Crisis World XX

Crisis World XX
Chapter 128 : Saatnya Arisu Beraksi


__ADS_3

Angin segar menghampiri kami. Ada secercah harapan timbul ketika usaha Arisu untuk menyadarkan Ria-chan berhasil. Karena suatu alasan, aura serta suara Arisu ternyata mampu menyadarkan para anggota Rainbow Cookies yang terkena cuci otak.


Para member lainnya sekarang sedang berada di ruang istirahat, ketika aku, Arisu, dan yang lainnya membicarakan tentang kemungkinan bahwa kejadian ini dapat dihentikan.


"Kuncinya adalah diriku." Arisu memulai pembicaraan memecah keheningan.


"Tidak salah lagi, aku sudah mencobanya dengan caramu tapi itu tetap tidak berhasil," balas Herlin.


"Tapi yang terkena cuci otak ini bukan hanya mereka berempat, lho."


Ucapan Caramel memang tidak bisa dipungkiri. Hampir seluruh kota Nagoya terkena efeknya dan tidak mungkin bagi Arisu untuk menyembuhkan mereka satu persatu, akan memakan waktu yang sangat lama jika itu memang benar-benar harus dilakukan.


"Bagaimana jika kau berteriak dengan sangat keras?"


Aku memberikan ideku. Tapi mereka semua— benar-benar semua orang yang ada di sini menatapku. Sepertinya aku memberikan jawaban yang salah dan tidak mereka harapkan. Apalagi sekarang aku terlihat seperti orang bodoh.


"Suara saja tidak cukup untuk memulihkan mereka," ucap Arisu. "Jangan lupa kalau Arisu perlu untuk mengeluarkan auranya saat melakukannya," lanjut Caramel. Sementara Oukami hanya mengangguk setuju dengan mereka dan Ishikawa-san tersenyum kepadaku.


"Be-begitu, ya?" Aku tersenyum canggung dan di dalam hati aku berjanji. Mulai sekarang aku akan diam.


Herlin yang menatapku datar karena kecewa kemudian menyadari sesuatu. Selama beberapa saat ia tenggelam dalam pikirannya. Aku akan membiarkan dia semua yang memikirkan rencananya dan aku akan membantu sebisanya.


Hehehe .... Itu adalah pemikiran yang terbaik. Karena aku tidak bisa apa-apa. Aku bangga pada diriku sendiri karena tidak bisa apa-apa, tapi aku juga tidak akan diam saja.


"Mana kebanggaanmu sebagai laki-laki?" ucap Cecilia di dalam kepalaku. Tentu saja aku mengabaikannya, karena aku sudah tidak peduli lagi dengan hal itu.


"Kurasa itu bisa dipakai." Herlin menggumam setelah berpikir lama.


"Eh? Apanya?"


"Aku berpikir mungkin saja rencana Iraya bisa dipakai."


"Apa kau bisa menjelaskan detailnya?" tanya Arisu.


"Dome ini adalah ruang tertutup dan suaramu paling banyak terdengar di dalam sini. Itu berlaku juga bagi aura yang kau keluarkan."


Arisu berpikir kalau itu memang benar bisa digunakan. Tapi tentu saja akan memerlukan energi yang sangat banyak, apalagi ukuran dome ini dapat menampung sekitar ribuan orang bahkan lebih.


Meskipun begitu, ia akan tetap mencobanya. Ia sudah membulatkan hatinya untuk membantu agar kekacauan ini dapat dihentikan sepenuhnya. "Akan kucoba," ucap Arisu.


Hoo! Ternyata Herlin mengerti pemikiranku! Aku tahu dia memang bisa diandalkan, aku langsung tersenyum puas dalam diam ketika mereka semua menyetujui rencana yang secara tidak langsung aku yang rencanakan.


"Itu yang aku maksud," ucapku dengan senyuman bangga.


"Aku tahu kau tidak berpikir sejauh itu."


