
Sementara itu di tempat lain, di sebuah gang kotor diantara gedung-gedung besar tempat orang-orang membuang sampah mereka, seorang gadis muda berjalan melewati kotornya tempat itu dengan ceria.
Sambil bersenandung kecil, dia mengambil sesuatu dari kantong bajunya. Sebuah gantungan kunci berbentuk panda yang sedang memakan bambu.
"Caramel."
“??!”
Gadis itu terkejut mendengar namanya dipanggil oleh seseorang. Dengan sigap, ia langsung menyembunyikan gantungan kunci itu di belakang badannya.
"Oh, hanya kau, toh. Jarang sekali melihat mu sendiri, aku kira kau tidak pernah pisah dengan pacar mu."
"Jangan banyak bicara. Aku datang hanya untuk menagih informasi. Apa kau sudah mendapatkannya?"
Suara yang bicara adalah suara perempuan, ia tidak bisa melihat wajahnya secara jelas karena berada di balik bayangan gelap. Tapi yang pasti, suaranya lebih dewasa dari suara Caramel.
"Sayang sekali~ Aku tidak menemukannya. Lagipula, apa kau yakin bahwa orang yang ada di foto mengikuti turnamen itu ...."
Caramel bisa mendengar suara decakkan lidah sebal darinya. Sementara Caramel tertawa karena berhasil membuatnya kesal. Lalu kemudian, orang itu berjalan mendekatinya, keluar dari tempat yang gelap hingga kini wajahnya terlihat jelas.
"... Nimis?" Caramel menyelesaikan kata-katanya.
Caramel masih menyembunyikan gantungan kunci tadi di belakang tubuhnya. Malah kini ia menggenggam hal itu semakin erat.
Caramel dan Nimis, kedua Assassin milik Ayakashi Corp.
"Apa informasinya benar-benar tepat? Aku tidak menemukan dia di dalam sana sama sekali," ucap Caramel.
Ia berbohong. Entah untuk tujuan apa ia melakukan hal tersebut, tapi Caramel merasa kalau semuanya akan lebih menarik jika ini menjadi lebih sulit bagi Nimis. Atau mungkin ia hanya ingin mempermainkan Nimis.
"Aku mendapatkan informasi itu dari informan yang bisa ku percaya. Jadi tidak mungkin informasi yang aku dapat keliru."
"Hmm …."
Caramel mengeluarkan satu tangannya dari belakang tubuhnya, kemudian mengambil sesuatu dari kantong bajunya, itu adalah sebuah foto. Bersamaan dengan itu, ia dengan cepat juga menaruh gantungan kunci di dalam kantongnya. Semua dilakukan dalam satu gerakan.
Caramel memperhatikan foto tersebut, itu adalah sebuah foto seorang laki-laki yang sedang melakukan tes fisik di sekolah. Dan foto itu membuatnya tersenyum tipis juga heran.
"Serius, deh. Bagaimana caranya informan mu mendapatkan foto ini?"
"Dia berpesan kalau identitas atau serta cara dia bekerja tidak ingin diketahui oleh siapapun."
"Ah … si anggota baru itu? Ya terserah lah, yang penting aku sudah tahu siapa yang mengambil foto ini."
Caramel selesai memeriksa foto itu lalu menaruhnnya kembali ke kantongnya. Setelah itu, ia fokus pada Nimis seutuhnya.
"Ya, memang dia. Oleh karena itu …."
“???”
Nimis mengambil kuda-kuda singkat lalu melesat sambil menebaskan katana miliknya tepat ke leher dari Caramel. Tapi tanpa bergerak sedikit pun, katana Nimis tertahan oleh sesuatu yang berada di depan Caramel.
"Tsk. Peliharaan bos memang hebat, kau memang disukai oleh Bos karena suatu alasan jelas. Itulah kenapa aku membenci mu."
"Jaga ucapanmu, Nimis. Apa sebegitu besar kebencian mu padaku?"
