapi ternyata ucapanku menusuk diriku sendiri. "...?!!" Aku yang ingin kembali, menghentikan langkah karena mendengar sesuatu mendekat.


"Ada apa?"


"Psst! Jangan berisik."


Suasana gelap membuatku sulit memastikan siapa atau apa yang datang mendekati kami, tapi langkahnya terdengar berat dan berbunyi seperti kaleng berjalan.


"Itu adalah ...?!"


"Kostum ksatria? Tapi bukankah terlalu awal untuk merayakan Halloween?"


Seperti yang dikatakan Edmund, yang mendekati kami adalah dua orang dengan pakaian ksatria lengkap mulai dari baju, helm, perisai, sampai pedang. Jika hanya cosplayer mabuk aku tidak masalah, tapi ada yang berbeda darinya.


Auranya terasa sangat gelap dan tidak hidup. Cara jalannya juga sempoyongan, tidak menunjukkan kegagahan yang biasa ditunjukkan seorang ksatria. Itu jelas-jelas bukan sikap yang ditunjukkan manusia hidup. Lebih ke arah ... boneka?


Lagipula, jika memang manusia, tentu setidaknya mereka akan menanyakan apa yang kami berdua lakukan di sini.


"Herlinia, hati-hati."


Hmm? Kewaspadaannya tidak buruk. Sifat jantannya juga membuatnya berdiri di depanku, bersiap melindungi. Oh? Apa dia mencoba terlihat keren? Laki-laki biasanya memang suka hal yang seperti itu, sih.


"Mencoba bersifat keren?" tanyaku memastikan.


"Bisakah kau diam dan jadi anak baik sebentar? Aku sedang mencoba melindungimu, oi!"


"Yah ... kita bisa lari dan tidak perlu melawannya, kau tahu?"


"Dia datang!"


Saat aku sedang menggoda Edmund, salah satu ksatria datang dengan cepat. Ia memasang perisai di depannya dan bersiap menubruk Edmund, tapi Edmund dengan kuat dapat menahan tubrukan perisai itu.


"Gkh?! Hyakh!"


Setelah itu, Edmund mendorong mundur Ksatria itu yang langsung memukul helm ksatria dan membuatnya terpental jauh.


"Eh? Tidak sakit? Dan aku juga ... sekuat ini?"


Dia malah bingung dengan kekuatannya sendiri dan tidak fokus pada apa yang ada di depannya. "Oi~ Mau sampai kapan kau di situ? Mau aku tinggal, nih?"


Panggilanku menyadarkan Edmund yang sudah aku tinggal setengah jalan menuju sepeda kami. Dia dengan marah dan menggerutu padaku kemudian menghampiriku. Sementara aku langsung duduk di jok boncengan dan menunggunya sampai.


"Keren sekali, lho, Hero."


"Tch! Berisik!"


Kami pun segera pergi meninggalkan dua Ksatria tadi. Aku sempat melihat ke belakang, helm Ksatria yang dipukul Edmund berputar hampir ke arah tak wajar bagi leher seseorang bisa menengok. Dan tanpa tanda kesakitan sedikitpun, ia langsung memperbaiki posisinya.

__ADS_1


Apa itu sistem pertahanan Kastil Blaircass? Apa seseorang mengaturnya dari suatu tempat? Berbagai pertanyaan memenuhi kepalaku sembari Edmund menggowes sepeda dengan sangat cepat, memastikan Ksatria tadi tidak bisa menyusul kami.


Padahal mereka sama sekali tidak mengejar.


__ADS_2