Tidak ada yang menanggapi reaksiku. Bahkan hanya Cecilia saja yang menyadarinya. Padahal ini rencanaku, dan entah kenapa tiba-tiba keinginanku untuk membantu berkurang sedikit.


"Sekarang yang perlu kau lakukan adalah ...." Ucapan Herlin menggantung. Tapi kata-katanya itu tertuju pada Arisu, dan Herlin melihat ke arah anggota Rainbow Cookies yang lain.


Mereka sedang mengobrol satu sama lain meskipun dalam keadaan yang cukup lemah dan tentunya ketakutan. Sepertinya Herlin menyuruh Arisu untuk berpamitan karena pertarungan besar menantinya dan juga menyuruh mereka berempat untuk tetap diam di sini.


"Apa kau bisa?" tanya Herlin.


Tapi Arisu tersenyum untuk menghilangkan kekhawatiran semua orang. "Tenang saja, aku adalah orang yang paling mereka percaya. Jadi aku yakin mereka akan mengerti." Setelah itu, Arisu berjalan menghampiri mereka berempat.


"Arisu-senpai! Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Edna. "Yap, aku bisa mengurus semuanya di sini." Arisu sekali lagi tersenyum dan menjawab dengan jawaban yang tidak membuat siapapun khawatir.


"Senpai, apa yang terjadi pada wajahmu?" tanya Ria menunjuk luka diagonal yang terukir dari dahi kiri atas sampai mulut kanan bawah di wajah Arisu.


Arisu terkejut mendengarnya. Karena ini adalah luka yang tercipta karena Ria mencakarnya saat sedang dalam pengaruh cuci otak. Hilang ingatan selama dalam kendali sepertinya juga salah satu dampaknya. Arisu belajar sesuatu dari situ.


"Ah, soal ini ... aku tersandung dan ada paku yang muncul di dekat tempatku jatuh, jadi inilah hasilnya."


Arisu berbohong. Dia sepertinya tidak ingin membuat Ria merasa bersalah karena telah menyerangnya. Lagipula itu juga tidak sepenuhnya salahnya.


"Ngomong-ngomong, aku harus pergi keluar sebentar. Jadi kalau bisa—"


"Tidak boleh!" Ucapan Arisu langsung dipotong oleh Edna. "Edna-chan?"


"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi situasi sekarang sedang tidak aman diluar! Makanya kalau bisa kita semua harus tetap berada di sini sampai situasi membaik!"


Tentu saja itu yang akan dipikirkan oleh orang normal. Jika aku jadi mereka, aku juga akan berpikir seperti itu. Dan sekarang apa yang akan dikatakan oleh Arisu.

__ADS_1


"Aku—"


"Tidak boleh! Senpai tidak boleh pergi dari ruangan ini! Nanti kalau terjadi sesuatu pada Senpai, aku ... aku ...."


Kata-kata Edna semakin tidak jelas karena tangisan bercampur di sana. Dan pada akhirnya ia menangis keras. Pecola kemudian memeluknya untuk menenangkannya.


Arisu menggigit bibirnya yang mulai bergetar. Aku rasa ia juga sebenarnya tidak ingin pergi keluar sana. Ia lebih memilih untuk melindungi teman-temannya daripada harus menghadapi kekacauan diluar sana, tapi ia memiliki tanggung jawab sebagai Exception. Tanggung jawab sebagai anggota White Cloud.


Banyak orang-orang biasa yang sedang dikendalikan dan bersikap agresif. Ia tidak bisa tutup mata begitu saja, jadi mau tidak mau ia harus menghadapinya. Dan dalam kebuntuan itu, Herlin datang dan berbicara kepada mereka layaknya seorang penyelamat.


"Kau tidak perlu khawatir, Edna-chan." Herlin berjalan mendekat dan berlutut agar tingginya setara dengan Edna yang sedang duduk.


"Herlin-chan?"