Beberapa saat kemudian, sebuah aura putih samar-samar nampak sedang menahan Katana milik Nimis. Aura berbentuk seperti gas yang lama-kelamaan berubah menjadi warna perak pekat, mengelilingi sekitaran tubuh Caramel.
"Jangan salahkan aku, salahkan dirimu sendiri yang bisa membuat kebencian ku begitu besar padaku."
"Ara ara ..., kalau begitu kebetulan sekali. Aku juga membenci mu, Nimis."
Suasana diantara keduanya menegang. Aura mereka sama-sama merebak, bersiap jika saja mereka memang benar-benar harus bertarung. Tapi Caramel berbicara lagi yang membuat suasana sedikit cair.
"Sayangnya, Bos masih membutuhkan tenagamu. Jadi mari kita hindari pertikaian tak penting ini."
“Tapi ....” Seringai lebar kemudian muncul di wajah Caramel saat ia mengatakan ucapan selanjutnya, ekspresi yang tidak pernah ia tunjukkan saat di Turnamen The One. “... Tidak ada kata ‘berikutnya’, Nimis. Jika kau bermain-main seperti ini lagi, maka kau akan benar-benar hilang.”
"Terserah kau. Invisible Barrier atau apalah kekuatan yang kau miliki itu memang selalu merepotkan," ucap Nimis.
Nimis terlihat santai dan tak gentar — bahkan cenderung tak peduli dengan ancaman dari Caramel. Ia kemudian menyarungkan kembali Katana miliknya, tanda akhir dari ‘main-main’ mereka saat ini.
"Ah … jangan bicara begitu, kau membuat ku malu."
Caramel menahan tawa seolah yang Nimis katakan barusan adalah sebuah pujian, sementara Nimis menahan kesal.
"Pokoknya cepat selesaikan tugas mu. Jika kau gagal, lakukanlah seppuku atau semacamnya," ucap Nimis sambil berjalan pergi dari gang itu.
"Sayang sekali! Cara itu terlalu membosankan untuk menjadi kematianku!" ucap Caramel yang meninggikan suaranya karena Nimis yang sudah berjalan jauh.
Nimis terus berjalan keluar dari gang, setelah sedikit menjauh dari Caramel, Nimis sempat berpikir sendiri dan bergumam kecil sesuatu yang tak dapat di dengar Caramel. "Sepertinya aku akan memikirkan tawaran darinya."
Setelah hilang sepenuhnya dari pandangannya, Caramel kembali mengeluarkan foto laki-laki tadi— Iraya, dari kantongnya.
"Tapi bohong …. Bagaimana mungkin aku gagal dalam menjalankan misi ku, dasar wanita bodoh."
Caramel kembali memperhatikan foto itu dengan cukup lama dan teliti, bahkan mungkin lebih lama dari yang sebelumnya ia lakukan di depan Nimis.
"Hmm … Satou Iraya, ya? Orang yang menjadi inang Subject C saja sudah menjadi pencapaian luar biasa. Dan kau bilang padaku kalau dia juga bisa menggunakan kekuatannya?"
Sebuah tawa kecil tercipta saat Caramel membayangkan sesuatu yang luar biasa di dalam kepalanya soal Iraya.
"Hehe …. Aku penasaran seberapa kuat kau nanti saat kita bertemu lagi, darling~"
Caramel pun berjalan pergi dari gang kotor itu, meninggalkan sebuah bekas sayatan besar yang ada di tembok akibat serangan tiba-tiba Nimis yang berhasil ditahan oleh Caramel sebelumnya.
**
Kembali ke diriku yang menyedihkan ini. Yap. Satou Iraya di sini. Sudah beberapa hari aku berada di ruang perawatan ini dan tidak keluar sama sekali. Turnamen juga sepertinya akan segera berakhir dan telah mencapai babak final. Dari yang kudengar, Oukami berhasil melaju mulus setelah mengalahkan ku.