"Kau tidak perlu khawatir soal keselamatannya, lagipula ada aku sebagai bodyguard-nya."


Oi, jangan lupa kalau aku dan yang lainnya juga termasuk bodyguard di sini.


"Aku tahu itu, tapi ...." Edna-chan melihat ke arah lain. Sepertinya ia masih ragu tapi juga tidak ingin menyakiti hati Herlin dengan menolaknya.


"Bagaimana kalau begini saja?" Herlin kemudian mengeluarkan jari kelingkingnya dan mengaitkannya pada jari kelingking Edna. "Ria-chan, kau juga." Ia sempat kaget ketika dipanggil Herlin tapi kemudian Ria-chan juga ikut mengaitkan jari kelingkingnya.


"Janji jari kelingking~ Siapa yang melanggarnya akan makan seratus paku~" Herlin menyanyikan lagu janjinya dengan mereka berdua. "Apa itu sudah cukup?"


"Ehehehe ... Herlin-chan, kau menyeramkan." Tapi meski begitu, Edna sudah bisa tertawa meskipun masih ada tetes air mata yang tertinggal di matanya.


"Benar, itu nyanyian yang menyeramkan tahu," ucap Ria-chan.


Tapi suasananya sedikit lebih mencair dan pada akhirnya Edna dan Ria mengizinkan Arisu untuk pergi dari sini.


Sementara aku menghela nafas lega. Ternyata cukup sulit juga meyakinkan mereka agar melepas Arisu ke luar. Terlebih lagi tanpa memberitahu mereka apapun tentang Exception.


"Hati-hati diluar sana!"


Sebelum kami pergi, Edna kembali berteriak. Tapi kali ini lebih ke teriakan pengharapan. Aku, Herlin, dan yang lainnya tersenyum mendengar itu dan menengok ke belakang. "Tenang saja. Karena kami ... lebih kuat dari kelihatannya, kok," ucap Herlin.


Mata Edna sedikit melebar kagum. Seperti semua rasa ragu dan kekhawatirannya menghilang ketika melihat formasi bodyguard ini, entah kenapa ia tidak lagi mengkhawatirkan kami dan merasa kalau semuanya akan baik-baik saja.


"Keren." Satu kata terakhir yang aku dengar dari Edna-chan.


Sekarang kami naik ke atas panggung tempat Rainbow Cookies sebelumnya tampil. Ada beberapa orang dari White Cloud yang juga datang kesini untuk menjaga keadaan di sini, mereka bekerja sama dengan Ishikawa-san yang sedang terlihat sibuk saat ini.


"Hnm? Koyomi Arisu? Apa yang dia lakukan di atas panggung?"


"Lagipula siapa orang-orang di belakangnya itu?"


"Mereka itu, bukan? Yang lolos jadi bodyguard dari Arisu."


"Ah! Kau benar!"


Aku bisa mendengar obrolan-obrolan kecil dari para anggota White Cloud. Sementara Ishikawa-san yang menyadari kedatangan kami kemudian mendekati panggung dari bawah.


"Apa dibelakang baik-baik saja?" tanya Ishikawa-san.


Aku memberikan gestur tangan 'Ok' tanda semua aman terkendali. "Terlebih lagi kami punya cara untuk menghentikan bencana ini," lanjut Herlin.


Ia tersenyum. "Aku yakin kalian datang membawa kabar baik. Dan kalian naik ke atas panggung untuk melakukannya, kan?"


"Benar."


"Kalau begitu, tidak perlu basa basi lagi. Silahkan lakukan sesuka kalian." Ishikawa-san kemudian menjauh dari panggung untuk beberapa langkah, membiarkan kami— atau lebih tepatnya Arisu untuk fokus.


Kami semua kemudian mundur beberapa langkah dan membiarkan Arisu untuk mempersiapkan dirinya. Ia diam sebentar, suasana di dalam dome juga tanpa pembicaraan kecuali suara erangan orang-orang yang terinfeksi.