"Ya ampun, aku bosan sekali! Setidaknya biarkan aku menonton pertandingan finalnya!"
Aku berteriak di ruang perawatan yang menyisakan diriku seorang saja. Tapi aku lupa kalau ada suatu makhluk yang suka protes yang terus mengikutiku.
"Hentikan! Kau membuat telingaku sakit."
Itu dia! Akhirnya dia berbicara juga padahal aku baru saja membicarakannya. Cecilia sepertinya terdengar terganggu dengan teriakan yang ku buat, tapi aku tidak peduli. Karena apa? Karena aku sedang sangat bosan sekarang!
"Aku ingin keluar, keluar, keluar! Aku bosan, bosan, bosan!"
__ADS_1
Aku kembali berteriak dan merengek. Sebenarnya hal ini cukup memalukan, tapi tidak ada orang di sini, jadi untuk apa aku malu? Ku mohon, cepat kabulkan permintaanku siapa pun!
Tapi karena pergerakan ku yang liar, tanpa sadar tangan kiri ku yang sedang di gips membentur besi pinggiran kasur.
"Aduh …!"
"Terus bergerak seperti itu. Aku sangat menantikan tangan kanan mu ikut patah juga."
"J-Jahatnya!"
Kecuali gips yang masih menggantung pada tangan kiri, rata-rata luka ku sudah mulai membaik. Hanya tinggal beberapa plester di wajah dan bagian tubuh lainnya. Kakiku juga sudah baik-baik saja, tapi kenapa para dokter itu terus mengurung ku di sini?! Ah, aku kesal sekali!
"Aku masuk."
Saat aku sedang kesal tidak jelas dan menyalahkan para dokter yang tidak bersalah, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dan seseorang masuk sambil membawa kotak bento di tangannya.
Aku langsung berlagak dingin keren dan menganggap seolah teriakan dan perilaku kekanak-kanakan yang tadi bukanlah kelakuanku, melainkan Cecilia.
"Herlin?"
"Teriakan mu terdengar dari luar." ucap Herlin.
"Gekh …?! Ketahuan, ya?"
Herlin sepertinya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu dan langsung menarik sebuah kursi untuk duduk di sebelah ku. Lalu membuka sebuah kotak bento dan menaruhnya di atas pahaku yang ditutupi selimut.
"Cepat makan dan habiskan, Yuuki-san membuatkannya untukmu."
Setelah itu, ia langsung membuka HP-nya dan sibuk dengan itu.
Eh? Ada yang aneh. Mana sikap manis dan imutnya beberapa hari yang lalu? Kenapa dia jadi bersikap seperti biasanya? Padahal saat itu aku sempat menyukai sifatnya yang seperti itu. Kenapa dia bisa berubah dengan sangat cepat? Tapi ….
"Tidak usah berharap terlalu banyak padanya," saran Cecilia.
"Hah ... seharusnya memang begitu, sih."
Aku langsung mengambil sumpit dan bersiap untuk memakannya. "Selamat makan." Mengambilnya dengan sedikit susah payah karena tangan kiri yang menghalangi.
Sesuap demi sesuap aku habiskan dengan perlahan karena tidak bisa makan terlalu banyak dalam satu suapan. Sial! Ini merepotkan sekali. Lalu kemudian, tiba-tiba ada seekor lalat yang menghampiri makananku dan membuat nasi yang ada di sumpit terjatuh.
"Aa …." Kalimat kaget datar itu keluar dari mulutku ketika nasi yang ada di sumpit itu jatuh ke atas selimut.
"Ya ampun, kau ini seperti anak kecil saja."
Herlin yang melihat itu langsung mematikan HP-nya lalu membersihkan nasi yang jatuh di selimut menggunakan tisu.
Setelah bersih, dia kemudian mengambil kotak bento dan sumpit yang sedang kupegang lalu mengambil sedikit nasi dan setelah itu mengarahkan sumpitnya kearah mulutku.