Beberapa detik kemudian, perlahan tapi pasti aku dapat merasakan aura milik Arisu keluar dari dalam tubuhnya. Ia memejamkan matanya untuk membuat dirinya lebih fokus lagi dan setelah itu Arisu menarik nafas dan mulutnya siap berbicara.


"Haa ...."


"Memangnya apa yang akan dia lakukan? Berteriak untuk membangunkan mereka? Kalau benar semudah itu, kenapa tidak dilakukan dari tadi?"


Tapi tiba-tiba konsentrasi Arisu terpecah akibat ucapan salah satu anggota White Cloud. Meskipun kecil, tapi ia dapat mendengarnya dengan jelas.


"Entahlah, mungkin dari tadi dia sedang cari muka ke Ketua. Lagipula dia selalu melakukan hal itu."

__ADS_1


"Yap. Bagaimana mungkin orang sepertinya bisa masuk dengan mudah ke dalam White Cloud? Bahkan kita saja perlu tes yang sangat sulit untuk masuk."


"Bodoh! Dia bisa mendengar kalian!" Orang di sampingnya mencoba memperingati dua orang bodoh yang sedang mengobrol itu.


Tapi dia terlambat. Karena kami semua telah mendengarnya. Aku juga baru tahu kalau Arisu dicap seperti itu di dalam White Cloud. Meskipun ia adalah Idol terkenal dan sangat dielu-elukan oleh masyarakat awam, tapi perlakuan yang ia terima berbanding terbalik saat berada di White Cloud.


Aku melihat ke arah Arisu. Tatapannya berubah yang awalnya fokus menjadi ragu. Ia juga gugup dan seperti orang yang takut salah.


Perbedaan sifat yang ditunjukkan Arisu entah kenapa membuatku kesal, orang-orang yang membicarakannya barusan mungkin tidak tahu seberapa besar usaha yang dilakukan oleh Arisu di balik panggung. Dari Idol terkenal menjadi seorang Exception. Tentu saja itu tidak mudah.


Dan orang-orang bodoh itu dengan mudah memfitnahnya cari muka dan sebagainya tanpa tahu apa-apa?


Aku melangkahkan kakiku selangkah ke arah mereka untuk memberinya sedikit pelajaran. Tapi sepertinya aku didahului seseorang.


Sryiing...


Sebuah kapak yang terbuat dari aura melayang di antara kepala mereka berdua dalam kecepatan tinggi. "Hikh!" Dan tentu saja hal itu membuat mereka terkejut sampai membuat respon payah seperti 'Hikh!' barusan.


Aku melihat ke samping darimana kapak aura itu berasal dan aku melihat Oukami dengan ekspresi tidak senang. Member Black Rain yang lainnya juga terkejut melihat Oukami yang tiba-tiba marah begitu.


"Jika kau berbicara satu kata lagi, maka yang selanjutnya akan mengenai kepala kalian. Apa kalian mengerti?!"


"Ba-baik! Maafkan kami!" Mereka berdua langsung menunduk minta maaf.


"Tch! Dasar orang-orang bodoh."


Kemarahan jelas terlihat di wajah Oukami ketika ada yang mengganggu Arisu. Tapi wajah serius itu seakan lucu dan jadi bahan ejekan bagi Caramel.


"Pfft ...! Ekspresi yang bagus, pria kasmaran," ejek Caramel.


"Hah?! Siapa yang kau panggil 'pria kasmaran'?"


"Oi, kau jadi yang paling berisik sekarang." Herlin memperingatkan Oukami yang langsung sadar dan menutup mulutnya rapat-rapat, sementara Caramel masih tertawa geli sambil berusaha menahan suara tawanya keluar.


Tapi bagi Arisu, itu adalah sesuatu yang spesial. Ia sadar ternyata ada seseorang yang menghargainya di White Cloud dan ternyata orang itu tepat berada di depan matanya.