"H-Herlin-san?!" ucapku terkejut.
"Buka mulutmu."
Oi, oi, oi! Tunggu sebentar! Bukankah ini sebuah peristiwa yang super langka nan mendebarkan?! Sifatnya memang sudah berubah menjadi dingin dan tajam seperti biasa, tapi tiba-tiba melakukan hal seperti ini adalah hal yang bisa membuat jantung laki-laki mana pun berdebar, kan?!
Dengan ragu-ragu, Aku langsung membuka mulut ketika disuruh olehnya. Rasa makanannya jadi lebih enak! Aku tidak berbohong!
Tapi ini adalah kali kedua Herlin menyuapi ku. Dan dari ekspresi yang ia keluarkan sekarang, ia seperti tidak peduli akan hal ini. Jadi apa mungkin ....
"Hah ... aku benar-benar tidak mengerti," gumamku pasrah.
Sambil mengambil suapan selanjutnya, Herlin tiba-tiba mengajak ku berbicara. “Nee, Iraya.”
"Ada apa?"
"Tangan kirimu, saat pulang ke rumah, apa kau akan baik-baik saja?"
Ia terus menyuapi dan aku terus menerimanya.
Tapi saat ditanya begitu, bohong kalau aku tidak khawatir. Apalagi ini soal patah pada tangan. Tanpa sadar, senyuman miris keluar dari wajah ku.
"Mungkin ... aku bisa sedikit berbohong pada Ibu," ucapku.
Meski sebenarnya aku merasa tidak enak karena terus berbohong padanya, aku juga tidak mau melibatkannya ke dalam hal yang berbahaya seperti ini. Jadi mau tidak mau aku harus berbohong.
Dan soal luka ku, rasa cemas Ibu adalah satu-satunya yang aku khawatirkan. Yang pertama kali menghantui ku adalah wajah kesedihan miliknya yang terukir di dalam ingatanku, menghantuiku dengan rasa bersalah.
Aku tidak mau itu terjadi lagi.
“Apa tidak apa-apa?” tanya Herlin sekali lagi memastikan.
“Sebisa mungkin aku ingin jujur. Tapi, aku tidak mau membuat Ibu lebih khawatir, jadi mau bagaimana lagi,” jelas ku.
"Aku mengerti. Tapi jika kau butuh bantuan untuk itu, aku akan membantu mu sebisanya. Karena bagaimana pun juga, aku yang meminta izinnya agar kau bisa pergi ke turnamen ini," ucap Herlin.
Aku tersenyum karenanya. Herlin berusaha menenangkan dan itu lumayan membantu. Tapi ada yang salah sekarang, ia terus menyuap ke dalam mulutnya sendiri, padahal suapan itu seharusnya untukku.
"Ngomong-ngomong … kenapa kau makan bento ku?"
Herlin baru berhenti ketika aku memberitahunya. Ia menengok ke arah bento, sumpit, lalu terakhir ke arahku. Sepertinya ia tidak sadar kalau dia memakannya dari tadi.
“Ah, ini ..., aku juga lapar.”
**
Herlin berbicara sebentar dengan pihak perawat, dan hasilnya sangat baik! Aku akhirnya terbebas dari ruangan membosankan ini dan bisa menonton pertandingan final. Yuhuu!
Di tribun sudah ada Oita-san yang juga sedang menonton pertandingannya.
Ia sempat menanyakan tentang proses penyembuhan ku. Dan aku menjawab tidak ada masalah sama sekali. Lagi pula prosesnya berjalan lebih cepat daripada manusia normal, berkat Cecilia yang membantu ku. Jadi mungkin aku sudah bisa melepas gips ini saat libur musim panas berakhir.
"Senang mendengarnya. Waktu itu keadaanmu sangat mengkhawatirkan, tapi setelah mendengar kau kembali ceria seperti ini, aku jadi sedikit lega. Jangan terlalu memaksakan diri dulu, ya?”
"Siap!" Aku memberi hormat kepada Oita-san, aku akan mematuhi sarannya dan bermalas-malasan sampai libur musim panas berakhir.
Kami kemudian menonton pertandingan final. Dan seperti yang bisa kalian duga, Oukami berhasil memenangkan Turnamen The One edisi ke delapan tahun ini. Kemampuan memakai senjata dan seni bela diri yang luas, membuat lawan sulit menebak gaya bertarung Oukami.
Saat itu aku berhasil memukulnya sampai babak belur kurasa karena ia terkejut dengan kemampuan asli ku yang sempat ku sembunyikan. Memang menyebalkan, tapi dia unggul segalanya dariku.
By the way, dia mendapatkan uang hadiah sebesar ¥100.000 Yen, uang yang sangat banyak sekali.
__ADS_1
"Bukankah uang hadiahnya terlalu banyak, oi?!" ucapku menyesal.
"Tidak apa-apa, lagi pula yang aku incar bukanlah juara, tapi pengalaman mu dalam bertarung," ucap Herlin.
"Yah, kurasa kau benar."
"Karena sudah tidak ada urusan lagi di sini, mari kita pulang?" ajak Oita-san. "Ya!" Dan kami menjawab bersamaan.
Saat ingin pulang, kami bertemu dengan Hayate-san dan Oukami yang sedang berbincang bersama. Kebetulan karena keduanya adalah lawanku sebelumnya di turnamen ini.
"Oh! Halo Satou-kun, apa kau sudah ingin pulang?" sapa Hayate-san.
"Iya, lagi pula aku sudah tidak ada urusan lagi di sini."
Lalu aku sempat melirik ke arah Oukami, dan dia langsung memalingkan wajahnya kesal. Ini hanya perasaan ku saja atau memang Oukami masih dendam padaku? Apa-apaan dia itu? Apa mengalahkan ku sebelumnya masih belum cukup baginya?
"Bukankah kau terlalu sensitif kepadaku?” respon ku pada Oukami.
"Ahahaha …. Dia hanya masih kesal padamu. Karena kau tahu, kau hampir saja mengalahkannya waktu itu," ucap Hayate.
"Oi, Hayate!"
Oukami marah pada Hayate, sementara dia hanya bisa tertawa kecil karenanya.
Jadi begitu, aku mengerti sekarang. Sebenarnya aku memang kalah segalanya dari Oukami waktu itu, tapi serangan kejutan yang aku berikan di akhir sepertinya benar-benar di luar dugaannya. Dan ia tidak menyukainya. Tanpa sadar seringai tercipta di wajah ku, memberi ide di kepalaku untuk menjahilinya.
"Heh~ Jadi itu artinya kau mengakui kekuatan ku, kan? Ayolah, kau tidak perlu malu-malu untuk melakukannya, Oukami.”
"Sial, dasar bocah! Akan ku buat tangan kananmu patah juga!"
Aku melompat ke belakang punggung Herlin sambil terkekeh kecil. Cukup mudah juga menggoda si otak otot ini.
"Oh, kalian semua di sini?"
Tiba-tiba seorang perempuan menghampiri dan berbicara kepada kami dari belakang. Aku seperti tidak asing dengan suaranya, dan saat menengok ke sumber suara ....
Tetap enggak kenal.
"Selamat untukmu, Oukami Yuu. Seperti dugaan awal ku, kau memang kandidat juara turnamen tahun ini."
"Heh! Itu sudah jelas!"
“Lalu Hayate Kendou, sayang sekali kau harus tersingkir di babak pertama. Padahal kau juga salah satu favorit ku."
"Ahaha …. Terima kasih, Mitsu. Aku sedikit lengah dan langsung kena batunya."
Jadi dia yang namanya Mitsu, si komentator itu. Ia juga sedikit melirik kepadaku, tapi tidak bicara apa pun dan langsung pergi begitu saja. Kemudian, aku memanggilnya untuk bertanya sesuatu.