Arisu kini sudah paham dan tersenyum lalu menatap ke depan— ke arah orang-orang yang terinfeksi. Auranya menjadi lebih besar dan bahkan kini bisa dilihat dengan mata telanjang. "Hoo~" Caramel juga sepertinya nampak kagum dengan perubahan drastis yang diperlihatkan Arisu.


"Haa ...." Arisu mengambil nafas dan kemudian berteriak. "Aku tahu ada beberapa orang di sini meremehkanku dan menganggapku parasit! Tapi aku memiliki sesuatu yang lebih berharga daripada omongan mereka, yaitu dukungan kalian! Jadi aku mohon ... SADARLAH!"


Aura dari dalam tubuh Arisu semakin menggelegar dan meledak-ledak. Suaranya juga menggema jelas di dalam dome ini. Beberapa baris orang di barisan depan mulai tenang dan perlahan-lahan kembali normal, ditandai dengan pupil mata mereka yang sudah seperti pupil mata orang pada umumnya.


"Be-berhasil?"


"Ya, tapi ...."


Memang apa yang dilakukan Arisu berhasil membuat beberapa orang sadar. Tapi jika aku boleh menyebutkannya secara jujur. "Auranya terlalu lemah." Yap. Cecilia yang melanjutkan pemikiranku.


Sebelumnya kami merasakan auranya kuat karena kami berada di dekat Arisu. Tapi dome ini terlalu besar untuk aura Arisu yang kecil itu, yang telah sadar juga tidak lebih dari lima puluh orang ketika masih ada belasan ribu lainnya yang terinfeksi.


Setelah dua puluh detik lebih mengeluarkan aura terbesar yang bisa ia keluarkan, perlahan aura Arisu mulai melemah dan akhirnya menghilang. Ia langsung menunduk memegangi lututnya karena kelelahan.


"Hah ... hah ... hah ...." Seluruh tubuhnya bermandikan keringat dan nafasnya juga sudah terengah-engah.


"Tidak berjalan terlalu baik, ya?" Ketika semuanya sudah tahu itu, tapi Caramel malah mengucapkannya dengan sangat enteng. Kami semua melihatnya dengan tatapan datar. "Apa?!" Dia bingung ketika kami menatapnya.


"Akan terus aku coba. Tidak ada yang bisa aku lakukan lagi di sini selain mengeluarkan semua yang aku punya."


Meskipun Arisu benar. Tapi dengan cara ini akan memakan waktu yang sangat lama dan Arisu bisa kehabisan tenaga duluan, meski begitu tidak ada yang membantahnya. Karena semua orang tahu kalau Arisu sudah membulatkan tekadnya.


Dengan begitu, Arisu berdiri tegak lagi dan mengumpulkan auranya lagi. Tapi tiba-tiba ketika ia ingin berteriak untuk kedua kalinya, seseorang datang memotongnya.


"Kau tidak perlu melakukan hal melelahkan seperti itu."


Saat aku melihatnya, aku terkejut karena keadaannya yang kacau dan berantakan. Ia adalah Nigiyaka-san, Akihito-san, dan Mei-senpai.


Yang masih sadar hanyalah Nigiyaka-san sehingga ia memapah dua orang lainnya dan setelah dirasa cukup dekat dengan panggung ia terjatuh duduk lemas sambil berhati-hati agar yang sedang tidak sadarkan diri tidak terbentur kepalanya.


Kami pun langsung menghampirinya. "Nigiyaka-san! Apa yang terjadi padamu?" tanyaku.


"Ada seseorang yang merepotkan dan kami bertiga harus bertarung dengannya, tapi itu sudah tidak penting lagi. Yang terpenting sekarang adalah ini."


Nigiyaka-san kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Itu adalah sebuah kartu remi dengan gambar Joker di kedua sisinya. Tapi itu bukan seperti kartu biasa, semua orang di dekatnya dapat merasakan ada sesuatu yang aneh pada kartu itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2