"Ano … Mitsu-san, kan?"
"Apa?"
"Jika kau adalah pembawa acara, berarti partner-mu satu lagi adalah Caramel, kan? Belakangan ini dia tidak kelihatan, apa kau tahu dia di mana?"
"Si pendiam itu, dia izin sesaat setelah kau kalah melawan Oukami, katanya dia punya urusan penting."
"B-Begitu, ya?"
Sepertinya setelah menaruh surat itu, ia langsung pergi begitu saja. Sebenarnya siapa perempuan misterius itu?
"Kau Satou Iraya, kan?”
"Ah, iya, itu namaku."
"Kau tidak buruk untuk penampilan debut mu."
Itu tadi ... sebuah pujian, kan? Nada yang ia keluarkan tidak terdengar seperti sedang memuji. Juga setelahnya, ia langsung pergi begitu saja. Meninggalkan ku dalam kebingungan kalau aku baru saja dipuji atau tidak.
**
Dan sekarang adalah saat-saat yang mendebarkan.
Aku telah sampai di depan rumah.
Bagaimana caranya aku menjelaskan patah tulangku ini kepada Ibu. Alasan paling logis sedang terproses di dalam kepalaku. Karena insting Ibu bisa menebak saat aku sedang bohong atau tidak. Entah bagaimana caranya.
"Yosh! Aku bisa." Setelah meyakinkan diri akhirnya aku masuk ke dalam rumah. "Aku pulang ...."
Sunyi. Tidak ada jawaban. Hening yang begitu aneh dan juga mengkhawatirkan. Apa Ibu sedang keluar? Kalau begitu, bagus bagiku! Karena aku bisa langsung pergi ke kamar.
Aku menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan.
Tubuh Ibu tergeletak di lantai dengan kubangan darah dan bekas tusukan di dadanya. Yang membuat ku langsung menghampirinya dan memeriksa keadaan tubuhnya.
"Ibu! Apa yang sudah terjadi?! Ibu! Jawablah!"
Darahnya menempel di telapak tanganku. Membuat napas ku seketika berat dan tidak karuan. Wajah yang memucat dan mata yang masih tidak percaya dengan apa yang sedang ku lihat saat ini.
Siapa?! Siapa yang berani melakukan ini?!
“APA KAU DI SINI?! KELUAR KAU DAN LAWAN AKU!” Aku mencoba melihat ke sekeliling. Aura keluar dari tubuhku dan mulai memenuhi ruangan ini secara cepat.
"Iraya, tenangkan dirimu. Ibu mu ... sudah tiada."
Tertusuk. Mataku melebar mendengarnya.
Kata-kata Cecilia seolah menjadi cambuk yang membuatku kembali ke dunia nyata. Dan tentu saja orang yang melakukannya sudah tidak ada di sini.
Kedua telapak tangan kotor karena darah yang keluar banyak dari tubuh Ibu dari tadi. Merasakan tubuh dinginnya, membuat ku tidak bisa menahannya lagi.
Aku mengeluarkan suaraku sekeras-kerasnya.
Marah, sedih, dan bingung semuanya menjadi satu. Lalu aku berteriak. Mengeluarkan semua perasaan kacau yang sudah tidak bisa terbendung lagi. Tangisan keras adalah satu-satunya suara yang ada di rumahku malam ini.
Untuk saat ini, setidaknya untuk malam ini, biarkan aku menjadi seorang anak kecil lemah yang hanya bisa menangisi kematian ibunya.
Semua kenangan bersama Ibu terlintas bagaikan potongan film cepat di kepalaku. Aku berteriak dan menangis dengan keras seperti seorang bayi. Setidaknya, biarkan aku seperti ini dahulu malam ini.
Karena setelah ini aku berjanji, dari lubuk hatiku yang paling dalam aku berjanji. Orang yang melakukan ini, Aku akan membunuh orang itu.
__ADS_1
Bersambung